PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.
Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.
Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.
Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran Kotor Arsenio
Menjelang pukul delapan malam, pintu penthouse berbunyi, menandakan sang kepala keluarga akhirnya kembali. Arsenio melangkah masuk ke dalam rumah dengan raut wajah yang tampak berkerut dalam dan sangat lelah. Dasinya sudah agak longgar, dan kancing teratas kemejanya sudah terbuka. Dia baru saja melewati hari yang sangat berat di kantor, mengurus beberapa tender besar sekaligus memikirkan hasil penyelidikan internal mengenai pelayan yang meracuni Gino kemarin.
Mina yang saat itu sedang duduk di karpet ruang tengah bersama Gino langsung menoleh. Melihat wajah sekaku papan gilesan milik suaminya, jiwa asyik dan sembrono nya mendadak tertantang untuk mencairkan suasana. Dia menepuk bahu kecil Gino dengan heboh.
"Eh, Gino, lihat! Papa kamu udah pulang tuh, mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika," bisik Mina dengan nada santai yang sengaja dikeras-keraskan. Dia lalu tersenyum lebar ke arah pintu masuk.
"Gino, ayo kita balapan! Kita bertarung, siapa dulu yang bisa memeluk Papa duluan!"
Gino mendongak, mengerjapkan mata bulatnya yang polos.
"B-Balapan, Mama?"
"Iya! Kalau Gino bisa duluan yang memeluk Papa sebelum Mama, nanti Mama bakal kasih hadiah spesial buat Gino. Mau gak?" goda Mina sambil menaikkan kedua alisnya.
Mendengar kata "hadiah", sepasang mata Gino langsung berbinar-binar ceria. Jiwa kompetitif balitanya seketika meronta.
"M-Mau! Ino mau h-hadiah!" teriak anak itu heboh. Tanpa aba-aba lagi, kaki-kaki mungilnya langsung mengambil langkah seribu, berlari kencang di atas karpet bulu menuju ke arah sang ayah.
"P-Papa! Papaaa! Ino d-duluan!"
Arsenio yang baru saja meletakkan sepatunya langsung tersentak kaget. Langkah kakinya terpaku di lantai koridor masuk. Pria dingin itu melebarkan matanya saat melihat sang putra, yang selama berhari-hari ini selalu menolak sentuhannya dan tampak ketakutan setengah mati padanya, kini justru sedang berlari kencang ke arahnya dengan wajah yang tertawa riang.
Melihat Gino yang berlari begitu kencang dan tampak sedikit oleng, insting kebapakan Arsenio langsung mengambil alih. Tanpa memedulikan harga dirinya lagi, Arsenio melemparkan tas kerja kulitnya yang mahal ke sembarang arah hingga mendarat mengenaskan di lantai marmer. Pria itu langsung berlutut dengan satu kaki dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, seolah-olah dia memang sudah menunggu momen ini sepanjang hidupnya.
Dan hap!
Tubuh mungil Gino langsung berhambur masuk ke dalam dekapan hangat Arsenio. Pria itu mendekap putranya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di rambut halus Gino. Gino tertawa kencang, suara tawanya yang renyah bergaung memenuhi koridor rumah. Mendengar tawa itu, segala rasa lelah, pening, dan stres yang menumpuk di kepala Arsenio akibat urusan pekerjaan seolah-olah menguap begitu saja ke udara, digantikan oleh kehangatan yang asing namun sangat menenangkan di dadanya.
Tidak lama kemudian, terlihat Mina menyusul dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah cantiknya. Wanita itu menghampiri dua pria beda generasi tersebut, lalu menjulurkan tangannya untuk menyentuh dan menggelitik pelan lengan Gino, membuat suara tawa bocah itu semakin mengerang keras karena geli.
"P-Papa! Ino d-duluan yang p-peluk Papa! M-Mama kalah! Hahaha!" teriak Gino heboh dengan bicaranya yang ceria dan masih agak gagap, menatap Mina dengan pandangan kemenangan.
Mina langsung memasang wajah kalah yang dibuat-buat, lalu mengacak rambut Gino dengan gemas.
"Wah, iya deh! Gino hebat banget, larinya kayak Naruto! Pinter banget anak Mama. Karena Gino menang, nanti sebelum tidur Mama kasih hadiah es krim atau mainan baru, oke?" puji Mina berkali-kali dengan nada heboh, sukses membuat jiwa anak kecil itu melambung tinggi ke langit ketujuh. Gino bersorak senang sambil kembali memeluk leher Arsenio erat-erat.
Sementara itu, Arsenio yang sejak tadi tidak tahu apa-apa mengenai taruhan konyol ini hanya bisa diam membeku. Dia perlahan melepaskan pelukan Gino lalu berdiri tegap, membuang mukanya ke arah lain dengan ekspresi cuek yang dipaksakan. Telinganya agak memerah.
Sebenarnya, Arsenio masih sangat kepikiran soal mimpi basah aneh nan vulgar yang dialaminya tadi pagi. Bayangan menggempur Alicia di atas ranjang masih tercetak jelas di otaknya. Dan sialnya, penampilan Mina malam ini benar-benar cukup untuk membuat mata pria normal mana pun mendadak segar bugar.
Mina saat ini hanya mengenakan dress bunga-bunga rumahan yang sangat santai. Dress itu tidak memiliki lengan, hanya ada satu tali penyangga tipis yang melingkari bahu mulusnya yang putih bersih. Dan... tunggu sebentar. Arsenio menyipitkan mata abu-abunya saat menyadari sesuatu yang janggal di balik kain tipis itu.
"Wanita ini... tidak memakai bra?!" batin Arsenio berteriak histeris di dalam kepalanya.
Arsenio bisa melihat dengan sangat samar siluet alami dada Mina yang tercetak di balik kain dress rumahan tersebut. Kepala Arsenio mendadak terasa berdenyut pening. Pikiran kotornya yang tadi pagi kembali meronta liar. Apa-apaan ini? Di rumah sakit dia mengeluh bra kekecilan, sekarang di rumah dia malah tidak memakainya sama sekali? Apa jangan-jangan... dia juga tidak memakai celana dalam di balik dress tipis itu?.
Memikirkan kemungkinan ekstrem itu membuat jakun Arsenio naik-turun dengan cepat, dan wajah dinginnya terasa semakin memanas karena salah tingkah.
Mina yang menyadari perubahan ekspresi suaminya langsung mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia melihat Arsenio yang memegangi pelipisnya sambil menatapnya dengan pandangan yang aneh campuran antara syok, marah, dan pusing.
"Mas Arsenio? Kamu kenapa deh? Mukanya kok kayak orang yang lagi nahan boker gitu? Kamu baik-baik saja?" tanya Mina santai tanpa beban, sama sekali tidak sadar kalau dirinya sedang menjadi objek fantasi liar sang suami.
Mendengar pertanyaan blak-blakan dari Mina, Arsenio langsung memulihkan topeng dinginnya. Dia berdehem formal dengan suara yang sengaja dibuat ketus.
"Saya baik-baik saja. Dan tolong, Alicia, bisakah kamu berpakaian yang lebih sopan dan tertutup di dalam rumah ini? Penampilan mu sungguh... mengganggu pemandangan," jawab Arsenio sedikit formal dan super cuek, lalu membalikkan badan untuk mengambil tas kerjanya yang tergeletak di lantai.
Mendengar jawaban ketus dan sindiran pedas dari Arsenio, senyum di wajah Mina langsung lenyap seketika. Dia mendengus kesal dalam hati.
"Dih, dasar bapak-bapak sensitif! Ditanyain baik-baik malah nyolot. Pemandangan seksi begini dibilang mengganggu, dasar matanya udah ketutup saham!" dumelnya dalam hati
"Iya, iya, maaf ya Tuan Besar Arsenio yang paling terhormat kalau baju rumahanku ini menodai mata suci Tuan," sahut Mina ketus dengan gaya santainya, memutar bola matanya malas.
Mina merengut kesal. Pria itu memang terlihat sangat membencinya atau mungkin memang dari awal sudah tingkat akut membenci sosok Alicia. Namun, Mina buru-buru menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri. Sudahlah, dia tidak mau ambil pusing atau merusak suasana hatinya yang sedang bagus.
Lagipula, sejak awal tujuannya memancing Gino untuk memeluk Arsenio adalah demi kebaikan mental anak itu sendiri. Pikiran di dalam diri Mina sudah terjawab siang tadi, dia ingin menghapus trauma Gino dan mengembalikan kedekatan bocah itu dengan ayah kandungnya agar tumbuh kembangnya menjadi baik. Urusan bagaimana perasaan Arsenio padanya, atau apakah pria itu menganggapnya jalang, Mina sama sekali sudah tidak peduli lagi.
"Gak penting juga gue pikirin perasaan itu kulkas berjalan," guman Mina menghibur diri sambil menuntun Leo kembali ke ruang tengah.
"Yang penting sekarang posisi gue aman. Kalau suatu saat nanti semua masalah ini selesai dan kami beneran bakal bercerai, dengan perubahan sikap gue yang baik ini, gue tentunya bakal mendapatkan sedikit harta gono-gini atau uang kompensasi yang layak dari pengadilan." ucapnya percaya diri.
Mina tersenyum misterius memikirkan rencana masa depannya.
"Nanti kalau udah dapet duit cerai, gue tinggal cari pekerjaan lain aja di dunia ini. Jadi selebgram lagi juga oke, atau buka bisnis butik. Hidup mandiri jadi janda kaya raya rasanya gak buruk-buruk amat!" ucapnya pelan.
"M-Mama... a-ayo main d-dino lagi!" panggil Gino menarik-narik ujung dress Mina, memutus lamunan tentang masa depan jandanya.
"Ayo sayang! Kita bikin kerajaan dinosaurus yang besar, biar Papamu yang kaku itu gak boleh masuk!" sahut Mina dengan nada ceria yang sengaja dikencangkan, membiarkan Arsenio berjalan menuju kamarnya dengan kepala yang masih pening akibat memikirkan dress tanpa bra milik istrinya.
Bersambung....
Ini kayaknya si Arsenio mesum ya? Apa cuma perasaan author aja?.😒 Menurut kalian gimana guys?.
semngat update lagi ya kak