Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Hari-hari berlalu membawa suasana yang makin tak ku mengerti. Dulu, hanya aku yang bertanya-tanya menghadapi sikap dingin Aira.
Namun kini, seolah roda kehidupan berputar, Aira pun tampak mulai kebingungan. Ia kerap menatapku dengan pandangan yang bertanya, seolah tak lagi mengenali sosokku yang berubah drastis belakangan ini.
Aku sendiri masih tenggelam dalam kekacauan hati yang tak kutemukan ujungnya. Sejak hari itu, sejak kulihat ia tersenyum untuk orang lain, ada sesuatu di dalam diriku yang retak dan sulit kembali utuh.
Aku berusaha sekuat tenaga menutupi segalanya, berusaha tampil wajar, berusaha berpura-pura tak ada yang berubah. Namun setiap hari, beban itu makin berat dipikul, makin menyakitkan, dan makin menyiksa batin.
Dan hari ini... rasa perih itu datang kembali, berkali-kali lipat lebih tajam dari sebelumnya.
Aku duduk di meja sudut, tempat yang biasa kupilih agar bisa mengamatinya tanpa terlihat mencolok. Namun hari ini, sudut itu justru menjadi posisi paling menyakitkan bagiku. Dari sini, aku bisa melihat segalanya dengan begitu jelas, tanpa ada yang tersembunyi.
Pemuda itu,rekan kerjanya kembali berdiri di sana, tepat di sisi Aira. Dan kali ini... kedekatan mereka terasa makin nyata, makin tak terbantahkan.
Mereka tertawa bersama. Bukan sekadar senyum tipis seperti dulu, tapi tawa yang lepas, cerah, tanda bahwa di antara mereka tumbuh rasa nyaman dan akrab. Pemuda itu dengan santai menyodorkan selembar tisu saat Aira sedikit menumpahkan minuman, gerakannya begitu wajar, begitu luwes, seolah hal itu sudah menjadi kebiasaan lama.
Aira pun tak menolak, tak menjauh, tak tampak risih sedikit pun. Ia justru mengucapkan terima kasih dengan nada lembut yang sudah lama tak lagi kudengar ditujukan kepadaku.
Bahu mereka bersentuhan saat menunduk melihat buku catatan yang sama. Suara percakapan mereka terdengar samar, penuh canda dan obrolan ringan yang hangat.
Dan aku... aku duduk di sini, terpaku diam, seolah terpisah jauh di dunia yang berbeda.
Darahku serasa mendidih, namun dibalut rasa dingin yang menusuk tulang. Dadaku terasa sesak, seolah tak ada cukup ruang untuk bernapas. Tanganku di atas meja mengepal erat, kuku menancap ke telapak tangan, berusaha menahan diri agar tak bergerak, berusaha menahan diri agar tak meledak di tempat itu juga.
"Mengapa ia begitu nyaman bersamanya? Mengapa ia tertawa begitu bahagia? Mengapa dengannya ia bisa begitu terbuka, begitu hangat, sedangkan denganku... ia menebarkan tembok tinggi yang tak bisa kuruntuhkan? Apakah ia tak sadar betapa dekatnya mereka berdiri? Apakah ia tak sadar betapa indahnya senyum yang ia berikan untuk orang lain itu?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar di kepalaku, disertai rasa cemburu yang makin memuncak. Keinginan untuk melarang, untuk menarik Aira menjauh, untuk berteriak bahwa ia seharusnya hanya milikku... keinginan itu datang begitu kuat, begitu hampir menguasai akal sehatku.
Namun lagi-lagi, logika itu kembali menampar diriku sendiri.
"Milikmu? Sejak kapan ia menjadi milikmu, Arjun? Kalian hanya sahabat. Hanya teman baik. Ia bebas berteman dengan siapa saja, Ia bebas dekat dengan siapa saja, Ia berhak bahagia dengan siapa saja. Kau tak punya hak apa pun. Kau tak berhak merasa cemburu. Kau tak berhak merasa sakit hati."
Tapi... hati ini menolak mendengar akal. Hati ini hanya merasakan perih. Perih yang makin dalam, perih yang tak kunjung habis.
Aku mengamati setiap gerak-gerik mereka dengan tatapan yang tajam dan lekat. Mataku tak berkedip, seolah terpaku. Setiap kali tangan pemuda itu bergerak mendekat ke arah Aira, setiap kali pemuda itu menatap Aira dengan pandangan kagum, setiap kali Aira membalasnya dengan senyum... rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk tepat di jantungku.
Aku tak bisa berpaling. Aku tak bisa pergi. Kaki ini seolah terpaku di kursi itu. Aku terperangkap antara rasa sakit yang menyiksa dan rasa takut kehilangan yang jauh lebih mengerikan.
Aku sadar betul sikapku kini berubah total. Dulu aku akan menyapa, akan mengajak bicara, akan berusaha mencuri perhatiannya. Tapi hari ini... aku diam. Sangat diam. Aku hanya menatap, menatap terus menerus, dengan wajah yang kaku, pucat, dan penuh kekacauan yang tersembunyi rapat.
Akhirnya, Aira seakan merasakan beratnya pandanganku. Ia menoleh, memutar wajahnya ke arahku.
Senyum yang sedari tadi menghiasi bibirnya seketika lenyap begitu saja saat mata kami bertemu. Raut wajahnya yang cerah berubah menjadi kebingungan. Ia menatapku lekat-lekat, seolah tak mengenali siapa orang yang sedang duduk di sudut sana itu.
Ia melihatku duduk diam, kaku, tak bergerak sedikit pun. Ia melihat tatapanku yang tajam, dalam, dan penuh dengan sesuatu yang tak bisa ia mengerti-campuran antara sakit hati, kecemasan, dan kepedihan yang mendalam. Ia melihatku tak berkedip, menatapnya seolah ia telah melakukan kesalahan besar yang tak termaafkan.
Aira perlahan menjauhkan sedikit tubuhnya dari teman kerjanya, seolah merasa tak nyaman karena sedang diperhatikan. Ia berkata sesuatu pelan pada pemuda itu, lalu melangkah berjalan mendekat ke arah mejaku. Langkahnya ragu, perlahan, penuh tanya.
Ia berhenti tepat di sisi mejaku, menatapku dengan alis yang terkerut bingung.
"Arjun..." panggilnya pelan, nadanya penuh rasa ingin tahu yang besar.
"Kamu dari tadi diam aja. Dari tadi... kamu lihatin aku terus ya?"
Suaranya terdengar ragu, ada nada takut dan bingung di sana. Ia terkejut melihat wajahku yang begitu pucat, bibirku yang terkatup rapat, dan mataku yang masih menatapnya tajam namun terasa begitu sedih.
Aku menelan ludah susah payah, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kewarasanku. Aku ingin berkata 'tidak', aku ingin berkata 'biasa saja', aku ingin berbohong seperti biasanya. Tapi rasanya begitu sulit. Rasanya semua kata-kata itu tersangkut di kerongkongan.
Aku mengangguk pelan, sangat pelan. Mataku masih tak lepas dari wajahnya, mataku masih menyelami setiap inci wajah yang menjadi sumber kebahagiaan sekaligus penyebab sakitku ini.
"Iya," jawabku pelan, suaraku terdengar berat, parau, dan jauh berbeda dari suara ceriaku yang dulu.
"Aku lihat."
Hanya itu. Hanya dua kata. Tapi beratnya terasa seolah satu ton beban jatuh di antara kami.
Aira makin bingung. Ia memiringkan kepalanya sedikit, makin tak mengerti.
"Kenapa? Ada yang salah? Kamu... kamu kenapa sih belakangan ini? Diem aja, aneh, natapnya kayak gitu terus..."
Ia diam sejenak, lalu melanjutkan lagi dengan nada yang makin bertanya, makin bingung, makin penasaran.
"Dulu kamu yang banyak tanya, dulu kamu yang pengen ngobrol terus. Tapi sekarang? Kamu diam, kamu aneh, kamu natap aku kayak ada yang salah terus. Arjun... sebenernya apa yang kamu rasain? Ada apa sama kamu? Kamu... kamu marah ya aku ngobrol sama Rio? Teman kerja itu lho."
Ia menyebut nama itu. Nama pemuda itu. Dan entah kenapa, mendengar nama itu keluar dari mulutnya dengan begitu akrabnya... rasa cemburu itu meledak lagi di dalam dadaku.
Aku menggeleng pelan, tapi tatapanku makin tajam, makin dalam. Aku tak bisa bilang aku cemburu. Aku tak bisa bilang aku sakit hati. Aku tak bisa bilang aku tak suka ia dekat dengan orang lain. Karena aku sadar, aku tak punya hak. Aku sadar, kami hanya sahabat.
"Enggak," jawabku singkat, bohong lagi.
"Enggak ada apa-apa. Kamu bebas saja."
Tapi nada suaraku tak mendukung kata-kataku. Nada suaraku terdengar dingin, terdengar sakit, terdengar penuh kepahitan. Tubuhku yang tegap itu terlihat tegang sekali, seolah menahan gejolak besar.
Aira makin tertegun. Ia makin bingung, makin tak mengerti. Ia melihat perubahan drastis itu. Ia melihat aku yang dulu ceria, yang selalu ada, yang selalu sabar... kini berubah menjadi sosok yang diam, misterius, penuh kekacauan, dan menatapnya dengan tatapan yang seolah meminta sesuatu namun tak pernah diucapkan.
Ia berdiri di sana, semakin bingung dengan sikapku yang makin tak tertebak. Ia tak mengerti kenapa aku makin diam, makin aneh, makin terlihat tersiksa setiap kali melihatnya dekat dengan orang lain. Ia tak mengerti kenapa aku makin menatapnya lekat-lekat seolah takut ia hilang, tapi mulutku tak pernah bicara apa-apa.
Dan aku... aku kembali menunduk, menghindari tatapannya yang penuh tanya itu. Aku kembali tenggelam dalam kebingunganku sendiri. Rasa cemburu ini makin besar, rasa sakit ini makin dalam, rasa ingin memiliki ini makin tak terkendali. Aku makin bingung, makin kacau, makin tak mengerti apa nama rasa ini.
Namun satu hal yang pasti: melihatnya makin dekat dengan orang lain... membuatku sadar satu hal yang menakutkan. Bahwa rasa ini bukan sekadar rasa sahabat. Bahwa rasa ini jauh lebih besar, jauh lebih dalam, dan jauh lebih berbahaya.
Tapi lagi-lagi... aku hanya bisa memendamnya. Aku hanya bisa menyiksaku sendiri dalam diam, sementara Aira kini berdiri di sana, makin bingung dan penasaran dengan perubahan diriku yang mendadak ini.