NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:192k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Ketika Arini Menutup Pintu Hatinya

Dengan dibantu tiga orang karyawannya, Arini mulai mengosongkan kamar yang selama ini menjadi tempatnya bertahan, menangis, dan mencoba memperjuangkan rumah tangga yang ternyata tak pernah benar-benar menginginkannya.

Satu per satu koper berisi pakaian diangkat keluar. Kotak-kotak berisi buku, dokumen penting, perlengkapan kerja, hingga barang-barang pribadi yang selama ini tertata rapi di dalam lemari ikut dipindahkan.

Arini berdiri sejenak di ambang pintu, menyapu kamar itu dengan pandangan datar. Tak ada lagi rasa berat di dadanya. Yang ada hanya kelegaan karena akhirnya ia berani menutup lembaran hidup yang selama ini hanya dipenuhi luka.

"Masih ada lagi, Mbak?" tanya salah seorang karyawan.

Arini mengangguk pelan. "Ada. Ikut saya ke gudang."

Mereka pun berjalan menuju gudang yang berada di bagian belakang rumah. Arini membuka pintunya, lalu menunjuk beberapa kardus yang tersusun rapi di salah satu sudut ruangan.

"Yang ini juga dibawa."

Ketiga karyawan itu segera mengangkat kardus-kardus tersebut. Isinya adalah berbagai peralatan masak yang masih baru—mulai dari panci, wajan, rice cooker, blender, ketel listrik, hingga peralatan dapur lainnya. Semua itu dibeli Arini dari hasil kerja kerasnya sendiri. Karena belum sempat digunakan, ia menyimpannya di gudang agar tetap bersih dan aman.

Belum sampai kardus pertama keluar dari gudang, Bu Sumarni sudah menghadang di depan pintu.

"Arini! Kamu gak boleh pergi dari rumah ini! Selama belum ada surat cerai, kamu masih menantu ibu. Turunkan semua barang itu!"

Arini menatap mertuanya dengan tenang. "Saya sudah bilang, Bu. Saya hanya mengambil barang-barang milik saya."

"Ibu gak peduli! Pokoknya kamu tetap di rumah ini. Galang juga gak akan menceraikanmu!"

"Iya, Mbak," sahut Vera yang berdiri di samping ibunya. "Kalau Mbak pergi, rumah ini bakal berantakan. Siapa yang ngurus semuanya? Siapa yang masak? Siapa yang beres-beres? Dua hari aja nggak ada Mbak Arin, semuanya kacau."

Arini tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan.

"Baru sekarang kalian memikirkan itu? Waktu kalian mendukung Galang menikah lagi, kenapa gak sekalian dipikirkan siapa yang akan mengurus rumah ini? Lagian, aku hanya dibutuhkan untuk mengurus rumah ini? Gak ubahnya aku seorang pembantu."

Vera langsung terdiam. Wajahnya memerah karena tidak mampu membalas perkataan Arini.

Di saat suasana mulai memanas, Mayang melangkah mendekat. Tatapannya langsung tertuju pada kardus-kardus yang sedang diangkut.

"Tunggu dulu!" serunya. "Kalau itu dibeli pakai uang Mas Galang, gak boleh dibawa!"

Ketiga karyawan itu spontan berhenti dan menoleh kepada Arini.

Arini terkekeh pelan, seolah mendengar lelucon yang sangat lucu.

"Uang Mas Galang?" ulangnya sambil menatap Mayang lurus-lurus. "Kamu yakin?"

Mayang mengangkat dagunya. "Ya jelas. Selama ini Mas Galang yang bekerja."

Arini menggeleng pelan. "Sayang sekali kamu salah. Semua peralatan dapur ini saya beli dengan uang saya sendiri. Bahkan kalau mau dihitung, justru selama menikah lebih banyak uang saya yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan rumah ini daripada uang Galang."

Wajah Mayang langsung berubah kaku.

Arini melanjutkan dengan nada dingin, "Kalau tidak percaya, saya masih punya bukti transfer, nota pembelian, bahkan mutasi rekeningnya. Jadi jangan asal menuduh."

Mayang sontak bungkam. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa malu karena ucapannya dipatahkan di depan banyak orang.

"Silakan lanjutkan!" kata Arini kepada ketiga karyawannya.

"Baik, Mbak."

Mereka kembali mengangkat kardus-kardus itu menuju mobil boks. Bu Sumarni hanya bisa memelototinya dengan wajah merah padam, sementara Vera tampak gelisah, berharap Arini mengurungkan niatnya.

Namun harapan itu sia-sia.

Satu demi satu barang milik Arini berpindah ke dalam mobil. Bersamaan dengan itu, satu demi satu pula ikatan batin yang selama ini menahannya di rumah tersebut perlahan terlepas. Kali ini, tidak ada lagi yang mampu menghentikan langkahnya untuk pergi.

Mobil boks yang berisi seluruh barang-barang Arini sudah siap berangkat. Tiga orang karyawannya berdiri di samping kendaraan, memastikan tak ada lagi barang yang tertinggal di dalam rumah.

Arini menarik napas panjang. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya tinggal kini benar-benar telah kosong dari jejak kehidupannya. Yang tersisa hanyalah kenangan yang tak ingin ia bawa.

Ia melangkah menuju mobilnya yang akan mengikuti mobil boks dari belakang.

Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor berhenti di depan pagar.

"Cepat, Pak! Terima kasih!" ucap seorang pria sambil tergesa-gesa turun dari motor ojek online.

Pengemudi itu hanya mengangguk sebelum kembali melaju.

"Rin...!"

Suara itu membuat Arini menghentikan langkahnya.

Galang berlari menghampirinya dengan napas memburu. Kemeja kerjanya sudah basah oleh keringat. Wajahnya terlihat panik sejak menerima telepon dari Bu Sumarni yang mengabarkan bahwa Arini datang bersama beberapa orang untuk mengangkut seluruh barang miliknya.

Sesampainya di hadapan Arini, Galang langsung menghadang langkah istrinya.

"Rin, kamu mau ke mana?" tanyanya dengan napas tersengal. Tatapannya beralih ke mobil boks yang telah penuh muatan. "Ini semua apa-apaan?"

"Aku mau pergi."

"Pergi?" Galang menggeleng. "Kamu masih istriku."

Arini menatapnya tenang.

"Kamu nggak boleh pergi begitu saja."

"Kenapa?"

"Karena dosa kalau seorang istri meninggalkan rumah tanpa izin suaminya."

Senyum tipis penuh ironi terbit di bibir Arini. "Oh... begitu?"

"Iya."

"Baiklah." Arini mengangguk pelan. "Kalau begitu, Mas Galang..." Ia menatap lurus ke mata lelaki itu. "...aku izin meninggalkan rumah ini." Galang terdiam. "Aku izin pergi."

Suasana mendadak sunyi. "Aku ingin memulai hidup baru di tempat yang baru."

"Jangan, Rin."

"Apa lagi yang harus kutunggu di sini?"

"Kamu tetap istriku."

"Istri?" Arini tersenyum pahit. "Istri yang kamu tinggal menikah dengan perempuan lain? Istri yang selalu dihina ibumu? Istri yang dianggap hanya berguna saat diminta mengurus rumah dan memberi uang? Istri yang selalu diinjak-injak keluargamu?"

Galang menundukkan kepala.

"Aku memang masih istrimu di atas kertas. Tapi di hatimu... aku sudah lama bukan siapa-siapa."

Galang spontan menggenggam pergelangan tangan Arini.

"Jangan pergi!"

Arini menatap tangan yang menahannya. Dengan lembut, Arini menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Galang.

"Sekarang sudah terlambat, Mas."

Ia membuka pintu mobilnya. "Mulai hari ini, aku memilih memperjuangkan kebahagiaanku sendiri."

"Rin, kita kembali lagi dari nol, kita perjuangkan semua kebahagiaan kita."

"Maaf Mas, semuanya sudah terlambat." Arini masuk ke dalam mobil.

"Gak ada kata terlambat Rin, semua bisa kita lakukan mulai detik ini, mulai hari ini."

"Maaf Mas, keinginan untuk memperjuangkan kebahagiaan itu sudah hilang dari hatiku."

"Gak mungkin, kamu begitu mencintaiku, Rin. Aku tahu itu."

"Mungkin dulu iya, tapi kini? Gak lagi."

"Gak mungkin."

"Terserah kalau gak percaya." Arini menutup pintu mobilnya.

Mobil boks di depan mulai bergerak meninggalkan halaman, disusul mobil Arini beberapa detik kemudian.

Galang hanya mampu berdiri mematung di depan rumah, memandangi kedua kendaraan itu semakin jauh hingga akhirnya menghilang di ujung jalan.

Kini, ia benar-benar merasakan kehilangan seseorang yang selama ini selalu ada, tetapi tak pernah ia hargai.

_________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Arin
La.... urusan kelangsungan hidup keluarga ibu..... mikir sendiri lah. Masa mantan menantu yang sudah disakiti suruh nanggung dan ikut mikir juga. Aneh memang Ibu Sumarni ini....
Arin: iya gak nyambung. Mungkin nyambungnya kedengkul🤭🤭🤭
total 2 replies
Oma Gavin
jadi gembel gelandangan saja seperti sebeujgn sok kaya sekarang sudah kere
Yuni Ngsih
Authooooor ceritramu bgs banget sangat runut bgt ku baca dgn asyiknya tau " dah beres jangan lupa lanjutannya ya Thor ku menunggu ceritramu ....ok mksh.
Cicih Sophiana
wah ini kluarga rusak... mungkin si Varah jg perempuan bataran seperti si mayang jga
Cicih Sophiana
itulah klo orang salah memutar balik kan fakta... biar dia kelihatan orang baik 😅
Cicih Sophiana
ayo ah thor jodohin Arin dgn Satria...😀
Cicih Sophiana
laki laki klo udahnliat perempuan yg lebih bening sedikit aja udah klepek klepek... apa lagi klo perempuan nya yg gatel mau di garukin udah deh langsung gak mikir lagi
Cicih Sophiana
tetap semangat thor... sukses dan sehat slalu
Cicih Sophiana
semoga Arini mendapat kebahagiaan setelah penderitaan nya...
Fey mldn
si Galang otaknya loading sehingga yang dialaminya selalu menyalahkan Airin
Ma Em
Bu Sumarni karena TDK suka punya menantu yg numpang hdp pada anak nya , padahal Galang sendiri yg numpang sama istrinya Bu Sumarni tdk tau bahwa menantu yg selalu dihina malah yg sdh menyokong hdp Galang dan Bu Sumarni sendiri , Galang malah nikah lagi dgn pilihan Bu Sumarni katanya Mayang wanita yg baik ga tau nya Bu Sumarni malah memilih jalang yg akhirnya malah selingkuh dgn suami Bu Sumarni sendiri , skrg rasakan penderitaan mu Galang , Bu Sumarni .
Arin
Ikut capek kan Bu Sumarni. Anak sudah berumah tangga jangan ikut campur tangan. Udah punya istri malah sodorkan wanita lain buat anaknya. Sekarang kena masalah beruntun kan? Karena apa? Karena dirimu terlalu ikut campur dan masuk dalam urusan rumah tangga anak-anakmu. Dirimu menentu kebahagiaan anakmu dengan standar mu.... ujung-ujungnya gak ada...
Cicih Sophiana
percuma ibu baru menyesal sekarang...
Cicih Sophiana
setelah tersakiti sekarang Allah memberikan kebahagiaan... untuk kesabaran nya Arin
Cicih Sophiana
wah pak Rahman ternyata sahabat orang tua Arini... tp sayang yah orang tua Arini sdh meninggal krn kecelakaan kan yah...
Cicih Sophiana
kalian yg salah ko malah menyalahkan orang lain...
Cicih Sophiana
tadi othor bilang ngekos... apa dia ninggalin rumah serta istri nya dan orang tua nya...
Cicih Sophiana
yah emang harus sombong klo menghadapi kamu... kamu aja so yakin klo perempuan itu orang baik dan setia..
Cicih Sophiana
Satria siapa tau jodoh nya Arini... nanti yg nempatin rumah itu Arini juga 😀
Cicih Sophiana
Arini kamu cari pengawal unruk melindungi mu dari laki laki egois... dia yg salah malah orang yg di salah kan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!