NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Pola itu konsisten selama tiga tahun terakhir, berjalan mulus tepat saat kesehatan kakek mereka mulai memburuk di rumah sakit.

"Dia memindahkan dana ini saat kakek sedang koma," gumam Nadira, suaranya parau tertahan amarah.

Ia melihat tanggal transaksi yang bertepatan dengan hari ia terakhir kali menjenguk kakek di ruang perawatan khusus.

Arga mengangguk perlahan, matanya tetap tertuju pada jalan yang mulai sepi.

"Informatanku di bagian keuangan sudah mengonfirmasi ini. Dinda menggunakan

wewenangnya untuk memanipulasi tanda tangan digital kakek sebelum beliau meninggal."

Nadira menutup berkas itu dengan kedua tangan, mencoba meredam getar di ujung jarinya yang mulai dingin. Kejahatan ini bukan sekadar masalah warisan dua ratus triliun, tapi penghianatan yang terencana terhadap darah daging sendiri. Ia merasa jiwanya yang kini berada di tubuh wanita jahat ini semakin terikat pada misi membalas kematian kakek yang sebenarnya.

"Dokumen ini rawan, Ar. Jika Dinda tahu kita memilikinya, dia akan menghancurkan semua bukti ini sebelum sidang waris dimulai," kata Nadira, menatap tajam ke arah pria di sebelahnya.

"Karena itu kita tidak akan membawanya ke kantor notaris sekarang," jawab Arga tegas.

"Ada satu informasi lagi yang belum aku sampaikan. Informan itu bilang, Dinda tidak

bekerja sendiri. Ada nama direktur lain yang meneken persetujuan pencairan dana itu."

Nadira mengerutkan kening, merasakan beban di dadanya semakin berat. Twist ini

mengubah segalanya, musuhnya bukan hanya Dinda, tapi seluruh struktur kekuasaan di perusahaan keluarga yang selama ini ia anggap bersih. Ia harus memutus rantai

pengkhianatan ini sebelum ia ikut terseret ke dalam kehancuran yang sama.

Ia memandang keluar jendela, melihat gerbang rumah mewahnya sudah terlihat di

kejauhan. Malam semakin larut, namun pikirannya masih berputar pada angka-angka di atas kertas tadi. Perjalanan pulang ini terasa lebih berat daripada perjalanan menuju kantor, membawa beban rahasia yang harus segera ia putuskan langkah selanjutnya.

Nadira menegakkan punggung di kursi penumpang depan, matanya tak lepas dari

pantulan wajahnya di kaca spion. Wajah itu milik wanita yang namanya selalu menjadi

bahan gunjingan di kalangan keluarga konglomerat. Namun, saat ia menatap lebih dalam, kerutan halus di sudut mata dan rahang yang lebih tegas terasa asing baginya.

Ini bukan lagi tentang memerankan sosok antagonis, melainkan tentang bertahan hidup di dalam kulit yang menuntut harga mati.

Lampu jalan di sepanjang jalan tol memercik lewat kaca jendela mobil, menerangi wajah

tegang Nadira yang menunduk di kursi belakang. Kehidupan ini menuntut ketangguhan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya di dunia nyata.

Ia mulai menerima identitas baru ini sebagai bagian dari perjuangan mendapatkan hak yang seharusnya. Arga memperhatikannya dari kursi pengemudi, tatapannya kini lebih lembut dan penuh pengertian.

Tangan pria itu meremas setir dengan pelan, menunjukkan bahwa ia juga sedang memproses ketegangan di antara mereka berdua. Tidak ada lagi jarak yang terasa

kaku di antara mereka di dalam ruang sempit ini, hanya keheningan yang mulai terasa akrab.

"Kamu terlalu banyak diam," ucap Arga, memecah kesunyian.

Suaranya tidak lagi tajam seperti biasanya, melainkan rendah dan penuh kehati-hatian.

"Apakah kamu mulai ragu dengan semua yang sudah kita rencanakan sejauh ini?"

Nadira mengalihkan pandangan dari kaca spion ke arah pria di sebelahnya.

"Bukan ragu, Arga. Aku hanya mencoba menghitung risiko jika saudara-saudaraku mulai curiga." Ia merapikan kerah blusnya yang sedikit melorot.

"Mereka bukan orang-orang yang akan

tinggal diam melihat kita mulai mengambil alih aset ini."

Ia menyadari bahwa perubahan dirinya membawa dampak positif bagi hubungan mereka yang awalnya penuh dengan konfis dan kebencian yang mendalam selama ini.

Arga mengangguk perlahan, lalu mematikannya untuk menyalakan lampu peringatan saat mobil melambat mendekuti rest area. Ada sesuatu yang berubah dalam dinamika mereka, sebuah kesepakatan bisu bahwa hanya dengan bersatu mereka bisa mengalahkan warisan dua ratus triliun itu.

Nadira menatap layar ponselnya yang redup di ruang tamu gelap, sementara Arga

mondar-mandir di depannya dengan segelas air putih. Jam dinding baru menunjukkan

pukul tiga pagi, namun rasa kantuk sama sekali tidak terasa.

"Kita harus berangkat jam enam, sebelum satpam shift malam berganti," bisik Arga, meletakkan gelas itu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

Nadira mengangguk pelan, jari-jarinya

menekan-nekan sisi hidung untuk meredakan sakit kepala yang mulai menggeliat.

Mereka tidak bisa menunggu hingga rapat pemegang saham resmi digelar.

Dokumen yang mereka temukan di brankas rahasia Dinda kemarin harus diverifikasi sekarang juga oleh pihak ketiga yang jujur. Jika Dinda mengetahui rencana ini, wanita itu pasti akan memusnahkan bukti atau memanipulasi data keuangan sebelum matahari terbit.

"Auditor yang kutemui ini orang lama, dia tidak akan bicara pada siapa pun," ujar Arga sambil menyelipkan sepucuk amplop cokelat ke dalam tas jinjing Nadira.

Nadira menarik napas panjang, mencoba melepaskan ketegangan di bahunya yang pegal karena duduk terlalu lama. Udara malam di apartemen itu terasa pengap, memaksanya untuk berdiri dan membuka jendela lebar-lebar.

Angin luar masuk membawa aroma aspal

basah dan knalpot kendaraan yang tertinggal di jalanan Jakarta.

"Kamu yakin dia bisa dipercaya? Dua ratus triliun bukan uang receh yang bisa dibiarkan orang lewat begitu saja," tanya Nadira, suaranya sedikit serak karena kelelahan.

Arga berhenti melangkah dan menatap tajam ke arah Nadira.

"Dia punya anak yang butuh biaya operasi langka. Aku sudah menyiapkan dana di rekening bersama sebagai jaminan.

Dia tidak akan berani mengkhianati kami."

Nadira mengerutkan kening, merasa ada

sesuatu yang berat dalam cara Arga memutuskan hubungan kerja sama ini. Namun, waktu terus berdetak dan mereka tidak punya pilihan lain selain percaya pada orang asing ini.

Mobil mereka meluncur pelan keluar dari basement apartemen saat fajar mulai

menyingsing di ufuk timur. Cahaya keemasan menyelinap masuk dari celah tirai jendela

mobil, menciptakan bayangan panjang di wajah Nadira yang pucat.

Arga mengemudikan kendaraan dengan tenang, memilih rute kecil yang jarang dilalui kamera pemantau Dinda.

"Kita akan sampai di kantor auditor sebelum karyawan pertamanya datang," ujar Arga,

matanya tetap tertuju pada jalanan yang mulai ramai.

Nadira memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan keberanian. Dalam benaknya, bayangan Dinda yang selalu memandangnya dengan mata menyipit muncul kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!