Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Alden
Pintu jati kembar itu terbuka lebar, didorong perlahan oleh dua orang pelayan berseragam rapi. Begitu kaki Alden dan Aleta melangkah masuk ke dalam ruang tamu utama yang luas bak lobi hotel bintang lima, suara tawa dan obrolan hangat yang sebelumnya menggema seketika senyap.
Di atas sofa kulit bergaya klasik, duduk dua keluarga besar yang tampaknya sedang menantikan kepulangan sang pangeran tunggal. Namun, alih-alih pulang sendirian dengan wajah dingin seperti biasanya, Alden justru datang dengan tangan yang menggenggam erat pergelangan tangan seorang gadis berseragam olahraga yang tampak kucel dan ketakutan.
Semua orang di ruangan itu terkesiap, membeku di tempat masing-masing.
Namun, dari semua orang yang ada di sana, ada satu pasang mata yang membelalak paling lebar dengan rahang yang mengeras kaku. Di seberang meja marmer, duduk dengan anggun mengenakan dress selutut yang cantik... Felicia.
Ya, calon tunangan yang dimaksud oleh Alden tidak lain dan tidak bukan adalah Felicia. Gadis yang selalu ditolak mentah-mentah oleh Alden di sekolah itu ternyata menggunakan jalan pintas yang licik. Ia memanfaatkan hubungan bisnis dan kedekatan keluarganya dengan keluarga Alden untuk mengikat cowok itu dalam sebuah perjodohan mutlak.
Melihat Alden pulang membawa Aleta—gadis yang sama yang membuat Felicia terbakar cemburu di aula sekolah tadi—sukses membuat darah Felicia mendidih. Wajahnya yang tadinya tersenyum manis kini memerah menahan amarah yang meledak-ledak.
"Alden...?"
Keheningan yang mencekik itu akhirnya pecah oleh suara lembut namun penuh penekanan dari seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat elegan. Rania, mama Alden, langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri putranya dengan langkah cepat.
Langkah Rania terhenti tepat di depan mereka berdua. Tatapan mata wanita itu langsung jatuh menukik pada Aleta. Merasa dihakimi oleh tatapan tajam sang nyonya rumah, Aleta semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. Penampilannya yang hanya berbalut seragam olahraga sekolah yang lecek, ditambah nametag kardus yang masih setia di lehernya, terasa sangat kontras dan memalukan di tengah kemewahan ruangan ini.
Aleta menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berharap lantai marmer yang dipijaknya ini tiba-tiba terbelah dan menelannya hidup-hidup.
Setelah meneliti Aleta dari ujung kepala hingga ujung kaki, Rania perlahan mengangkat wajahnya. Wanita anggun itu memandang Alden dengan sejuta tanda tanya di matanya, menuntut penjelasan detik itu juga.
"Alden," tegur Rania, melirik tajam ke arah tangan putranya yang masih mengunci pergelangan tangan Aleta secara posesif.
"Siapa perempuan ini? Dan apa maksud dari semua ini di hari pertemuan kamu dengan keluarga Felicia?"
Alden tidak memberi sepatah kata pun. Ia bahkan tidak repot-repot melirik mamanya. Dengan raut wajah yang sama dinginnya dengan es, ia hanya mengeratkan cengkeramannya pada pergelangan tangan Aleta dan menariknya untuk kembali melangkah, mengabaikan tatapan syok dan protes yang mulai bermunculan di seluruh ruangan.
"Alden! Mama tanya, siapa dia?!" suara Rania kini sedikit meninggi, memecah ketegangan yang mendadak mencekik. Alden tetap tuli. Ia terus menyeret Aleta melewati ruang tengah yang mewah, melangkah tegas menuju arah tangga besar yang menuju ke lantai dua.
Aleta sendiri sudah setengah mati menahan napas. Ia bisa merasakan tatapan menusuk dari Felicia di belakang sana—tatapan yang rasanya sanggup menguliti kulitnya hidup-hidup. Aleta mencoba menarik tangannya, berusaha protes, namun kekuatan Alden terlalu dominan.
"K-Kak Alden, lepasin... mereka semua ngeliatin kita!" bisik Aleta panik, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ini keterlaluan, Kak!"
Alden berhenti tepat di anak tangga pertama. Ia berbalik, menunduk menatap Aleta dengan sorot mata yang sulit diartikan—ada dominasi, namun juga ada semacam perlindungan posesif yang aneh.
"Saya sudah bilang, Leticia," bisik Alden, suaranya cukup rendah hanya untuk didengar oleh Aleta. "Kamu adalah hukuman saya hari ini. Dan bagi saya, hukuman tidak boleh dilepaskan sebelum waktunya."
Tanpa memedulikan kekacauan yang baru saja ia ciptakan di ruang tamu, Alden kembali menarik Aleta, memaksanya menaiki anak tangga satu demi satu, meninggalkan keluarga besarnya dan Felicia yang terpaku dalam amarah serta kebingungan.
Keadaan di ruang tamu yang tadi hening kini pecah menjadi bisik-bisik ketidaksetujuan dan desas-desus. Felicia berdiri dengan tangan yang gemetar hebat, matanya berkaca-kaca menatap punggung Alden dan Aleta yang perlahan menghilang di tikungan lantai atas.
🌍🌍🌍
Alden membawa Aleta ke dalam kamarnya kamar Alden mencerminkan seluruh kepribadian cowok itu.
Begitu Alden mendorong pintu kayu abu-abu gelap di lantai dua, aroma maskulin yang khas bercampur wangi cedarwood yang menenangkan langsung menyambut indra penciuman Aleta. Kamar itu sangat luas, didominasi warna hitam, putih, dan abu-abu arang dengan desain minimalis modern yang sangat rapi—tidak tampak seperti kamar remaja laki-laki pada umumnya.
klek.
Alden menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam. Suara kunci yang berputar itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Aleta.
Begitu cengkeraman tangan Alden terlepas, Aleta langsung mundur tiga langkah ke belakang, memeluk tas ranselnya erat-erat seperti perisai pelindung. Matanya melotot panik, menatap Alden yang kini tengah melepas jam tangan hitamnya dengan santai.
"K-Kak Alden... ini gila! Kenapa Kakak bawa saya ke kamar?" suara Aleta bergetar hebat.
"Di bawah tadi itu ada orang tua Kakak! Ada... ada Kak Felicia juga! Mereka pasti mikir yang enggak-enggak tentang kita!"
Alden meletakkan jam tangannya di atas meja nakas, lalu berbalik badan. Ia menyandarkan pinggulnya pada tepian meja, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Aleta yang tampak seperti kelinci kecil yang terjebak di sarang serigala.
"Biarkan saja mereka berpikir apa pun," jawab Alden tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh kepanikan Aleta.
"Justru itu yang saya mau."
Aleta menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Maksud Kakak apa sih? Saya nggak mau ikut campur urusan keluarga orang kaya kayak gini! Sumpah, Kak, hukuman keliling lapangan sepuluh kali atau bersihin toilet sekolah sekarang juga saya jabanin, asal jangan libatkan saya dalam masalah perjodohan Kakak!"
Mendengar rentetan protes dari Aleta, Alden tidak marah. Alih-alih mengeluarkan aura intimidasi seperti di sekolah, cowok itu justru mengembuskan napas panjang. Garis-garis tegas di wajahnya perlahan melunak, menyiratkan secuil rasa lelah yang sejak tadi ia sembunyikan di depan orang tuanya.
Alden melangkah mendekat, membuat Aleta otomatis menahan napas. Namun, Alden berhenti dalam jarak aman. Ia menunjuk ke arah sebuah sofa kain berwarna abu-abu di sudut kamarnya.
"Duduk, Leticia. Saya tidak akan macam-macam," ucap Alden, suaranya melow beralih ke nada bariton yang lebih dalam dan tenang.
"Saya cuma butuh kamu di sini sampai mereka semua pulang. Kamu aman di kamar ini."
🌍🌍🌍
Aleta menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak mentah-mentah tawaran Alden. Di dalam kepalanya, bayangan kemewahan kamar ini menguap begitu saja, digantikan oleh rasa cemas yang mendalam tentang rumahnya sendiri. Jam dinding di kamar Alden sudah menunjukkan bahwa ini sudah lewat dari jam pulang sekolah yang seharusnya.
Mama pasti lagi nungguin aku di rumah... batin Aleta panik. Ibunya pasti cemas setengah mati menunggu anak gadisnya yang belum juga memberi kabar di hari pertama masuk sekolah.
Rasa khawatir itu memicu adrenalin di dalam tubuh Aleta. Dengan gerakan yang tiba-tiba, ia berbalik dan berlari kecil ke arah pintu kamar yang besar itu. Kedua tangan mungilnya langsung menggenggam knop pintu, memutarnya dengan tidak sabaran, dan menarik-nariknya dengan kuat demi bisa keluar dari sana.
klek! klek!
Pintu itu sama sekali tidak bergeming. Penguncian ganda yang dipasang Alden tadi membuatnya tetap tertutup rapat. Aleta mulai bernapas memburu, memukul pelan daun pintu jati itu dengan perasaan frustrasi yang membuncah.
"Buka... Kak, tolong buka pintunya. aku mau pulang, Mama saya pasti nyariin..." cicit Aleta, suaranya mulai serak menahan tangis yang siap pecah.
Di sudut ruangan, Alden hanya diam di tempatnya. Cowok itu tidak beranjak satu inci pun untuk menahan atau menarik Aleta kembali. Sepasang mata elangnya hanya bergerak tenang, memperhatikan setiap gerak-gerik panik dan rapuh dari gadis mungil yang kini sedang memunggungi dirinya itu.
Ada kilat kedewasaan sekaligus ketegasan yang tak terbaca di balik tatapan Alden. Ia membiarkan Aleta meluapkan seluruh energinya pada pintu yang terkunci itu, mengamati bagaimana bahu sempit gadis itu naik turun karena napas yang memburu.
Setelah beberapa saat membiarkan keheningan dan suara ketukan pintu yang sia-sia itu mendominasi kamar, Alden akhirnya menegakkan tubuhnya dari meja nakas. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa mulai terdengar mendekat ke arah tempat Aleta berdiri.
🌍🌍🌍
aduhh gimna ya kedepannya Aleta, semoga bisa Kabur deh dari Alden 🥲😭