Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam yang Menjadi Jawaban
Ancaman Ibu yang menggantung di udara bagaikan vonis mati yang tak terbantahkan. Tidak seorang pun di ruang keluarga itu berani memecah keheningan yang mendadak mencekam. Semua mata kini tertuju pada Bagas, menunggu satu jawaban pasti yang akan menentukan nasib dan arah rumah tangga yang telah dibangunnya selama tiga tahun ini.
Alara ikut menatap suaminya dengan dada yang bergemuruh hebat. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, rupanya masih tersisa secercah harapan kecil yang keras kepala. Ia tidak meminta pembelaan yang muluk-muluk atau amarah yang meledak-ledak dari Bagas.
Alara hanya menginginkan satu kalimat penolakan yang tegas, sebuah bukti nyata bahwa dirinya masih dianggap, dicintai, dan dihormati sebagai seorang istri sah.
Namun, kalimat yang dinantikan itu tak pernah keluar dari bilah bibir Bagas.
Pria itu justru menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang tampak kusut, lalu bersuara dengan nada yang teramat pelan.
"Bu ... tolong beri Bagas waktu untuk memikirkan semua ini. Ini bukan masalah sepele yang bisa diputuskan dalam semalam."
"Mau sampai kapan kamu berpikir, Bagas? Ibu butuh kepastian!" sergah ibunya, matanya menyipit menuntut.
"Bagas tahu, Bu," potong Bagas cepat, suaranya sedikit meninggi namun tetap terdengar ragu.
"Bagas hanya tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru, terlebih ini menyangkut masa depan keluarga kita dan ... perasaan Alara. Beri Bagas waktu beberapa hari."
Bagi Wendah, jawaban itu sudah lebih dari cukup. Wajah wanita paruh baya itu yang semula tegang langsung berbinar cerah. Ia tahu betul tabiat putranya.
Bagi Wendah, fakta bahwa Bagas tidak langsung menolak mentah-mentah berarti pria itu sedang membuka pintu lebar-lebar bagi rencana besar yang telah ia susun sejak lama bersama Nindy.
"Baiklah, kalau itu maumu. Ibu beri waktu sampai akhir minggu. Tapi ingat janji Ibu tadi, Bagas," ujar ibunya dengan nada penuh penekanan yang penuh kemenangan.
Sementara itu, di sudut kursi lain, Nindy berusaha keras menyembunyikan senyum puasnya. Ia menundukkan kepala, berpura-pura merapikan lipatan roknya untuk menyembunyikan binar matanya yang berkejaran. Nindy tahu betul, kemenangan di dunia ini tidak selalu dimulai dengan kata 'iya' yang tegas.
Terkadang, keraguan dan ketidakberdayaan seseorang sudah menjadi langkah pertama yang sempurna menuju keberhasilan yang ia incar.
Sebaliknya, di seberang meja, hati Alara terasa semakin sesak hingga membuatnya sulit untuk sekadar menghirup oksigen.
Ia mengenal Bagas lebih dari siapa pun di rumah ini. Alara tahu betul bagaimana watak suaminya jika sedang berhadapan dengan hal yang benar-benar tidak ia sukai. Jika pria itu memang tulus mencintainya dan tidak menginginkan pernikahan kedua, Bagas akan menolaknya detik itu juga, tanpa peduli seberapa besar ancaman Ibunya. Sikap ragu dan permintaan waktu yang ditunjukkan Bagas justru menjadi pertanda paling benderang bahwa suaminya diam-diam sedang menimbang-nimbang kemungkinan untuk memiliki istri kedua. Pria itu tergoda oleh solusi instan yang ditawarkan Ibunya.
Malam itu, setelah ketegangan di ruang tengah mereda, Bagas memilih untuk mengurung diri di ruang kerja lantai bawah dengan dalih menyelesaikan laporan kantor yang menumpuk.
Alara berdiri di depan pintu kayu yang tertutup rapat itu. Tangannya sudah terangkat, beberapa kali ingin mengetuk pintu dan meminta penjelasan dari hati ke hati sebagai sepasang suami istri. Namun, setiap kali jemarinya hampir menyentuh permukaan pintu, langkah dan keberaniannya selalu terhenti.
"Mas Bagas ...," gumam Alara lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia menarik kembali tangannya, lalu memeluk tubuhnya sendiri yang mendadak terasa dingin. Alara takut. Ia teramat takut jika ia nekat masuk, ia justru akan mendengar jawaban terjujur dari mulut Bagas, jawaban yang selama ini selalu berusaha keras ia hindari demi mempertahankan warasnya.
Di sisi lain rumah, tepatnya di kamar utama lantai atas, Wendah mulai bergerak lebih jauh lagi. Tanpa sepengetahuan Bagas maupun Alara, wanita tua itu sudah sibuk dengan ponselnya, menghubungi seorang kenalan lama yang bekerja di lingkungan KUA untuk menanyakan detail proses pernikahan kedua serta berkas apa saja yang perlu disiapkan agar semuanya bisa berjalan dengan kilat begitu Bagas menyatakan persetujuannya.
Keesokan paginya, suasana di dalam rumah terasa jauh lebih dingin dan asing dari biasanya. Kabut kecanggungan menyelimuti setiap sudut ruangan. Bagas sengaja bangun lebih awal dan bersiap-siap berangkat bekerja sebelum jam dinding menunjuk angka enam, bahkan tanpa sempat sarapan atau sekadar berbicara sepatah kata pun dengan Alara yang baru saja selesai menunaikan salat subuh.
"Mas, kamu tidak sarapan dulu? Aku bisa buatkan roti," tawar Alara saat berpapasan di koridor dekat pintu depan.
Bagas tidak menghentikan langkahnya yang terburu-buru, ia sibuk memakai sepatu pantofelnya. "Tidak usah, Alara. Aku ada rapat penting pagi ini dengan investor. Aku sarapan di kantor saja."
"Tapi, Mas ... soal yang semalam."
"Tolong, Alara. Jangan sekarang. Aku sedang buru-buru," potong Bagas tanpa menoleh sedikit pun, lalu membuka pintu depan dan melangkah pergi begitu saja.
Alara hanya mampu berdiri mematung di ambang pintu, menatap punggung suaminya yang perlahan masuk ke dalam mobil dan bergerak semakin menjauh hingga hilang di balik pagar besi.
Sejak hari pernikahan mereka yang indah tiga tahun lalu, Alara merasa bahwa orang yang paling asing dan paling jauh di dalam rumah ini justru adalah laki-laki yang pernah menjabat tangan ayahnya seraya bersumpah di hadapan Tuhan untuk melindunginya seumur hidup.
Saat Alara berbalik dengan langkah gulai, ia mendapati pemandangan lain di meja makan. Nindy justru tampak semakin akrab dengan Wendah. Mereka duduk berdampingan, tertawa kecil sambil menikmati teh hangat dan sepiring pisang goreng, seolah-olah Nindy memang sudah resmi menjadi bagian dari keluarga inti itu, sementara Alara hanyalah seorang pelayan yang kebetulan lewat.
"Eh, Mbak Alara. Mas Bagas sudah berangkat ya? Kok buru-buru sekali?" tanya Nindy dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, meski matanya memancarkan keangkuhan yang nyata.
Alara tidak menyahut. Ia memilih mengabaikan pertanyaan itu dan berjalan lurus menuju dapur untuk mencuci gelas, mengabaikan tatapan sinis dari Wendah yang mendengus melihat sikap diamnya.
Menjelang siang hari, suasana rumah sepi karena Ibu dan Nindy pergi berbelanja ke supermarket terdekat. Saat Alara sedang membersihkan debu di meja ruang tamu, matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda persegi panjang berwarna hitam yang tergeletak di atas meja kaca. Itu ponsel milik Bagas.
Pria itu tampaknya tertinggal ponsel pribadinya karena terburu-buru berangkat kerja tadi pagi.
Tepat saat Alara hendak mengambil ponsel itu untuk menyimpannya di dalam kamar, layar benda digital tersebut tiba-tiba menyala terang disertai bunyi dering notifikasi yang nyaring.
Sebuah pesan singkat masuk dari sebuah nomor baru yang tidak dikenal dan tidak tersimpan di daftar kontak Bagas. Karena pengaturan ponsel yang tidak dikunci penuh, isi pesan itu langsung terpampang jelas di layar utama.
"Semua persiapan sudah siap. Tinggal menunggu persetujuanmu untuk lamaran Nindy."
Alara mendadak membeku di tempatnya berdiri. Seluruh pasokan udara di sekitarnya seolah tersedot habis dalam sekejap.
Tangannya bergetar hebat saat ia perlahan mengambil ponsel itu, membaca ulang setiap kata yang tertera di sana dengan mata yang melebar karena syok. Jantungnya bertalu-talu begitu keras hingga menimbulkan rasa sakit yang menjalar ke seluruh dada.
"A-apa ini?" bisik Alara, suaranya parau dan bergetar tak terkendali.
Pikiran Alara langsung berkecamuk dengan liar, melemparkannya ke dalam jurang spekulasi yang mengerikan. Apakah semua sandiwara semalam di depan Ibu hanyalah kepura-puraan belaka? Apakah selama ini, di balik punggungnya yang sudah lelah menahan luka, Bagas diam-diam sudah merencanakan dan membicarakan pernikahan keduanya bersama orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Alara bagai badai, meruntuhkan sisa-sisa kepercayaan terakhir yang ia miliki untuk suaminya sendiri. Sesuatu yang retak di dalam dirinya kini telah benar-benar hancur menjadi serpihan tak berbentuk.
Bersambung...
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘