NovelToon NovelToon
The Dark Lord

The Dark Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Vampir
Popularitas:555
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.

Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.

Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.

Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan Alea

BUAGH!

Tanpa menunggu lama, Alea langsung melayangkan tendangan ke arah para Werewolf yang mulai mendekatinya. Para manusia serigala itu telah mengambil posisi untuk menyerang Alea dan Elleanor. Namun, secepat kilat, belati kecil nan tajam yang selalu dibawa Alea berkelebat, membabat tubuh mereka tanpa ampun.

Alea memang dikenal sebagai salah satu vampir yang memiliki kekuatan luar biasa. Terlebih setelah ia meminum setetes darah Sonja waktu itu. Meski hanya setetes, darah tersebut membuat tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan gerakannya menjadi semakin cepat.

Sreeett... Sreeett....

Dalam sekejap, tubuh Alea bermandikan darah para Werewolf. Lebih dari sepuluh manusia serigala tewas di tangannya hanya dalam hitungan detik. Ia bahkan tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada Elleanor untuk turun tangan.

Elleanor bersama ketiga vampir lainnya hanya bisa terdiam, menyaksikan amukan Alea dengan tatapan tercengang. Wanita dingin itu bergerak tanpa ragu, seolah sedang melampiaskan hasrat membunuh yang selama ini dipendamnya.

"Wow! Kau lumayan juga," puji Yuno sambil melongo menyaksikan keganasan Alea."Si dingin yang mematikan. Mari kita bermain."

Tiba-tiba Yuno sudah berdiri tepat di hadapan Alea."Ayo kita duel, Manis." Setelah itu, matanya melirik wanita cantik yang berdiri di belakang Alea."Elle, kau tetap yang paling manis di mataku."

Ucapan itu hanya dibalas tatapan tajam dari Elleanor.

Sraakk...!

Bruuuk!

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alea langsung menerjang Yuno dan membanting tubuhnya hingga menghantam tanah.

"Kau curang! Aku bahkan belum siap," gerutu Yuno sambil meringis kesakitan dan berusaha bangkit.

"Payah," desis Victoria.

"Sudah kubilang aku belum siap! Menyebalkan!" sembur Yuno kesal pada sahabatnya. Dengan gerakan cepat, ia kembali berdiri lalu menerjang Alea.

Pertarungan mereka pun tak lagi dapat dihindari. Keduanya saling bertukar pukulan dan serangan tanpa memberi celah sedikit pun. Namun, Alea dengan mudah mematahkan setiap serangan Yuno. Hal itu membuat pria tersebut semakin geram.

Udara siang itu seakan ikut memanas mengikuti sengitnya pertarungan. Alea tetap bertarung dengan wajah datar, sementara Yuno mulai terlihat kewalahan. Berkali-kali tubuh Yuno tersayat oleh belati kecil milik Alea hingga dipenuhi luka. Darah hitam mengucur dari setiap sayatan yang menghiasi tubuhnya.

Kini ia sadar telah melakukan kesalahan besar karena meremehkan wanita dingin itu. Dia sama sekali tidak mampu mengimbangi kekuatan Alea. Berulang kali tubuhnya terpental akibat serangan bertubi-tubi. Namun, Alea rupanya masih belum merasa puas. Dalam sekejap, wanita itu kembali muncul di hadapan Yuno. Tangannya mencengkeram leher pria itu dengan kuat hingga membuatnya kesulitan bernapas. Tak berhenti di situ. Hanya dengan satu tangan, Alea mengangkat tubuh Yuno hingga menggantung di udara.

Melihat Yuno tak lagi berdaya, Victoria dan Greg akhirnya bergerak untuk menyelamatkannya. Mereka benar-benar tidak menyangka Alea ternyata sekuat itu. Namun, sebelum keduanya sempat mendekat, Elleanor sudah lebih dulu menghadang langkah mereka."Jangan berani ikut campur. Jadilah penonton yang baik," ancam Elle dengan seringai tipis.

Tanpa pilihan lain, Victoria dan Greg pun menyerangnya. Pertarungan baru kembali pecah. Elleanor dengan sigap menahan kedua vampir itu agar tidak bisa mendekati Alea dan Yuno.

***

“Ibu, memangnya kita mau ke mana? Sonja ingin pulang, Bu.” Gadis kecil itu terus merengek. Tak ada yang bisa ia lakukan selain memohon pada wanita yang terus berjalan tergesa-gesa sambil menggenggam erat tangannya.

“Sabarlah, Sayang. Kita akan pergi ke rumah Bibi Carmen. Kau masih ingat kan, pada Bibi Carmen? Di sana kau akan aman,” ujar sang ibu dengan suara lembut.

Bibi Carmen.

Tentu saja Sonja mengingatnya. Wanita aneh yang selalu mengenakan jubah abu-abu itu. Sejujurnya, Sonja tidak terlalu menyukai bibinya karena sikapnya yang menurutnya sangat aneh.

“Aku sudah lelah. Kapan kita sampai?” keluh Sonja. Tubuh kecilnya terasa letih, sementara sang ibu terus melangkah cepat, nyaris berlari.

“Sebentar lagi, Sayang. Kemarilah, Ibu akan menggendongmu. Tidurlah di pundak Ibu. Nanti kalau kita sudah sampai, Ibu akan membangunkanmu.” Tanpa menunggu jawaban, wanita itu mengangkat tubuh Sonja ke dalam gendongannya.

Sonja membuka matanya perlahan saat suara keributan membangunkannya. Rupanya ia sempat tertidur.“Aku tidak mau kehilanganmu, Sofia. Kumohon, kita akan mencari cara lain.”

Suara itu berasal dari Bibi Carmen. Wajah wanita berjubah abu-abu itu dipenuhi kegelisahan dan kesedihan. Sonja sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

“Tidak ada cara lain. Mereka akan membunuh putri kecilku. Tolonglah aku, Carmen,” pinta Sofia dengan air mata yang terus mengalir.

Sonja kecil terdiam. Dadanya terasa sesak melihat ibunya menangis.

“Aku tidak mau kehilanganmu,” balas Carmen lirih seraya memeluk kakaknya erat.

“Tidak ada waktu lagi. Cepat lakukan penyegelan, lalu bawa Sonja pergi jauh dari tempat ini.”

“Sofia...” bisik Carmen dengan suara bergetar.

“Kumohon.”

“Kita pergi bersama.”

“Tidak. Percuma saja.”

Perdebatan itu terdengar asing bagi Sonja. Ia hanya memandangi mereka sambil mengusap matanya yang masih berat karena kantuk. Beberapa saat kemudian, Bibi Carmen menghampirinya. Wanita itu menatap Sonja dengan sorot mata penuh iba, lalu meletakkan telapak tangannya di atas kepala gadis kecil itu. Bibirnya bergerak pelan, melantunkan mantra yang tidak dipahami Sonja. Sesaat setelah mantra itu selesai, Carmen langsung menggendong Sonja dan membawanya menjauh.

Sonja semakin kebingungan. Mereka keluar dari rumah, meninggalkan ibunya seorang diri. Dari kejauhan, ia melihat Sofia masih berdiri di tempatnya, menatap putri kecilnya dengan mata yang dipenuhi kesedihan.

“Ibu...”

“Bibi Carmen, lepaskan aku! Lepaskan aku!”Sonja meronta sekuat tenaga.

“Ibu! Ibuuu!”

Sonja tersentak bangun dengan napas memburu. Dahinya dipenuhi peluh, sementara dadanya naik turun menahan sesak. Mimpi itu.

Mimpi tentang ibunya kembali datang. Sonja berusaha mengatur napasnya, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar, mencari sosok pria yang akhir-akhir ini selalu menemaninya. Namun, pria itu tidak ada. Pantas saja mimpi itu kembali datang. Sonja masih terduduk di atas ranjang. Rupanya ia tertidur karena kelelahan. Namun mimpi itu terasa seperti dejavu, begitu nyata, seolah benar-benar terjadi.

Ibunya.

Dan Bibi Carmen.

Apa yang sebenarnya terjadi setelah Carmen membawanya pergi? Sonja sama sekali tidak mampu mengingatnya. Dia harus menemui Bibi Carmen. Hanya wanita itu yang bisa menjawab semua pertanyaan tentang ibunya.

Sonja mengembuskan napas panjang, lalu memaksakan diri bangkit dari ranjang. Ia melangkah keluar kamar. Suasana kastil terasa begitu sunyi. Ke mana Arthur?

***

Yuno bisa merasakan cengkeraman di lehernya semakin kuat. Sedikit lagi, dia yakin tulang lehernya akan patah di tangan Alea. Dia sudah pasrah. Mungkin inilah akhir hidupnya. Hanya saja, kenapa harus berakhir di tangan Alea? Sungguh tidak keren.

Yuno perlahan memejamkan mata, pasrah menunggu ajal. Namun, tiba-tiba tubuhnya seperti ditarik oleh sebuah kekuatan. Dalam sekejap, posisinya berpindah. Saat kembali membuka mata, dia mendapati dirinya telah berada dalam pelukan seseorang."My Lord..." gumamnya lirih.

Arthur membaringkan tubuh Yuno dengan hati-hati, lalu tanpa membuang waktu langsung melesat menyerang Alea. Namun, dengan sigap Alea menghindari serangan mendadak itu.

"Aku mengira seranganku waktu itu cukup untuk membuatmu lumpuh. Ternyata kau lebih tangguh dari yang kuduga," ujar Arthur sambil menatap Alea tajam.

Alea membalas tatapan itu tanpa gentar. Sejujurnya, dia pun terkejut. Luka separah itu seharusnya belum mungkin sembuh secepat ini."Di mana Sonja?" tanyanya lugas tanpa basa-basi.

"Itu bukan urusanmu, vampir bodoh." Begitu kalimat itu terucap, Arthur langsung menerjang. Alea berusaha menghindar, tetapi kecepatan Arthur jauh berada di atasnya. Setiap kali berhasil mengelak dari satu serangan, pukulan berikutnya sudah datang menghantam.

BUAGH!

Sebuah pukulan telak menghantam perut Alea hingga darah segar menyembur dari bibirnya. Serangan bertubi-tubi itu membuat tubuhnya mulai limbung.

Di sisi lain, Elleanor yang menyaksikan Alea terdesak kehilangan fokus. Kesempatan itu dimanfaatkan Victoria untuk membekuknya.

"Masih sanggup berdiri rupanya." desis Arthur.

Alea mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu memaksa tubuhnya kembali tegak.

Arthur memperhatikan wanita itu dengan sorot mata menyipit. Serangannya barusan cukup untuk melumpuhkan vampir biasa. Bahkan pemimpin klannya, hingga kini masih belum pulih akibat serangan serupa. Tetapi wanita ini, masih mampu berdiri. Bukankah dia vampir yang sering disebut-sebut Sonja?Jangan-jangan?

Tatapan Arthur berubah semakin dingin. Tanpa memberi kesempatan, dia melayangkan pukulan terakhir.

BRAKK!

Tubuh Alea terpental lalu menghantam tanah dengan keras. Kali ini dia benar-benar tak mampu bangkit lagi.

"Bawa mereka berdua. Aku masih membutuhkan mereka," perintah Arthur kepada anak buahnya.

Nasib Elleanor pun tak jauh berbeda. Setelah menerima serangan bertubi-tubi dari Victoria dan Greg, tubuhnya akhirnya roboh tak sadarkan diri.

***

Entah mengapa, dada Sonja tiba-tiba dipenuhi rasa gelisah. Sejak tadi dia mondar-mandir di dalam kamar, berkali-kali melirik ke arah jendela. Hari mulai beranjak gelap. Namun Arthur dan yang lainnya belum juga kembali. Ke mana mereka? Apa terjadi sesuatu pada Arthur?

Sonja menarik napas panjang berulang kali. Lalu tiba-tiba..

GUBRAKK!

Pintu kamar mendadak terbuka dengan keras hingga membuat Sonja tersentak. Arthur berdiri di ambang pintu.

"Arthur! Kau dari mana saja?" Sonja segera menghampirinya."Aku kira kau benar-benar pergi meninggalkanku di sini."

Namun, Arthur hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Seketika langkahnya terhenti saat melihat tatapan dingin yang belum pernah diarahkan Arthur kepadanya."Kau kenapa?"

Tanpa peringatan, Arthur mencengkeram dagu Sonja dengan kasar."Aku akan menanyakan sesuatu," ucapnya dingin. "Dan jika kau berani berbohong, aku akan langsung mengetahuinya. Jadi jawablah dengan jujur."

Sonja menatapnya dengan bingung."Me,menanyakan apa?"

Tatapan Arthur semakin menusuk."Apakah kau pernah memberikan darahmu kepada vampir bernama Alea?"

Mata Sonja langsung membelalak. Cengkeraman di dagunya semakin kuat hingga menimbulkan rasa sakit."A,apa?" gumamnya pelan.

"Jawab aku, Sonja."

1
Firkoh
menegangkannya dapet, cepet update ya kaka author
Saasaa: Terimakasih 🙏 Update tiap hari
total 1 replies
Firkoh
ngeri banget loe thur
Firkoh
kaaaaan bener
Firkoh
ikut tegang Cuy
Firkoh
jangan2 Arthur nih pangeran kegelapannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!