NovelToon NovelToon
Balas Dendam Putri Terbuang

Balas Dendam Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Marwiyah Ningsih

seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

surat dari Hana

Bab 45: Latihan Tempur dan Surat dari Hana*

Malam di Markas Perbatasan Barat turun lebih cepat dari biasanya. Langit yang sejak sore berwarna jingga kemerahan, kini menghitam. Angin pegunungan bertiup dingin, membawa aroma tanah dan kayu terbakar dari unggun api di lapangan tengah.

Di dalam tenda komando, lampu minyak berpendar redup. Peta besar terbentang di atas meja kayu. Jenderal Dominic berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung. Matanya menatap peta itu tanpa berkedip, seolah sedang menghitung setiap kemungkinan.

Di hadapannya, Bima dan Menteri Wira duduk dengan sikap tegang. Cangkir teh di hadapan mereka sudah dingin, tidak ada yang berani menyentuhnya.

“Jadi,” suara Dominic memecah keheningan. Berat, dalam, dan menggema di dinding tenda. “Anda benar-benar akan memimpin regu malam ini, Tuan Bima?”

Bima mengangkat wajahnya. Tangan yang sedari tadi mengepal di atas lutut perlahan ia buka. “Benar, Jenderal. Saya akan melakukannya.”

Dominic menyipitkan matanya. “Anda tahu, di markas ini, latihan tempur bukan permainan. Prajurit baru yang akan Anda pimpin, sebagian besar belum pernah membunuh orang. Tapi mereka terlatih. Mereka kuat. Dan mereka membenci orang luar yang tiba-tiba datang dan berpura-pura menjadi pemimpin.”

Wira langsung menyela dengan cemas. “Jenderal, Tuan Bima hanya seorang ayah. Beliau datang membawa bantuan. Tidak perlu dipermalukan seperti ini.”

Dominic mengangkat satu tangan, menghentikan ucapan Wira. “Menteri Wira. Di perbatasan, tidak ada kata ‘hanya’. Di sini, Anda kuat, atau Anda mati. Itu saja.”

Ia lalu menatap Bima lagi. “Saya beri Anda satu jam untuk bersiap. Lapangan tengah. Saat lonceng ketiga berbunyi, latihan dimulai.”

Bima berdiri. Punggungnya tegak, meskipun lututnya masih terasa gemetar. “Saya mengerti, Jenderal. Terima kasih atas kesempatannya.”

Ia keluar dari tenda, diikuti Wira yang wajahnya pucat.

**_

Di luar tenda, para prajurit sudah berkumpul. Mereka membentuk lingkaran besar di lapangan. Di tengah lingkaran itu, ada dua kelompok. Kelompok pertama adalah regu elit Dominic, berjumlah dua puluh orang, berot, dengan tatapan tajam. Kelompok kedua adalah regu prajurit baru, anak-anak muda yang baru masuk markas tiga bulan lalu. Wajah mereka masih polos, tapi penuh kebingungan.

“Lihat orang tua itu,” bisik seorang prajurit elit sambil menunjuk Bima. “Katanya dia akan memimpin regu baru. Gila.”

“Paling-paling dia pingsan sebelum pedangnya terangkat,” sahut yang lain, dan mereka tertawa kecil.

Bima berdiri di depan regu barunya. Ada dua puluh orang di hadapannya. Usia mereka antara tujuh belas sampai dua puluh tahun. Beberapa menatap tanah. Beberapa menatap Bima dengan ragu.

Bima menarik napas dalam. Ia mengingat kata-kata Hana sebelum ia berangkat dari ibu kota. `Ayah, orang tidak akan menghormati nama. Mereka hanya menghormati keberanian. Angkat dagu, Ayah. Bahkan jika tangan Ayah gemetar, jangan biarkan mata Ayah gemetar.`

“Perkenalkan,” suara Bima terdengar. Tidak keras, tapi cukup jelas untuk didengar semua orang. “Nama saya Bima. Saya bukan jenderal. Saya bukan kapten. Saya hanya seorang ayah yang ditugaskan membawa makanan dan obat untuk kalian.”

Para prajurit saling pandang. Tidak ada yang menjawab.

“Saya tahu kalian tidak mengenal saya,” lanjut Bima. “Saya juga tahu kalian berpikir saya tidak pantas berdiri di sini. Dan mungkin kalian benar. Saya sudah tua. Saya sudah lama tidak memegang pedang.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap satu per satu wajah di depannya.

“Tapi malam ini, saya tidak meminta kalian untuk percaya pada saya. Saya hanya meminta satu hal. Bertahanlah bersama saya. Karena jika kita kalah, kita semua akan diusir dari markas ini malam ini juga. Tidak ada makanan. Tidak ada obat. Dan orang-orang di luar sana akan mati kelaparan karena kita.”

Kata-kata itu membuat beberapa prajurit baru mengangkat wajah. Ada sesuatu yang berbeda di mata mereka. Bukan rasa hormat, tapi setidaknya rasa ingin tahu.

Dari kejauhan, Dominic mengawasi dari atas menara. Ia tidak tersenyum, tapi alisnya sedikit terangkat. `Menarik.`

_*_

`Dung... Dung... Dung...`

Tiga kali lonceng berbunyi. Pertanda latihan dimulai.

Tanpa aba-aba, regu elit Dominic langsung bergerak cepat. Mereka terlatih dalam formasi perisai dan tombak. Gerakan mereka rapi seperti air yang mengalir.

Regu Bima kocar-kacir. Beberapa anak muda panik dan menjatuhkan pedang kayu mereka.

“Tenang!” teriak Bima. “Bentuk lingkaran! Jangan berpencar!”

Ia maju ke depan, mengambil pedang kayu yang terjatuh, dan melemparkannya kepada seorang prajurit yang gemetar. “Nama kamu siapa?”

“Raka, Tuan,” jawab pemuda itu.

“Raka, lihat mataku. Kamu tidak akan mati malam ini. Aku berjanji. Sekarang, berdiri di sebelahku.”

Raka menelan ludah dan berdiri. Perlahan, prajurit lain ikut merapat. Mereka membentuk lingkaran yang tidak rapi, tapi setidaknya mereka bersama.

Regu elit menyerang. Pedang kayu menghantam perisai dengan suara keras. Satu per satu prajurit baru jatuh tersungkur.

Bima tidak mundur. Ia menangkis serangan, meskipun lengannya sakit. Ia tidak menyerang balik dengan agresif. Ia hanya menahan, mengarahkan, dan berteriak memberi instruksi.

“Kiri! Mundur dua langkah! Raka, angkat perisaimu lebih tinggi!”

Lama-lama, regu baru mulai mengerti. Mereka tidak menang, tapi mereka tidak hancur seketika. Mereka bertahan lebih lama dari yang diperkirakan semua orang.

Di menara, Dominic mengerutkan kening. Ia mengira regu Bima akan hancur dalam lima menit. Tapi sudah hampir lima belas menit, mereka masih berdiri.

Akhirnya, lonceng berbunyi lagi. Tanda latihan selesai.

Regu elit menang, tentu saja. Tapi regu Bima tidak kalah telak. Dari dua puluh orang, enam belas masih berdiri.

Lapangan hening. Tidak ada sorak sorai. Hanya napas berat dan keringat yang menetes.

Dominic turun dari menara. Ia berjalan perlahan menuju Bima. Semua orang menahan napas.

“Anda kalah, Tuan Bima,” kata Dominic datar.

Bima mengangguk. “Saya tahu, Jenderal.”

“Tapi Anda tidak hancur,” lanjut Dominic. “Regu baru Anda bertahan. Dan Anda... Anda tidak lari.”

Ia menatap Bima lama. Lalu ia berkata, “Anda boleh tetap di markas. Anda boleh mengawasi distribusi makanan. Tapi ingat, ini bukan karena Anda kuat. Ini karena Anda tidak menyerah.”

Bima menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Jenderal.”

Para prajurit baru menatap Bima dengan pandangan yang berbeda. Bukan lagi dengan ejekan, tapi dengan sedikit rasa hormat.

_*_

Malam itu, di tenda istirahat, Wira menuang teh untuk Bima dengan tangan gemetar.

“Tuan Bima... saya tidak percaya Anda bisa bertahan,” katanya lirih. “Jenderal Dominic... dia tidak pernah memberi kelonggaran pada siapa pun.”

Bima tersenyum tipis. Ia mengusap lengannya yang lebam. “Saya juga tidak percaya, Menteri Wira. Tapi saya harus melakukannya. Untuk Hana.”

Wira mengangguk. “Putri Anda akan bangga.”

Bima tidak menjawab. Ia hanya menatap api di luar tenda.

Tiba-tiba, tirai tenda dibuka. Jay masuk dengan wajah panik. Di tangannya ada selembar kertas yang terbakar sebagian.

“Tuan Bima!” serunya. “Ini... ini dari Nona Hana!”

Bima langsung berdiri. “Hana?”

Jay menyerahkan kertas itu. “Sebelum kami berangkat, Nona Hana memberi kami tiga lembar jimat kertas. Katanya, jika Tuan Bima dalam bahaya, bakar ini. Tadi sore kami bakar satu. Dan sekarang... balasan ini muncul di api.”

Bima mengambil kertas itu dengan tangan gemetar. Tulisan di atasnya muncul perlahan, seolah ditulis oleh tangan tak terlihat.

`Ayah,`

`Jika Ayah membaca surat ini, berarti Ayah sudah memilih untuk berdiri. Bagus.`

`Jangan takut pada Jenderal Dominic. Dia bukan musuh. Dia hanya menguji apakah Ayah pantas dipercaya.`

`Katakan padanya: "Hana mengirim salam. Dan dia ingat janji di Gunung Salju."`

`Setelah itu, minta izin untuk melihat peta perbatasan. Ada satu jalur yang bisa menyelamatkan markas dari kelaparan musim dingin ini. Jalur itu ditutup lima tahun lalu karena longsor. Tapi sekarang sudah bisa dibuka lagi.`

`Ayah bisa melakukannya. Karena Ayah adalah ayahku.`

`-- Hana`

Bima membaca surat itu dua kali. Tangannya berhenti gemetar.

Wira yang mengintip dari belakang terbelalak. “Nona Hana... dia bisa mengirim surat lewat api?”

Bima mengangguk. Ia melipat kertas itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam jubahnya.

“Jay,” perintah Bima. “Panggil Menteri Wira. Kita harus bertemu Jenderal Dominic sekarang juga.”

_*_

Tengah malam. Tenda komando Dominic masih menyala.

Dominic mendongak saat Bima masuk. “Anda belum tidur, Tuan Bima?”

Bima berdiri tegak. “Tidak, Jenderal. Saya membawa pesan.”

Dominic mengangkat alis. “Dari siapa?”

Bima menatap mata Dominic. “Dari Hana. Dan dia berpesan untuk menyampaikan salamnya. Serta mengingatkan Anda tentang janji di Gunung Salju.”

`Deg!`

Warna wajah Dominic berubah seketika. Untuk pertama kalinya sejak Bima mengenalnya, pria setinggi dua meter itu terlihat terkejut. Matanya melebar. Rahangnya mengeras.

“Anda... Anda bertemu dengannya?” suara Dominic berubah rendah.

Bima menggeleng. “Tidak. Tapi saya adalah ayahnya.”

Dominic terdiam lama. Ia berjalan ke arah meja, menuang anggur, dan meminumnya dalam satu tegukan.

“Gunung Salju... sudah dua belas tahun,” gumamnya. “Saya pikir dia tidak akan pernah muncul dalam hidup saya lagi.”

Ia menoleh ke Bima. Tatapannya sudah tidak lagi curiga. Kini ada sesuatu yang lain. Rasa hormat.

“Baiklah,” kata Dominic. “Apa yang diinginkan Nona Hana?”

Bima mengeluarkan peta dari gulungan yang dibawanya. “Dia meminta izin untuk melihat peta perbatasan. Katanya ada jalur yang ditutup karena longsor lima tahun lalu. Jalur itu sekarang bisa dibuka. Dan itu akan menyelamatkan markas dari kelaparan musim dingin.”

Dominic mengambil peta itu. Ia menatapnya lama. Jari-jarinya berhenti di satu titik di pegunungan barat.

“Jalur Lembah Bayangan,” katanya pelan. “Kami menutupnya karena tidak ada yang berani membersihkan longsoran. Terlalu berbahaya.”

Bima mengangkat wajahnya. “Nona Hana mengirim lima puluh pekerja dan ahli pertambangan bersama konvoi ini. Mereka bisa mulai bekerja besok.”

Dominic menatap Bima. Kali ini, ia tidak menatap dengan curiga. Ia menatap dengan penilaian yang baru.

“Anda,” kata Dominic pelan. “Anda bukan hanya ayah dari Nona Hana. Anda adalah utusannya.”

Ia berdiri dan menghormat. Hormat yang tulus. Bukan karena jabatan, tapi karena pengakuan.

“Selamat datang di Markas Perbatasan Barat, Tuan Bima. Mulai malam ini, Anda bukan tamu. Anda keluarga.”

Bima terdiam. Matanya berkaca. Ia tidak menyangka.

Wira di belakangnya hampir menangis.

_**

Di ibu kota, jauh dari perbatasan, Hana duduk di kamarnya. Di hadapannya, mangkuk berisi air jernih. Permukaan air beriak, dan di dalamnya muncul wajah Bima yang sedang berdiri di hadapan Dominic.

Hana tersenyum tipis. “Bagus, Ayah. Ayah berhasil.”

Ia memadamkan lilin. Di luar jendela, bulan purnama menggantung tinggi, menerangi seluruh Sanata.

1
Dinda
mantap kak
Dinda
puas bangat😍
Dinda
kejam,,dunia kejam bagi orang miskin.
Dinda
kasihan Hana semoga saja semua orang yang menyakiti nya, mendapatkan balasan yang setimpal !
Dinda
Hana balas Mereke semua
Dinda
jahat bangat keluarga nya
Osie
prajurit songong..jenderalnya pun songong..dikasih bantuan makanan bukannya terimakasih tapi malah bikin rusuh..sombong amir..aku doain deh moga author bikin tuh jenderal bucin akut sama hana dan ditolak sama hana..biar tau rasa dia
Osie
kesalahan 18thn lalu kenapa tdk dikuak biar ketahuan siapa penjahat sebenarnya
Osie
hana miris bgt hidupmu
Osie
baru baca udah es mosi aja aku ma tuh keluarga
Arni Lisa
makanya jadi orang jng sombong apa lagi menghina orang, tuh kena karmanya gimna rasanya hmm... nggk enak kan, makanya kalau punya mulut tuh di jaga juga... hihihihi...
Sekar
wow mantap thor😍😍💪💪
deni alfian
jangan sampai hana menderita lagi author,kasihan buatlah hana menjadi gadis kejam.
deni alfian
kasihan hana
Arni Lisa
jngan samapai lolos satupun hana.. habis kan atau ratakan kediaman kakeknya... hihihi
Arni Lisa
haduh ibu suri gimna c bisanya bacot doang, mangnya nggk tau apa prajut yg 300 mati tak bersisa hidup... mau istana diratakan... rayakan aja istana.. kejam2 sekalian.. sekalian ambil alih istana... hahahha
Sekar
mantap thor😍😍💪💪
Yue Li MZy
lanjutt KA uthor,seru bgtt 💪🏻👍🏻👍🏻
Caty Chanel
lanjut kk
Arni Lisa
lanjut kak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!