Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.
Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.
Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKTI YANG TERTINGGAL.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Kirana akhirnya tiba di kawasan perumahan elit tempat tinggal orang tua Damar. Namun sebelum menuju ke sana, ia sengaja melipir sebentar ke sebuah toko buah dan toko kue, mampir untuk membeli buah tangan. Kirana merasa sangat sungkan jika harus datang dengan tangan kosong. Apalagi, ini pertama kalinya ia berkunjung seorang diri semenjak mereka menikah dua tahun lalu.
Selama ini, ia hampir tidak pernah menginjakkan kaki di rumah mewah tersebut. Damar hanya membawanya dua kali, yaitu saat pertama kali memperkenalkan dirinya sebagai calon istri dan sekali lagi ketika ada acara keluarga besarnya. Setelah itu, Damar tidak pernah lagi mengajaknya berkunjung ke rumah orang tuanya.
Setelah menyelesaikan pembayaran buah dan kue yang dikemas cantik, Kirana pun melanjutkan perjalanannya kembali. Sekitar lima belas menit kemudian, mobil putihnya berbelok memasuki pekarangan rumah megah milik keluarga Damar. Kebetulan juga, pintu gerbangnya yang tinggi itu sedang terbuka lebar. Setelah memarkirkan kendaraannya di halaman yang luas itu, Kirana langsung turun membenahi letak hijabnya sebentar. Dengan langkah sedikit ragu, ia berjalan menuju pintu utama dan langsung memencet bel yang ada di dinding.
Tak berapa lama, daun pintu besar itu perlahan terbuka, menampilkan sosok Yenita. Wanita paruh baya itu seketika terpelongo dengan mata membulat sempurna begitu mendapati siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Ia benar-benar kaget melihat menantunya datang berkunjung seorang diri tanpa putranya.
"Assalamualaikum, Mama," ucap Kirana lembut, mencoba mencairkan suasana yang mendadak beku.
"Wa... Waalaikumussalam," balas Yenita agak gugup, suaranya terdengar sedikit terbata-bata karena rasa tidak percaya.
Dari arah dalam rumah, terdengar deru langkah kaki disusul suara bariton seorang pria paruh baya yang penasaran. "Siapa yang datang, Ma?"
Pria yang baru muncul itu adalah Sanjaya, ayah kandung Damar. Ia melangkah mendekati istrinya untuk melihat siapa tamu yang datang.
"Menantu kita, Pah," balas Yenita tanpa menoleh sedikit pun pada suaminya. Pandangan matanya masih terpaku lekat pada sosok Kirana yang masih berdiri anggun di depan pintu.
Sanjaya yang mendengar jawaban itu ikut terkejut, namun ia dengan cepat menguasai keadaan. "Suruh masuk dong, Mama. Kok dibiarkan saja sih menantunya berdiri di depan pintu begitu?"
Teguran suaminya seketika membuat Yenita tersentak dari ke terpakuannya. Ia pun langsung tersenyum ramah dan memegang lengan Kirana untuk mengajaknya masuk ke dalam. "Ayo masuk, Nak. Mari."
Yenita membimbing Kirana berjalan menuju ruang tengah yang dihiasi sofa-sofa mewah. Begitu mereka duduk, Sanjaya langsung membuka suara dengan dahi berkerut bingung. "Kemana Damar? Kenapa dia membiarkan istrinya datang sendirian kesini?"
Kirana tersenyum tipis, meletakkan bingkisan kue dan buah di atas meja kaca. "Kak Damar sedang sibuk bekerja di kantor, Papa. Jadi Kiran sengaja datang sendiri untuk menengok Mama dan Papa."
Sanjaya mengangguk-angguk paham, lalu menoleh pada istrinya. "Mama, buatkan minuman hangat dulu untuk menantu kita."
Mendengar hal itu, Kirana buru-buru menolak dengan sopan. "Eh, tidak usah repot-repot, Mama. Nanti biar Kiran ambil sendiri saja ke dapur. Oh iya, Papa, Mama... bolehkah kalau Kiran izin melihat kamar Kak Damar di atas?"
Mendengar permintaan yang tidak terduga dari sang menantu, Yenita dan Sanjaya langsung saling berpandangan satu sama lain. Mereka berdua tampak sangat terkejut sekaligus heran. Selama dua tahun ini, Kirana selalu bersikap tertutup dan menjaga jarak, namun hari ini ia justru meminta izin untuk masuk ke ruang pribadi suaminya di rumah ini.
Sanjaya tersenyum hangat, memecah kecanggungan. "Tentu saja boleh, Nak. Kenapa harus minta izin? Itukan kamar suamimu, berarti sekarang kamar kamu juga. Kalian kan sudah sah menjadi suami istri."
Mendengar lampu hijau dari sang mertua, Kirana langsung mengembuskan napas lega. "Terima kasih banyak, Papa, Mama."
Ia pun langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mantap ke arah anak tangga menuju lantai dua. Di belakangnya, Yenita dan Sanjaya hanya bisa menatap punggung Kirana dengan dahi mengkerut heran. Mereka berdua bingung dari mana Kirana bisa tahu kalau kamar Damar berada di lantai dua, padahal wanita itu tidak pernah naik ke atas sebelumnya.
"Papw, kok merasa aneh ya? Coba Mama telepon Damar sekarang," bisik Sanjaya pada istrinya.
Sesuai dengan perkataan sang suami, Yenita segera merogoh ponselnya dan menghubungi nomor putranya. Panggilan itu langsung diangkat di dering ketiga. Tanpa basa-basi, Yenita memberitahu situasi di rumah.
"Damar, istrimu sekarang sedang ada di rumah Mama," ujar Yenita.
Di seberang telepon, Damar yang sedang berada di ruang kerjanya tampak sangat terkejut. Suaranya terdengar panik. "Apa? Mau apa dia datang ke sana, Mah?"
Yenita mendengus mendengarkan nada bicara anaknya yang terkesan tidak suka. "Ya tentu saja ingin melihat mertuanya! Habisnya suaminya sendiri tidak punya hati, membiarkan ibunya merana rindu pada menantunya tapi si anak tidak peduli sama sekali!"
"Mama, mengertilah aku sedang sibuk banyak urusan kantor sekarang. Tapi ngomong-ngomong, sedang apa Kirana sekarang di sana?" tanya Damar mengalihkan pembicaraan.
"Dia sedang ada di kamar pribadimu di atas," balas Yenita santai.
"Apa?!" Damar berteriak kecil di seberang sana. "Mama, cegah, Ma! Jangan biarkan dia masuk ke kamar itu!"
"Sudah terlanjur, Nak. Dia mungkin sudah dikamarmu," sahut Yennita santai, "Tapi ngomong-ngomong, kok dia bisa tahu kamarmu berada di lantai dua ya? Apakah kamu yang memberitahukannya, Damar?"
"Tidak, Ma. Aku tidak pernah memberitahunya," jawab Damar cepat dengan suara yang semakin panik. "Ya sudah, aku akan segera pulang ke rumah sekarang. Jangan biarkan Kirana kemana-mana sampai aku datang. Dan satu lagi, jangan bebani dia dengan pertanyaan yang tidak-tidak, ya!"
Yenita mendengus kesal mendengar proteksi berlebihan dari putranya. "Huh, takut sekali sih! Emangnya Mama ini ibu mertua yang jahat apa sampai harus diperingatkan begitu?" keluh Yenita tidak terima.
"Pokoknya dilarang bertanya apa pun, titik!" tegas Damar sebelum langsung mematikan sambungan ponselnya secara sepihak.
Sementara itu di lantai dua, Kirana sudah berdiri tepat di depan pintu kamar tidur Damar. Langkahnya mendadak terhenti, rasa ragu kembali menyergap batinnya. Jantung Kirana berdegup sangat kencang tidak karuan di dalam rongga dada. Namun, ia segera menggelengkan kepala untuk mengusir rasa takutnya.
Kirana menarik napas sedalam-dalamnya, lalu memberanikan diri memutar kenop pintu di hadapannya. Pintu pun perlahan terbuka.
Begitu matanya mengedarkan pandangan ke dalam ruangan, Kirana merasakan dejavu yang luar biasa hebat. Kamar itu memiliki nuansa maskulin dengan dominasi warna abu-abu dan hitam, persis sama dengan apa yang pernah ia lihat di dalam mimpinya di malam ketiga setelah kematian Damar di masa depan.
Kirana melangkah masuk dengan perlahan, menutup pintu di belakangnya. Kakinya bergerak menuntun tubuhnya mendekati sebuah meja nakas kayu yang terletak tepat di samping ranjang besar Damar. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya langsung terbelalak lebar menatap sebuah benda yang tergeletak manis di atas permukaan meja tersebut.
Kirana refleks menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan untuk menahan pekikan syok. Di sana, sebuah figura foto perak berdiri dengan anggun. Dan di dalam bingkai kaca itu, terpampang jelas selembar foto dirinya sendiri yang sedang tersenyum ceria mengenakan seragam putih abu-abu semasa SMA.
Pertahanan batin Kirana runtuh seketika. Pikirannya langsung berkecamuk hebat bagai badai. Air mata keharuan dan penyesalan kembali menggenang di sudut pelupuk matanya. Ternyata, semua perkataan ibu mertuanya di lini masa masa depan itu bukanlah sebuah bualan atau mimpi kosong belaka. Detail figura ini, foto ini, semuanya nyata berada di sini. Suaminya yang selama ini selalu bersikap sedingin es, ternyata benar-benar telah memendam rasa cinta yang amat sangat dalam kepadanya sejak masa muda mereka.
GANBATEEE NEE 😁🤗💪
semangat yaa update nyaa😁😁😁
semoga benang takdir bisa terurai dan dalang dibalik Kematian damar bisa terungkap semuanya . semangat kiran, jaga damar dr takdir tragis nya 💪💪