Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.
Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!
Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.
Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALIANSI DUA JIWA YANG TERDAMPAK
Malam di perimeter luar Sektor Tiga tidak pernah menjanjikan ketenangan bagi mereka yang kalah. Hujan asam tipis turun membasahi gang-gang sempit yang gelap, menciptakan genangan air keruh berbau belerang di atas permukaan aspal yang retak-retak. Di sinilah, jauh dari gemerlap lampu neon dan kemegahan distrik pusat yang dikuasai secara mutlak oleh tiran Kaelen Azrael, raga Evadne yang malang tergeletak tak berdaya di atas tanah yang dingin.
Setelah diseret keluar dari mansion dengan kejam oleh pasukan elit divisi bayangan Azrael Corps atas perintah mutlak Kaelen, wanita itu kini tak lebih dari seonggok daging tak berharga yang dibuang begitu saja ke tempat pembuangan sampah distrik bawah. Tidak ada lagi pelayan yang membungkuk hormat, tidak ada lagi gaun-gaun sutra mahal, dan tidak ada lagi kemewahan yang selama ini membentengi nama besarnya. Semuanya telah lenyap, runtuh dalam hitungan detik hanya karena dia berani mengusik keberadaan sang ratu hacker bar-bar di sisi Kaelen.
Evadne meringkuk pasrah di sudut dinding beton yang lembap dan berlumur lumut. Gaun malamnya yang semula terlihat teramat anggun dan berkelas kini telah robek di berbagai sisi, mengekspos kulitnya yang dipenuhi noda lumpur hitam serta guratan luka memar yang mengering akibat seretan kasar pasukan bayangan. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena hawa dingin malam Sektor Tiga yang menusuk hingga ke tulang, melainkan karena gejolak batin yang menghancurkan seluruh kewarasannya. Tatapan matanya yang dulunya penuh dengan kepalsuan aristokrat yang sombong kini meredup seketika, menyisakan kekosongan hitam yang perlahan-lahan memanas, membakar menjadi sebuah dendam gila yang teramat pekat.
"Kaelen... Althelia..." desis Evadne dari sela-sela bibirnya yang pecah dan berdarah. Suaranya terdengar parau, bergetar di antara isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
Setiap kali dia membayangkan wajah tampan Kaelen yang menatapnya penuh muak, dan setiap kali dia mengingat sorot mata cokelat madu milik Rae yang menantang, rasa sakit di dadanya terasa seperti di hujam oleh ribuan jarum berkarat. Dia telah dihancurkan secara mutlak. Keluarganya dipermalukan, dan harga dirinya diinjak-injak hingga ke dasar bumi. Kesetiaan yang dipelihara keluarganya selama bertahun-tahun untuk Azrael Corps tidak ada artinya sama sekali di mata Kaelen jika dibandingkan dengan wanita bar-bar itu.
Tap. Tap. Tap.
Suara ketukan langkah sepatu bot kulit premium mendadak memecah keheningan gang yang sepi dan mati itu. Langkah kaki tersebut terdengar begitu konstan, mantap, berat, dan berwibawa. Setiap ketukannya bergaung di antara dinding-dinding beton, sebuah irama langkah yang sangat kontras dengan atmosfer kumuh dan berantakan di kawasan luar Sektor Tiga.
Evadne tersentak kecil. Naluri bertahan hidup yang terpendam di dalam dirinya memaksa wanita itu untuk bergerak, bersusah payah menyeret tubuhnya yang lemas menjauh, menyandarkan punggungnya yang gemetar pada dinding beton demi mencari perlindungan. Melalui kabut malam yang tebal dan rintik hujan asam yang mengaburkan pandangan, sepasang matanya menangkap siluet seorang pria jangkung tegap yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Pria itu mengenakan mantel bulu panjang berwarna abu-abu gelap yang melambai-lambai ditiup angin malam, bergerak dengan ketenangan seorang penguasa yang tidak terkalahkan.
Aura yang memancar dari tubuh pria asing itu begitu dingin, begitu bangsawan, namun sarat akan bahaya tersembunyi yang siap menerkam siapa saja. Dia adalah Regulus Vane—sang pemimpin tertinggi dari sindikat Vane Oligarchy, musuh bebuyutan legendaris yang selama bertahun-tahun merayap di kegelapan, menyusun taktik berskala militer demi meruntuhkan takhta Azrael Corps dari Sektor Tiga.
Regulus menghentikan langkah besarnya tepat dua meter di depan tubuh Evadne yang ringsek. Sepasang netra kelabunya yang seputih porselen namun sedingin badai salju menatap ke bawah, memandangi raga Evadne dengan tatapan tawar yang sulit diartikan. Dia tidak menunjukkan rasa kasihan sedikit pun; sebaliknya, sudut bibirnya perlahan terangkat, menyunggingkan sebuah senyuman miring aristokrat-nya yang penuh dengan teka-teki licik.
"Sungguh sebuah pemandangan yang teramat mengenaskan bagi seorang putri dari keluarga terpandang," ujar Regulus. Suara baritonnya yang berat terdengar begitu halus, namun setiap kata yang diucapkannya bergaung penuh intimidasi yang sanggup membekukan darah di dalam gang sempit itu. "Dibuang seperti sampah oleh pria yang selama ini kau puja, dihancurkan tanpa sisa hanya dalam satu kedipan mata di tangan sang tiran Kaelen Azrael."
Evadne mendongak dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, menepis beberapa helai rambutnya yang basah dan lengket di wajah. Napasnya memburu, dadanya kembang kempis menahan rasa takut sekaligus amarah yang membuncah. "Si... siapa kau? Mau apa kau ke sini?! Jika kau adalah pembunuh bayaran yang dikirim oleh Kaelen untuk menghabisi sisa nyawaku, lakukan sekarang juga! Jangan banyak bicara!" teriaknya histeris namun terdengar begitu lemas di hadapan pria raksasa itu.
Regulus Vane kembali tertawa rendah—sebuah kekehan dingin tanpa kehangatan yang membuat bulu kuduk siapa pun merinding mendengarnya. Dia melangkah maju satu kali lagi, membiarkan cahaya lampu jalanan yang remang-remang dan berkedip menembus kegelapan, menyinari wajah tampannya yang memiliki pahatan rahang tegas sempurna dengan kulit pucat khas bangsawan dunia bawah.
"Dikirim oleh Kaelen?" Regulus berlutut dengan satu kaki di depan Evadne, mengabaikan ujung mantel bulu mewahnya yang kini menyentuh lumpur kotor jalanan. Dia menatap langsung ke dalam mata Evadne yang penuh air mata. "Jangan menghinaku begitu rendah, Nona Evadne. Aku adalah pria yang paling bersemangat di dunia ini untuk melihat kepala Kaelen Azrael dipenggal dan diletakkan di atas meja makanku sebagai hiasan."
Mendengar pengakuan yang begitu berani dan penuh kebencian terhadap sang tiran, sepasang mata Evadne mendadak berkilat terang di kegelapan. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa penasaran yang besar. "Kau... kau musuh Kaelen Azrael?"
"Aku adalah Regulus Vane," jawabnya dengan ketenangan yang mutlak, memperkenalkan sebuah nama besar yang seketika membuat seluruh tubuh Evadne menegang gila.
Vane Oligarchy. Siapa yang tidak tahu nama itu di dunia bawah tanah? Mereka adalah satu-satunya sindikat raksasa berkekuatan finansial dan militer masif yang berani beradu taring secara terbuka dengan hegemoni mutlak Azrael Corps.
Regulus mengulurkan tangannya yang dibalut sarung tangan kulit hitam berlogo elang perak tepat di hadapan wajah Evadne. "Kaelen telah merebut segalanya dari hidupmu yang berharga. Dia menghancurkan harga diri keluargamu, membuang kesetiaan yang kau bangun, hanya demi memanjakan seorang wanita asing bernama Aurora. Katakan padaku, Nona... tidakkah kau ingin melihat bagaimana cara wanita jalang itu menangis darah di bawah injakan kakimu?"
Setiap patah kata yang keluar dari bibir dingin Regulus bagai siraman bensin murni yang membakar habis sisa-sisa kebaikan di dalam jiwa Evadne. Dendamnya kini telah menemukan wadah yang tepat. Wanita itu menatap uluran tangan kekar di depannya dengan napas yang semakin memburu gila. Tidak ada jalan kembali baginya. Jika dia harus menjual jiwanya pada iblis sektor luar demi menghancurkan Kaelen dan membuat Rae menderita, maka dia akan melakukannya dengan senang hati tanpa keraguan sedikit pun.
Dengan jemari yang gemetar hebat akibat rasa dingin dan emosi yang meluap, Evadne mengulurkan tangannya, meraih tangan kekar Regulus Vane, dan mencengkeramnya dengan teramat erat seolah pria itu adalah satu-satunya tali penyelamat hidupnya dari jurang neraka.
"Bantu aku... bantu aku menghancurkan mereka berdua, Regulus Vane," bisik Evadne dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi gelap, gila, dan penuh dengan hasrat membunuh. "Aku tahu semua rahasia tata letak internal mansion Kaelen. Aku tahu titik buta pasukan bayangannya. Aku tahu kelemahan mereka."
Regulus menyunggingkan senyuman predatornya yang teramat puas melihat bidak catur di depannya telah tunduk. Dia menarik tubuh ramping Evadne bangun dalam satu sentakan mudah, lalu menoleh ke belakang, menatap ke arah dua orang asisten setianya yang berpakaian hitam legam yang sejak tadi berdiri diam tanpa suara di bawah bayang-bayang kabut hujan.
"Bawa wanita ini ke markas utama kita di Sektor Luar. Bersihkan tubuhnya, obati setiap lukanya, dan beri dia pakaian yang layak untuk seorang sekutu berharga," perintah Regulus dengan nada yang dingin, mutlak, dan tidak menerima bantahan. "Kita baru saja mendapatkan sebuah kunci rahasia yang sangat berharga untuk memulai permainan catur berskala besar ini."
Kedua anak buah Regulus segera bergerak maju dengan cekatan, memapah tubuh Evadne yang lemas dan hampir pingsan masuk ke dalam mobil sedan hitam mewah milik Oligarchy yang terparkir rapi di ujung gang yang gelap.
Setelah mobil itu membawa Evadne pergi, Regulus Vane tetap berdiri diam di tengah gang yang basah untuk beberapa saat. Dia mengeluarkan sebatang rokok mahal, menyalakannya di bawah lindungan mantel abu-abunya dari rintik hujan asam, lalu membiarkan asap abu-abu pekat mengepul bebas menutupi sepasang netra kelabu nya yang licik dan penuh intrik. Otak pintarnya sudah bekerja dengan kecepatan penuh, menyatukan potongan informasi dari Evadne untuk menyusun strategi penghancuran logistik Azrael Corps. Kehadiran Evadne adalah berkah, sebuah celah untuk meretas pertahanan fisik maupun siber yang selama ini dijaga ketat oleh Kaelen.
"Kaelen Azrael..." gumam Regulus, sudut bibirnya kembali terangkat membentuk senyuman tiraninya sendiri yang berdarah dingin. "Kau terlalu sibuk mengurung dan memanjakan ratu hacker-mu di dalam sangkar emas, sampai kau lupa bahwa singa-singa lapar di sektor luar sudah selesai mengasah taring mereka, siap untuk mencabik-cabik takhta megah mu hingga runtuh menjadi abu."
Dengan gerakan yang teramat anggun dan penuh wibawa, Regulus membuang puntung rokoknya yang masih menyala ke dalam genangan air basah hingga padam, berbalik perlahan, lalu masuk ke dalam mobilnya sendiri. Kendaraan mewah itu menderu halus sebelum akhirnya melesat cepat membelah kegelapan malam Sektor Tiga, meninggalkan perimeter luar menuju persiapan badai besar berskala penuh yang akan segera meledak menghancurkan kedamaian semu sang tiran posesif.