Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zayra Bocah Menggemaskan
Kayden merasakan kebahagiaan yang meluap di dadanya. Begitu tiba di kamar hotelnya di London, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk. Ia meraih ponsel, mengetik pesan singkat untuk mengabari asistennya bahwa ia sudah berada di kediamannya untuk malam ini. Senyum tak lepas dari wajahnya, ia merasa menang karena hari ini Zira tidak memaksanya untuk kembali. Sebaliknya, wanita itu membiarkannya menetap di sini, di sisinya.
"Hanya tinggal menunggu kapan waktu itu tiba. Aku tidak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan yang selama ini selalu aku abaikan. Pria hanya perlu meyakinkan wanitanya bahwa dia adalah satu-satunya solusi, bukan?" bisik Kayden pada dirinya sendiri sembari menatap langit-langit kamar dengan penuh rencana.
"Papa!"
Kayden tersentak kaget. Ia refleks menoleh dan mendapati sosok bocah menggemaskan yang mengenakan piyama bermotif lebah sedang berdiri di sisi ranjang. Gadis kecil itu menghampirinya dengan mulut yang penuh dengan remah-remah makanan. Tanpa permisi, ia menaiki ranjang dan duduk anteng di samping Kayden, menatap sang papa dengan mata bulatnya yang jernih.
"Zayra?!" Kayden terbelalak. Jantungnya hampir meloncat keluar melihat putri angkatnya tiba-tiba ada di depannya. Padahal, seingatnya gadis kecil itu baru saja keluar dari rumah sakit di Bali. Pandangan Kayden langsung beralih tajam ke arah pintu, di mana Elvar berdiri sembari berdehem canggung.
"Maaf, Tuan. Nona kecil memaksa menyusul. Kalau tidak dituruti, dia mengancam akan mengamuk dan menghancurkan seisi rumah sakit," Elvar membela diri dengan wajah pasrah.
Kayden beranjak berdiri, menatap Elvar dengan pandangan tak percaya. Kedua tangannya menunjuk ke arah Zayra yang kini justru sibuk melahap biskuitnya di atas sprei putih yang bersih.
"Anak sekecil ini mengamuk dan kamu tidak bisa menanganinya? Benar-benar, El? Oh my God, kamu tidak bisa menangani bocah belum genap lima tahun?" ucap Kayden sembari memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut nyeri.
"Tuan, Anda biasanya hanya bersamanya pada malam hari ketika dia sudah lelah atau tertidur. Jika Anda tahu apa yang dia lakukan sepanjang hari tadi, Anda pasti akan syok," ucap Elvar dengan ekspresi yang sangat meyakinkan.
"Syok katamu? Apa yang perlu dikhawatirkan dari anak berusia lima tahun kurang? Bicara saja belum lancar, apalagi melakukan hal aneh—"
PRANG!
Suara pecahan keramik yang keras memotong kalimat Kayden. Baik Kayden maupun Elvar langsung menoleh ke sudut ruangan. Di sana, Zayra sedang berusaha memanjat meja pajangan hingga menjatuhkan guci hias di dekatnya. Mata Kayden terbelalak lebar melihat kenekatan anak itu.
"ZAYRAAAA! KAMU MAU APA?! MAU APA, SAYANG?!" pekik Kayden panik. Ia berlari secepat kilat, menyambar tubuh bocah itu dan menggendongnya sebelum ia sempat terluka oleh pecahan guci.
Zayra hanya mengerjapkan matanya dengan polos. Tangan mungilnya menunjuk ke arah seekor burung yang hinggap di luar pagar balkon.
"Itu loh, Bulung itu mau Zayla lawat sampe becal, bial ada telulnya buat kita makan. Papa nda pelnah kacih Zayla telol, Zayla mau papa makan Telol. Mau liat Papa biculan, penacalan kali dili ini," ucap Zayra dengan wajah tanpa dosa, yang membuat Kayden menganga tak percaya.
Kayden menarik napas panjang. Jantungnya benar-benar terasa hampir copot. Sepertinya ia harus segera menutup akses pagar balkon atau menjauhkan semua barang pecah belah. Rasa penasaran Zayra ternyata jauh lebih tinggi dari logika mana pun.
"Tuan, itu baru dasarnya. Anak ini sangat ajaib kelakuannya," gumam Elvar yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kayden.
"Diamlah, tidak ada anak yang nakal, dia hanya cerdas," desis Kayden membela putrinya.
Kayden kemudian menurunkan Zayra perlahan. Ia berlutut di hadapan anak itu, meraih tangan kecilnya dengan lembut. Tatapan mereka bertemu. Kayden menatapnya dalam, mencoba membangun koneksi serius agar Zayra tidak terdistraksi oleh burung di luar sana.
"Zayra mau tinggal di sini sama Papa?" tanya Kayden pelan.
"Heum! Cama Mama juga," sahut Zayra dengan cepat. Jawaban itu membuat Kayden tersenyum penuh arti.
"Oke, kita akan melakukan misi penyelamatan. Kita akan selamatkan Mama dari musang jahat, oke?" ucap Kayden, mencoba menggunakan bahasa yang dimengerti anak-anak.
Zayra mengerjapkan matanya, tampak berpikir keras. "Mucang bilahi?"
Kayden dan Elvar seketika mematung. Keduanya saling pandang dengan tatapan syok yang luar biasa. Waktu seolah berhenti berputar mendengar kata bilahi keluar dari mulut mungil seorang balita. Sementara itu, si pembuat ulah masih menatap mereka dengan wajah menggemaskan, seolah baru saja mengucapkan kata yang sangat normal.
"Zayra ... kata-kata itu buruk, Sayang. Jangan dikatakan lagi, ya? Katakan saja musang jahat, jangan pakai kata ... ekhem, bilaahi yang kamu maksud tadi," ucap Kayden dengan suara sepelan mungkin, wajahnya memerah menahan malu.
Zayra mengangguk-angguk, namun matanya melirik curiga. "Teluuuus cetelah lebut balu boleh? Belalti Papa mucangnya?"
"Hah?! Kenapa jadi Papa yang musangnya?!" protes Kayden tidak terima.
Zayra mendekatkan wajahnya ke arah Kayden, menatap papanya dengan ekspresi menghakimi. "Kalna Papa belbohong! Papa bilang pulang kelja bawa Ictli, tapi Papa pulang bawa dolal. Papa tahu nda, Zayla bocan. Dolal itu nda bica dimakan. Papa ini, diale ya otaknya?!"
"Heuh?!" Kayden melongo. Ia benar-benar kehilangan kata-kata. Bagaimana bisa anak sekecil ini memiliki pemikiran yang begitu kritis sekaligus nyeleneh?
Elvar di sudut ruangan sudah tidak bisa menahan tawa, sementara Kayden hanya bisa menghela napas pasrah. Menghadapi Zira mungkin sulit, tapi menghadapi Zayra ternyata jauh lebih menguras tenaga dan kewarasan. Namun, di balik itu semua, Kayden tahu bahwa Zayra adalah senjatanya yang paling ampuh untuk membawa Zira kembali ke pelukannya.
"Dengar, Zayra. Papa tidak diare otaknya," ucap Kayden sembari merapikan rambut putrinya. "Kita akan bawa Mama pulang, tapi Zayra harus jadi anak baik. Jangan pecahkan guci lagi, oke?"
Zayra memiringkan kepalanya, "Nanti Zayla pikil-pikil dulu," ucapnya yang mengundang tawa keras Elvar.
ku laporin ayang Xander nanti kau mau sakiti anak nya lagii, aku cctp lohh inii🤣