Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.
Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.
Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.
Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.
Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Dinginnya lantai semen dan aroma lembap yang menyeruak dari sudut sel tahanan tak mampu mendinginkan kepala Billy Davidson.
Mengenakan kemeja oranye bertuliskan tahanan kepolisian Los Angeles, pengusaha muda yang dulunya dipuja-puja di berbagai sampul majalah bisnis itu kini duduk di atas kursi besi yang keras.
Kedua pergelangan tangannya terbelenggu borgol, menyatu dengan meja kayu tebal di dalam ruang interogasi bernuansa kelabu.
Di hadapannya, dua orang detektif senior dari Kepolisian Los Angeles (LAPD) duduk menatapnya dengan raut wajah dingin dan menghakimi. Di atas meja, sebuah alat perekam suara digital berkedip merah, sementara map tebal berisi foto-foto bukti KDRT serta hasil visum fisik Lara terhampar terbuka secara nyata.
Foto-foto itu menampilkan kondisi Lara yang mengerikan: lebam kebiruan di pipi, tulang pipi yang retak, bekas cengkeraman memar di tenggorokan, hingga bercak darah yang mengering di gaunnya. Bukti visual yang tidak akan pernah bisa dibantah oleh pengacara mahal mana pun di kota ini.
"Mr. Davidson," ucap Detektif Miller, pria paruh baya bertubuh tegap, sembari mengetukkan pena di atas meja. "Bukti fisik, kesaksian tim medis, serta puluhan dokumentasi foto dari puluhan media yang mengambil gambar Anda saat tiba di rumah sakit sudah lebih dari cukup untuk menyeret Anda ke jeruji besi atas tuduhan penganiayaan berat yang direncanakan. Apa ada yang ingin Anda sampaikan sebelum berkas ini kami limpahkan penuh ke kejaksaan?"
Billy mendongak perlahan. Matanya merah, berurat, dan dikelilingi lingkaran hitam yang dalam akibat kurang tidur dan tekanan depresi yang menghantamnya sejak semalam. Wajah tampannya yang dulu selalu klimis kini tampak berantakan dan liar.
Pria itu menarik napas panjang yang terdengar parau, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi besi.
"Aku menyesal..." gumam Billy, suaranya serak dan gemetar. Ia menundukkan kepala, memandangi borgol yang mengikat tangannya. "Demi Tuhan, aku sungguh menyesali apa yang terjadi malam itu. Aku tidak bermaksud membuatnya terluka sampai seperti itu."
Detektif Miller menaikkan sebelah alisnya, tidak sedikit pun tersentuh oleh nada penyesalan dari mulut pria di hadapannya. "Jika Anda tidak bermaksud melukainya, bagaimana Anda menjelaskan retak pada tulang rusuknya dan lebam bertubi-tubi di wajah serta perutnya?"
Billy mengepalkan tangannya yang terbelenggu, membuat rantai besi itu bergemerincing nyaring di ruang interogasi yang sepi.
Rasa bersalah yang sempat melintas di wajahnya mendadak bergeser, digantikan oleh dorongan ego dan pembelaan diri yang manipulatif—ciri khas seorang narsisis yang enggan disalahkan secara penuh atas kejahatannya sendiri.
"Kalian tidak mengerti!" pangkas Billy, suaranya mulai meninggi dengan nada emosional yang ketus. "Kalian hanya melihat hasilnya, tapi kalian tidak tahu apa yang membuatku kehilangan kendali seperti itu!"
Detektif wanita di samping Miller, Detektif Sanchez, bersedekap dan menatap Billy dengan dingin. "Kalau begitu, jelaskan pada kami, Mr. Davidson. Apa alasan logis yang membenarkan seorang suami memukuli istrinya hingga hampir tewas?"
Billy mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya bergerak-gerak liar saat ia berusaha menyusun narasi pembenaran di dalam kepalanya.
"Aku melakukan hal itu... karena aku ingin memastikannya!" bisik Billy dengan raut wajah penuh tekanan mental yang membabi buta. "Aku melakukan itu agar istriku tidak berpaling atau disentuh oleh pria lain lagi! Aku sangat mencintainya! Aku hanya ingin menjaga milikku!"
"Menjaga milik Anda dengan cara menghancurkan fisiknya?" sindir Detektif Sanchez tajam.
"Dia yang memancingku lebih dulu!" bentak Billy, matanya membelalak menatap kedua detektif itu seolah-olah dialah korban yang sebenarnya dalam tragedi ini. "Dia memprovokasiku! Selama tiga bulan terakhir... selama tiga bulan penuh, dia menolak kewajibannya sebagai seorang istri! Dia tidak bisa melayaniku dengan baik di atas ranjang! Selalu beralasan sakit, stres, menstruasi, atau tidak enak badan! Apakah wajar seorang suami diabaikan seperti itu di rumahnya sendiri?!"
Kedua detektif itu saling berpandangan sejenak. Detektif Miller hanya menggelengkan kepala pelan, mencatat kepribadian berbahaya yang dipancarkan oleh tersangka di hadapannya.
Billy terus mengoceh, mengungkit segalanya demi memosisikan dirinya sebagai pihak yang terdesak.
"Aku sudah bersabar! Aku memberinya rumah mewah, perhiasan, kehidupan yang layak! Tapi malam itu... malam itu dia secara terang-terangan membangkang. Dia mengatakan kalimat yang melecehkan harga diriku sebagai seorang suami. Dia bilang dia lebih memilih tidur dengan pria lain jika aku tidak menuruti kemauannya! Pria mana yang tidak akan gelap mata mendengar istrinya bicara seperti itu, hm?!"
"Namun kenyataannya, Anda yang lebih dulu berselingkuh dengan kakak ipar Anda sendiri, bukan?" potong Detektif Miller tanpa ragu, membuka lembaran laporan rahasia yang melampirkan foto-foto interaksi Billy dengan Catalina di luar rumah.
Wajah Billy seketika membeku. Warna kulitnya memucat, namun alih-alih merasa malu, tatapan matanya justru berubah menjadi semakin dingin dan beracun.
"Itu berbeda!" desis Billy dengan nada keras yang penuh penolakan. "Catalina hanya butuh bantuan dan perlindungan dariku setelah kematian kakakku! Aku tidak punya perasaan apa pun padanya! Tapi Lara... Lara dengan sengaja mengancamku dengan nama pria lain!"
"Pria lain yang Anda maksud... apakah Darion Vale Knight?" tanya Detektif Sanchez datar, menatap langsung ke dalam manik mata Billy.
Mendengar nama Darion Vale Knight disebut di dalam ruang interogasi itu, seluruh saraf di tubuh Billy Davidson seolah tersengat listrik bertegangan tinggi.
Buku-buku jarinya memutih karena kepalan tangannya yang teramat kuat. Rupanya, Pria Itu adalah Darion Vale knight? Luar biasa.
Pengacara brengsek, pria yang menyusun rencana jebakan pers di rumah sakit, dan pria yang kini secara resmi memimpin tim hukum untuk menghancurkan hidupnya.
"Sesi interogasi selesai," ucap Detektif Miller seraya mematikan alat perekam digital di meja. "Keterangan Anda sudah tercatat, Mr. Davidson. Anda akan dipindahkan ke tahanan kejaksaan sampai sidang perdana digelar."
Dua orang petugas polisi bertubuh tegap melangkah masuk ke dalam ruangan, memegang kedua bahu Billy dan memaksanya untuk berdiri dari kursi.
Saat tubuhnya ditarik keluar dari ruang interogasi menuju lorong tahanan yang gelap dan dingin, dada Billy terasa sesak oleh dorongan amarah, kedengkian, dan rasa panas yang membakar seluruh organ dalamnya.
Benci, rasa terhina, dan kebencian atas kekalahannya menyatu menjadi racun kegilaan yang baru.
Langkah kaki Billy terseret di atas lantai semen. Di dalam keheningan lorong penjara yang bergema oleh dentang pintu-pintu besi yang terkunci, Billy mendongak. Matanya berkilat penuh dengan dendam yang teramat pekat.
Rasa panas di hatinya tidak padam oleh dinginnya sel penjara.
Justru, tembok-tembok beton ini memperkuat penyakit obsesinya. Ia tidak peduli jika reputasinya hancur, ia tidak peduli jika perusahaannya gulung tikar, dan ia sama sekali tidak peduli berapa tahun hukuman penjara yang harus ia jalani nanti.
Di bawah remang-remang lampu lorong tahanan, bibir Billy yang kering mengukir sebuah senyuman miring yang teramat mengerikan.
Sebuah sumpah mati terbisik pelan dari sela-sela giginya yang rapat—sebuah sumpah berdarah yang ia tunjukkan untuk pria yang telah merebut kembali jiwa istrinya.
"Kau pikir kau sudah menang, Darion...?" bisik Billy dengan suara Parau yang sarat akan kegilaan murni. "Kau boleh membawanya keluar dari rumahku... kau boleh merebutnya dariku untuk sementara waktu..."
Billy menghentikan langkahnya sejenak sebelum dorongan kasar petugas memaksanya melangkah lagi ke dalam sel besi. Matanya menatap lurus ke dalam kegelapan.
"Tapi aku bersumpah demi nyawaku sendiri..." desis Billy Davidson dengan nada dingin yang siap membunuh. "Suatu hari nanti... setelah aku keluar dari tempat hina ini... aku sendiri yang akan mencabut nyawamu dengan kedua tanganku, Darion. Aku akan membunuhmu, cinta pertama istriku... dan memastikan Lara menangis darah di atas mayatmu."
Pintu sel besi itu terbanting menutup dengan suara dentuman keras yang menggelegar—CTANG!—mengunci tubuh Billy di dalam kegelapan, namun membiarkan iblis dendam di dalam jiwanya tetap hidup dan mengintai dari balik bayangan.
jadi gemes nih baca nya thor
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄