NovelToon NovelToon
Veto Sang Ketua BEM

Veto Sang Ketua BEM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kara

​"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
​Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
​Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
​Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Topeng Kebaikan

Panas terik matahari siang itu seolah diserap oleh aspal parkiran, memantul kembali ke permukaan kulit dan menciptakan efek distorsi pada pemandangan di sekitar Lyana. Ia masih mematung di atas motor, jemarinya yang masih mencengkeram erat amplop cokelat tebal itu terasa mati rasa. Pesan di layar ponselnya—foto Rumi yang sedang berdiri di depan kantor yayasan tiga hari lalu—seperti racun yang merambat cepat ke seluruh syarafnya.

"Lyan? Kamu kenapa? Kok diam aja?"

Rumi melangkah mendekat. Laki-laki itu tampak bingung, tangannya terulur hendak menyentuh bahu Lyana, namun gadis itu dengan gerakan refleks yang kasar, menepisnya. Rumi tertegun. Wajahnya yang tadi memancarkan kelegaan luar biasa karena masalah beasiswa mulai terselip gurat khawatir yang nyata.

"Jangan sentuh aku," ucap Lyana pelan. Suaranya datar, tanpa emosi, sebuah nada yang justru lebih menakutkan daripada teriakan.

Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu tanpa menoleh lagi pada Rumi, Lyana melajukan motornya keluar dari parkiran. Ia tidak peduli pada Rumi yang meneriakkan namanya, tidak peduli pada tatapan bingung mahasiswa lain di sekitar. Ia hanya perlu menjauh. Ia perlu ruang untuk bernapas sebelum ia meledak.

Lyana memacu motornya tanpa tujuan. Ia melewati jalanan protokol, membelok ke gang-gang kecil, menyusuri pinggiran sungai yang airnya tampak keruh di musim kemarau. Ia berhenti di sebuah taman kota yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk kampus. Ia mematikan mesin, menyandarkan motor di bawah pohon trembesi tua yang rindang, lalu berjalan menuju bangku taman yang menghadap ke arah kolam ikan yang tenang.

Di sana, ia membuka ponselnya lagi. Membaca pesan itu berkali-kali. Tanya kekasihmu itu, kenapa dia ada di dalam ruangan direktur yayasan tiga hari yang lalu.

Tangannya gemetar. Ia membuka amplop cokelat dari Hendrik Wiraguna. Isinya tumpukan uang tunai yang sangat banyak, cukup untuk membayar UKT-nya dan hidup mewah selama setahun. Tapi sekarang, uang itu terasa seperti tumpukan kertas koran bekas. Tidak ada artinya lagi.

Dua puluh menit kemudian, deru motor Rumi terdengar memasuki area parkir taman. Laki-laki itu berlari kecil mendekati bangku taman, napasnya terengah, rambutnya berantakan akibat angin jalanan. Saat ia menemukan Lyana duduk membeku, Rumi mengatur napasnya sebelum duduk di ujung bangku, memberi jarak yang sopan.

"Kamu kenapa? Tiba-tiba marah, terus pergi gitu aja," suara Rumi merendah, menuntut penjelasan yang masuk akal.

Lyana mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, lalu menyodorkannya ke depan wajah Rumi. "Jelasin ini."

Rumi menatap layar ponsel itu. Wajahnya yang tadinya khawatir seketika berubah. Matanya membelalak, lalu perlahan meredup menjadi tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak segera menjawab. Ia menatap foto itu lama sekali, seolah sedang menghitung setiap piksel yang ada di sana.

"Foto ini..." Rumi bergumam, suaranya parau. "Dari mana kamu dapat ini?"

"Nggak penting dari mana aku dapat," potong Lyana tajam. "Yang penting, apa yang kamu lakuin di sana? Tiga hari yang lalu, Mas. Waktu aku lagi sibuk-sibuknya sama audit, waktu kamu bilang kamu sibuk di komunitas mural. Kenapa kamu ada di ruangan Direktur Yayasan Lentera Bangsa?"

Rumi memejamkan mata, membuang napas berat. "Lyan, dengar dulu..."

"Aku dengerin, Mas. Aku dengerin dari tadi!" Lyana kini menatap Rumi, matanya mulai memanas. "Tadi pagi kamu bilang kamu nggak tahu apa-apa soal yayasan. Kamu bilang kita bakal berjuang bareng. Tapi ternyata kamu sudah main di belakang? Kamu ngebocorin foto aku kerja di kafe itu ke yayasan, ya? Makanya mereka bisa tahu dan langsung ngeblokir beasiswaku?"

"Bukan!" Rumi memotong, suaranya naik satu oktaf. Ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Aku ke sana bukan buat ngejatuhin kamu! Aku ke sana buat... buat nego beasiswa kamu supaya mereka nggak perlu terlalu ketat sama aturan kerja sambilan. Aku mau bantu kamu supaya kamu bisa kerja tanpa harus ngumpet-ngumpet!"

"Tapi kenyataannya yayasan justru tahu!" Lyana berdiri, tubuhnya gemetar karena amarah yang memuncak. "Gara-gara kamu ke sana, mereka jadi mulai ngecek latar belakangku secara detail. Satria mungkin yang ngirim foto itu, tapi kamu yang ngebuka pintu buat mereka masuk!"

"Aku cuma mau bantu, Lyan!" Rumi ikut berdiri, menghadapi Lyana dengan sorot mata yang penuh penyesalan. "Ayahku bilang kalau yayasan itu punya kebijakan khusus buat mahasiswa berprestasi yang kurang mampu. Aku pikir aku bisa pakai koneksiku buat kasih kamu keringanan. Aku salah, aku akui itu ceroboh. Tapi aku nggak pernah berniat sedikit pun buat ngehancurin beasiswamu!"

Lyana tertawa getir. "Koneksi ayahmu. Selalu koneksi ayahmu. Kamu sadar nggak sih, Mas, kalau tindakan 'bantuan'-mu itu justru ngasih amunisi buat orang-orang kayak Satria? Kamu pikir kamu bisa main politik dengan modal koneksi, tapi kamu nggak sadar kalau kamu lagi main sama api. Dan korbannya siapa? Aku!"

Lyana melemparkan amplop cokelat pemberian Hendrik ke atas bangku taman. "Dan ini. Ayahmu datang tadi pagi, kasih uang ini seolah-olah aku ini pengemis yang bisa dibeli. Sekarang aku tahu kenapa dia mau bantu. Kamu pasti ngadu ke dia, kan? Kamu bilang kalau aku beasiswa, kalau aku butuh uang. Kamu menceritakan kemiskinanku ke ayahmu supaya dia bisa 'ngebantu' aku?"

Rumi terdiam. Wajahnya memerah padam. "Ayahku tahu karena dia yang nanya soal kondisi BEM. Aku nggak bermaksud ngerendahin kamu..."

"Tindakanmu merendahkan aku, Mas. Kamu bikin aku ngerasa... kecil. Ngerasa nggak berdaya di depan keluargamu."

Lyana memungut kembali tasnya. Ia tidak ingin mendengar penjelasan apa pun lagi. Penjelasan itu hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Ia merasa dikhianati oleh orang yang selama beberapa hari terakhir ini ia percaya sebagai satu-satunya sekutunya.

"Jangan cari aku," ucap Lyana dingin. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan taman.

Rumi tidak mengejarnya. Laki-laki itu hanya berdiri mematung di samping bangku, menatap punggung Lyana yang menjauh, perlahan menghilang di balik deretan pohon trembesi.

Lyana berjalan tanpa arah. Ia kembali ke kosannya yang pengap. Ia tidak menyalakan lampu. Ia duduk di lantai, bersandar pada pintu kamar yang terkunci rapat. Ia membuka amplop berisi uang itu. Tumpukan uang tersebut terasa begitu dingin, begitu tidak bermakna.

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di lantai. Ada pesan baru masuk. Kali ini bukan dari nomor asing, bukan dari Rumi.

Sebuah pesan dari pihak kampus, dari bagian Kemahasiswaan.

“Yth. Saudari Lyana Ayunindya. Berdasarkan surat terbaru dari Yayasan Lentera Bangsa siang ini, status beasiswa Anda telah resmi dicabut per tanggal hari ini. Mohon segera menghadap ke kantor keuangan untuk melakukan administrasi pengembalian dana biaya hidup bulan berjalan.”

Tangan Lyana jatuh lemas. Pengembalian dana? Ia bahkan tidak punya uang lagi. Uang yang diberikan Hendrik sudah terlanjur ia pegang, tapi ia tahu, jika ia menggunakan uang itu untuk membayar denda, ia benar-benar akan menjadi milik keluarga Wiraguna selamanya.

Ia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya. Dunianya bukan lagi tentang politik kampus atau soal siapa yang curang. Dunianya kini adalah tentang bertahan hidup dari sisa-sisa reruntuhan yang ia buat sendiri.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar. Pelan. Teratur.

Lyana tidak bergeming. Mungkin itu ibu kos yang menagih uang sewa, atau mungkin itu Rumi. Ia tidak ingin bertemu siapa pun.

"Lyan?"

Suara itu bukan suara Rumi. Suara itu bukan suara ibu kos. Itu suara Dito.

"Mbak Lyan, aku tahu Mbak di dalam. Aku tahu soal yayasan. Aku... aku punya sesuatu yang mungkin bisa nolongin Mbak."

Lyana bangkit, membuka kunci pintu dengan tangan yang gemetar. Dito berdiri di sana, terlihat kacau dengan jaket almamater yang kancingnya lepas. Di tangannya, ia memegang sebuah buku agenda kecil berwarna cokelat yang tampak usang.

"Ini apa?" tanya Lyana parau.

"Ini agenda catatan pribadi Satria yang aku temuin di lokernya tadi pas dia lagi dipanggil dekanat," Dito menyodorkan buku itu. "Dia nulis semuanya di sini. Rencana dia ngebobol data yayasan, sampai bukti kalau dia yang sebenernya nyolong uang kas BEM bulan lalu buat bayar utang judinya."

Lyana menerima buku itu. Ia membukanya halaman demi halaman. Catatan Satria begitu detail, begitu rapi, dan di salah satu halamannya, terdapat sebuah nama yang membuat Lyana kembali sesak.

Nama ibunya.

Rencana B: Jika Lyana tetap membangkang, hubungi ibunya di desa. Paksa untuk tanda tangan pernyataan hutang fiktif. Jika tidak berhasil, gunakan foto dia di kafe sebagai ancaman.

Tapi yang paling mengejutkan adalah catatan di halaman terakhir. Sebuah nama yang disandingkan dengan nama Satria sebagai rekan kerja.

Lyana membaca nama itu berulang-ulang, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Nama orang yang seharusnya menjadi orang terakhir di kampus ini yang akan bersekongkol dengan Satria.

Nama itu adalah...

1
Lilik Juhariah
mulai baca
Emi Sudiarni
kren kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!