NovelToon NovelToon
Mahkota Darah Dan Mawar Es

Mahkota Darah Dan Mawar Es

Status: tamat
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.

​Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Ngarai Angin dingin

​Halaman Benteng Winterfell telah berubah menjadi panggung pembantaian sesama kawan. Lolongan parau dari para ksatria yang terinfeksi berbenturan dengan denting perisai besi pasukan Kaelen yang menahan gempuran dengan air mata di mata mereka.

Mereka dipaksa bertarung mempertahankan nyawa tanpa boleh membunuh rekan sendiri yang telah kehilangan akal sehat akibat parasit racun sihir Abyss.

​Di tengah kekacauan itu, Aura tidak membiarkan dirinya lumpuh oleh rasa bersalah. Tangan kirinya masih merangkul pinggang Kaelen yang napasnya masih memburu akibat mendobrak gerbang, sementara tangan kanannya terangkat tinggi ke udara.

​"Sihir Es Kuno: Rantai Penjara Salju!"

​KRETEKKK!

​Dari permukaan tanah yang membeku, puluhan rantai yang terbuat dari es murni berbentuk butiran mawar melesat keluar, melilit kaki dan tubuh para ksatria yang menggila dengan presisi tinggi.

Aura tidak membunuh mereka; ia hanya melumpuhkan pergerakan mereka. Namun, setiap kali mananya bersentuhan dengan tubuh yang terinfeksi, Aura bisa merasakan betapa pekatnya energi Abyss yang mengalir di dalam darah mereka.

​Tiba-tiba, dari arah menara pengawas pusat benteng, sesosok pria paruh baya dengan zirah yang compang-camping berlari kencang. Ia menggunakan sisa mana anginnya untuk melompati kerumunan ksatria yang dirantai es.

Itu adalah Wakil Komandan Varick. Wajahnya dipenuhi luka goresan, dan tangan kirinya menekan luka tusuk di perutnya yang mengeluarkan darah merah segar—beruntung, darahnya masih merah, tanda ia belum menyentuh pangan yang terkontaminasi.

​"Yang Mulia Pangeran! Nona Aura!" Varick terjatuh di atas lututnya tepat di hadapan Kaelen, terengah-engah dengan darah yang mengalir dari sela jarinya. "Jangan ... jangan periksa gudang bawah tanah. Tempat itu sudah menjadi sarang kutukan."

​Kaelen langsung berjongkok, menyalurkan secuil mana darah hangatnya ke dada Varick untuk menstabilkan kondisi jantung ksatria setianya itu.

"Varick, bicaralah. Apa yang sebenarnya terjadi di Winterfell? Di mana Duke Raymond?"

"A-Ayah ...," bisik Aura.

​Varick terbatuk, memuntahkan darah segar sebelum menjawab dengan suara serak yang bergetar.

"Duke Raymond ... Duke Raymond memimpin satu legiun ksatria inti yang belum terinfeksi untuk mengejar Gavin Elrod ke utara tiga puluh enam jam yang lalu. Gavin ... bajingan itu tidak pernah berniat menduduki benteng ini. Dia hanya menjadikan Winterfell sebagai tempat transit untuk memanen jiwa!"

​Mendengar nama Gavin disebut, rahang Kaelen mengeras hingga berbunyi gemertak yang mengerikan.

"Katakan dengan jelas, Varick!"

​"Dua minggu lalu, pasokan gandum dari Faksi Barat tiba. Kami tidak curiga karena stempelnya resmi dari ibu kota. Namun, tiga hari yang lalu, setelah seluruh barak mengonsumsi jatah musim dingin, kegilaan ini dimulai. Di saat yang sama, Gavin Elrod muncul di gerbang benteng bersama sisa-sisa Klan Bayangan. Dia tidak menyerang kami, Yang Mulia. Dia ... dia membawa sebuah lingkaran sihir portabel yang terhubung langsung ke Ngarai Angin Dingin."

​Aura tersentak, langkah kakinya mundur setengah langkah.

"Lingkaran sihir portabel? Jadi, lingkaran pengorbanan yang kami temukan di Desa Okvanh ...."

​"Benar, Nona Aura ...," Varick mendongak dengan tatapan mata yang dipenuhi keputusasaan yang mendalam. "Gavin mengaktifkan lingkaran itu dari dalam benteng. Setiap ksatria yang mati karena kegilaan atau bunuh diri akibat halusinasi, jiwa dan darah mereka langsung terisap dan dikirim secara instan menuju Altar Kuno yang berada di dasar Ngarai Angin Dingin! Gavin menggunakan Winterfell sebagai rumah jagal jarak jauh untuk mengumpulkan persembahan seribu prajurit!"

​Mendengar penjelasan itu, teka-teki mengerikan yang mengganjal di kepala Aura sejak di perbatasan akhirnya terjawab dengan jawaban yang paling brutal.

Gavin tidak sedang bermain taktik militer konvensional yang ada di ingatan masa lalunya. Gavin yang sekarang bergerak dengan efisiensi yang mengerikan. Dia mengunci gerbang dari dalam agar tidak ada informasi yang keluar, membiarkan pasukannya membusuk sendiri, sementara dia duduk dengan tenang di Ngarai Angin Dingin, menunggu akumulasi darah mengalir ke altarnya.

​"Ngarai Angin Dingin ...." Aura menggumam sembari menatap ke arah utara, menembus dinding-dinding batu hitam benteng.

Di kehidupan pertamanya, tempat itu adalah sebuah jurang tak berdasar yang selalu diselimuti oleh badai es abadi yang mematikan.

Legenda Utara mengatakan bahwa di dasar ngarai itulah, di atas sebuah altar kuno yang dibangun sebelum kekaisaran berdiri, terdapat segel magis yang mengunci Behemoth Frost—binatang buas kuno berkekuatan setingkat dewa yang mampu membekukan seluruh benua hanya dengan satu tarikan napas.

"Bajingan itu benar-bebar ingin membangkitkan monster!" geram Aura.

​Di kehidupan lalu, Gavin tidak pernah menyentuh tempat itu karena dia tidak membutuhkan kekuatan monster; dia sudah memiliki takhta kekaisaran lewat manipulasi politik. Namun sekarang, karena Aura telah merebut takhta politik itu darinya, Gavin memilih untuk meruntuhkan seluruh dunia.

​"Dia ingin membangkitkan Behemoth Frost." Suara Aura bergetar, tapi bukan lagi karena takut, melainkan karena kemarahan yang membakar.

"Darah dari tiga ratus jiwa di Desa Okvanh, ditambah dengan ratusan ksatria yang terinfeksi di Winterfell ... kuota seribu prajurit untuk mengaktifkan Altar Kuno hampir terpenuhi. Jika altar itu menyala sepenuhnya, segel es purba di ngarai akan runtuh, Aura. Dan Behemoth Frost akan bangkit di bawah kendali Belati Abyss-nya."

​Kaelen berdiri tegak kembali. Sisa api darah di tubuhnya mendadak padam, digantikan oleh hawa membunuh yang begitu pekat dan sunyi hingga membuat salju yang jatuh di sekitarnya mendadak berhenti di udara, tertekan oleh dominasi sang Monster Utara.

​"Varick, kumpulkan semua prajurit yang masih bisa bergerak. Amankan perimeter benteng dan urus mereka yang terinfeksi dengan es milik Aura. Jangan biarkan ada satu pun darah lagi yang tumpah di tanah ini," perintah Kaelen, nadanya dingin tanpa emosi, pertanda bahwa sang Pangeran telah mencapai batas kesabarannya.

​Kaelen berbalik, menatap lurus ke dalam sepasang mata perak Aura. Ia meraih kedua tangan istrinya, menggenggamnya begitu erat hingga menyalurkan kehangatan yang kontras dengan atmosfer mati di sekeliling mereka.

​"Kita tidak bisa beristirahat di benteng ini, Aura. Jika kita menunda satu malam saja, Duke Raymond dan legiun intinya akan dibantai di ngarai, dan monster itu akan bangun." Kaelen menatap tajam ke arah utara. "Kita harus mengejar Gavin ke Ngarai Angin Dingin sekarang juga. Kita bawa sisa pasukan yang belum menyentuh gandum hitam."

​Aura membalas genggaman tangan Kaelen dengan ketetapan hati yang mengristal di matanya. Rasa cemas akibat hilangnya peta kehidupan lalu kini telah terbakar habis oleh kenyataan di depannya.

​"Ya, Kaelen. Mari kita pergi ke Ngarai Angin Dingin," ucap Aura, suaranya terdengar jernih dan tajam seperti belati es. "Gavin mengira dia bisa bersembunyi di balik altar kuno dan kekuatan dimensi bawah. Dia mengira dengan memotong pasokan makanan kita dan mengunci benteng, kita akan menyerah."

​Aura melangkah berdampingan dengan Kaelen menuju kereta perang besi hitam yang kini telah dipersiapkan kembali oleh barisan ksatria pengawal inti yang tersisa.

"Di kehidupan lalu, aku mati di dalam es karena ketidakberdayaan. Di kehidupan ini, jika Gavin ingin bermain dengan es purba dan altar kematian di Utara, aku akan menunjukkan kepadanya bahwa akulah pemilik sejati dari hawa beku tanah ini."

​Dengan sisa pasukan yang kelelahan dan pasokan pangan yang menipis, Aliansi Utara kembali bergerak tanpa henti. Konvoi militer itu berputar arah, meninggalkan Winterfell yang terluka, bergerak cepat menembus badai kelabu yang kian membutakan menuju ke arah utara yang ekstrem—menuju Ngarai Angin Dingin, tempat di mana takdir baru yang berdarah dan tak terprediksi telah menunggu mereka di depan Altar Kuno Abyss.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!