NovelToon NovelToon
Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: BumbleBee

Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kau Pembunuh

"Kau pembunuh! Kau membakar Ayahku hidup-hidup."

Paula menjerit histeris, ia menggelengkan kepala, menutup kedua telingnya. Keringat membanjiri tubuhnya. Napasnya sesak luar biasa seakan ia memang berada di tengah kobaran api, dengan asap tebal yang mengelilinginya. Pupilnya bergetar ketakutan, seolah melihat sesuatu yang mengerikan. Ya, dalam ilusinya ia melihat sesosok tubuh yang terbakar berjalan mendekat ke arahnya.

Paula begitu tersiksa, ia mengalami trauma yang benar-benar luar biasa menyiksanya. Pollux dan Pax bahkan tidak bisa berbuat banyak. Kedua pria itu segera merengkuh dan menenangkan Paula, tidak berhasil sama sekali. Ia semakin menggila dalam ketakutannya.

Cukup! Pax tidak tahan lagi, ia berdiri, melangkah cepat menghampiri Luna dengan wajah bengis. Mengangkat sebelah tangan untuk melayangkan tamparan. Ya, ia memang tidak akan ragu untuk menghabisi Luna.

Luna terlihat tidak takut sama sekali, dan begitu Pax menggerakkan tangannya, Paula pingsan yang disusul Pollux, dan brak! Pax pun demikian.

Wanita itu menyunggingkan senyum sinis, ia merasa menang. Mengusap air mata buayanya, ia menoleh ke samping melihat  Aaron yang meluruh ke lantai, dengan perasaan berkecamuk, dan amarah lah yang mendominasi.

Lagi dan lagi, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Haruskah aku membunuhmu, Luna," lirihnya pilu dan sialnya, kalimat itu hanya bisa ia cetuskan dalam hatinya.

"Aaron,," rengek Luna, masih bertindak sebagai korban. Megan dan Alena sudah sibuk membangunkan triplets.

Aaron mengusap wajahnya sebelum ia mengangkat kepalanya. Ia berdiri, menatap Luna dalam diam untuk sepersekian detik.

"Aaron, tubuhku sakit semua, haruskah aku mengajukan laporan?" Luna melayangkan tatapan sinis pada Alena.

"Kita obati lukamu terlebih dahulu," Aaron mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Ansel.

"Pusat perbelanjaan X. Bawa tiga ambulance," perintah Aaron begitu panggilannya tersambung, dan segera memutuskan sambungan bahkan sebelum Ansel sempat bertanya.

Aaron membimbing Luna ke luar dari dalam toilet.

"Kak Aaron," panggilan Megan membuat Aaron menghentikan langkahnya. Pria itu menatap Megan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

"Kau akan pergi begitu saja?" tanya Megan tidak percaya dengan sikap Aaron yang terlihat tidak berprikesepupuan.

"Luna terluka. Dia lebih penting."

Bugh!

Satu bogeman mendarat di wajah Aaron. Bogeman yang melayang begitu cepat, hingga tidak ada yang menyadarinya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Alena.

"Kupikir kekasihmu yang sinting, ternyata kau juga tidak kalah bego!"

Aaron mengusap wajahnya, menatap Alena dengan wajah datar, "Aku akan membuat perhitungan denganmu karena sudah melukainya," Aaron menunjuk Luna yang sudah besar kepala.

"Hubungi aku jika kau sudah siap!" sahut Alena dengan angkuh, ia pun berbalik, kembali duduk dan mengangkat kepala Pollux ke atas pangkuannya, sementara Megan mengurusi dan menangisi Paula. Dan Pax yang malang, terabaikan begitu saja.

***

Lucas mengusap wajah kasar, beberapa kali pria paruh baya itu menarik napas dalam. Mata yang selalu terlihat hangat, kini terlihat begitu rapuh. Bagaimana tidak, ia gagal menjadi seorang Daddy dan juga suami yang menjanjikan kebahagiaan di keluarganya.

Lucas mendekati istrinya-Angel, yang sedang menangis di samping ranjang Paula, yang tidak sadarkan diri. Menunduk, memberikan kecupan di puncak kepalanya.

"Maafkan aku, sayang." Suara Lucas terdengar serak. Pria itu juga menangis. Ia benar-benar tidak berdaya kali ini. Harta dan kekuasaannya tidak ada artinya.

Berpuluh-puluh tahun, ia sudah mendatangkan dokter terbaik dari belahan dunia mana pun, tapi tetap saja tidak satu pun ada yang berhasil menyembuhkan trauma Paula dan tidak menemukan penjelasan apa pun terkait kejadian aneh yang dialami ketiga anaknya. Bahkan Ansel, yang menjadi harapan mereka, juga tidak berhasil menemukan penyebabnya.

Kejadian aneh yang dimaksud, setiap Paula tertekan dan pingsan, kenapa kedua putranya ikut pingsan. Dan hal aneh itu tidak akan terjadi jika yang pingsan adalah Pax atau Pollux.

"Mungkin ikatan batin," hanya jawaban itulah akhirnya yang diberikan oleh para dokter tersebut.

Pintu kamar Paula terbuka, beberapa keluarga mereka masuk setelah mengunjungi Pollux dan Pax di kamar mereka. Tidak seperti Paula yang harus di infus, Pollux dan Pax hanya dibaringkan di kamar mereka tanpa perawatan apa pun, karena dalam beberapa jam, biasanya kedua pria itu terbangun dan sialnya akan melupakan ketidak sadaran mereka.

"Kenapa bisa ini terulang lagi," Daniel- yang merupakan kakek triplet mendesah kasar. Ya, terakhir kali hal seperti ini terjadi adalah saat kelulusan ketiganya di sekolah menengah pertama. Hal aneh itu tidak terjadi lagi setelah Aaron pergi dan membawa Luna.

Semuanya hening, tidak ada jawaban, hingga pintu kembali terbuka, menampilkan Aaron yang terlihat sangat berantakan dengan tangan yang berlumur darah.

Para tetua di sana kompak menarik napas dalam. Aaron dengan tatapan yang hanya tertuju pada Paula, berjalan mendekat. Berdiri tepat di ujung ranjang. Aaron meluruh, menggenggam kaki Paula, dan membenamkan wajahnya di sana. "Maafkan aku,"

Para tetua yang berada di sana tidak berkutik. Semua bungkam dengan pikiran masing-masing.

"Haruskah aku pergi lagi dan membawa wanita sialan itu," lirihnya, dan lagi para tetua itu tidak bisa menjawab.

"Ini menyiksaku, Paman." adunya kepada Lucas. "Aku merasa tidak berguna, membunuh wanita itu, artinya aku harus kehilangan Paula. Dan percayalah, aku tidak akan sanggup untuk hidup." manik Aaron mulai berkaca-kaca.

Ya, kenyataan mengerikannya adalah menghabisi Luna artinya membunuh Paula. Keberadaan Luna tidak sesederhana yang terlihat. Selain mampu mengendalikan Paula dengan traumanya, Luna juga satu-satunya orang asing yang mengetahui hal janggal yang dialami Pax dan Pollux.

Aaron harus berada di samping Luna untuk membungkam mulut wanita itu agar tidak membeberkan kelemahan Pax, yang notabenenya memiliki musuh di mana-mana, dan lagi dan lagi, Pax bukanlah alasan sesungguhnya.

Fakta yang lebih mengerikan adalah silence yang disuntikkan di tubuh Paula yang terhubung kepada Luna. Jika Luna di bunuh, maka Paula juga mati bersamanya. Luna memegeng kendali penuh atas hidup Paula. Dan itulah yang membuat mereka tidak bisa berkutik dan bertindak gegabah.

Entah siapa pencipta benda sialan yang tidak terdeteksi itu. Aaron sampai detik ini tidak menemukan celah untuk menemukan penawarnya. Bertahun-tahun bersama Luna, wanita itu ternyata sangat pintar. Bahkan chip sebesar biji beras yang disuntikkan Ansel ke dalam tubuh Luna untuk memantau keberadaannya, bisa diketahui wanita itu dalam beberapa jam.

Demikian juga Lucas dan Daniel. Perjalan mereka bersama istri-istri mereka bukanlah semata-mata untuk bersenang-senang, melainkan mencari seseorang yang bisa memecahkan masalah yang mereka hadapi. Dan sialnya seseorang yang mereka cari selalu berpindah-pindah tempat dan tidak meninggalkan jejak sama sekali.

"Obati lukamu, son." Lucas menepuk pundak Aaron. Ia tahu pria itulah yang paling tersiksa atas semua kejadian ini. Paula membencinya, sementara Aaron sangat mencintainya, tapi pria itu harus bertindak seolah-olah ia tidak tertarik pada Paula.

"Aku bahkan ingin mematahkan kedua tangan ini," Aaron menatap kedua tangannya yang bergetar hebat. "A-a-aku...tangan ini mengabaikan adik-adikku yang tergeletak tidak berdaya, dan tangan sialan ini justru menyentuh wanita sialan itu, AAARGGGGHHHHH!!!!" Aaron meninju lantai berulang kali. Ayah dan Pamannya segera menahannya, menghentikan kefrustasian pria malang itu.

"Akan kupanggilkan Ansel," Daniel segera ke luar menuju ruang tamu di mana Ansel masih berbincang dengan Alena dan Megan.

Melihat kakek-nya di ujung tangga, Ansel segera undur diri, menaiki sekaligus dua anak tangga.

"Aaron menggila," Jelas kakek mereka, dan Ansel tahu apa yang harus ia lakukan, membuat pria itu tidak sadarkan diri.

1
pika shu
koq GK up² thor
lyani
GPL y Meg
lyani
aku sih iyesssss
lyani
kepemilikan bro
lyani
😀😀😀
lyani
Krn cintanya bukan utk Maria
iis nuriyah: kak up 2 ajj kurang ini malah up 1✌️✌️✌️✌️🤣🤣🤣🤣 ayo semangat lgi up,a🥰🥰🥰
total 1 replies
lyani
Lux
lyani
tunggu....
lyani
kurang jitu
iis nuriyah
kak mw tnya cerita ortu triple GK ad ya
BumbleBee: ada dong kak. Di judul Menikahi Pria Tidak Sempurna di season duanya. Lucas dan Angel
total 1 replies
iis nuriyah
best👍👍👍👍
iis nuriyah
kak up,a yg bnyak donk🤣🤣🤣gk puas bca,a saking seru,a🥰🥰
lyani
wani Piro 😅
lyani
ciyeeeee
lyani
🤣
lyani
Wilson Rodriguez bodoh soal wanita 🤣
lyani
/Facepalm/
lyani
😂
lyani
nah begini harusnya
lyani
😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!