NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 : KECURIGAAN LARASATI

Langit di atas pelataran istana Galuh masih kelabu saat Larasati melangkah keluar dari kamarnya. Angin pagi membawa bau tanah basah dan aroma bunga melati yang tumbuh merambat di pagar batu, namun tak satu pun dari itu sanggup meredakan kegelisahan yang mendesak di dadanya.

Di tangannya tergenggam dua lembar laporan yang datang berselang tiga hari—satu dari pinggir sungai dekat Wana Kelor, satu lagi dari jalan raya arah selatan yang baru saja dikirim kurir.

Raden Sukma sudah menunggu di beranda, wajahnya tampak tak sabar. Ia merapikan ikat kepala, lalu menatap lurus ke arah putri dengan tatapan yang bercampur rasa ingin melindungi dan rasa tak suka pada sosok yang kini menjadi buronan istana.

“Putri, pasukan sudah siap menunggu perintah,” ucapnya tegas begitu Larasati mendekat.

“Kita bisa langsung menuju lokasi kedua kejadian itu sebelum jejaknya hilang terbawa angin atau diinjak orang banyak.”

Larasati mengangguk pelan, namun matanya tak lepas dari tulisan di atas kertas itu.

“Sebelum pergi, bacalah ini. Bandingkan baris demi baris.”

Sukma mengambil kertas itu, membacanya sekilas lalu mendengus tak sabar.

“Apa yang perlu dibandingkan? Keduanya jelas perbuatan Si Pamanah Rasa. Merampok milik penguasa, mengancam nyawa prajurit, melawan aturan yang berlaku. Tak ada yang aneh.”

“Baca perlahan, Sukma,” potong Larasati tenang namun tegas.

“Lihat detailnya. Di kejadian pertama, tak ada satu pun yang terluka parah. Senjata mereka hanya terlepas atau terpental. Barang yang diambil, tersebar kembali ke tangan rakyat. Tak ada satu pun rumah yang dibakar, tak ada satu pun orang yang dianiaya tanpa alasan. Saksi mata bilang suaranya tenang, tak mengancam nyawa jika mereka mau menyerahkan apa yang bukan haknya.”

Ia mengambil kembali laporan kedua, jarinya menunjuk baris paling bawah.

“Sedangkan di kejadian kedua, konvoi pedagang pajak dihajar habis-habisan. Tiga orang terluka parah, gerobak dibakar, peti uang dihabiskan tak bersisa. Saksi bilang pelakunya kasar, berteriak kasar, dan menambah kerusakan yang tak perlu. Dan lihat ini—di tempat pertama hanya ada jejak kaki dua orang saja. Di tempat kedua, jejaknya berderet banyak, sepasang-sepasang, bergerak serempak.”

Sukma mengerutkan kening, mencoba mencari celah untuk membantah namun kata-katanya tertahan di tenggorokan.

“Bisa saja dia mengubah cara kerjanya. Bisa saja dia mulai berani bertindak kejam karena merasa tak pernah tertangkap.”

“Kau percaya begitu?” tanya Larasati menatap lurus ke manik mata sepupunya.

“Orang yang menahan diri agar tak melukai prajurit yang menyerangnya duluan, tiba-tiba membakar orang yang hanya menjalankan tugas? Orang yang membagi hasil curian ke setiap rumah tanpa mengambil sehelai benang pun, tiba-tiba menghabiskan semua uang emas untuk dirinya sendiri?”

Ia menggeleng pelan, langkah kakinya melangkah menuju kuda yang sudah dituntun pelayan.

“Ada sesuatu yang tak pas. Seperti dua orang yang memakai nama yang sama, tapi memiliki hati yang berbeda jauh.”

Perjalanan menuju lokasi kejadian pertama memakan waktu hampir setengah hari. Saat mereka tiba di dekat jembatan bambu yang menjadi saksi perlawanan Bayu, jejak-jejak perkelahian masih terlihat samar namun teratur. Papan jembatan hanya sedikit retak, tak ada tanda pembakaran, hanya bekas panah yang menancap kuat di batang pohon besar—tepat di samping telinga Ki Surya kala itu.

Larasati turun dari punggung kuda, berjalan perlahan mengelilingi tempat itu. Ia meraba bekas tusukan panah, lalu menatap ke arah semak tempat Bayu bersembunyi semula.

“Lihat jaraknya,” bisiknya.

“Kalau dia ingin membunuh, pasti tepat di leher atau jantung. Tapi ini hanya peringatan. Hanya untuk melumpuhkan sementara.”

“Mungkin dia belum mahir memanah,” celetuk Sukma menyusul di belakangnya.

“Atau dia sengaja meleset tepat sasaran,” sahut Larasati pelan.

“Itu butuh kendali diri yang lebih besar daripada sekadar melepaskan anak panah dengan amarah.”

Mereka melanjutkan perjalanan ke lokasi kedua, lebih jauh ke arah lembah berbatu. Pemandangan di sana sangat berbeda. Bekas api unggun yang menyala liar masih menyisakan abu hitam pekat, sisa gerobak hangus tergeletak berserakan, dan jejak kaki yang bertumpuk-tumpuk menuju ke arah dalam hutan yang lebih gelap.

Di atas batu besar yang menjadi pusat perampokan, tergeletak sebilah anak panah yang bentuknya mirip namun ukiran kayunya terlihat kasar, tak sehalus bekas yang tadi dilihatnya.

Larasati mengambil anak panah itu, membalik-baliknya di telapak tangan.

“Ini bukan miliknya,” ucapnya pelan namun pasti.

“Kau bagaimana bisa yakin?” tanya Sukma tak percaya. “Bentuknya sama persis!”

“Bentuknya sama, tapi tangannya berbeda,” jawab Larasati menunjuk serat kayu pada gagang panah. “Ukiran pada miliknya rapi, dalam, dan terbuat dari kayu beringin tua yang ringan. Ini kayu jati muda yang dipotong terburu-buru. Dan lihat ujung besinya—ini tajam bergerigi, dibuat untuk merobek dan melukai. Sedangkan yang tadi, ujungnya tumpul sedikit, seolah sengaja dibuat agar tak merobek daging terlalu dalam.”

Ia menatap ke arah rimbunnya pepohonan, seolah bisa melihat sosok yang bersembunyi di baliknya.

“Ada dua perampok,” gumamnya pelan, kalimat itu terucap tanpa sadar namun terdengar jelas oleh Sukma.

“Satu bergerak untuk mengambil kembali apa yang dirampas, satu lagi bergerak untuk mengisi perutnya sendiri. Satu menggunakan nama itu untuk memberi harapan, satu lagi memakai nama itu untuk menutupi jejak kejahatannya.”

Sukma terdiam, emosinya perlahan meredup digantikan rasa bingung yang tak ia sangka. “Kalau begitu, siapa yang memanfaatkannya? Dan kenapa dia memilih nama Si Pamanah Rasa?”

“Karena nama itu sudah dikenal rakyat,” jawab Larasati perlahan.

“Karena nama itu sudah dicari oleh Kadipaten. Siapa pun pelaku yang sebenarnya, dia tahu bahwa jika sesuatu terjadi dengan jejak yang mengarah ke sana, semua tuduhan akan langsung jatuh pada orang yang sudah dicurigai semua orang.”

Jauh di dalam Wana Kelor, Bayu sedang duduk merapikan ujung tali busur yang sedikit lepas. Telinganya menangkap suara derap kuda yang mendekat lalu menjauh kembali. Karta yang sedang mencari umbi liar berlari kembali dengan napas terengah.

“Kang! Ada banyak prajurit berseragam istana tadi! Ada Putri Larasati sama pemuda sombong yang kemarin!”

Bayu mengangguk pelan. “Aku mendengarnya. Mereka memeriksa tempat kejadian kita, lalu pergi ke arah tempat perampokan lain yang kudengar kabarnya kemarin.”

“Terus kalau mereka tahu bukan Kang yang melakukannya, apakah mereka akan berhenti mengejar?” tanya Karta penuh harap.

“Entahlah,” jawab Bayu jujur.

“Kebenaran tak selalu mudah diterima, Karta. Terutama jika kebenaran itu merugikan mereka yang berkuasa. Dan sekarang kita bukan hanya dikejar oleh Kadipaten, tapi juga harus berhati-hati pada bayang-bayang yang memakai nama kita untuk berbuat jahat.”

Di persimpangan jalan yang sepi, Ki Jaka Jagad berdiri di balik batang pohon besar, melihat rombongan istana yang perlahan menjauh. Senyum tipis terukir di wajahnya.

“Mulai meragukan, ya?” bisiknya pada diri sendiri.

“Tak apa. Semakin lama mereka ragu, semakin banyak waktu yang kita punya untuk menumpuk tuduhan baru.”

Ia memberi isyarat pada anak buahnya yang bersembunyi.

“Siapkan rencana selanjutnya. Gudang penyimpanan pajak wilayah utara akan dikirim dalam dua hari. Kali ini kita tinggalkan jejak yang lebih jelas. Biar tak ada yang bisa meragukan lagi bahwa Si Pamanah Rasa adalah musuh bersama.”

Sore itu, matahari perlahan turun menyisakan warna jingga yang kelabu. Di hati Larasati, keyakinan yang sempat utuh kini mulai retak. Di hati Bayu, beban yang dipikulnya semakin berat. Dan di balik bayang-bayang hutan, jaring yang ditenun licik itu semakin erat mengikat, memisahkan kebenaran dan kejahatan hanya dengan selembar kain tipis yang disebut fitnah.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!