"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Keberanian Gila
Suara gebrakan meja dewan direksi memecah keheningan ruang rapat utama Jayanegara Group.
Telapak tangan keriput seorang pria paruh baya menekan permukaan kaca meja dengan gemetar. Wajah direktur keuangan itu merah padam menahan amarah yang meledak.
"Kau sudah gila, Aaron!" teriak direktur itu lantang. "Kau mengalihkan triliunan rupiah kas darurat kita murni untuk menyabotase rantai pasokan kosmetik Dharma Group!"
Aaron duduk bersandar di kursi kulit kebesarannya. Jas hitamnya terpotong rapi tanpa cela. Wajahnya sedingin bongkahan es di tengah badai.
Ia memutar pena perak di antara jemarinya dengan ritme lambat. Matanya menatap datar rentetan grafik penurunan laba kuartal ini di layar proyektor.
"Kau membiarkan proyek infrastruktur kita di pesisir utara terbengkalai." Direktur operasional ikut bersuara, nadanya menekan tajam. "Dan untuk apa? Untuk obsesi pribadimu menghancurkan Wijaya Dharma?"
"Ini bukan sekadar perang bisnis, ini adalah bunuh diri massal!" sahut anggota dewan lainnya dengan nada panik.
Aaron menghentikan putaran penanya. Bunyi logam beradu dengan meja kaca terdengar nyaring, membungkam seluruh suara di ruangan itu seketika.
Pria raksasa itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Hawa dingin langsung mencekik pasokan oksigen di ruang rapat tersebut.
"Jayanegara Group berdiri hari ini karena ayahku menumpahkan darahnya di atas lantai ruangan ini," desis Aaron pelan dan mematikan.
Mata kelamnya menyapu wajah para direktur satu per satu. Insting predatornya mengunci setiap kelemahan di balik setelan mahal para pria tua tersebut.
"Kalian semua hidup dalam kemewahan karena keringat keluargaku. Jadi, jangan pernah berani menceramahiku soal cara membelanjakan kas perusahaanku sendiri."
Direktur keuangan menelan ludah dengan susah payah. "Pemegang saham asing mulai gelisah, Aaron. Mereka mengancam akan menarik modal jika kau terus berperilaku impulsif seperti ini."
Aaron tersenyum asimetris. Senyuman yang sarat akan arogansi dan dominasi.
"Biar mereka tarik modalnya," jawab Aaron tanpa keraguan sedikit pun. "Aku akan membeli setiap lembar saham mereka yang jatuh dengan uang pribadiku."
Seisi ruangan terkesiap. Keberanian gila pria ini menentang seluruh logika korporat tradisional.
"Kau mempertaruhkan posisi kursi direktur utama hanya demi kepuasan dendam?" tanya direktur operasional dengan suara bergetar.
Aaron membayangkan wajah pucat Savira yang diterangi cahaya monitor semalam. Gadis jenius yang berjuang sendirian melawan trauma dan monster yang membesarkannya.
Savira telah memberikan nyawanya untuk menyelamatkan Baskara. Aaron tidak akan ragu membakar seluruh kerajaan bisnisnya jika hal itu bisa meringankan satu ons beban di pundak sang gadis.
Ini bukan lagi soal dendam masa lalu. Ini adalah komitmen berdarah untuk memastikan Savira tidak perlu merangkak sendirian di dalam kegelapan.
"Jika kalian merasa tidak sanggup mengikuti permainanku, silakan letakkan surat pengunduran diri kalian di atas mejaku siang ini." Aaron berdiri dari kursinya dengan gerakan elegan.
"Aku akan mengurus perusahaan ini tanpa parasit pengecut di sekelilingku."
Ia memutar tubuhnya dan melangkah tegas meninggalkan ruang rapat. Tidak ada satu pun dewan direksi yang berani mengeluarkan suara protes lanjutan.
Aaron berjalan menyusuri lorong kaca menuju ruang kerjanya. Insting protektifnya terus berontak memikirkan keselamatan Savira di luar sana.
Ia telah melarang Savira pergi sendiri, tapi gadis keras kepala itu menolak tunduk pada kendalinya. Aaron terpaksa menahan diri agar tidak mengirimkan puluhan pengawal bersenjata menyusulnya.
Pikirannya tanpa sadar melayang memvisualisasikan pintu kayu lapuk sebuah gubuk terpencil berderit pelan saat Savira mengetuknya di bawah rintik hujan pagi ini.
Di dalam ruang rapat yang baru saja ditinggalkan Aaron, ketegangan masih menggantung pekat.
Seorang pria paruh baya dengan kacamata berbingkai emas mengeluarkan ponselnya secara diam-diam di bawah meja. Jarinya bergerak cepat menembus keamanan jaringan.
Ia mengumpulkan seluruh bukti transfer kas darurat Jayanegara dan jadwal pergerakan pribadi Aaron selama tiga hari terakhir.
Di luar ruang rapat, seorang anggota dewan diam-diam mengirimkan berkas aktivitas Aaron kepada asisten pribadi Wijaya Dharma.