NovelToon NovelToon
Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Komedi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"

Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.

Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.

Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.

Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Pesan di Bawah Pohon Bambu Kuning.

Malam terakhir sebelum rombongan Sekte Lembah Bambu Biru berangkat menuju Konferensi Lembah Anggrek, di pondok Taman Obat Luar, sebuah lampu minyak kecil menerangi meja kayu tempat Wei Changqing dan Baii Ling duduk berhadapan.

Changqing meletakkan sebuah bungkusan kain kecil di depan murid mudanya itu. Ketika Baii Ling membukanya, ia menemukan tiga buah pil herbal berwarna hijau bening beraroma segar serta sebilah pedang pendek kayu.

"Turnamen Lembah Anggrek akan memakan waktu sekitar tiga sampai empat minggu termasuk perjalanan pergi dan pulang Ling-er," kata Changqing dengan nada tenang namun penuh perhatian. "Selama aku tidak ada di sekte, kau harus tinggal di taman obat ini jangan kemana mana."

Baii Ling menatap pedang kayu di tangannya, mata hitamnya sedikit meredup karena harus berpisah untuk pertama kalinya sejak ia diselamatkan dari lorong gelap Kota Lembah Hitam. "Apakah... apakah Ling-er benar-benar tidak boleh ikut membawakan barang Kakak Guru ke Lembah Anggrek?" tanyanya pelan.

Changqing menggelengkan kepalanya dengan lembut sambil tersenyum. "Lembah Anggrek saat ini akan dipenuhi oleh pendekar-pendekar elite dari berbagai sekte besar, termasuk mata-mata aliran sesat yang mungkin masih mencari keberadaanmu. Tinggal di dalam sekte di bawah perlindungan formasi lembah adalah tempat paling aman untukmu saat ini."

Ia menunjuk ke arah tiga pil hijau di dalam bungkusan kain.

"Tiga pil itu adalah Pil Sari Pati Es Bambu yang kuracik khusus untukmu selama dua hari terakhir," jelas Changqing. "Minum satu pil setiap tujuh hari sekali sebelum kau bermeditasi di malam hari. Pil itu akan melindungi meridian teratai es-mu dari hawa panas berlebih dan membantumu menembus tingkat Pendekar Rendah Tahap 3 sebelum aku pulang."

Baii Ling mendengarkan setiap instruksi itu dengan saksama, lalu mengangguk mantap. Kesedihan di wajahnya tergantikan oleh kebulatan tekad seorang murid bela diri.

"Lalu... pedang kayu ini?" tanyanya sambil mengelus ukiran halus di gagang pedang pendek tersebut.

"Cabutlah," perintah Changqing ringan.

Saat Baii Ling menarik pedang kayu itu dari sarung kulitnya, sring..., seketika terasa getaran hangat yang sangat halus mengalir dari gagang kayu ke telapak tangannya. Di bagian tengah bilah kayu itu, terukir satu garis tipis bercahaya hijau zamrud redup yang tertanam di dalam serat kayu.

"Aku telah menanamkan sehelai kecil Niat Pedang Nirwana-ku ke dalam pedang kayu itu," kata Changqing serius. "Jika kau mengalami bahaya yang mengancam nyawa di dalam atau di luar sekte saat aku tidak ada, alirkan seluruh tenaga dalam es-mu ke garis hijau itu. Pedang kayu itu akan melepaskan satu tebasan inti pedang yang setara dengan pukulan pendekar tingkat Master Bela Diri, untuk melindungimu sekaligus memberi sinyal jarak jauh kepadaku."

Mendengar betapa besarnya perhatian dan perlindungan yang dipersiapkan gurunya, mata Baii Ling berkaca-kaca haru. Ia melorot dari kursi dan bersujud dengan lutut menempel di lantai pondok.

"Ling-er bersumpah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan Kakak Guru!" ucap Baii Ling dengan suara serak yang bergetar penuh pengabdian. "Aku akan menjaga taman obat ini, berlatih setiap malam tanpa malas, dan menunggu kepulangan Kakak Guru dengan membawa kemenangan sekte!"

Changqing bangkit, membungkuk untuk mengangkat tubuh kecil muridnya, lalu mengusap kepalanya dengan kehangatan seorang ayah sekaligus guru.

"Aku percaya padamu, Ling-er. Ingat pesan utamaku, sembunyikan kekuatanmu di depan orang lain, dan jadilah air yang tenang di dalam lembah."

Keesokan paginya, saat matahari baru saja muncul di ufuk timur, rombongan Sekte Lembah Bambu Biru telah berkumpul siap di depan gerbang utama lembah.

Rombongan itu dipimpin langsung oleh Paman Guru Lin sebagai pengawas sekte, mendampingi dua perwakilan utama: Chen Wu dan Wei Changqing. Selain mereka bertiga, Zhou Hao dan dua murid senior lain ikut serta sebagai pengawal kuda dan pembawa perlengkapan medis sekte.

Ketua Sekte Zhao Wuji berdiri di pelataran gerbang mengantar keberangkatan mereka.

"Chen Wu, Changqing," pesan Guru Zhao Wuji dengan suara berwibawa. "Di Lembah Anggrek nanti, kalian mewakili martabat dan kehormatan Lembah Bambu Biru. Bertarunglah dengan sportif, jangan mencari musuh yang tidak perlu, dan tunjukkan hasil latihan kalian pada dunia."

"Murid mengerti dan patuh pada perintah Ketua Sekte!" jawab Chen Wu dan Changqing serentak sambil menundukkan kepala.

Dari kejauhan di lereng bukit barat perbukitan bambu, Baii Ling berdiri sendirian di bawah pohon. Gadis kecil berseragam hijau itu melambaikan tangan kecilnya dengan semangat mengantar keberangkatan kereta kuda rombongan yang mulai bergerak menuruni jalan setapak gunung.

Changqing yang duduk di punggung kuda menoleh ke belakang sekilas, membalas lambaian tangan muridnya dengan senyum tipis.

Kini, kuda-kuda rombongan memacu langkah ke arah timur menuju pegunungan kabut Lembah Anggrek.

Empat hari perjalanan kuda melintasi perbukitan timur membawa rombongan Sekte Lembah Bambu Biru semakin dekat ke wilayah pegunungan Lembah Anggrek.

Jalur tanah berdebu yang berkelok melintasi tebing kini mulai ramai dilalui oleh berbagai rombongan pendekar pengelana dan kereta kuda yang membawa atribut bendera sekte dari berbagai penjuru benua.

Menjelang malam di hari keempat, Paman Guru Lin memutuskan untuk mendirikan tenda perkemahan sementara di sebuah tanah lapang dekat mata air hutan pohon pinus.

Saat Zhou Hao dan murid pembantu lainnya sibuk memanggang daging kelinci hutan di atas api unggun, Kakak Senior Pertama Chen Wu duduk sendirian di atas batu besar sambil membersihkan pedang panjang putihnya dengan selembar kain sutra. Wajah pemuda jangkung itu tampak murung dan tegang.

Wei Changqing berjalan mendekat membawa dua mangkuk air teh rebusan herbal hangat, lalu menyodorkan satu mangkuk kepada Chen Wu.

"Minumlah, Kakak Senior," sapa Changqing santai sambil duduk di batu sebelah Chen Wu. "Teh akar pinus ini baik untuk melemaskan otot pergelangan tangan yang kaku akibat memegang kendali kuda seharian."

Chen Wu menerima mangkuk teh itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih."

Setelah meneguk teh hangat itu, Chen Wu menatap pedangnya yang berkilau di bawah cahaya api unggun, lalu menghela napas berat.

"Changqing... bolehkah aku bertanya sesuatu padamu dengan jujur?" tanyanya pelan.

"Tentu, Kakak Senior."

"Sore tadi, saat kita melewati persimpangan bukit, apakah kau melihat rombongan kereta kuda berbendera rajawali emas dari Sekte Pedang Badai?" tanya Chen Wu dengan mata meredup.

"Murid-murid muda mereka yang berkuda di depan... rata-rata sudah berada di tingkat Pendekar Menengah Tahap 5, bahkan ada dua orang yang auranya menembus Pendekar Tinggi Tahap 1. Padahal Sekte Pedang Badai hanyalah sekte peringkat menengah di benua ini."

Chen Wu menundukkan kepalanya, suaranya terdengar pahit. "Aku... aku adalah murid nomor satu di Lembah Bambu Biru, kebanggaan Guru Zhao. Tapi tingkatku baru di Pendekar Menengah Tahap 4. Apakah di turnamen nanti, sekte kecil kita hanya akan menjadi badut lelucon yang dipermalukan di putaran pertama?"

Mendengar keraguan diri dari sahabat seperguruan yang dulunya angkuh itu, Changqing tersenyum. Di masa lalu, Chen Wu memang gugur di babak penyisihan turnamen ini karena terlalu stres dan memaksakan diri menyerang lawan secara frontal yang memilki tenaga dalam yang lebih tinggi.

"Kakak Senior Chen," kata Changqing sambil meletakkan mangkuk tehnya. "Apakah seekor harimau perlu mengaum keras setiap jam, hanya untuk membuktikan bahwa taringnya tajam?"

Chen Wu mengerutkan dahi menatap Changqing. "Maksudmu?"

"Murid-murid Sekte Pedang Badai sengaja melepaskan aura tenaga dalam mereka di jalan raya agar semua orang melihat mereka hebat," jelas Changqing tenang.

"Namun dalam pengamatanku sore tadi, pernapasan kuda-kuda mereka terputus setiap lima belas langkah karena tenaga mereka terlalu cepat bocor ke luar. Mereka seperti gentong air yang berlubang di dasar—terlihat penuh di permukaan, tapi kosong di dalam."

Changqing menepuk pundak Chen Wu. "Sebaliknya, latihan kita di Lembah Bambu Biru mengajarkan ketenangan aliran air. Besok di arena Lembah Anggrek, jangan lawan tenaga kasar mereka dengan benturan pedang. Hemat tenagamu di tiga jurus pertama, biarkan mereka membuang hawa nafsu untuk menyerang, lalu pukul titik simpul pernapasan di bawah rusuk kiri mereka saat tebasan mereka mulai melambat."

Mendengar penjelasan yang begitu jernih, logis, dan mendalam itu, mata Chen Wu mendadak berbinar, layaknya orang yang baru keluar dari gua gelap menuju sinar matahari. Rasa cemas dan minder di dalam hatinya sirna seketika digantikan oleh rasa percaya diri yang kokoh.

"Menunggu tiga jurus dan memukul titik simpul rusuk kiri..." gumam Chen Wu dengan menghayati, lalu menatap Changqing dengan rasa hormat yang amat dalam. "Changqing... pemahaman bela dirimu benar-benar luar biasa. Aku malu pernah meremehkanmu satu bulan yang lalu."

"Kita adalah saudara satu sekte yang saling mendukung Kakak Senior," senyum Changqing.

Klotak! Klotak! Klotak!

Percakapan hangat mereka terputus oleh derap langkah puluhan kuda bertenaga tinggi yang melesat cepat di jalan raya tanah tak jauh dari perkemahan mereka.

Sepasukan anggota berkuda hitam dengan jubah sutra merah darah menembus kegelapan malam dengan kecepatan angkuh, menerbangkan kepulan debu tebal ke arah tenda-tenda pendekar pengelana di pinggir jalan. Pada panji-panji besar yang dibawa oleh pemimpin kuda mereka, terlukis lambang teratai kelopak sembilan warna merah pekat.

"Itu... rombongan dari Klan Teratai Darah!" bisik Paman Guru Lin yang langsung berdiri siaga di dekat api unggun, wajahnya sedikit tegang.

Changqing menatap rombongan anggota merah yang melintas cepat itu dari atas batu perkemahannya. Mata hitamnya menyempit, sementara di dalam pupilnya setitik kecil cahaya hijau zamrud menyala redup membaca aliran energi rombongan tersebut.

Di antara barisan tengah anggota Klan Teratai Darah, Changqing melihat sebuah kereta kuda berhias tirai sutra merah yang memancarkan aura niat pedang agresif tingkat Pendekar Tinggi Tahap 3.

‘Mu Qingxue,’ batin Changqing langsung mengenali hawa pedang tersebut. ‘Sang Iblis Pedang Wanita dari Klan Teratai Darah sudah tiba di wilayah turnamen.’

Meskipun Mu Qingxue ada di dalam kereta itu, Changqing tahu ini belum saatnya berurusan dengannya. Fokus utamanya saat ini adalah mencapai gerbang Lembah Anggrek besok sore.

1
Arman Jaya
alur ceritanya bagus..
lanjutkan Thor.....👍👍🙏
Jhon
mantap thor👍
Suhartini Wahono
suka jg.....😍👍
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Jimmi
Aku sangat menyukai cerita ini😍😍😍
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fatih Al
lanjut lagi🙏🙏
Fatih Al
mantap thor💪
Budi Xiao
Lanjut, semangat thor👍
Celestial Quill
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, vote supaya novel ini semakin dikenal dan semangat author untuk update juga semakin besar. Terimakasih sudah membaca🙏
Fatih Al
Cerita bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!