Abian Dirgantara, pria yang diselingkuhi sang istri karena alasan dirinya yang miskin.
Abian hancur dan terpuruk saat wanita yang dicintainya lebih memilih pria lain dan pergi meninggalkan luka yang teramat dalam.
Setelah beberapa tahun kemudian, Abian kembali dengan membawa seluruh luka dan dendam pada mantan istrinya. Ia menemukan celah untuk membalaskan dendamnya melalui putri mantan istrinya yang masih belia.
Lantas, apakah Abian akan berhasil membalaskan dendamnya kepada sang mantan istri? Atau ia justru akan terjebak dengan permainannya sendiri dan malah terjerumus dalam pesona anak mantan istrinya?
******
Ini Novel kolaborasi dari penulis Virzha dan Author Ayuza ya guys ...
Jangan lupa like, komen, vote dan subscribe ya guys !!!!
Semoga suka!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membawakan Sarapan.
"Ghea?" Terdengar suara berat seorang pria dari balik punggung Ghea membuat wanita itu langsung menoleh.
"Papa?"
"Ngapain kamu disini? Kenapa nggak langsung masuk?" Tanya Regan menatap putrinya dengan kerutan didahinya.
"Aku baru pulang kerja, Pa. Ini mau masuk, besok Mama sudah bisa pulang kan?" Ujar Ghea.
"Harusnya sudah, memangnya kamu sudah menyelesaikan biaya rumah sakitnya?" Sekali lagi Regan bertanya dengan wajah herannya. Putrinya baru pertama masuk kerja, bagaimana bisa wanita itu membayar rumah sakit Sukma yang tidaklah murah.
"Sudah Pa, tadi atasanku yang membantuku meminjamkan uang. Nanti kalau aku gajian, aku tinggal ganti," sahut Ghea menjelaskan.
"Atasanmu baik sekali, memangnya kamu kerja dimana? Bagian apa?" Regan bertanya bukan tanpa alasan, selama ia menjabat sebagai pemimpin perusahaan, tidak semudah itu ia meminjamkan uang kepada karyawan. Apalagi seperti Ghea yang baru bekerja sehari.
"Oh itu ..." Ghea kebingungan harus menjawab apa, ia tahu Papanya itu pasti kecewa jika tahu kalau dirinya bekerja sebagai office girl di perusahaan besar. "Aku kerja sebagai supervisor di perusahaan besar Pa, hanya sementara sih soalnya ada pegawai yang cuti hamil. Jadi atasan aku tidak keberatan memberi pinjaman," ujar Ghea terpaksa membohongi Papanya.
"Supervisor? Wah, itu bagian yang cukup tinggi. Papa bangga kau bisa mendapatkan posisi itu," ujar Regan mengulas senyum manisnya, ternyata putrinya masih mendapatkan pekerjaan yang layak mengingat wanita itu hanya lulusan SMA.
"Hahaha, iya Pa. Masih syukur ada yang mau bantuin kita." Ghea tertawa hambar menutupi wajahnya yang sedih karena ia telah membohongi Papanya. Seumur hidupnya baru kali ini Ghea berbohong kepada Papanya.
Maafkan aku Pa, aku tidak mau Papa kecewa kalau tahu pekerjaanku.
"Ya sudah, ayo kita masuk. Mamamu pasti senang mendengar kabar ini," ujar Regan merangkul putrinya sembari mengusap rambutnya lalu mengajaknya masuk kedalam.
Abian yang sejak tadi belum beranjak dari rumah sakit itu tampak tersenyum sinis melihat sosok Regan. Jika ada predikat teman paling menjijikan yang ada didunia ini, mungkin Abian akan memasukkan Regan kedalamnya.
"Kau terlihat sangat menyayangi putrimu Regan. Aku yakin jika kau pasti yang paling hancur jika aku berhasil merusaknya nanti." batin Abian tertawa sinis saat membayangkan apa yang sudah ia rencanakan.
*****
Pagi-pagi sekali Ghea sudah sangat sibuk di dapurnya. Semalam ia tidak menginap di rumah sakit karena hari ini Sukma sudah bisa pulang. Ghea sengaja tidak menginap karena ia berniat untuk membuat sarapan spesial.
"Aduh, aku berlebihan nggak ya kalau bawain Om galak sarapan? Apa dia mau memakan masakanku?" Ghea bergumam sendiri menatap makanan yang sudah siap didalam kotak bekal yang sangat cantik.
Ya, pagi itu Ghea memang sengaja memasak sarapan untuk Abian. Ghea melakukannya sebagai bentuk terima kasihnya karena sudah membantunya semalam.
"Kalau ditolak nggak apa-apa deh, nanti juga aku bisa makan lagi. Sekalian hemat ongkos," ucap Ghea memutuskan untuk tetap membawa bekal makanan itu meski tidak tahu apakah Abian akan menerimanya atau tidak.
*****
Abian datang ke kantornya seperti biasa, penampilannya yang terlihat sangat rapi dan perfeksionis membuat semua orang mengira jika Abian pasti masih berumur 30 tahunan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penuaan meski diusia yang mendekati 40 tahun ini.
Tidak heran jika banyak wanita yang berlomba untuk mendekatinya, namun sayang sekali mereka harus patah hati karena Abian sangat anti dengan seorang wanita setelah luka parah yang ia rasakan dimasa lalu.
"Tuan, Tuan." Saat Abian akan masuk kedalam lift, tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya. Suara itu hanya sekedar bisikan pelan yang membuat Abian mengerutkan dahinya.
"Tuan, saya disini." Abian terkejut saat melihat Ghea yang bersembunyi dibelakang bunga hias yang berada disamping lift itu.
"Ghea? Kenapa kau ada disini?" Tanya Abian dengan wajah herannya.
"Saya hanya ingin memberikan ini. Sarapan untuk Anda, anggap saja ini ucapan terima kasih saya. Mohon diterima ya, Tuan." Ghea menyerahkan kotak bekal pink kecil yang ia bawa kepada Abian.
Abian mengangkat alisnya, apa yang sebenarnya wanita ini pikirkan? Apakah dia akan mau menerimanya?
"Tuan, ambil sekarang mumpung disini sepi. Kalau Tuan tidak mau berikan saja pada Boy. Aku harus bekerja dulu." Karena tidak sabar menunggu Abian, Ghea langsung saja menyerahkan kotak bekal itu ke tangan Abian lalu ia buru-buru pergi. Ghea takut jika ada karyawan lain yang melihat dan ia akan kembali menjadi bulan-bulanan.
Abian mengernyitkan dahinya, ia menatap Ghea yang lari terbirit-birit menuju ruang OG. Abian berdecih sinis melihat kotak bekal itu.
"So? Hanya butuh satu hari untuk menaklukkannya? Aku rasa jalanku akan semakin mudah." Abian membuka tong sampah yang tidak jauh darinya, lalu tanpa perasaan membuang masakan yang dibawakan Ghea. Ia tidak sudi memakan apapun yang dari tangan Ghea ataupun keluarganya.
******
Sore harinya, Abian terlihat mendatangi bagian dapur dimana para Office Boy dan Office Girl berkumpul. Disana hanya tersisa Ghea yang sibuk membuat kopi, Abian sengaja menyuruh yang lainnya untuk membersihkan gedung lain agar ia bisa menjalankan misinya.
"Ghea," ucapnya berdiri tepat dibelakang Ghea.
Ghea yang tidak tahu kedatangan Abian tersentak kaget. Tidak sengaja kopi yang tadi diaduknya langsung tumpah hingga mengenai tangannya.
"Aduh aduh panas ..." Ghea mengipas-ngipaskan tangannya yang sangat perih karena kopi panas itu.
"Astaga, berhati-hatilah." Tanpa banyak kata, Abian menarik tangan Ghea menuju wastafel lalu mencucinya dengan sangat pelan. "Kalau bekerja jangan biasakan melamun, kau jadi terluka seperti ini," ucap Abian melirik Ghea dengan mata indahnya.
"Iya Tuan, maafkan saya." Ghea tersenyum kikuk karena sikap Abian ini.
"Aku punya salep di ruanganku, ayo aku akan mengobatimu disana," ajak Abian.
"Tidak usah, Tuan. Aku baik-baik saja Kok. Nanti ini juga sembuh. Tuan ada apa kemari?" Ghea langsung menolak karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari pegawai lain. Seorang office girl seperti dirinya tidak bisa sembarangan masuk kedalam ruangan Abian, apalagi lantai itu lantai khusus untuk pemimpin perusahaan.
"Kau yakin tidak apa-apa? Tanganmu melepuh sepertinya," ucap Abian memasang wajah khawatirnya.
"Iya tidak apa-apa Tuan. Anda belum menjawab pertanyaan saya tadi, Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Ghea.
"Oh tidak, aku hanya ingin mengatakan padamu. Aku sangat suka masakanmu, enak." Abian mengacungkan dua jempolnya seraya tersenyum manis.
"Benarkah Tuan menyukainya?" Ghea sampai ingin melompat karena sangking girangnya.
"Ya, kalau bisa bawakan lagi besok. Aku akan menunggunya," ucap Abian mengerlingkan sebelah matanya.
"Bawa lagi? Tuan yakin?" Ghea semakin terkejut dengan perkataan Abian itu.
"Ya, apa kau keberatan?" Ujar Abian seraya mengangkat alisnya.
"Tidak Tuan, saya tidak keberatan sama sekali. Besok saya akan membawakan makanan untuk Anda lagi, bisanya Tuan suka apa? Biar saya masakan?" Ghea benar-benar bersemangat sampai tidak bisa menyembunyikan binar bahagia dimatanya itu.
"Apa saja yang kau masak aku suka," ucap Abian tersenyum manis.
"Hahaha, kalau aku masak tumis rumput apa Tuan juga akan menyukainya?" Ghea tertawa menganggap ucapan Abian itu lelucon.
"Maybe, pokoknya besok aku tidak akan sarapan di rumah. Aku menunggu masakanmu Ghea, jangan mengecewakanku." Abian berjalan mundur seraya terus mengulas senyum manisnya sampai membuat Ghea rasanya ingin pingsan. Bahkan sampai pria itu pergi ia masih terngiang-ngiang senyumannya.
Sepertinya aku benar-benar gila!
Happy Reading.
TBC.