NovelToon NovelToon
Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: ArdaKings

Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.

Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Empat Bayangan di Tengah Keributan

Begitu perintah "Serang!" meluncur dari mulut Roderick, suasana Pasar Lama langsung berubah menjadi kacau. Teriakan keras meledak, puluhan pasang kaki melangkah cepat, dan tongkat-tongkat kayu diayunkan ke udara dengan tujuan menghantam keempat sosok yang berdiri tenang di tengah kerumunan.

Pedagang yang masih ada segera menunduk, merapatkan diri ke balik kios-kios kayu, atau berlari menjauh ke gang-gang sempit agar tidak terlibat. Jalanan yang tadi terasa sesak, kini tiba-tiba menyisakan ruang kosong yang cukup luas untuk pertarungan.

Namun, bagi Kael dan kawan-kawannya, serangan yang datang itu tidak terasa seperti ancaman besar — melainkan lebih seperti badai debu yang lewat, berisik tapi bisa dihadapi dengan kepala dingin.

Bastian yang sudah menahan amarah sejak tadi, justru menjadi yang paling pertama bergerak. Tubuhnya melesat maju seperti pegas yang dilepaskan. Begitu tongkat pertama melayang mendekat ke arah bahunya, dia hanya menggeser badannya sedikit ke samping, menghindari hantaman itu dengan gerakan yang sangat sederhana tapi tepat.

Brak!

Tongkat itu menghantam lantai tanah, menimbulkan gumpalan debu yang beterbangan. Sebelum orang yang memegangnya sempat menarik kembali, lengan Bastian sudah melingkar cepat, memukul sisi perut lawan dengan punggung tangannya. Tidak terlalu keras sampai melukai parah, tapi cukup kuat untuk membuat orang itu terbatuk, tertekuk, dan jatuh terduduk tanpa tenaga.

"Satu..." gumam Bastian pelan, matanya masih menatap tajam ke arah yang lain.

Di sebelahnya, Mikhael berdiri tegak bagai tiang penyangga pasar itu. Dua orang sekaligus mengayunkan tongkat dari kiri dan kanan, berusaha menjepitnya. Dia hanya mengangkat kedua lengannya, menangkap kedua ujung tongkat itu dengan telapak tangannya yang lebar, lalu menariknya sekaligus ke arah tengah.

Dug!

Kedua orang itu terbentur satu sama lain, dahi mereka bertabrakan, dan langsung terhuyung mundur sambil memegang kepala. Mikhael hanya tersenyum tipis, lalu mendorong bahu mereka dengan lembut tapi mantap, membuat keduanya terjatuh ke tanah.

"Pelan-pelan saja, jangan sampai patah tulang," ucapnya santai, seolah baru saja menyingkirkan dua orang yang menghalangi jalan, bukan menghadapi musuh.

Di sisi lain, Niko bergerak dengan kecepatan dan kelincahan yang berbeda. Dia tidak menyerang langsung, melainkan terus berputar menghindari setiap hantaman yang datang. Setiap kali tongkat meleset, dia akan menyentuh bagian siku atau bahu lawan dengan sentuhan ringan tapi tepat — cukup membuat keseimbangan mereka terganggu, lalu menjatuhkan mereka dengan gerakan kaki yang halus.

Dia bergerak bagai bayangan yang sulit ditangkap mata, membuat lawan yang mengincarnya justru saling mengganggu satu sama lain.

"Jangan menyerang membabi buta! Perhatikan posisi!" teriak salah satu anak buah Roderick, tapi suaranya tenggelam di tengah hiruk-pikuk.

Dan di tengah semuanya, Kael tetap menjadi pusat perhatian. Dia tidak bergerak terlalu cepat, juga tidak menyerang dengan tenaga yang meledak-ledak. Setiap gerakannya terukur, tenaganya terkontrol sempurna. Begitu ada yang mendekat, dia hanya menggeser tubuh sedikit, memutar pergelangan tangan, lalu mengarahkan tenaga lawan itu ke arah lain.

Satu per satu, orang-orang Elang Berdarah yang mencoba mendekatinya terhuyung, terjatuh, atau terpental ke samping tanpa dia harus mengayunkan pukulan keras. Dia bertarung bukan dengan kekuatan kasar, tapi dengan memanfaatkan tenaga dan arah serangan musuh itu sendiri.

Dalam waktu kurang dari lima menit, sudah lebih dari sepuluh orang terbaring atau duduk terengah-engah di tanah, tidak sanggup berdiri lagi. Tongkat-tongkat kayu berserakan di mana-mana, ada yang patah karena terinjak atau terbentur benda keras. Debu beterbangan memenuhi udara, membuat suasana terlihat kacau tapi tetap terkendali.

Roderick yang berdiri agak di belakang, awalnya masih tersenyum percaya diri. Namun, semakin lama melihat pertarungan itu, senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan tidak percaya dan keringat dingin yang mulai membasahi telapak tangannya.

Dia tahu anak buahnya tidak lemah — mereka sudah sering berkelahi dengan kelompok lain yang lebih kecil dan selalu menang. Tapi kali ini, mereka terlihat seperti anak-anak yang bermain-main, tidak bisa menyentuh ujung baju keempat orang itu sekalipun.

"Apa-apaan ini..." gumamnya pelan, jari-jarinya mulai meremas gagang korek api di tangannya sampai terasa sakit.

"Kalian lihat?" teriak Bastian sambil berdiri tegak, napasnya masih teratur meski sudah bergerak cukup lama. Suaranya menggema di tengah pasar yang mulai hening kembali. "Kalian pikir mengumpulkan orang banyak saja sudah cukup untuk menguasai tempat ini? Kalian salah besar! Di jalanan ini, kekuatan bukan hanya soal berapa banyak orang yang ada di sisimu, tapi seberapa mampu kamu menjaga dirimu sendiri dan memegang janji!"

Dia melangkah maju selangkah, dan orang-orang yang masih berdiri langsung mundur ketakutan.

Roderick menggigit bibirnya, rasa malu dan marah mulai meluap di dadanya. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa rencananya yang sudah dia susun berminggu-minggu ini hancur hanya dalam hitungan menit. Dia melirik ke kiri dan kanan, melihat anak buahnya yang sudah mulai gentar, lalu memutuskan untuk bertindak sendiri.

"Menyingkir!" bentaknya lantang, melangkah melewati barisan anak buahnya. Jas putihnya yang tadi masih rapi kini sedikit kotor terkena debu, tapi dia tetap berusaha mempertahankan sikap angkuhnya. Matanya menyipit tajam, menatap langsung ke arah Kael. "Kalau kalian mengandalkan trik menghindar saja, maka hadapi aku secara langsung! Tanpa bantuan siapa pun!"

Kael menatapnya tenang, lalu mengangguk perlahan. Dia memberi isyarat tangan ke samping, meminta Bastian dan yang lain untuk mundur sedikit dan memberi ruang.

"Baiklah," jawab Kael pelan. "Kalau itu yang kamu inginkan. Tapi ingat — aku sudah memperingatkanmu sebelumnya."

Roderick tidak menjawab. Dia langsung melesat maju, langkahnya cepat dan mantap. Tangannya dikepal rapat, lalu melayangkan pukulan pertama ke arah wajah Kael dengan tenaga penuh. Pukulan itu terasa berat, disertai angin yang berhembus, menunjukkan bahwa dia juga bukan orang yang tidak punya kemampuan.

Namun, Kael hanya menggerakkan kepalanya sedikit ke samping, menghindari pukulan itu dengan jarak yang sangat dekat. Sebelum Roderick sempat menarik lengannya kembali, Kael sudah mengangkat tangannya, menahan siku lawan itu dengan telapak tangan, lalu mendorongnya sedikit ke atas.

Duk!

Roderick terhuyung ke depan, keseimbangannya terganggu. Dia cepat menstabilkan tubuhnya, lalu berputar dan mengayunkan siku ke arah pinggang Kael. Gerakannya cepat dan terlatih, hasil dari pengalaman bertarung selama bertahun-tahun.

Kael melangkah mundur satu langkah, menghindari hantaman itu, lalu menangkis lengan Roderick dengan gerakan melingkar yang halus. Setiap serangan yang datang selalu dia tangkis atau hindari dengan gerakan yang tampak ringan, seolah Roderick hanya berusaha memukul bayangan di udara.

Semakin lama bertarung, napas Roderick semakin terengah-engah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat jas putihnya terasa berat dan lengket. Dia mengerahkan seluruh tenaganya, menyerang dari segala arah, tapi tidak satu pun yang berhasil menyentuh Kael. Sebaliknya, setiap kali dia meleset, dia merasa tenaganya terbuang percuma, dan rasa lelah mulai menjalar ke seluruh ototnya.

"Kenapa tidak menyerang balik?!" teriak Roderick dengan suara yang mulai terasa berat. "Kamu pengecut! Hanya pandai menghindar saja!"

Kael tetap tenang, matanya tetap mengamati setiap gerakan kecil lawannya. "Aku tidak ingin melukaimu sampai parah. Kamu masih muda, masih punya kesempatan untuk berubah jalan."

"Jangan bicara omong kosong!" Roderick mengamuk, melompat sedikit ke udara lalu mengayunkan kedua tangannya bersamaan dengan tenaga terakhir yang dia miliki.

Namun, kali ini Kael tidak lagi hanya menghindar. Begitu kedua lengan Roderick melayang di depan, dia menangkap kedua pergelangan tangan itu dengan kuat tapi tidak menyakitkan. Dia menahan gerakan itu seketika, lalu mendorongnya sedikit ke belakang sambil memutar pinggangnya — mengarahkan tenaga Roderick itu kembali ke arah tubuhnya sendiri.

Dug!

Roderick terlempar mundur beberapa langkah, lalu jatuh terduduk di atas tanah yang berdebu. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun cepat, dan tangannya terasa lemas tidak bertenaga. Dia mencoba berdiri lagi, tapi kakinya gemetar, dan saat dia mencoba mengangkat kepalanya, dia melihat Kael berdiri tenang hanya dua meter di depannya — tidak terlihat lelah sedikit pun, bahkan napasnya masih teratur seperti orang yang baru saja berjalan santai.

Suasana di sekitar menjadi sunyi senyap. Tidak ada suara teriakan, tidak ada bunyi tongkat, hanya terdengar napas berat orang-orang yang terbaring dan napas Roderick yang tersengal-sengal. Semua mata tertuju pada pemimpin Elang Berdarah yang kini duduk terkulai, rasa angkuh dan kekuasaannya lenyap seketika.

Kael melangkah mendekat, lalu berlutut sedikit agar posisinya sejajar dengan Roderick. Suaranya terdengar pelan tapi jelas, hanya didengar oleh mereka berdua.

"Kekuasaan yang didapat dengan menindas orang lemah tidak akan bertahan lama," kata Kael tenang. "Harga diri tidak diukur dari seberapa banyak orang yang takut padamu, tapi dari seberapa banyak orang yang percaya padamu. Kalau kamu terus berjalan di jalan ini, suatu hari nanti kamu akan bertemu dengan orang yang tidak selembut kami — dan konsekuensinya tidak akan sebaik ini."

Dia berdiri kembali, lalu menoleh ke arah orang-orang yang masih berdiri ketakutan.

"Kalian semua boleh pulang," ucapnya lantang. "Bawa teman-temanmu yang terluka. Hari ini kami tidak menuntut balas, tapi ingatlah baik-baik: jangan pernah menginjak wilayah ini lagi, jangan pernah mengganggu warga di sini, dan jangan pernah mengancam mereka yang lemah. Kalau kalian melanggarnya lagi, pertemuan berikutnya tidak akan berakhir seperti ini."

Anak buah Roderick saling pandang, lalu segera bergerak mengangkat teman-temannya yang terjatuh. Mereka berjalan tergesa-gesa, membawa pimpinan mereka yang masih duduk lemas, menjauh dari Pasar Lama dengan rasa malu dan takut yang mendalam.

Begitu mereka menghilang di ujung jalan, suasana hening itu perlahan pecah. Para pedagang mulai keluar dari persembunyiannya, menatap keempat sahabat itu dengan tatapan lega dan penuh rasa hormat. Beberapa orang bahkan mulai bertepuk tangan pelan, tanda terima kasih yang tidak terucapkan.

Pak Leo, pemilik warung makan yang sudah tua dan sering memberi kabar pada mereka, berjalan mendekat sambil tersenyum lebar.

"Terima kasih, anak-anak," katanya dengan suara bergetar. "Kami sudah takut sejak pagi tadi. Kalau kalian tidak datang, entah apa yang akan terjadi pada kami."

Bastian mengangguk sambil mengelap keringat di dahinya. "Ini tugas kami, Pak Leo. Kami janji, selama kami ada, tidak ada yang boleh sembarangan menindas orang-orang di sini."

Niko melihat sekeliling, memastikan tidak ada lagi bahaya yang tersisa. "Sekarang semuanya aman. Mulai besok, aturan kembali seperti biasa. Tidak ada pungutan lebih, tidak ada ancaman."

Mikhael hanya tersenyum lebar, lalu menepuk bahu Bastian dan Kael dengan tenaga yang cukup keras. "Bagus, selesai lebih cepat dari yang aku duga. Sekarang kita bisa pulang dan makan mi yang sudah dimasak tadi, kan? Jangan sampai dingin nanti rasanya hambar."

Mereka pun berjalan perlahan keluar dari Pasar Lama, meninggalkan keramaian yang mulai kembali hidup seperti sedia kala. Namun, di balik keberhasilan menyelesaikan masalah ini, Kael masih merasa ada sesuatu yang terasa ganjil di hatinya.

Saat mereka berjalan pulang, dia melirik ke arah selatan kota, tempat pabrik tua itu berada. Dalam hatinya dia berpikir — apakah ini benar-benar hanya masalah kelompok kecil yang ingin mencari kekuasaan, atau ada tangan lain yang bergerak di balik layar?

Dan jauh di dalam pabrik tua itu, Arda yang baru saja terbangun sebentar untuk minum air, kembali berbaring dan menarik selimutnya. Dia mendengar suara samar dari kejauhan, tapi hanya menganggapnya suara biasa di jalanan. Dia tidak tahu bahwa masalah ini baru saja selesai untuk sementara, dan ujian yang sesungguhnya baru akan datang — yang suatu hari nanti akan memaksanya untuk bangun dan bergerak, meskipun dia sangat enggan melakukannya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!