NovelToon NovelToon
TIRAKAT 4

TIRAKAT 4

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.

Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.

Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?

Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!

Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 "DASAR ANAK CACAT GAK TAU DI UNTUNG!"

Jam di dinding warung makan sudah menunjukkan pukul 21.00 malam...

Seluruh menu makanan yang disajikan telah habis...

Para karyawan laki-laki tampak sibuk merapikan etalase, merapikan meja-meja makan, dan juga membersihkan seluruh bagian warung makan. Sedangkan karyawan perempuan sibuk mencuci piring dan juga merapikan area dapur.

Pak Diki dan Bu Fitri tampak sibuk menghitung uang yang didapatkan hari ini...

"Berapa Pak?" tanya Bu Fitri sambil menemani suaminya menghitung lembaran-lembaran uang di tangannya.

"Sabar dong, ini masih dihitung..." jawab santai Pak Diki.

"Hehehe... Iya-iyaaa..." respon Bu Fitri.

Dua matanya tak bisa berpaling dari lembaran-lembaran uang di tangan suaminya itu. Terlihat begitu banyak lembaran uang dengan beragam pecahan. Mulai dari 5.000,- rupiah, sampai 100.000,- rupiah.

"Waaah... Mantap Bu!" kata Pak Diki saat sudah selesai menghitung.

"Berapa hari ini Pak?" tanya Bu Fitri lagi.

"Hari ini kita dapet 6.435.000,- Bu! Hahaha..." jawab Pak Diki sambil tertawa pelan.

"Waaah... Kayaknya sebulan ke belakang ini, uangnya lebih banyak terus ya Pak... Hehehe..." respon Bu Fitri sambil terkekeh pelan juga.

"Iya dooong... Harus itu... Biar makin kaya kita nanti Bu."

"Pasti kaya dong Pak kalo begini terus jualan kita."

Ketika mereka berdua sedang merasakan senang dan puas atas penghasilan yang didapat hari ini, para karyawan yang sudah selesai beres-beres pun mulai berpamitan satu persatu.

Dan kini hanya tersisa Bu Fitri dan Pak Diki di warung makan. Karena memang hanya mereka berdua yang bisa menutup dan mengunci seluruh pintu yang ada. Dan mereka berdua pun segera menaruh uang yang didapat ke dalam tas, dan bersiap-siap untuk pulang.

Selama di jalan dengan mengendarai motor, suami istri itu melewati beberapa tempat jajanan malam. Seluruhnya tampak menggoda selera mereka berdua.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk membeli beberapa jajanan tersebut untuk dibawa pulang. Dan tentu mereka ingin memberikan jajanan itu juga untuk Gendis.

Kini, mereka berdua bisa membeli makanan apapun yang mereka mau...

Bahkan cenderung mereka berdua seperti tak peduli dengan harga total semua makanan yang dibeli...

Mereka sudah sangat percaya diri bahwa uangnya tidak akan pernah habis...

SELAMA MEREKA BERDUA BISA MEMENUHI TUNTUTAN TUMBAL PESUGIHAN YANG TELAH DIJALANKAN...

.....

.....

.....

Sedangkan di rumah...

Gendis malam ini tak merasakan kebahagiaan dan kesenangan yang sama seperti yang dirasakan kedua orang tuanya itu...

Meskipun kehidupannya kini sudah jauh berbeda dengan sebelumnya, Gendis merasakan sebuah beban yang berat.

Gendis sedang duduk di atas kasurnya yang empuk. Duduk dengan ekspresi wajah yang tampak sedih.

Gendis kembali teringat dengan kawan baiknya setahun lalu, Sinta...

Meskipun matanya tak pernah bisa melihat secara langsung bagaimana wajah kawan baiknya itu, akan tetapi terus menerus terngiang dalam ingatannya.

Ternyata...

Segala kenikmatan hidup yang diberikan oleh orang tuanya kini...

Tak bisa membungkam hati nuraninya sebagai seorang anak...

Apalagi Gendis sama sekali tak menyangka bahwa dirinya akan dijadikan "wadah" bagi sosok ghoib pesugihan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya itu.

Tak terasa, air mata Gendis kembali mengalir, membasahi kedua pipinya...

Terngiang-ngiang kebaikan kawannya itu saat mengajaknya makan nasi kuning untuk terakhir kalinya...

Teringat juga selama dirinya masuk di sekolah SD nya yang dahulu, Sinta lah satu-satunya yang langsung bisa menerima kecacatan mata Gendis.

Mungkin sudah tak bisa dihitung oleh Gendis, berapa kali Sinta mengajaknya jajan, mengajaknya bermain bersama, bahkan membantunya untuk bisa belajar di kelas.

Juga sudah berapa kali Sinta membela Gendis, saat ada temannya yang lain membully atau meledek Gendis.

"Hiks... Hiks... Sintaaa... Hiks hiks..."

Semakin terisak Gendis di atas kasurnya, sambil memeluk sebuah boneka di dadanya.

.....

.....

.....

"Brrruuummm... Ckiiit..."

Gendis mendengar suara motor milik Bapaknya di halaman rumah. Menandakan bahwa kedua orang tuanya sudah sampai. Gendis langsung menghapus air matanya dengan boneka yang dipeluknya.

"Ceklek ceklek"

Suara pintu depan yang dibuka oleh Pak Diki, langsung masuk ia bersama sang Istri, dengan membawa dua kantong berukuran agak besar yang penuh dengan beragam jajanan malam yang tadi dibeli.

"Gendiiis... Bapak Ibu udah pulang nih... Kamu udah tidur belum?" ucap Pak Diki dengan agak keras dari arah ruang tamu.

"Naaak... Siniii... Bapakmu beli jajanan banyak buat kamu Naaak..." ucap Bu Fitri juga.

Gendis sebenarnya merasa sangat enggan untuk keluar dari kamarnya...

Merasa sangat malas untuk menikmati jajanan yang dibawa mereka...

Akan tetapi, karena kamar Gendis tak pernah dikunci, Bu Fitri pun membuka pintu kamarnya itu.

"Ceklek... Krieeettt..." suara pintu yang terbuka.

"Loooh... Kamu kenapa diem aja sih Nak?" tanya sang Ibu saat melihat Gendis yang belum tidur, sedang terduduk di atas kasurnya.

"Gak sopan kamu begitu Gendis, dipanggil sama orang tua kok malah diem aja. Ayo sini, keluar dari kamar." tambah Bu Fitri, dengan nada sedikit ketus.

Mau tak mau, akhirnya Gendis menurut saja dengan ucapan Ibunya itu. Dengan gerakan pelan, Gendis turun dari kasur. Mengambil tongkatnya yang disandarkan di dekat kasurnya. Dan berjalan keluar kamar.

"Kresek kresek kresek..." suara kantong kresek yang dibuka oleh Pak Diki. Ia mengeluarkan seluruh isi jajanan yang dibeli.

Langsung tercium berbagai aroma khas jajanan yang sebenarnya menggugah selera...

Tapi...

Bagi Gendis, semua aroma jajanan itu bagaikan sebuah hantaman menyakitkan bagi hatinya...

Karena bagaimana pun, Gendis tahu, bahwa itu semua didapatkan dari darah Sinta yang ditumbalkan setahun lalu.

"Heh?! Ngapain kamu diem aja disitu sih?!" ucapan sang Bapak sedikit mengejutkan Gendis yang diam saja di depan pintu kamar.

"Sini dong, Bapak udah belikan kamu banyak jajanan ini loh!" tambah sang Bapak.

"I-iya... Pak..." jawab Gendis pelan, sedikit terbata.

Gendis pun melangkah mendekat, dan langsung duduk di salah satu sofa ruang tamu.

"Emmm... Nyam nyam nyam... Enak banget ya Bu... Nyam nyam nyam..." suara sang Bapak sambil mengunyah.

"Iya Pak... Enak juga ternyata siomay di tukang itu tadi... Nyam nyam nyam..." jawab sang Ibu.

Mereka berdua tampak lahap. Tapi Gendis hanya diam saja. Bahkan tak mengangkat tangannya hanya sekadar untuk menyentuh bungkusan jajanan itu.

Pak Diki yang melihat anaknya itu hanya diam saja, berkata...

"Kamu tuh kenapa sih Nak? Ini loh ada siomay, buruan dimakan..."

"Eng-enggak mau Pak..." jawab Gendis sambil menggelangkan kepalanya.

Pak Diki berhenti mengunyah, menatap wajah anaknya itu dengan sedikit kecewa.

"Kenapa gak mau? Kalo gak mau siomay, ini masih banyak jajanan lain kok... Ada gorengan, ada sosis bakar, ada kue-kue juga. Buruan dimakan." ucap Pak Diki.

"Enggak mau Pak... Aku gak mau makan..." jawaban Gendis dengan suara agak pelan.

Sontak, Pak Diki menarik napas dalam, menghembuskannya dengan rasa makin kecewa dengan tingkah anaknya itu. Sedangkan Bu Fitri, malah sibuk makan sambil melirik Gendis.

Pak Diki pindah posisi duduk...

Ia sekarang duduk tepat di samping anaknya itu...

"Kamu tuh kenapa sih Gendis?" tanya sang Bapak semakin serius.

"Eng-enggak apa-apa Pak..." jawab Gendis sambil tak menoleh sedikitpun ke arah Bapaknya itu.

"Kamu tuh ya... Jadi anak gak tau diuntung!"

Ucap sang Bapak, tapi kali ini dengan sedikit mendorong kepala Gendis dengan satu jari telunjuknya. Seolah mencerminkan rasa kecewa dalam diri sang Bapak.

"Kamu mau hidup susah lagi kayak dulu?! Kamu mau?!" tanya sang Bapak lagi.

Gendis sedikit cepat detak jantungnya...

Ke dua tangannya yang menggenggam tongkat, tampak semakin erat...

Namun matanya tak berani menoleh ke arah wajah sang Bapak, atau pun sang Ibu...

"Huuuufffftttt... Gendiiis... Gendiiis..." ucap sang Bapak, sambil mulai bersandar di sofa.

"Kita tuh sekarang udah bisa hidup enak. Bapak bisa belikan apapun yang kamu mau. Bisa sekolahin kamu tanpa harus nunggak bayar SPP. Bisa belikan kamu boneka juga, semuanya Bapak kasih!"

Gendis hanya bisa duduk diam, semakin erat tangannya menggenggam tongkatnya itu.

"Iya loh Nak... Hargai dong perjuangan Bapakmu. Jangan kayak gitu." tambah sang Ibu.

Beberapa saat, suasana ruang tamu menjadi sepi...

"Bu, kamu bikin teh manis anget dulu gih, haus nih Bapak." perintah sang Bapak.

"Gak air putih aja Pak? Kan aku belum masak air panasnya."

"Udah, gak apa-apa, kamu masak air panas aja dulu. Bapak lagi pengen teh manis anget." jawab sang Bapak.

"Ya udah Pak, aku ke dapur dulu..." jawab sang Ibu.

Terdengar suara langkah kaki sang Ibu yang menjauh, menuju ke dapur. Kini Gendis hanya berdua saja bersama Bapaknya di sofa ruang tamu.

Pak Diki menarik napas dalam-dalam lagi, dan mencoba sabar, lalu bertanya lagi pada Gendis...

"Nak, kamu maunya apa? Gak suka sama semua jajanan yang Bapak beli ini?"

Gendis hanya diam untuk kesekian kalinya...

"Siapa sih yang ngajarin kamu buat diem kayak gini? Bapak udah nanya baik-baik loh Nak..." tambah sang Bapak.

Lagi-lagi, Gendis hanya diam...

beberapa saat, Pak Diki sampai mengusap wajahnya. Seolah Gendis benar-benar sedang menguji batas kesabarannya.

Lalu...

Tanpa diduga oleh Pak Diki...

Tanpa aba-aba apapun...

Anaknya itu berkata...

"Bapak... Jangan terusin lagi semua ini Pak..."

"Hah? Kamu ngomong apa?" tanya sang Bapak dengan ekspresi heran.

"Jangan terusin lagi Pak... Gendis mohon..." jawab Gendis sambil berani menoleh ke wajah Bapaknya itu.

"Apa maksud kamu?"

"Cara Bapak buat cari uang yang Gendis maksud Pak... Aku mohon ya Pak... Jangan terusin lagi..." ucap Gendis dengan suara memohon.

Seketika...

Pak Diki mengetahui apa yang dimaksud oleh anaknya itu...

Akan tetapi, alih-alih hati Pak Diki tersentuh...

Ia malah mulai menjambak rambut anaknya itu, sampai kepala Gendis sedikit mendongak ke atas...

"Aaawww... Bapaaak... Sa-sakiiit..." ucap Gendis.

Dengan suara berbisik di dekat telinga Gendis, Bapanya itu berkata...

"GAK USAH KAMU NGOMONG KAYAK GITU! DASAR ANAK CACAT GAK TAU DI UNTUNG!"

1
🔵🌹Widian,🧕🧕🌹
ini 2 anak yang berbeda kah ?
Deni Komarullah: Tokoh Gendisnya sama Kak... Korbannya yang berbeda...
total 1 replies
SecretS
Merinding juga, kepala sampai hancur. Lanjut kak, memang sampai berapa tumbal? Kalau dihitung pasti lebih dari 5 sebab bertahun tahun loh sebelum ketemu nisa?
Deni Komarullah: Iya Kak...
total 1 replies
SecretS
😰😰menegangkan kak pas gendis mojokin sinta 😆😆, lanjut kak gimana cerita nya gendis kok bisa di pondok dan ketemu nisa 😃
SecretS
Ini kisah pesugihan ya
😆😆 lanjut kak👍👍👍
Yeni Yeni: lanjut dah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!