Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatap Muka
Ua hari setelah Dedi diselamatkan, kabar sampai ke kami bahwa Broto sedang murka besar. Bukan cuma karena kehilangan tahanannya, tapi karena penyerangan ke gudang itu, sekecil apa pun, membuktikan sesuatu yang selama ini ia coba sangkal ke atasannya: Lentera sudah cukup kuat untuk menembus wilayah yang selama ini ia anggap aman sepenuhnya.
Ujang, yang jaringannya kini menjangkau hampir setiap sudut Karang Wetan dan sekitarnya, mendapat kabar bahwa Broto memerintahkan pencarian besar-besaran—bukan cuma untuk menemukan siapa yang menyerang gudangnya, tapi untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang memimpin Lentera. Selama ini, namaku memang mulai dikenal, tapi wajahku masih relatif asing bagi kebanyakan orang di luar jaringan kami.
"Cepat atau lambat, dia bakal tahu itu kamu, Bang," kata Ujang suatu malam. "Atau dia bakal minta ketemu langsung buat mastiin."
Aku tidak menyangka tebakan Ujang benar secepat itu.
Tiga hari kemudian, sebuah pesan sampai lewat Pak Darto—bukan ancaman kali ini, melainkan semacam undangan, kalau bisa disebut begitu. Broto ingin bertemu, empat mata, di sebuah warung kopi kecil di pinggir pasar yang selama ini dianggap wilayah netral, tempat preman dan pedagang biasa duduk bersebelahan tanpa insiden.
Yanto menentang keras ide itu. "Ini bisa jebakan, Rangga. Kita udah nyerang wilayahnya, dia bisa aja balas dendam langsung di situ."
"Kalau dia mau nyerang aku langsung, dia nggak perlu repot-repot ngundang ketemu di tempat umum," jawabku. "Justru kalau dia pilih tempat netral kayak gitu, itu tandanya dia juga nggak mau bikin masalah yang keliatan di depan umum."
Akhirnya kami sepakat aku akan datang, tapi tidak sendirian sepenuhnya—Salim akan duduk beberapa meja dari kami, berpura-pura jadi pelanggan biasa, sementara Ujang mengawasi dari luar.
Broto ternyata lebih kecil dari bayangan yang selama ini terbentuk di kepalaku—bertahun-tahun mendengar namanya disebut dengan nada takut membuatku membayangkan sosok yang jauh lebih menakutkan secara fisik. Tapi begitu duduk berhadapan dengannya, aku sadar rasa takut yang ia timbulkan bukan dari tubuhnya, melainkan dari orang-orang di belakangnya.
"Jadi kamu," katanya, menyalakan rokok sambil menatapku lekat-lekat, "anak yang bikin ribut-ribut ini semua."
Aku tidak menjawab langsung, mencoba menjaga wajahku tetap tenang meski jantungku berdegup kencang.
"Aku denger banyak soal kamu," lanjutnya. "Katanya kamu yang dulu, waktu masih bocah, kena masalah sama salah satu orangku. Kasusmu yang 'kurang bukti' itu." Ia tersenyum sinis. "Jadi ini semua... balas dendam pribadi?"
"Awalnya mungkin iya," jawabku, suaraku lebih tenang dari yang kurasakan. "Tapi sekarang bukan cuma soal aku lagi. Ini soal semua orang yang selama ini kamu peras, kamu ancam, karena kamu tahu nggak ada yang bakal lindungin mereka."
Broto menghembuskan asap rokoknya perlahan. "Kamu pikir kamu beda dari aku? Kamu juga maksa orang, walau caranya beda. Kamu juga bikin orang takut sama nama kamu sekarang."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang kuduga, karena ada sebagian kecil dari diriku yang tahu, ia tidak sepenuhnya salah.
"Bedanya," kataku, mencoba menahan getar di suaraku, "aku nggak minta apa-apa dari orang yang aku lindungi. Dan aku nggak bakar rumah orang yang telat bayar."
Broto terdiam sesaat, matanya menyipit, seperti sedang menimbang sesuatu yang lebih besar dari sekadar percakapan ini.
"Aku sebenernya bisa aja abisin kamu sekarang," katanya akhirnya, nadanya berubah lebih dingin. "Tapi aku juga bukan orang bodoh. Kalau aku sentuh kamu langsung, di tempat umum kayak gini, orang-orang kamu bakal makin ngamuk, dan itu bikin masalah buat aku sama bosku."
"Baskoro," kataku pelan, mencoba memancing reaksi.
Matanya sedikit melebar, cukup untuk membuatku yakin nama itu memang benar adanya. "Kamu udah cari tahu banyak, ya."
"Cukup buat tahu, kamu juga cuma alat," jawabku. "Sama kayak Dedi dipaksa jadi alat buat mereka, kamu juga alat buat orang yang lebih tinggi dari kamu. Bedanya, kamu mungkin nggak sadar, atau nggak mau sadar."
Untuk sesaat, ada sesuatu yang berubah di wajah Broto—bukan kemarahan, melainkan semacam pengakuan diam-diam yang segera ia tutupi lagi dengan seringai sinisnya yang biasa.
"Kamu masih terlalu naif buat ngerti gimana dunia ini jalan, Nak," katanya, berdiri dari kursinya. "Tapi baiklah. Aku kasih kamu satu peringatan terakhir, bukan ancaman, cuma peringatan orang yang udah lebih lama hidup di jalanan ini daripada kamu: kalau kamu terus maju, kamu bakal ketemu batas yang jauh lebih berbahaya daripada aku. Dan waktu itu terjadi, jangan salahin aku kalau kamu nggak siap."
Ia pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkanku duduk sendirian dengan secangkir kopi yang sudah dingin, dan pikiran yang jauh lebih berat daripada waktu aku datang.
Malam itu, waktu aku menceritakan semua pada Yanto dan yang lain, Yanto menatapku lama sebelum bicara.
"Kamu percaya dia?" tanyanya. "Soal dia cuma alat?"
"Aku percaya," jawabku, "kalau kita cuma fokus lawan Broto, kita bakal habisin waktu bertahun-tahun ngelawan orang yang sebenarnya cuma pion. Yang harus kita incar itu yang gerakin pion-pion ini dari belakang."
Ujang menyeringai tipis, meski kali ini seringainya terasa lebih berat dari biasanya. "Berarti kita udah nggak main-main lagi sekarang, Bang. Target kita Baskoro. Atau malah lebih tinggi lagi."
Aku mengangguk pelan, meski di dalam hati aku tahu, kalimat itu berarti kami baru saja melangkah lebih dekat ke jurang yang jauh lebih dalam daripada semua yang pernah kami hadapi sebelumnya.
*(Bersambung ke Bab 15)*