Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.
Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.
Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.
Melainkan kesepakatan.
Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.
Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.
Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.
Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?
Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulau yang Hilang
"Pulau Arunika..."
Nama itu bergema di dalam pabrik yang mulai dipenuhi debu.
Aruna menatap peta tua di tangannya.
Kertasnya telah menguning.
Beberapa sudutnya bahkan mulai robek.
Namun garis-garis yang digambar dengan tinta hitam masih terlihat jelas.
Di bagian tengah peta terdapat sebuah tanda berbentuk kompas.
Di bawahnya hanya ada dua kata.
"Atlas Terakhir."
Jantung Aruna berdetak semakin cepat.
"Apa sebenarnya Pulau Arunika?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Surya, Elias, Jonathan, dan Wira saling berpandangan.
Keempat pria itu terlihat menyimpan kenangan yang sama.
Kenangan yang tidak menyenangkan.
Akhirnya Elias mengembuskan napas panjang.
"Itu bukan sekadar pulau."
katanya pelan.
"Itu adalah tempat di mana semuanya dimulai."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
"Semua?"
tanya Adrian.
Elias mengangguk.
"Tiga puluh lima tahun lalu."
"Kami berempat bertemu untuk pertama kalinya di sana."
Aruna mengangkat kepala.
"Berempat?"
Surya mengangguk pelan.
"Aku."
"Elias."
"Wira."
Tatapannya beralih kepada Jonathan.
"Dan Jonathan."
Jonathan tertawa hambar.
"Dulu kami masih percaya bahwa dunia bisa diubah."
"Ternyata dunia justru mengubah kami."
Tidak ada yang membantah.
Kalimat itu terdengar pahit.
Namun itulah kenyataannya.
Arga memperhatikan peta di tangan Aruna.
Kemudian ia menunjuk sebuah simbol kecil di sudut kanan.
"Nona."
"Lihat ini."
Aruna mendekatkan peta.
Di sana terdapat gambar bunga melati berkelopak lima.
Lambang yang sama dengan liontin peninggalan Alya.
"Kakek."
kata Aruna.
"Lambang ini sama."
Surya mengangguk.
"Itu memang lambang keluarga kita."
"Keluarga?"
Aruna mengernyit.
"Ayahmu..."
Surya memandang Mahendra.
"...adalah pewaris lambang itu."
Mahendra menundukkan kepala.
"Aku bahkan tidak pantas menyandangnya."
gumamnya.
Aruna menatap pria itu.
Meski masih sulit menerima semuanya, ia mulai melihat penyesalan yang tulus dalam diri Mahendra.
Penyesalan yang telah dipendam selama puluhan tahun.
Tiba-tiba Jonathan mengambil satu langkah maju.
"Kalau peta itu memang asli..."
"...kita harus berangkat malam ini."
Wira langsung menggeleng.
"Tidak."
"Kenapa?"
Karena Pulau Arunika tidak bisa ditemukan begitu saja."
Jonathan tertawa kecil.
"Sebuah pulau tidak mungkin menghilang."
"Benarkah?"
balas Wira tenang.
"Kalau begitu, mengapa selama dua puluh tahun tidak ada satu kapal pun yang berhasil menemukannya?"
Jonathan terdiam.
Karena ia memang pernah mencarinya.
Berkali-kali.
Dengan kapal.
Dengan pesawat.
Bahkan menggunakan citra satelit.
Namun hasilnya selalu sama.
Pulau itu seolah lenyap dari permukaan bumi.
"Dulu..."
kata Surya.
"...Pulau Arunika memang dinyatakan tenggelam."
"Tapi itu hanya cerita yang sengaja kami sebarkan."
Mahendra langsung membelalak.
"Jadi pulau itu masih ada?"
"Masih."
jawab Elias.
"Hanya saja..."
"...tidak semua orang bisa menemukannya."
Ratih menghela napas panjang.
"Semakin lama, rahasia ini semakin terdengar mustahil."
Elias tersenyum tipis.
"Bukan mustahil."
"Hanya sangat mahal."
"Mahal?"
ulang Dimas.
"Bukan dengan uang."
kata Elias.
"Tapi dengan pengorbanan."
Suasana kembali hening.
Belum sempat seseorang bertanya lebih jauh, ponsel Arga bergetar pelan.
Ia melihat layar, lalu wajahnya langsung berubah serius.
"Tuan Surya."
"Ada kabar dari pelabuhan."
Surya mengangguk.
"Bicaralah."
"Malam ini..."
"...ada seseorang yang sudah menyiapkan kapal menuju koordinat di peta."
Semua orang saling berpandangan.
"Kapal?"
tanya Adrian.
"Siapa yang menyiapkannya?"
Arga menggeleng.
"Tidak diketahui."
"Hanya ada satu pesan."
"Apa?"
Arga membaca isi pesan di layar ponselnya.
> "Jika Aruna ingin mengetahui kebenaran tentang Alya, datanglah sebelum matahari terbit. Setelah itu, kesempatan ini tidak akan pernah datang lagi."
Aruna menggenggam peta itu semakin erat.
Pesan itu jelas ditujukan kepadanya.
Namun siapa pengirimnya?
Surya memandang Elias.
"Bukan kau?"
Elias menggeleng.
"Bukan."
"Wira?"
"Bukan."
Semua mata perlahan beralih kepada Jonathan.
Pria itu mengangkat kedua tangannya.
"Jangan melihatku."
"Aku juga baru mendengar ini."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Kalau bukan salah satu dari mereka...
Berarti masih ada seseorang yang mengetahui seluruh rahasia ini.
Seseorang yang selalu selangkah lebih maju.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari luar.
Seorang anggota Pasukan Gagak masuk sambil terengah-engah.
"Tuan!"
"Ada apa?"
"Kami menemukan ini di depan gerbang."
Ia menyerahkan sebuah kotak kayu kecil.
Kotak itu tidak terkunci.
Namun di atas tutupnya terdapat ukiran bunga melati yang sama seperti di peta.
Aruna perlahan membukanya.
Di dalam kotak hanya ada satu benda.
Sebuah jam saku tua.
Jam yang berhenti tepat pada pukul 04.15.
Begitu melihat jam itu, Elias langsung memucat.
"Mustahil..."
bisiknya.
Aruna menatapnya.
"Paman Eli... jam ini milik siapa?"
Elias menelan ludah.
Dengan suara yang bergetar, ia menjawab,
"Itu milik ayah Alya."
Ruangan mendadak sunyi.
Mahendra membelalak.
"Tidak mungkin."
"Ayah Alya..."
"...meninggal tiga puluh tahun lalu."
Elias menggeleng pelan.
"Lalu bagaimana jam yang selalu ia bawa itu bisa berada di sini malam ini?"
Tidak ada seorang pun yang mampu menjawab.
Karena hanya ada dua kemungkinan.
Seseorang telah menyimpan jam itu selama puluhan tahun...
Atau...
Pemiliknya tidak pernah benar-benar meninggal.
Bersambung...