Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Lahir
Pagi itu Fisya sudah duduk di atas ranjang rumah sakit sambil memeriksa beberapa dokumen kantor di tablet miliknya.
Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding malam sebelumnya.
Seorang perawat baru saja selesai memeriksa keadaannya.
“Tekanan darah ibu sudah bagus dan kondisi ibu juga stabil,” ucap perawat itu.
Fisya langsung mengangguk.
“Kalau begitu saya boleh pulang hari ini kan, Sus?”
Perawat itu terlihat ragu.
“Nanti kami tanyakan dulu ke dokter ya Bu.”
“Baik.” ucap Fisya
Tidak lama kemudian dokter datang memeriksa Fisya dan bayinya.
“Lukanya bagus dan Bayinya juga sehat,” ucap dokter.
Fisya langsung tersenyum tipis.
“Saya mau pulang hari ini, Dok.”
“Biasanya pasien melahirkan masih harus observasi dulu.” ucap sang Dokter
“Saya tidak nyaman terlalu lama di rumah sakit.” jawab Fisya
Dokter akhirnya mengangguk pelan.
“Kalau begitu nanti urusan administrasinya bisa segera diselesaikan.”
“Terima kasih, Dok.” ucap Fisya lagi
Setelah dokter pergi, Fisya langsung mengambil ponselnya lalu menelpon Bik Lili.
(“Bik, datang ke rumah sakit sekarang ya, saya mau pulang hari ini") ucap Fisya di telpon
Bik Lili langsung panik.
(“Iya Bu tapi kok cepat sekali Bu?”)
(“Aku sudah sehat bik dan ngapain lama-lama dirumah sakit”) ucapnya
(“Baik Bu, saya langsung ke sana.”) jawab bik Lili cepat
Fisya mematikan telepon lalu menatap bayi kecil yang tertidur di sampingnya.
Tatapannya berubah lembut namun ada sesuatu dalam matanya yang sulit dijelaskan.
***
Sementara itu… Jason sedang berada di kantor, ia duduk santai di kursi direktur sambil memainkan pulpen di tangannya dan wajahnya terlihat puas.
Beberapa hari terakhir membuatnya merasa semuanya berjalan sesuai rencana.
Bayinya sudah tertukar, tidak ada yang curiga dan yang paling membuatnya puas… Fisya sama sekali belum mengetahui apa pun.
Jason tersenyum kecil.
“Aku berharap Fisya tidak balik lagi ke kantor ini,” gumamnya.
Tatapannya beralih ke ruangan besar di depannya.
“Perusahaan ini seharusnya memang aku yang pegang karena aku suaminya"
Selama ini perusahaan keluarga Alexander memang lebih banyak diurus Fisya
Meski Jason adalah suaminya, keputusan terbesar tetap berada di tangan Fisya karena perusahaan itu warisan keluarga Alexander.
Hal itu selalu membuat Jason merasa rendah dan sekarang ia merasa semuanya akan berubah.
“Kalau anak Kasandra nanti dianggap pewaris keluarga Alexander…” gumamnya pelan.
Jason tersenyum licik.
“Semua harta itu akhirnya jatuh ke tangan kami.”
Tiba-tiba muncul ide lain di kepalanya.
“Ya…”
Ia menyandarkan tubuhnya santai.
“Aku harus merayu Fisya supaya tetap di rumah.”
Jason tersenyum tipis.
“Bilang saja fokus urus anak.”
Kalau Fisya berhenti bekerja maka ia bisa lebih leluasa menguasai perusahaan lebih awal
Ponselnya berbunyi, Jason melihat nama Kasandra muncul di layar.
Ia langsung mengangkatnya.
(“Halo sayang.”)
(“Kapan kamu ke sini?”) tanya Kasandra manja.
("Nanti sore.”) ucap Jason
(“Aku bosan di rumah sakit, aku mau segera pulang") kata Kasandra
Jason tersenyum kecil.
(“Sabar sedikit nanti aku urus.”)
Kasandra tertawa kecil.
(“Jangan lupa lihat anak kita nanti dan kabari padaku")
Jason mengangguk pelan.
(“Iya.”)
Telpon ditutup oleh Jason
***
Sementara itu… Bik Lili akhirnya tiba di rumah sakit, ia langsung menuju kamar rawat Fisya.
Begitu pintu dibuka, ia melihat Fisya sedang menggendong bayinya.
Wajah Fisya terlihat tenang.
“Bik, bantu bereskan barang-barang ya,” ucap Fisya.
“Iya Bu.” Bik Lili segera membereskan perlengkapan bayi dan pakaian Fisya.
Saat itu Fisya berjalan mendekat sambil menggendong bayinya.
“Bik…”
“Iya Bu?” ucap Bik Lili
Fisya tersenyum tipis lalu sedikit membuka selimut bayinya.
“Lihat tanda lahir anak perempuanku.”
Bik Lili langsung melihat ke arah bahu bayi kecil itu, ada tanda lahir kecil berbentuk seperti bulan sabit.
Mata Bik Lili langsung membesar, ia langsung memahami maksud Fisya dan tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
Fisya perlahan meletakkan telunjuk di depan bibirnya memberi isyarat agar diam.
Bik Lili langsung mengangguk pelan, ia benar-benar paham sekarang.
Fisya memang sudah tahu dari awal kalau bayinya itu sudah ditukar
Dan sekarang… Fisya telah menukar kembali bayinya diam-diam, Bik Lili langsung merasa lega luar biasa.
Tanpa banyak bicara mereka melanjutkan membereskan barang, tidak lama kemudian semua selesai.
Mereka meninggalkan rumah sakit menggunakan taksi.
Sepanjang perjalanan, Fisya terus menggendong bayinya dengan erat.
Sedangkan Bik Lili sesekali melirik Fisya diam-diam.
Ia masih bingung bagaimana majikannya bisa menukar kembali bayinya
Namun ia tidak berani bertanya, setibanya di rumah…
Fisya langsung masuk ke dalam sambil menggendong bayinya, rumah terasa sangat sepi.
Jason memang belum pulang dari kantor.
“Bik, tolong bersihkan kamar sebelah ya bik" ucap Fisya.
Bik Lili mengangguk
“Iya Bu?”
Kamar itu memang sudah dipersiapkan Fisya jauh-jauh hari untuk bayinya.
Lalu Bik Lili segera membersihkan kamar bayi itu sedangkan Fisya duduk di sofa sambil menatap putrinya.
Tatapannya berubah dingin beberapa detik.
“Tidak akan ada yang bisa mengambil kamu dari Mama, Nak” gumamnya pelan.
Beberapa saat kemudian kamar bayi selesai dibersihkan.
Fisya masuk ke dalam lalu perlahan meletakkan putrinya di tempat tidur bayi.
Ia tersenyum tipis melihat anak kecil itu tertidur tenang.
“Cantik sekali…” gumam Bik Lili.
Fisya mengangguk.
“Besok aku mulai kerja lagi.”
Bik Lili langsung kaget.
“Besok Bu? Tapi ibu baru melahirkan"
Fisya duduk di kursi dekat tempat tidur bayi
“Aku sudah cuti seminggu dan aku sudah sehat bik dan aku juga mau lihat keadaan perusahaan.”
Bik Lili terdiam dan ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh majikannya itu
Selama seminggu terakhir perusahaan dipegang Jason dan entah kenapa Fisya mulai takut membayangkan apa saja yang dilakukan pria itu di kantor.
Fisya menatap lurus ke depan.
“Aku terlalu percaya sama orang" nada suaranya terdengar dingin.
Bik Lili hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun
***
Sementara itu… Jason masih berada di kantor sambil memandangi laporan perusahaan, ia terlihat sangat santai baginya semuanya mulai berjalan sempurna.
“Nanti tinggal sedikit demi sedikit setelah itu aku akan singkirkan Fisya,” gumamnya.
Ia bahkan sudah membayangkan dirinya menjadi pemilik penuh perusahaan Alexander.
Jason tersenyum lalu berdiri.
“Sore ini aku akan menjenguk Kasandra dulu, baru setelah itu ke Fisya" gumamnya
Ia mengambil jasnya lalu keluar kantor, perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu hampir satu jam karena jalanan cukup macet.
Sesampainya di sana, Jason langsung menuju kamar Kasandra.
Begitu pintu dibuka, ia melihat Kasandra sedang marah-marah pada seorang perawat.
“Sus bilang sama dokter aku mau pulang hari ini juga!” ucap Kasandra manja.
Perawat itu tetap sibuk memeriksa infus tanpa peduli.
“Maaf Bu, dokter belum mengizinkan.”
Kasandra langsung kesal.
“Aku sudah sehat!”
Jason masuk sambil menghela napas.
“Ada apa?”
Kasandra langsung menunjuk perawat itu.
“Dia gak mau izinin aku pulang.”
Perawat itu langsung menjelaskan.
“Maaf Pak, kata dokter lihat perkembangan sampai besok pagi.”
Jason langsung menatap perawat itu kesal.
“Sus gak dengar istri saya bilang apa?”
Perawat itu tetap tenang.
“Maaf Pak. Ini aturan rumah sakit.”
Jason mulai emosi.
“Keadaan istri saya sudah sehat.”
“Kalau memang sehat besok pasti dokter izinkan pulang.” ucap perawat tersebut
Kasandra mendecih kesal.
“Aku bosan di sini.”
Perawat itu tetap tidak peduli.
“Saya permisi dulu.”
Setelah perawat keluar, Kasandra langsung cemberut.
“Aku mau pulang sekarang.” ucap Kasandra
Jason mendekat lalu duduk di samping ranjang.
“Sabar sedikit.”
Kasandra memeluk lengan Jason manja.
“Aku mau cepat tinggal di rumah kamu.”
Jason tersenyum kecil.
“Nanti kita bersabar dulu, yang terpenting Fisya tidak curiga dengan kita dan kamu masih bisa leluasa kerumah"
“Aku capek sembunyi-sembunyi terus dan harus berpura-pura terus di depan Fisya" ucap Kasandra lagi
Jason mengusap rambut Kasandra pelan.
“Sedikit lagi semuanya jadi milik kita.”
Kasandra tersenyum puas.
“Fisya masih belum curiga?”
Jason tertawa kecil.
“Dia mana mungkin curiga.”
Namun saat mengatakan itu entah kenapa tiba-tiba Jason teringat tatapan Fisya semalam, tatapan yang membuatnya tidak nyaman.
Jason langsung mengusir pikiran itu.
“Fisya terlalu percaya sama kita berdua sayang karena kamu sahabat dekatnya" ucapnya yakin.
Kasandra tertawa kecil.
“Baguslah.”
Jason mengangguk.
“Nanti kalau dia sudah berhenti kerja dan fokus urus anak, perusahaan itu bakal sepenuhnya di tangan kamu,” sambung Kasandra cepat.
Jason tersenyum puas.
“Benar.”
Kasandra lalu menatap Jason serius.
“Kamu yakin bayinya gak ketukar lagi?”
Jason langsung mengangguk.
“Tenang saja, ku pastikan semua berjalan sesuai dengan rencana kita" ucap Jason sambil tersenyum