Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
*Penyesalan seumur hidupku adalah melukai hatimu yang tulus dan murni.*
"Selamat ...! Akhirnya kamu memenangkan pertaruhan ini, Arkana!"
Suara Raditya terdengar begitu bersemangat dari layar laptop. Di layar itu tampak wajah ketiga sahabatnya sedang tersenyum lebar seolah baru saja merayakan sebuah kemenangan besar. Mereka terlihat jauh lebih antusias daripada orang yang sebenarnya memenangkan taruhan tersebut.
Arkana yang sedang duduk di kursi kerjanya hanya memandang layar itu tanpa banyak bereaksi. Sesaat ia bahkan tidak langsung memahami maksud ucapan Raditya. Pikirannya sedang dipenuhi berbagai urusan pekerjaan sehingga butuh beberapa detik sampai akhirnya ia mengingat kembali taruhan yang pernah mereka buat beberapa bulan lalu saat masih berkumpul santai di halaman kampus Fakultas Ekonomi.
Sore itu mereka masih menjadi mahasiswa yang menganggap segala sesuatu sebagai permainan. Tidak ada yang berpikir bahwa sebuah taruhan konyol bisa mengubah hidup seseorang secara permanen. Saat itu Kanaya menjadi topik pembicaraan mereka. Gadis pelayan kantin yang pendiam dan selalu menutupi sebagian wajahnya dan jarang bergaul dengan banyak orang. Entah bagaimana, obrolan iseng mereka berkembang menjadi sebuah tantangan yang akhirnya berubah menjadi taruhan.
"Aku benar-benar tidak menyangka kamu berhasil menunjukkan wajah Kanaya dan menjalin hubungan dengannya selama seratus hari," ujar Bimantara sambil menggelengkan kepala. Wajahnya masih memperlihatkan ekspresi tak percaya.
Sadewa yang duduk di sampingnya langsung tertawa keras. "Hei, bro! Dia bukan cuma berhasil melihat wajah Kanaya."
Raditya mengangkat sebelah alisnya. "Lalu?"
Sadewa menyeringai jahil. "Dia bahkan sudah melihat seluruh tubuhnya dan menikmatinya. Ingat, mereka sudah menikah?!"
Ucapan itu langsung disambut gelak tawa oleh dua sahabat lainnya.
Namun berbeda dengan mereka, Arkana tidak ikut tertawa. Senyum yang sempat muncul di bibirnya perlahan menghilang. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Padahal dulu dialah yang paling percaya diri menerima taruhan itu. Dahulu, ia begitu yakin semuanya hanya permainan biasa. Akan tetapi sekarang, setelah mengenal Kanaya lebih dekat, setelah mengetahui betapa tulusnya perempuan itu mencintainya, dan setelah menjalani hari-hari sebagai suami istri bersama perempuan tersebut, kemenangan yang dahulu begitu diinginkannya justru terasa pahit.
"Kamu beruntung banget, Arka. Setiap hari bisa melihat wajah cantik Kanaya. Iri banget, deh!" sela Sadewa dengan nada ringan, sudut bibirnya terangkat nakal.
"Gila, sih, ya! Tiap buka mata yang pertama kali dilihat itu wajah cantik seorang bidadari," lanjut Raditya tertawa kecil.
Tanpa sadar bayangan wajah Kanaya muncul di benak Arkana. Perempuan itu selalu menyambutnya pulang dengan senyum hangat. Tidak pernah mengeluh ketika Arkana terlalu sibuk dengan tugas kampus. Tidak pernah marah ketika ia pulang larut malam. Bahkan ketika Arkana bersikap cuek, Kanaya tetap memperlakukannya dengan kelembutan yang sama. Perasaan bersalah perlahan menyusup ke dalam hatinya.
"Sesuai perjanjian awal aku akan memenuhi janjiku," kata Sadewa kemudian, menatap lurus ke arah kamera. "Kamu boleh ambil kapan saja mobil Ferrari itu."
"Selamat ... selamat!" sahut Raditya.
Arkana membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Untuk pertama kalinya ia merasa tidak nyaman membahas semua ini.
"A-aku ..."
Belum sempat Arkana menyelesaikan kalimatnya, Raditya tiba-tiba mengangkat tangan seolah baru teringat sesuatu. "Eh, tunggu sebentar."
Ketiga sahabatnya langsung menoleh.
"Apa lagi?" tanya Bimantara.
Raditya tersenyum lebar. "Kalian lupa bagian terpentingnya."
Arkana mendadak merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan datang.
"Bagian apa?" tanya Sadewa.
"Arkana pernah bilang setelah selesai taruhan ini, dia akan menceraikan Kanaya."
Kalimat itu membuat senyum Arkana dan kedua teman lainnya lenyap seketika.
Tubuh Arkana menegang, wajahnya berubah pucat. Ucapan itu memang pernah keluar dari mulutnya, tiga bulan lalu sesaat sebelum mengucapkan ijab kabul. Sebelum ia mengenal Kanaya yang sebenarnya. Sebelum perempuan itu berhasil mengisi ruang kosong di dalam hatinya. Jauh sebelum ia menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta.
PRANG!
Suara benda pecah yang sangat keras tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Seluruh tubuh Arkana langsung membeku. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Perlahan ia menoleh ke belakang. Dan pada saat itulah dunia seolah runtuh di hadapannya.
Kanaya berdiri beberapa langkah dari tempat Arkana. Di dekat kaki perempuan itu terdapat pecahan gelas yang berserakan di lantai. Air yang tadi memenuhi gelas tersebut kini membasahi keramik dan ujung gaun yang dikenakan. Akan tetapi, Kanaya sama sekali tidak memedulikannya.
Wanita itu hanya berdiri diam mematung. Wajahnya pucat seperti kehilangan seluruh warna. Kedua matanya memerah karena dipenuhi air mata yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Tatapannya tertuju lurus kepada Arkana, seakan sedang berusaha memastikan bahwa apa yang baru saja didengarnya bukanlah mimpi buruk.
"A-Aya ...."
Suara Arkana terdengar begitu kecil. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar merasa takut.
Kanaya tertawa pelan. Namun tawa itu terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Jadi ..." Suaranya bergetar hebat. "Jadi, inikah alasan kamu menikahiku secara siri?"
Setiap kata yang keluar dari bibir Kanaya terasa seperti pisau yang menghunjam dada Arkana.
"Tidak, Aya. Dengarkan aku dulu."
Kanaya menggeleng pelan. Air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya. "Selama ini aku pikir kamu mencintaiku."
"Aku memang mencintaimu."
"Benarkah?"
Pertanyaan itu membuat Arkana terdiam. Bukan karena ia tidak memiliki jawaban, melainkan karena ia sadar bahwa apa pun yang dikatakannya sekarang tidak akan mampu menghapus kenyataan bahwa semua hubungan mereka memang berawal dari sebuah taruhan.
Kanaya memejamkan mata sesaat. Dadanya terasa begitu sesak hingga sulit bernapas. Wanita itu tidak pernah membayangkan bahwa pernikahan yang selama ini dianggap suci ternyata berawal dari permainan yang dilakukan oleh orang yang paling ia percayai.
"Aku benar-benar bodoh," bisiknya lirih. "Aku mempercayaimu sepenuhnya."
"Aya ...." Arkana melangkah mendekat. Namun, Kanaya justru mundur satu langkah.
Gerakan sederhana itu membuat hati Arkana serasa diremas. Karena untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, Kanaya menjauh darinya. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Tatapan yang biasanya penuh cinta kini hanya menyisakan luka dan kekecewaan.
"Apa kamu tahu rasanya mendengar semua itu?" tanya Kanaya dengan suara yang semakin bergetar. "Apa kamu tahu betapa hancurnya aku sekarang?"
Air mata Arkana mulai menggenang. Ia ingin memeluk perempuan itu. Ingin menjelaskan semuanya dan mengatakan bahwa perasaannya sudah berubah. Bahwa taruhan itu sudah tidak berarti apa-apa lagi. Karena sekarang Kanaya adalah satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Namun, semua kata itu terasa terlambat.
Karena luka yang terlanjur tercipta tidak akan hilang hanya dengan penjelasan sederhana.
Saat melihat air mata yang terus jatuh dari mata Kanaya, Arkana akhirnya menyadari satu hal yang mengerikan. Ia mungkin telah memenangkan taruhan, tetapi pada saat yang sama, ia juga sedang kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya.
***
Assalamualaikum, semuanya. Aku buat karya baru lagi, semoga kalian suka. Ambil sisi positifnya dari cerita ini dan jangan tiru sisi negatifnya, ya!
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak, like, komentar, sebagai dukungan kalian untuk karya ini.
bunda masih sulit
anak umur 4 thn udah ngerti kata2 orang dewasa
Kemarin cemburu, sekarang romantis
hayooo siapa mentornya Ay???😃
kayanya akan ada konspirasi si kembar iniiii 😃😆😆😆😆
skin to skin Ar,itu bisa Kamu lakukan
serasa mau nangis, menjerit 😬😬😬
anak kicik cantik tepat nembaknyaa
tau bahasa cemburu 😃