Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Balik Kabut
Barak keamanan di bagian samping kediaman keluarga Wijaya jauh lebih mewah dibandingkan barak militer yang pernah ditempati Nathan selama belasan tahun di luar negeri. Kamar pribadinya berukuran sedang, dilengkapi dengan tempat tidur tunggal yang nyaman, kamar mandi dalam, dan sebuah meja kayu minimalis. Namun, bagi seorang prajurit yang terbiasa tidur dengan satu mata terbuka, ruangan ini terasa terlalu steril.
Tepat pukul sebelas malam. Di luar, hujan deras telah mereda menjadi rintik-rintik halus yang mengetuk jendela kaca dengan ritme konstan.
Nathan duduk di tepi tempat tidur dengan bertelanjang dada. Tubuhnya yang kokoh dipenuhi oleh jaringan parut bekas luka tembak di bahu kiri, sayatan pisau panjang melintang di rusuk kanannya, dan beberapa bekas luka bakar kecil di punggungnya. Setiap luka adalah babak sejarah dari pertempuran yang berhasil ia lalui hidup-hidup.
Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel satelit berenkripsi militer yang tidak bisa dilacak oleh sistem keamanan internal kediaman Wijaya. Ia menekan beberapa tombol, mengaktifkan panggilan suara aman yang langsung terhubung ke safehouse Rendra.
"Laporan," ucap Nathan, suaranya sangat rendah hingga hampir tidak terdengar melampaui dinding kamarnya.
"Saya sudah membersihkan lokasi di Kawasan Kenari, Bos. Tidak ada jejak yang tersisa. Kamera pengawas di sekitar area tersebut telah dihapus secara permanen menggunakan protokol pembersihan taktis," suara Rendra terdengar jernih dari seberang saluran. "Mengenai Robert si Broker Timur, saya sudah berhasil menembus jaringan komunikasinya."
"Apa yang kamu temukan?"
"Robert menerima pembayaran sebesar dua ratus ribu dolar dalam bentuk mata uang digital kripto yang sulit dilacak. Namun, saya berhasil melacak alamat IP yang digunakan untuk mengonfirmasi transaksi tersebut sebelum dicuci. IP itu berasal dari wilayah domestik Megapura, tepatnya di sekitar sektor perkantoran elite." Rendra menjeda kalimatnya sejenak, terdengar suara ketukan kibor yang pelan. "Dan ada hal lain. Tiga hari sebelum percobaan penculikan Clara, ada sebuah panggilan singkat dari nomor sekali pakai ke ponsel pribadi Robert. Sinyal nomor sekali pakai itu terpancar dari Menara Adiwangsa."
Mata Nathan menyipit di bawah remang cahaya lampu kamar. "Menara Adiwangsa adalah markas pusat Megantara Group."
"Benar, Bos. Itu memperkuat pengakuan pion jalanan yang Anda interogasi tadi siang. Seseorang di jajaran atas Megantara sengaja menggunakan tangan Robert untuk menculik Clara demi menekan Elena. Namun, jaringannya sangat rapi. Pelaku menggunakan jalur komunikasi satelit terenkripsi untuk mengaburkan identitas mereka."
"Terus pantau Robert," perintah Nathan dingin. "Jangan lakukan tindakan apa pun yang bisa membuatnya panik. Biarkan dia berpikir bahwa rencana penculikannya gagal karena kebetulan belaka. Pria seperti Robert akan selalu mencari cara untuk menyelesaikan kontraknya jika dia merasa terdesak oleh kliennya."
"Dimengerti, Bos. Bagaimana dengan Nyonya Elena?"
Nathan menatap lurus ke dinding kosong di depannya. Bayangan wajah dingin wanita paruh baya itu kembali melintas di benaknya. "Dia mulai mempercayaiku. Dia melihatku sebagai alat yang tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Kebohongan tentang kematian keluargaku karena kebakaran bekerja dengan sangat baik. Dia berpikir dia bisa mengendalikan monster sepertiku dengan uang."
"Tetap waspada, Nathan. Hendra, Kepala Keamanan itu, bukan orang bodoh. Dia melatih seluruh pengawal di sana dengan standar militer korporat. Dia akan terus mengawasimu."
"Hendra adalah masalah kecil yang bisa kuselesaikan kapan saja," jawab Nathan datar sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Ia meletakkan ponselnya kembali ke bawah bantal, lalu merebahkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap. Keheningan malam ini terasa menyesakkan. Di rumah utama, hanya beberapa ratus meter dari tempatnya berbaring, Elena Wijaya tidur dengan nyenyak di atas tumpukan uang hasil darah. Sementara di kamar lain, Clara mungkin sedang tertidur sambil memeluk buku sketsanya, tidak tahu bahwa pria yang menjaganya hari ini adalah orang yang ditakdirkan untuk membawa badai kehancuran ke dalam hidupnya.
Nathan memejamkan mata, membiarkan kegelapan malam menyeretnya kembali ke dalam mimpi buruk masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai.
Keesokan paginya, matahari terbit di balik kabut tipis yang menyelimuti wilayah perbukitan Kawasan Singasana. Udara pagi terasa sangat dingin dan segar, menyisakan butiran embun di atas dedaunan taman kediaman Wijaya.
Pukul 06.30 pagi, Nathan sudah menyelesaikan rutinitas latihan fisiknya di barak dan bersiap dengan setelan jas hitamnya yang rapi. Ketika ia berjalan menuju lobi utama, ia melihat Clara sudah berdiri di sana.
Hari ini, Clara mengenakan gaun katun kasual berwarna kuning mentari yang cerah, dipadukan dengan jaket denim longgar dan topi rajut berwarna krem. Di samping kakinya, terdapat sebuah tas kanvas besar yang berisi peralatan melukis, kuas, dan beberapa lembar kanvas kecil.
"Selamat pagi, Nathan!" sapa Clara dengan riang begitu melihat pengawalnya berjalan mendekat. Wajahnya tampak segar, dengan senyuman tulus yang langsung menghangatkan suasana pagi yang dingin.
"Selamat pagi, Nona Clara," jawab Nathan dengan nada datar yang biasa, membungkuk memberi hormat secara profesional. "Apakah kita akan pergi ke galeri lagi hari ini?"
Clara menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak. Hari ini aku ingin mencari suasana baru. Aku bosan melukis di dalam ruangan yang pengap. Aku ingin pergi ke Taman Danau Lavender di Kawasan Nirwana. Aku ingin melukis pemandangan kabut pagi di sana."
Taman Danau Lavender adalah sebuah taman konservasi alam yang terletak di pinggiran distrik elite Kawasan Nirwana. Tempat itu terkenal dengan pemandangan danaunya yang tenang dan dikelilingi oleh pepohonan pinus yang sering diselimuti kabut tebal pada pagi hari. Tempat yang sangat indah, namun bagi seorang pengawal taktis, tempat terbuka seperti itu adalah mimpi buruk karena memiliki terlalu banyak sudut mati yang sulit diawasi.
"Kawasan tersebut sangat terbuka, Nona. Perlindungan perimeter di sana akan sulit dilakukan secara maksimal jika Anda berada di area publik," Nathan memberikan penilaian profesionalnya secara jujur.
Clara menghela napas kecil, bibirnya sedikit mengerucut. "Oh, ayolah, Nathan. Tempat itu sangat sepi pada pagi hari biasa seperti ini. Lagipula, ada kamu di dekatku, kan? Kemarin kamu bahkan bisa mengalahkan penjahat raksasa itu sendirian. Aku yakin aku akan sangat aman bersamamu."
Nathan menatap mata bulat Clara selama beberapa detik. Ada kepolosan dan harapan yang begitu besar di dalam sana. Kepolosan yang perlahan-lahan mulai mengusik bagian terdalam dari kemanusiaan Nathan yang telah lama mati.
"Baiklah, Nona. Tapi Anda harus tetap berada dalam jarak pandang saya setiap saat," ucap Nathan akhirnya mengalah.
"Janji!" seru Clara dengan senyum kemenangan yang mengembang di wajahnya.
Perjalanan menuju Kawasan Nirwana memakan waktu sekitar tiga puluh menit menggunakan sedan mewah hitam. Sepanjang jalan, lalu lintas masih tergolong sepi, hanya beberapa kendaraan pribadi yang melintas menembus kabut tipis yang menyelimuti jalanan aspal.
Di dalam kabin mobil yang hangat, Clara tampak sangat bersemangat. Ia membuka-buka kembali buku sketsanya, coretan kuasnya yang acak, dan sesekali melihat ke luar jendela dengan mata berbinar.
"Nathan," panggil Clara lembut, memecah keheningan di antara mereka.
"Ya, Nona?"
"Melukis itu... seperti memindahkan sebagian dari jiwa kita ke atas kanvas," gumam Clara, matanya menatap rimbunnya pepohonan yang mereka lewati. "Ibu selalu berpikir bahwa melukis hanyalah hobi yang membuang-buang waktu, sebuah komoditas yang hanya berguna jika bisa dijual dengan harga tinggi untuk mendongkrak reputasi Megantara. Tapi bagiku, lukisan adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri. Di atas kanvas, tidak ada yang menuntutku untuk menjadi sempurna. Tidak ada yang menuntutku untuk menjadi pewaris bisnis."
Nathan mendengarkan dengan saksama. Tangannya di atas kemudi tetap stabil, namun batinnya mencatat setiap kata yang diucapkan gadis itu. "Pekerjaan sebagai pemimpin korporasi besar seperti Megantara Group memang membutuhkan sudut pandang yang sangat pragmatis, Nona. Nyonya Elena mungkin hanya melihat dunia dari kacamata fungsional."
Clara tersenyum pahit, menatap pantulan wajah Nathan di spion tengah. "Kamu selalu membela Ibu. Apakah semua pengawal memang dilatih untuk bersikap diplomatis seperti itu?"
"Tugas kami adalah menjaga stabilitas di sekitar Anda, termasuk stabilitas hubungan keluarga Anda," jawab Nathan tenang.
"Hubungan keluarga yang dibangun di atas transaksi bisnis bukanlah keluarga, Nathan," bisik Clara lirih, ada nada kesedihan yang mendalam di dalam suaranya. Ia lalu menundukkan kepalanya, menyentuh permukaan buku sketsanya dengan lembut. "Terkadang, aku berharap aku terlahir di keluarga biasa saja. Menjadi putri dari seorang pelukis jalanan atau guru sekolah... setidaknya, aku tahu pelukan hangat seorang ibu itu nyata, bukan sekadar bagian dari protokol pencitraan di depan kamera media."
Kata 'keluarga biasa' berdentang keras di dalam kepala Nathan. Ia teringat akan ayahnya yang selalu tertawa keras setiap kali gagal memperbaiki mesin mobil tua mereka, ibunya yang selalu membuatkan teh cengkih hangat saat hujan, dan adik perempuannya yang berlarian di halaman rumah mereka yang sederhana. Semua kebahagiaan sederhana itu dihancurkan dalam satu malam oleh keserakahan Elena Wijaya.
Rahang Nathan mengencang. Genggamannya pada kemudi menguat hingga buku-buku jarinya memutih, namun ia segera mengendalikan emosinya sebelum Clara menyadari adanya perubahan atmosfer di dalam mobil.
"Setiap kehidupan memiliki bebannya masing-masing, Nona," ucap Nathan dengan suara yang kembali sedingin es. "Kehidupan biasa yang Anda dambakan mungkin memiliki penderitaan yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya."
Clara terdiam, merenungkan ucapan pengawalnya yang dingin namun sarat akan makna mendalam tersebut. Percakapan itu pun kembali menyisakan keheningan yang sunyi hingga mobil akhirnya membelok memasuki gerbang area konservasi Taman Danau Lavender.
Taman Danau Lavender tampak sangat menakjubkan pagi itu. Kabut putih yang tebal mengapung di atas permukaan air danau yang tenang seperti cermin raksasa, menyembunyikan sebagian dari barisan pohon pinus di seberangnya. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara kicauan burung pagi yang samar dan desau angin dingin yang menggerakkan dahan-dahan pohon.
Sesuai dengan perkataan Clara, area taman ini hampir sepenuhnya sepi. Hanya ada satu atau dua orang yang sedang melakukan lari pagi di kejauhan jalur setapak.
Clara segera turun dari mobil dengan wajah gembira. Ia berjalan menuju sebuah dermaga kayu kecil yang menjorok ke arah danau, tempat terbaik untuk mendapatkan sudut pandang pemandangan kabut pagi. Nathan mengikuti di belakangnya dengan langkah yang waspada, membawa tas kanvas besar milik Clara di bahunya.
"Di sini sangat sempurna!" seru Clara riang, menghirup udara dingin sedalam-dalamnya hingga pipinya merona merah karena hawa dingin. "Tolong letakkan tasnya di sini, Nathan."
Nathan meletakkan tas peralatan tersebut di dekat bangku kayu dermaga. Ia kemudian mundur tiga langkah, mengambil posisi berdiri tegak dengan tangan yang dilipat di belakang punggung. Matanya tidak pernah berhenti bergerak, menyapu pepohonan pinus di sekitar danau, mengamati jalur masuk setapak, dan memastikan tidak ada pergerakan mencurigakan di dalam radius seratus meter dari posisi mereka.
Clara mulai memasang penyangga kanvasnya mengeluarkan palet kayu, dan menyusun beberapa botol cat minyaknya dengan sangat teratur. Gerakannya sangat teliti dan penuh dedikasi.
"Nathan," panggil Clara tanpa menoleh, tangannya sibuk mencampur warna biru tua dan putih di atas paletnya untuk meniru warna air danau yang tertutup kabut. "Kenapa kamu tidak duduk saja? Berdiri tegap seperti itu sepanjang hari pasti sangat melelahkan."
"Saya sedang bertugas, Nona. Posisi berdiri memudahkan saya untuk bereaksi cepat jika terjadi ancaman," jawab Nathan datar.
Clara terkekeh pelan, mulai mengoleskan kuas pertamanya ke atas kanvas putih yang bersih. "Kamu benar-benar tidak pernah bersantai, ya? Apakah di medan perang dulu situasinya seburuk itu hingga kamu kehilangan kemampuan untuk menikmati keindahan pagi seperti ini?"
Pertanyaan yang polos, namun menusuk tepat ke dalam kenyataan hidup Nathan.
"Di tempat saya bertugas dulu, Nona..." Nathan menjeda kalimatnya, matanya menatap kabut tebal yang mengambang di atas danau. "Keindahan pagi sering kali menjadi awal dari penyergapan mematikan. Kabut tebal seperti ini adalah perlindungan terbaik bagi penembak runduk untuk membidik kepala Anda tanpa terlihat."
Gerakan tangan Clara yang sedang memegang kuas terhenti seketika di udara. Ia menoleh perlahan, menatap wajah samping Nathan yang tampak kaku dan dingin seperti pahatan batu marmer di bawah cahaya pagi yang redup. Rasa ngeri sekaligus simpati yang mendalam kembali bergejolak di dalam hatinya.
"Maafkan aku..." bisik Clara menyesal. "Aku tidak seharusnya menanyakan hal itu."
"Tidak apa-apa, Nona. Itu hanya kenyataan dari dunia yang berbeda dengan dunia Anda," jawab Nathan tenang, matanya kembali beralih menyapu perimeter pertahanan mereka.
Clara kembali menatap kanvasnya, namun kali ini goresan kuasnya terasa lebih lambat dan sarat akan emosi yang rumit. Di balik kekejaman dunia yang diceritakan Nathan, Clara merasa ada sebuah luka besar yang disembunyikan pria itu rapat-rapat di balik dinding esnya. Sebuah luka yang entah mengapa, membuat Clara merasa ingin melindunginya, sebuah keinginan yang sangat ironis mengingat Nathan-lah yang bertugas melindunginya.
Tanpa disadari oleh Clara, dari balik rimbunnya pepohonan pinus yang berjarak sekitar seratus lima puluh meter di seberang danau, sepasang mata di balik lensa teropong binokular militer sedang mengawasi setiap gerakan mereka dengan sangat detail.
Sebuah bayangan misterius berdiri diam di bawah kegelapan pohon pinus, memegang sebuah radio komunikasi kecil di tangannya.
"Target berada di posisi terbuka di dermaga Danau Lavender," bisik bayangan itu ke dalam radio dengan suara yang dingin. "Pengawal barunya yang mengalahkan Baskoro ada bersamanya. Apa perintah selanjutnya?"
Sebuah suara serak terdengar dari seberang radio setelah jeda statis yang singkat. "Terus pantau. Jangan lakukan pergerakan hari ini. Kita perlu menganalisis pola pertahanan pengawal baru itu terlebih dahulu sebelum melakukan penyerangan berikutnya. Robert ingin rencana kali ini berjalan tanpa ada kesalahan sedikit pun."
"Dimengerti."
Pria misterius itu menurunkan teropongnya, perlahan mundur kembali ke dalam kegelapan kabut pinus dan menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Di dermaga kayu yang sunyi, Nathan tiba-tiba menghentikan sapuan pandangannya. Ia menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah rimbunnya pepohonan pinus di seberang danau yang baru saja ditinggalkan oleh pengintai tersebut.
Insting liarnya sebagai Raja Perang menangkap sesuatu, sebuah getaran mikro dari niat membunuh yang sempat terpancar selama sepersekian detik di udara pagi yang dingin.
Nathan tidak bergerak, namun tangan kirinya perlahan merayap turun ke balik jas hitamnya, memastikan pisau taktis kecil yang tersembunyi di pergelangan tangannya siap ditarik dalam sekejap mata jika bahaya mendekat.
Badai itu... ternyata bergerak lebih cepat dari yang kuperkirakan, batin Nathan dingin di tengah kesunyian pagi yang menipu.