Dipertemukan secara tidak sengaja dengan mantan suaminya yang dulu pernah disia-siakan lewat anaknya yang ditolong karena masuk got.
Lalu apa yang akan terjadi setelah tragedi masuk got itu? Akankah ada cinta di hati kedua mantan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 I Hate U
Kepergian Marisa yang meninggalkan sari jeruk lemon di campur madu di meja untuknya, menyisakan rasa penasaran di hati Raka. "Antara cari muka dan perhatian beda tipis," pikirnya seraya menimbang-nimbang gelas yang berisi sari lemon dicampur madu tadi dengan tangannya tanpa berniat meminumnya.
Beberapa saat masih diamati sari lemon campur madu itu, batuk dan sakit tenggorokan yang dirasakannya memang tidak enak rasanya. Lalu dengan senyum sepele, Raka akhirnya mencoba resep yang diberikan Marisa tadi.
"Apa salahnya sih dicoba, tapi, apa di dalamnya tidak mengandung racun atau pelet, gitu? Jangan-jangan dia masukin racun berbahaya atau pelet ke dalam sini. Tapi saat dia pergi ke resto hotel ini, dia tidak terlihat mencurigakan," ujarnya pelan menduga-duga seraya masih menimbang-nimbang gelas berisi sari lemon campur madu itu.
Gelas itu sudah ada di dekat bibirnya. Namun, Raka buru-buru menjauhkan kembali gelas itu lalu berdiri seraya berjalan menuju pelayan resto hotel, bermaksud menanyakan kepada pelayan resto apa sebenarnya isi dari gelas yang dipesan Marisa tadi? Raka curiga jangan-jangan dalamnya dikasih racun. Saking tidak percayanya, Raka mencurigai sari lemon itu dicampur racun.
"Mbak," panggilnya. Pelayan resto itu segera menghampiri dan bertanya pada Raka.
"Pesan apa, Pak?"
"Saya bkan mau pesan, tapi mau menanyakan minuman yang dipesan perempuan tadi isinya apa saja?" Seraya menyodorkan gelas yang isinya sari lemon tadi.
"Oh, ini, ya, Pak. Ini isinya sari jeruk lemon dicampur madu dan air hangat setengah gelas. Khasiatnya bagus untuk pertahanan tubuh, juga baik untuk yang menderita batuk yang disertai sakit tenggorokan," terang Pelayan itu jelas dan tegas. Raka melongo dengan penjelasan Pelayan itu, ternyata isinya adalah obat alami yang dibutuhkan tubuh Raka saat ini.
"Begitu, ya, Mbak? Kalau begitu terimakasih atas penjelasannya. Kebetulan saya saat ini sedang mengalami batuk yang disertai sakit tenggorokan," ucap Raka seraya membalikkan badan menuju kembali ke meja tadi yang ditempatinya.
Di sana tanpa pikir panjang lagi, Raka segera meminum air sari lemon dan madu itu berharap apa yang dikatakan Pelayan resto tadi benar, batuk dan sakit tenggorokan yang dideritanya sembuh.
"Glek, glek." Air sari lemon itu tandas hanya dengan dua kali tegukan. Rasanya memang seperti ada sedikit sisa di dalam tenggorokan, mungkin itu dari sari lemon yang terkandung di dalamnya. Namun demikian tenggorokannya kini terasa hangat akibat air air panas yang masih hangat tadi.
Raka berdiri dan meninggalkan resto hotel, dia bermaksud ke pantai untuk menunggu kedatangan Cila dan dua orang pegawainya. Raka berjalan menyusuri pantai lalu duduk di dekat batu besar pantai itu sesekali melihat deburan ombak yang tenang. Mata Raka memindai seluruh kiri dan kanan sekitar tempat itu. Tiba-tiba dirinya harus melihat lagi bayangan sang mantan yang berdiri di balik karang yang besar, untungnya air laut sedang surut sehingga karang itu tidak terkena terpaan ombak.
Marisa sesekali meraih pasir dan melemparnya ke tengah laut lalu berdiri dan menatap pasir yang hilang disapu air laut menerpa pelan. Kemudian Marisa berjalan menjauhi karang, dia kini mulai menuju hamparan pasir yang kebetulan sepi dari pengunjung yang kebanyakan sedang pergi menikmati pantai di ujung selatan itu menaiki banana boat ataupun perahu dayung.
Marisa terlihat mempermainkan pasir dan menuliskan sesuatu di sana dengan sebuah ranting kayu.
"I hate u Raka." tulisan itu terpampang jelas di atas pasir yang masih sangat lengang dengan pengunjung. "Mungpung masih belum datang pengunjung pantai ini. Nanti juga akan hilang terinjak atau bahkan tergerus ombak yang tiba-tiba pasang," gumannya merasa santai sebab di pantai itu hanya ada dirinya dan beberapa orang yang sama-sama menunggu keluarganya yang sedang menuju pantai di ujung selatan.
Raka dengan rasa penasaran berjalan ke arah Marisa, dia sengaja ingin berbasa-basi dengan Marisa meskipun dia memang masih menaruh rasa kecewa pada Marisa atas masa lalu.
Semakin dekat Raka menuju tempat berdirinya Marisa. Dengan rasa ingin tahu, Raka sejenak melihat tulisan yang dituliskan Marisa di atas pasir tadi, sebelum dia menyapa Marisa walau terpaksa. Namun dia terkejut saat melihat tulisan yang tertera di atas pasir itu. Raka gelng-geleng kepala sesudahnya dengan dengusan yang kesal.
"Bisa-bisanya dia menuliskan I hate u Raka, seharusnya akulah yang pantas menuliskan aku benci kamu Marisa. Dasar tidak tahu diri, padahal dulu dia orang yang telah menyakiti hatiku dengan menjadi istri yang tidak bertanggung jawab, tapi kini dia selah-olah manusia yang paling tersakiti." Sekali lagi Raka mendengus kesal dan bermaksud mengagetkan Marisa.
"Apa maksudmu dengan menuliskan I hate U Raka di atas pasir ini, apa kebencianmu ingin dibaca semua orang saat mereka tiba di pantai ini?" geram Raka seraya mendekati Marisa. Marisa sontak terkejut dengan suara Raka yang tiba-tiba dan terdengar sangat meninggi, tentu saja di sana berbagai kemarahan dan kecewa terdengar.
Marisa menolehkan tubuhnya ke arah Raka dengan rasa takut yang tiba-tiba menjalar di dalam dada.
"Mas Raka," pekiknya tidak menduga. Marisa benar-benar sock dan terkejut, jantungnya hampir mau copot dengan tangan di dadanya.
"Kenapa? Kamu kaget dengan kedatangan aku yang tiba-tiba? Tadinya aku pikir kamu sedang menuliskan hal yang bermanfaat, tapi ternyata yang kamu tulis adalah sebuah kalimat yang tidak bermakna, hanya sebuah kalimat kebencian yang bisa jadi memprovokasi orang lain yang kebetulan baca tulisan kamu." Raka menatap tajam ke arah Marisa yang masih terkejut.
"A~aku, tidak ada maksud membenci kamu, Mas. Aku ... hanya menumpahkan kekesalan aku tadi saat di resto," ungkap Marisa sedikit gugup, membuat Raka tersenyum sinis.
"Menyangkal dan gugup saat ketahuan salah untuk menutupi sebuah kesalahan. Harusnya aku yang merasa benci kamu, bukan kamu yang benci aku. Kamu jangan terlalu naif, kesalahan kamu yang dulu masih jelas dalam ingatanku, jadi jangan coba-coba merasa hidupmu tenang, sebab aku sampai sekarang masih mengingatnya," tandas Raka membuat Marisa mati kutu tidak berkutik.
"A~aku minta maaf, Mas." Marisa gugup kembali seraya meminta maaf.
"Jangan sampai rasa bencimu berubah jadi sebuah rasa yang saat ini sebenarnya kamu pendam, yakni rasa benar-benar cinta," ujarnya seraya meremas tangan Marisa dan menekankan kalimat benar-benar cinta dengan perlahan.
Marisa tersentak saat remasan tangan Raka sedikit menyakitinya, dia diam mematung seraya menyesali perbuatannya telah menulis kalimat itu di atas pasir tadi.
Raka berbalik dan berjingkat meninggalkan Marisa, dengan hati yang puas telah menumpahkan rasa kesalnya pada Marisa yang telah berani menulis kalimat rasa benci padanya di atas pasir.
tak gibengae