NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Barak di Bawah Bayang Benteng

Di luar bangunan, kehidupan barak tentara bayaran kembali berjalan seperti biasa. Sebagian anggota mulai merawat kuda yang baru kembali dari perjalanan panjang, sebagian lain memperbaiki perlengkapan yang rusak selama penyelamatan, sementara penjaga di pintu masuk tetap mengawasi jalan menuju Empire Krusador dengan penuh kewaspadaan.

Tidak seorang pun mengetahui bahwa kedatangan seorang ronin muda yang masih terbaring tidak sadarkan diri itu perlahan akan mengubah perjalanan kelompok tentara bayaran tersebut.

Sore perlahan berganti malam, membawa hawa dingin yang turun dari dataran tinggi perbatasan. Cahaya matahari yang sebelumnya menyinari halaman barak mulai menghilang di balik tembok kokoh Benteng Vargan, digantikan nyala obor yang dipasang di setiap sudut bangunan kayu. Dari kejauhan terdengar suara lonceng pergantian jaga di atas benteng, disusul langkah-langkah teratur para prajurit Green Continent yang mulai mengambil posisi di sepanjang tembok pertahanan. Meskipun hanya berjarak sekitar seratus meter, kehidupan di dalam benteng dan di barak tentara bayaran berjalan dengan irama yang berbeda. Benteng dijaga oleh disiplin militer yang ketat, sedangkan barak dipenuhi orang-orang yang datang dari berbagai daerah, masing-masing membawa pengalaman, kemampuan, dan alasan berbeda mengapa mereka memilih hidup sebagai tentara bayaran.

Di halaman utama, beberapa orang masih sibuk merawat perlengkapan yang rusak sepulang dari perjalanan. Ada yang sedang mengasah mata pedang hingga memantulkan cahaya obor, ada pula yang mengganti tali busur sambil sesekali bercanda dengan rekan-rekannya untuk mengusir rasa lelah. Tidak jauh dari sana, beberapa ekor kuda diberi makan dan dibersihkan dari lumpur yang menempel di kaki mereka setelah menempuh perjalanan melewati hutan. Semua pekerjaan dilakukan dengan teratur tanpa perlu banyak perintah, seolah setiap orang telah memahami perannya masing-masing.

Alfaro berdiri di depan bangunan perawatan sambil memperhatikan kesibukan itu dalam diam. Baginya, pemandangan tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan hasil dari kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun. Kelompok yang dipimpinnya memang bukan pasukan resmi Green Continent, tetapi mereka hidup dengan aturan yang sama tegasnya. Tidak ada anggota yang boleh meninggalkan rekannya di medan tugas, tidak ada yang diperbolehkan menggunakan kekuatan untuk menindas penduduk, dan setiap penugasan harus diselesaikan dengan menjaga nama baik kelompok. Aturan sederhana itulah yang membuat rombongan mereka masih bertahan meskipun perang semakin meluas di berbagai wilayah.

Seorang anggota mendekat lalu memberi hormat singkat.

"Kapten."

"Bagaimana keadaan di sekitar jalur masuk?"

"Tidak ada tanda-tanda pasukan Krusador menyeberang ke arah sini. Penjaga di jalur hutan juga belum menemukan jejak pengejar."

Alfaro mengangguk pelan.

"Tetap lakukan pengawasan sepanjang malam."

"Baik."

Setelah anak buahnya pergi, Alfaro kembali memandang ke arah ruang perawatan. Pikirannya masih tertuju pada pemuda yang mereka selamatkan beberapa jam lalu. Ia telah bertemu banyak pendekar selama hidupnya, tetapi belum pernah melihat seseorang bertahan sendirian menghadapi kepungan sebesar itu. Yang lebih mengherankan lagi, pemuda tersebut tetap berusaha membuka jalan bagi orang lain untuk melarikan diri, bukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Di dalam ruang perawatan, suasana jauh lebih tenang.

Lampu minyak yang tergantung di sudut ruangan memancarkan cahaya lembut, menerangi tempat tidur tempat Ryosuke masih terbaring tanpa kesadaran. Seluruh luka di tubuhnya telah dibersihkan, kemudian dibalut dengan kain bersih yang dibubuhi ramuan herbal. Bekas darah yang sebelumnya mengering di wajah dan lengannya juga telah dihapus, sehingga raut wajahnya kini terlihat jauh lebih tenang dibanding ketika pertama kali dibawa masuk.

Sang tabib tua perlahan merapikan peralatan yang baru selesai digunakan.

"Lukanya cukup berat," katanya sambil menutup kotak obat kayu miliknya, "tetapi tubuhnya memiliki daya tahan yang luar biasa. Aku sudah menghentikan pendarahannya. Selebihnya bergantung pada kekuatan tubuhnya sendiri."

Hana yang sejak tadi duduk di samping tempat tidur mengangkat wajahnya.

"Apakah dia akan sadar?"

Sang tabib menghela napas pelan.

"Aku tidak bisa memastikan kapan. Mungkin besok, mungkin lebih lama. Yang terpenting sekarang, jangan biarkan dia dipaksa bergerak ketika nanti membuka mata."

Hana mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu dilakukan, sang tabib meninggalkan ruangan dengan tenang. Pintu kayu kembali tertutup, menyisakan kesunyian yang hanya ditemani suara napas Ryosuke yang perlahan mulai terdengar lebih teratur.

Hana memandang wajah kakaknya cukup lama.

Ia masih sulit mempercayai bahwa mereka akhirnya dapat berkumpul kembali setelah semua yang telah terjadi. Sejak desa mereka dihancurkan, mereka dipisahkan oleh perang, pengejaran, dan penawanan. Kini mereka berada di tempat yang sama, meskipun Ryosuke masih belum mampu membuka mata.

Dengan hati-hati, Hana meraih tangan kakaknya.

Tangannya terasa hangat.

Hal sederhana itu cukup membuat dadanya yang sejak tadi dipenuhi kecemasan perlahan menjadi lebih tenang.

Di luar ruangan, Alfaro sempat berhenti di depan pintu sebelum akhirnya melangkah pergi tanpa mengganggu mereka. Menurutnya, malam itu lebih baik diberikan kepada dua saudara yang baru saja selamat dari maut.

Sementara itu, di kejauhan, obor-obor di atas tembok Benteng Vargan terus menyala menerangi jalur yang mengarah ke Empire Krusador. Para penjaga tetap berjaga dengan kewaspadaan penuh karena mereka mengetahui perang belum berakhir. Ancaman dari utara dapat datang kapan saja, dan wilayah perbatasan akan selalu menjadi tempat pertama yang merasakannya.

Di dalam barak tentara bayaran, malam berjalan dengan tenang untuk pertama kalinya sejak penyelamatan Ryosuke. Tidak ada yang mengetahui bahwa kehadiran seorang ronin muda dan adiknya di tempat itu perlahan akan menjadi awal perubahan besar bagi kelompok yang selama ini hanya hidup dari medan perang dan berbagai penugasan sebagai tentara bayaran.

Beberapa hari berlalu sejak rombongan tentara bayaran membawa Ryosuke keluar dari kepungan pasukan Empire Krusador. Selama waktu itu, kehidupan di barak yang berdiri tidak jauh dari tembok Benteng Vargan kembali berjalan sebagaimana biasanya. Para tentara bayaran menjalankan latihan setiap pagi, memperbaiki perlengkapan yang rusak, menerima para pedagang yang datang meminta pengawalan, serta bergantian menjaga jalur menuju perbatasan. Sementara kesibukan itu berlangsung tanpa henti, di dalam ruang perawatan yang terletak di sudut barak, seorang ronin muda masih terbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri, berjuang melewati luka-luka yang nyaris merenggut nyawanya.

Hana hampir tidak pernah meninggalkan ruangan itu.

Sejak Ryosuke dibawa masuk beberapa hari sebelumnya, ia menghabiskan sebagian besar waktunya duduk di samping tempat tidur, membantu mengganti kain kompres ketika diminta sang tabib, menyiapkan air hangat, atau sekadar memandangi wajah kakaknya yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka mata. Meskipun sang tabib telah beberapa kali mengatakan bahwa kondisi Ryosuke perlahan membaik, kegelisahan di hati Hana belum juga berkurang. Baginya, selama Ryosuke belum benar-benar sadar, ia belum dapat merasa tenang.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!