NovelToon NovelToon
Kau Yang Selalu Ada

Kau Yang Selalu Ada

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:324.7k
Nilai: 5
Nama Author: Evy erviyanti

Maretta anggraini, seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai manager sebuah perusahaan garment. Dia bercerai dari suaminya lantaran suaminya ketahuan sudah menikah lagi.
Kemudian dia bertemu dengan seorang Dokter muda yang bernama Didi rangga dinata. Ternyata, Dokter itu langsung jatuh cinta sama Maretta.

Bagaimana perjalanan kisah cinta antara Maretta dan Didi.
Ikuti dalam novel yang berjudul KAU YANG SELALU ADA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part : 10 (Balik Jakarta)

"Retta,!"

Seketika Retta mendongak keatas. Dia mendapati Satrio yang tengah berdiri dihadapannya.

"Eh, Mas Satrio."

"Maaf, Masnya ini temannya?" tanya orang yang menolong Retta.

"Iya, saya temannya." jawab Satrio.

"Baiklah, kalau gitu saya tinggal, ya Mas?" ucap perempuan yang menolong Retta tadi.

Akhirnya Retta ditinggal berdua sama Satrio. Kini Satrio ikut duduk disamping Maretta.

"Anda tidak apa-apa?" tanya Satrio.

"Nggak apa-apa, kok Mas. Saya tadi hanya kesrempet dikit. Cuma saya masih kaget aja." jawab Retta.

"Apa perlu saya antar ke rumah sakit?" tanya Satrio lagi.

"Nggak usah, kalau boleh saya minta tolong, saya diantarkan kembali ke Hotel saja." ucap Retta.

"Baiklah, mari saya antar ke Hotel." ajak Satrio sambil membantu Retta berdiri lalu menuju mobil.

Akhirnya setelah sampai di Hotel, Satrio memanggil salah satu karyawan perempuan untuk membantu Retta ke kamarnya.

"Santi,! tolong, kamu panggilkan salah satu Office girl, buat bantu Ibu ini ke kamarnya." titah Satrio.

Retta hanya melongo saja. Berarti dia pemilik dari Hotel ini. Satrio hanya tersenyum ketika melihat perubahan sikap Retta.

"Iya, maaf. Ini Hotel Ayah saya. Kebetulan sekarang saya ditugaskan untuk mengurusnya. Anda mungkin kaget kenapa saya tadi menyuruh orang untuk memanggil Office girl buat bantu Anda." jelas Satrio.

"Oh., pantesan Anda kok akrab sama pegawai sini." jawab Retta.

Tak lama kemudian datanglah seorang wanita yang ditugaskan untuk membantu Retta ke kamarnya.

"Kalau ada apa-apa. Tinggal hubungi saya, ya. Sekarang saya tinggal dulu." ucap Satrio sambil melangkah pergi.

"Iya, Mas. Makasih atas bantuannya." jawab Retta.

Kemudian Retta menuju kamarnya dibantu perempuan tadi. Dia mengeluhkan kakinya terkilir. Akhirnya Retta minta dipanggilkan tukang urut.

Sekitar satu jam kemudian, Retta selesai diurut dan sekarang dia tinggal istirahat saja. Perempuan tadi sudah disuruh balik sekalian memgantarkan tukang urutnya.

Kini Retta rebahan diatas tempat tidur dan memegangi ponselnya. Kenapa Didi nggak kasih kabar sama sekali. Retta merasa ada yang hilang disaat Didi nggak kasih kabar.

"Didi, kenapa kamu nggak kasih kabar sama sekali. Aku jadi merasa ada yang hilang. Kamu sekarang lagi apa." ucap Retta dalam hati.

Tak lama kemudian Retta akhirnya tertidur juga. Mungkin dia kecapekan karena seharian dia mengunjungi outlet lalu ada insiden kecil tadi.

(****)

Sudah lima hari Retta di Jogja. Kini hari terakhir dia di kota gudeg ini, karena besok sudah balik ke Jakarta. Hari ini dia hanya mengecek lokasi bazar yang akan dibuat event akhir minggu yang diadakan tiap minggu oleh tempat itu.

Dia mengkoordinir anak buahnya yang bertugas di tempat itu. Setelah semuanya beres dan perlengkapan pun semuanya sudah lengkap, akhirnya Retta berpamitan untuk kembali ke Hotel.

Sejak diserempet mobil kapan hari itu kakinya kalau buat jalan masih sakit. Dia menceritakan semua itu sama anak buahnya, jadi sama mereka dia suruh lekas balik ke Hotel saja. Karena semuanya sudah siap.

"Baiklah kalau gitu, saya tinggal dulu, ya?" ucap Retta.

"Iya, Bu. Makasih atas kunjungannya." jawab salah satu anak buahnya.

"Iya, sama-sama." jawab Retta.

Kemudian Retta menuju Hotel dengan naik taksi. Sekitar lima belas menit kemudian dia sudah sampai Hotel. Ketika hendak masuk dia berpapasan dengan Satrio yang lagi di meja resepsionis.

"Eh, Retta. Anda sudah sembuh?" tanya Satrio.

"Iya, Mas. Ini tinggal sedikit nyerinya." jawab Retta.

"Oh, syukurlah." jawab Satrio.

Kemudian Retta pamit untuk kembali ke kamarnya. Kini Satrio hanya tinggal berdua sama bagian resepsionis.

"Oh iya, Santi. Tolong, nanti tagihan atas nama Maretta, perempuan yang barusan ngobrol sama saya itu, kamu free kan, ya. Bilang sama bagian kasir, kalau ini perintah saya." ucap Satrio.

"Baik, Pak Satrio. Nanti saya akan sampaikan." jawab Santi.

Lalu Satrio meninggalkan tempat itu menuju ruangannya. Hari semakin senja, pengunjung Hotel Purnama sebagian besar sudah banyak yang balik ke kamarnya.

Sedangkan dikamarnya, Retta sudah mulai mengemas barang-barangnya karena besok pagi dia balik Jakarta. Untuk oleh-oleh, dia hanya membeli beberapa saja untuk dibagikan kepada anak buahnya dikantor.

(***)

Keesokan harinya Retta bersiap-siap untuk check out. Kini dia melangkah menuju bawah. Dimeja resepsionis saat dia melakukan chek out, petugasnya menyerahkan kartu identitas punya Retta.

"Oh iya, Bu. Maaf, soal biaya selama Anda menginap di Hotel ini, sudah ditanggung sama Pak Satrio. Jadi, ini saya kembalikan uangnya lagi sama Anda." jelas Petugas itu sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada Retta.

"Lho,! tapi, yang boking Hotelnya saat itu kantor saya, Mbak. Berarti ini saya kembalikan ke kantor?" tanya Retta kaget.

Tak lama kemudian Satrio datang dan mendekati Retta yang ada di meja resepsionis.

"Iya, Retta. Ambil lagi uang itu, terserah nanti Anda mau buat apa. Yang jelas, saya membebaskan semua biaya selama Anda menginap di Hotel saya." jawab Satrio yang datang tiba-tiba.

"Tapi, Mas. Dalam rangkah apa ini, saya kok di gratiskan.?" tanya Retta.

"Anggap saja, ini buat perkenalan kita. Promosi aja, kali aja suatu saat nanti kita bisa bekerja sama." jawab Satrio.

"Okelah kalau begitu. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih." ucap Retta seraya menyalami Satrio dan petugas resepsionis itu.

"Apa, perlu diantarkan sekalian ke Bandara?" tanya Satrio.

"Oh enggak, Mas. Nggak usah, saya sudah memesan taksi." jawab Retta.

"Baiklah kalau begitu. Hati-hati, ya?" ucap Satrio.

Retta hanya mengangguk dan melempar senyum. Kemudian dia keluar ketika taksi pesanannya sudah datang. Satrio hanya memperhatikan kepergian Retta dari jauh.

.

.

.

★ JAKARTA ★

~RUMAH SAKIT~

Didi hari ini ada jadwal membantu operasi. Dia mulai masuk kamar operasi sejak pagi, dan kini hari sudah beranjak siang. Akhirnya selesai juga, dan keluar kamar operasi dengan wajah yang penuh peluh.

Dia berjalan menuju ruangannya lalu mendaratkan tubuhnya dikursi biasanya. Sejak Retta pergi ke Jogja, dia belum pernah menghubunginya sama sekali. Dalam hatinya dia sangat kangen banget dengannya, tapi keadaanlah yang membuatnya dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.

Keadaan Mamanya kebetulan juga sudah membaik. Sejak kejadian itu, Didi jadi nggak berani melawan Mamanya. Dia dan Ranti sepakat untuk berpura-pura dekat karena menjaga perasaan Bu Utari saja. Mungkin ini memang menyakitkan, tapi mau gimana lagi. Sementara saja, sampai mereka menemukan solusinya.

"Retta, aku bukannya nggak mau menghubungimu, tapi, aku bingung harus memulai dari mana untuk menceritakan semuanya. Bahwa aku dan Ranti hanya pura-pura dekat. Meskipun kita memang belum resmi jadian. Tapi, aku yakin kalau kamu juga mempunyai rasa yang sama." ucap Didi dalam hati.

Didi mencoba membuka ponselnya untuk menghubungi Retta. Dia hanya memperhatikan ponselnya, mau hubungi apa tidak. Dari tadi hanya memainkan ponselnya saja.

.

.

.

Ditempat berbeda, Retta sudah sampai di Jakarta. Dia naik taksi menuju rumahnya. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ponselnya berdering.

"DIDI,!" ucapnya dalam hati.

Diangkat apa tidak. Dia bingung karena dia masih teringat dengan kejadian tempo hari. Kalau nggak diangkat, dia nggak bisa bohong kalau dia juga pingin ngobrol sama Didi. Tapi, kalau diangkat. Dia takut kalau akan semakin membuatnya nggak bisa lepas sama Didi.

Dia masih memandangi ponsel yang terus terusan berdering. Sampai sopir taksinya mengingatkannya. Tapi, Retta masih dalam pendiriannya untuk tidak mengangkatnya dulu.

"Di, jujur aku juga rindu akan candaan kamu, ucapan kamu serta tingkah kocakmu yang membuatku tertawa lepas. Tapi, aku juga takut kalau keberadaanku akan membuat hubungan kamu sama Mamamu jadi nggak harmosis." ucapnya dalam hati.

----------Bersambung-----------

1
Andi Fitri
👍👍
Andi Fitri
jdi greget juga dgn satria sdh di blg sm istri jgn kasih hati malah semakin dekat..
Andi Fitri
semoga aja satria ga kesemsem sm dokter itu..jgn sampai terulang lgi sakit hati Retta..
Kasmawati S. Smaroni
heran sm retta,retta lebih mementingkan kerjaannya dari pd kesehatan suaminya.
Kasmawati S. Smaroni
reta dikit2 nangis,
Ersa
ternyata benar si Della. semua tokohnya terhubung pernah pacaran...
Ersa
bukan Della kan?
Ersa
sipelakor kah?
Windu Murti
semoga saat didi sadar, retta sudah hamil anak satrio
Windu Murti
thor, banyakin retta sama satrio ya🙏🙏
Musryanto Andhika
Satrio ternyata banditjuga memanfaatkan kondifi Didi, ku doaksn Satrio jadi psikopat sekalian.....biar makin jelas novel recehnya.....
Isabella
tak kasih vote Toer ceritamu bagus
Amrih Ledjaringtyas
mau dr didi
Amrih Ledjaringtyas
eettt dahhh konflikk mele...lagii...retta.
.retta

.
Amrih Ledjaringtyas
iya dong...enaaakkk
Amrih Ledjaringtyas
huuhuuyyy dpt brondong.....tangkap retta😛🤣
Liza Sastika
bagus
Liza Sastika: yes bagus
total 1 replies
baiknya didi.. semoga di dunia nyata jg bnyak org yg baik trhdp anak kecil, krna anak kecil tak salah
Nuri 73749473729
mantaab thorr..lanjud dong
Yanti Anin
gmn kbr mantan suami thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!