NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

​Keputusan Gus Ibra untuk memindahkan mereka dari lingkungan pesantren ternyata di luar dugaan Bita. Hanya berselang tiga hari setelah akad nikah, Ibra memboyongnya ke sebuah rumah pribadi yang baru saja ia beli di salah satu kawasan elite Jakarta Selatan. Rumah itu berarsitektur modern tropis dengan dominasi kaca besar, dinding batu alam, dan halaman belakang asri yang dilengkapi kolam renang minimalis.

​Desain interiornya sangat kental dengan vibe Japandi modern yang estetik—persis seperti selera kamar Ibra di pesantren, namun kali ini areanya jauh lebih luas dan privat. Seluruh perabotan kayunya dipoles kilap sempurna, berpadu dengan sofa kain berwarna krem yang empuk.

​"Ini beneran rumah lo? Bukan punya Abi?" tanya Bita sambil berkacak pinggang di tengah ruang keluarga, menatap langit-langit rumah yang tinggi.

​Ibra yang sedang meletakkan koper besar milik Bita di dekat tangga hanya mengangguk pelan. "Iya. Ini dari hasil usaha saya sendiri."

​Bita memutar tubuhnya, menatap suaminya dengan pandangan menyelidik. "Terus kenapa kita harus pindah ke sini? Bukannya hidup lo tuh di pesantren? Lo gak takut dikira kabur dari tanggung jawab sama santri-santri lo?"

​Ibra berjalan mendekat, langkah kakinya sangat sunyi di atas lantai parket kayu. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Bita, menatap langsung ke dalam manik mata istrinya dengan ketenangan yang biasa. "Di pesantren, privasi kamu akan terganggu. Kamu tidak akan bebas menjadi diri kamu sendiri karena harus menjaga pandangan ribuan orang. Di sini, kamu bebas."

​Bita tertegun sejenak. Ada rasa hangat yang aneh mendadak menyengat dadanya. Namun, egonya yang setinggi langit langsung menepis perasaan itu. Ia mendengus remeh. "Oh, jadi lo sengaja beli rumah ini cuma buat manjain gue? Biar gue luluh gitu?"

​"Saya beli rumah ini agar kamu nyaman, Tsabita. Bukan untuk menyogok kamu," balas Ibra datar, suaranya terdengar begitu tenang dan irit bicara. Pria itu kemudian melirik jam tangan hitamnya. "Saya ada urusan sebentar ke kantor asrama putra dan koordinasi bisnis di luar. Pakaian kamu sudah dirapikan khadam di kamar atas. Istirahatlah."

​Tanpa menunggu sahutan Bita, Gus Ibra membalikkan badannya dan melangkah keluar menuju garasi. Tak lama kemudian, suara deru mesin moge hitamnya yang berat dan ngebass terdengar menjauh dari halaman rumah, meninggalkan Bita sendirian di dalam rumah mewah yang sepi.

​Berada sendirian di rumah baru selama beberapa jam membuat otak kreatif bin tengil Bita mulai bekerja liar. Sambil berbaring terlentang di atas kasur king size kamarnya, kalimat ancaman Ibra di meja makan malam lalu mendadak berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak.

​“Lihat saja nanti kalau kamu berani mencobanya.”

​Bita mendengus kencang, menatap langit-langit kamar dengan kesal. "Sialan. Sok misterius banget tuh cowok. Pikir dia, dia siapa bisa bikin gue ketakutan?"

​Rasa penasaran Bita berada di ubun-ubun. Jiwa pemberontaknya yang selama ini hobi menantang maut mendadak tertantang. Bita ingin tahu, sedalam apa sebenarnya kesabaran seorang Gus Ibra Al Zayn. Hukuman apa yang akan diberikan oleh pria yang seumur hidupnya dididik dengan kelembutan dan adab agama itu jika istrinya sengaja melanggar aturan pertama mereka? Apakah dia akan membentak? Apakah dia akan mengurungnya? Atau jangan-jangan dia cuma menggertak?

​"Oke, mari kita uji seberapa kokoh kesabaran lo, Gus," gumam Bita dengan senyuman sassy yang terukir lebar di wajah cantiknya.

​Bita langsung bangkit dari kasur, berjalan cepat menuju lemari pakaian. Ia mengabaikan setelan gamis dan tunik sopan pemberian Umi. Tangannya dengan sengaja memilih pakaian dari sisa kopernya sendiri: sebuah dress ketat di atas lutut berwarna hitam, dan sepasang heels senada yang modis. Gaya andalannya saat hendak nongkrong di Senopati.

​Ia memulas wajahnya dengan makeup, menggerai rambut hitam lurusnya, dan menyemprotkan parfum mahal beraroma manis yang kuat.

​Tepat pukul tujuh malam, ponsel Bita bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup temannya.

“Bita! Lo di mana anjir? Anak-anak lagi pada kumpul di lounge biasa nih. Kurang lo doang yang gak ada!”

​Bita tersenyum puas. Perfect timing.

​Ia menyambar tas kecilnya, lalu melangkah turun ke lantai bawah. Dan seolah takdir memang sedang mendukung rencana gilanya, suara deru moge Ibra terdengar memasuki garasi tepat saat Bita berada di ruang tengah.

​Pintu utama terbuka. Gus Ibra melangkah masuk ke dalam rumah. Pria itu tampak sedikit lelah, namun tetap terlihat luar biasa karismatik dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku dan celana kain gelap. Begitu matanya menangkap sosok Bita yang berdiri di tengah ruangan dengan pakaian yang terbuka, langkah kaki Ibra langsung terhenti.

​Ibra tidak berkedip. Sepasang mata tajamnya menelusuri penampilan Bita dari ujung kepala hingga ujung kaki. Suasana rumah mewah itu mendadak menjadi sangat sunyi dan tegang.

​Bita sengaja melipat kedua tangannya di depan dada, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, dan memasang senyuman menantang yang paling menyebalkan.

​"Gue mau pergi," tembak Bita blak-blakan, suaranya sengaja dibuat lantang. "Nongkrong sama anak-anak di Senopati. Sampe tengah malem. Mungkin subuh baru pulang."

​Ibra masih berdiri di posisinya. Wajah tampannya sangat tenang, sedingin es, tanpa ada gurat kemarahan atau keterkejutan sedikit pun. Ia perlahan menutup pintu rumah di belakangnya, lalu berjalan mendekati Bita. Setiap langkah kaki Ibra terasa seperti tekanan psikologis yang berat, namun Bita memaksa kedua kakinya agar tidak mundur selangkah pun.

​Ibra berhenti tepat di hadapan Bita. Jarak mereka begitu dekat hingga Bita bisa menghirup aroma maskulin suaminya yang bercampur angin malam.

​"Sudah izin ke saya?" tanya Ibra. Suaranya sangat pelan, rendah, dan teramat lembut, namun getarannya terasa begitu mengintimidasi.

​"Nggak," jawab Bita menantang, menatap langsung ke dalam manik mata Ibra. "Dan gue gak butuh izin lo. Gue sengaja gak mau minta izin, dan gue tetep bakal melangkah keluar dari gerbang rumah ini sekarang juga."

​Bita memajukan wajahnya satu senti, menantang maut. "Gue cuma mau buktiin ucapan lo di meja makan waktu itu. Katanya lo mau kasih hukuman kalau gue berani ngelanggar aturan lo? Nah, sekarang gue langgar di depan muka lo. Mau ngapain lo? Mau tampar gue? Mau kurung gue di kamar? Atau mau aduin gue ke Papa? Jawab, Gus!"

​Rentetan kalimat provokatif Bita menggema di ruangan itu. Bita menahan napasnya, jantungnya berdegup luar biasa kencang. Ia sudah bersiap untuk skenario terburuk—mungkin Ibra akan menyita tasnya, atau mengunci pintu rumah.

​Namun, Gus Ibra justru melakukan hal yang sama sekali tidak masuk dalam prediksi Bita.

​Pria itu perlahan mengembuskan napas pendek melalui hidungnya. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis, membentuk sebuah senyuman rahasia yang sangat cool, tenang, dan terkesan meremehkan seluruh gertakan Bita.

​Ibra tidak menyentuh Bita, tidak juga merebut tasnya. Pria itu justru memutar tubuhnya dengan sangat santai, berjalan menuju meja konsol di dekat pintu, lalu mengambil jaket kulit hitam miliknya yang tergeletak di sana. Dengan gerakan yang sangat tenang, Ibra memakai jaket kulit tersebut di atas kemeja hitamnya.

​Bita melongo, alisnya bertaut heran melihat tingkah suaminya. "Heh! Lo ngapain malah pakai jaket?!"

​Ibra tidak menyahut. Ia meraih kunci mogenya di atas meja, lalu mengambil sebuah helm full-face hitam doff miliknya, ditambah satu helm half-face wanita berwarna hitam senada yang tampaknya baru saja ia beli hari ini.

​Ibra kembali berjalan mendekati Bita, lalu menyodorkan helm wanita itu tepat di depan dada Bita.

​"Ayo," ucap Ibra pendek.

​Bita makin bingung, matanya berkedip berkali-kali. "Ayo apa?! Ayo ke mana?!"

​"Ke Senopati," jawab Ibra, nadanya terdengar begitu adem seolah mereka hanya sedang berencana pergi ke minimarket depan kompleks. "Katanya kamu mau nongkrong sama teman-teman kamu sampai subuh? Saya antar. Dan saya temani kamu di sana sampai selesai."

​"Hah?!" Bita membelalak lebar, suaranya naik satu oktav. "Lo gila ya?! Gue mau party sama temen-temen gue! Tempatnya itu lounge elite, musik kencang, banyak orang minum! Lo itu seorang Gus! Lo mau ke sana pakai jaket kulit begini?!"

​"Saya sudah bilang di meja makan, Tsabita. Sekarang saya adalah penanggung jawab penuh atas diri kamu. Lahir dan batin, dunia dan akhirat," tutur Ibra dengan penekanan yang sangat lembut namun sarat akan otoritas mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "Kalau istri saya mau pergi ke tempat seperti itu tanpa izin saya, maka hukumannya adalah... saya akan ikut duduk di samping kamu sepanjang malam. Menghitung berapa banyak laki-laki yang berani melirik istri saya, dan memastikan tidak ada satu tetes pun alkohol yang menyentuh bibir kamu."

​Bita membeku di tempatnya. Paru-parunya mendadak kehabisan oksigen. Otaknya mendadak macet total membayangkan skenario gila yang diucapkan Ibra.

​Bayangkan saja: Tsabita Azzahra, ratu dugem Senopati, datang ke lounge elite bersama seorang Gus tampan, karismatik, berwajah dingin yang duduk tegak di sebelahnya sambil memesan air mineral, mengawasinya dengan tatapan intens sepanjang malam di depan teman-teman gengnya. Itu bukan lagi sebuah hukuman fisik, tapi itu adalah pembunuhan karakter dan harga diri Bita secara sosial! Teman-temannya pasti akan meledeknya seumur hidup karena membawa "pawang" ke tempat nongkrong.

​"G-gak! Gak mau! Lo gak boleh ikut!" tolak Bita panik, wajahnya mendadak pucat.

​Ibra menaikkan sebelah alisnya, tatapannya tetap mengunci manik mata Bita dengan kejam. "Kalau begitu, kamu juga tidak boleh pergi, Tsabita. Pilihannya cuma dua: kamu tetap di rumah bersama saya, atau kita pergi ke Senopati berdua sekarang juga. Motornya sudah siap di luar."

​"Lo... lo licik banget ya, anjir!" maki Bita frustrasi, menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Gue cuma mau tau hukuman lo, kenapa lo malah bikin gue mati kutu kayak gini?!"

​Ibra perlahan menurunkan helm di tangannya, meletakkannya di atas sofa terdekat. Ia melangkah maju satu langkah lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga Bita bisa merasakan embusan napas hangat suaminya di puncak kepalanya.

​Ibra sedikit menundukkan kepalanya, berbisik dengan suara yang sangat rendah, lembut, namun terdengar begitu seksi sekaligus mematikan di telinga Bita.

​"Makanya, jangan pernah coba-coba menguji kesabaran saya, Istriku," bisik Ibra, kata 'Istriku' keluar dengan penekanan yang membuat seluruh bulu kuduk Bita meremang dan jantungnya berdegup gila-gilaan. "Karena hukuman dari saya tidak akan pernah membuat fisik kamu sakit, tapi saya pastikan akan membuat hati dan pikiran kamu tidak bisa berpaling dari saya."

​Skakmat. Untuk kesekian kalinya, Tsabita Azzahra kalah telak tanpa sempat melayangkan satu pun pukulan balasan. Di hadapan taktik psikologis yang begitu tenang namun mematikan dari sang suami, Bita hanya bisa berdiri mematung dengan wajah yang kini memerah padam seperti kepiting rebus.

"Sialan lo, Ibra!" batin Bita mengutuk suaminya.

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!