NovelToon NovelToon
CINTA KANAYA

CINTA KANAYA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: ridwan jujun

"selamat pagi, yah, Bun." sapa Naya.
"pagi, sayang," balas lina Bunda naya.
" pagi,princess,"faizal ayah Naya, tersenyum ke arah putrinya.
"mau sarapan apa sayang."
"roti kacang, Bunda."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 10

Naya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 22:30 malam, tapi Keenan belum pulang juga dari kampus.

"Mas Keenan kenapa belum pulang juga?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Meskipun ini bukan kali pertamanya Keenan pulang larut malam, tapi Naya tetap khawatir dan menunggu Keenan datang, walaupun dirinya berkahir dengan ketiduran.

Naya menggigit ujung kukunya sambil berjalan mondar-mandir. Wajahnya terlihat sangat cemas.

Naya menatap makanan yang sudah tertata rapi diatas meja beberapa jam yang lalu. Dia menarik kursi terus menjatuhkan dirinya keatas nya dengan mata berkaca-kaca saat mengingat kejadian beberapa hari sebelumnya. kejadian yang tidak jauh dari keadaan sekarang. Dirinya menunggu sampai ketiduran dan makanan dingin tak tersentuh. Keenan berubah saat kejadian satu minggu yang lalu, dia berangkat sebelum Naya bangun dan pulang setelah Naya tertidur.

Meskipun Naya tidak melihat Keenan pulang, tapi dia sangat yakin kalo suaminya itu datang, karena dia selalu terbangun diatas tempat tidurnya di pagi hari.

Naya mendongakkan kepalanya menatap langit-langit dapurnya. Matanya mulai terasa panas, Naya yakin, sebentar lagi air matanya akan mengalir.

"Aku hanya minta 3 bulan, Mas." Naya menutup wajahnya dengan telapak tangan tangannya. "Hanya tiga bulan."

Naya meletakkan kepalanya diatas meja dengan tumpukan kedua tangannya. Matanya tertutup secara berlahan-lahan saat rasa ngantuk menyerang dirinya dan tak butuh waktu lama dia pun terlelap. Inilah akhir dari kecemasannya, yaitu tertidur.

Setelah beberapa menit kemudian, terdengar suara mobil Keenan memasuki parkiran rumah.

Tidak lama setelahnya pintu utama terbuka.

Krek ...

Keenan menatap sekelilingnya. "Entah dimana lagi dia tertidur."

Saat sampai diruang keluarga, Keenan tidak mendapatkan Naya.

"Pasti dia tertidur di dapur lagi." Keenan berjalan kearah dapur. Benar dugaannya. Naya tertidur dimeja makan. Inilah yang keenan dapatnya saat pulang. makanan dingin dan Naya tertidur.

Kepalanya menggeleng saat melihat seorang gadis sedang tertidur dengan nyenyak, tapi kali ini gadis itu nampak berbeda dengan malam-malam sebelumnya.

Senyuman Keenan terbit saat melihat rambut yang begitu indah terurai.

"Kenapa dia tidak memakai Jilbabnya?" tanyanya entah pada siapa.

Ini kali pertamanya melihat Naya tanpa hijab semenjak menikah. Rambut gadis itu sangat indah.

Tanpa Keenan sadari sudah berdiri di samping Naya yang masih tertidur pulas.

Keenan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Naya.

Lagi-lagi Keenan tersenyum saat melihat Naya tertidur seperti seorang bayi.

"Cantik dan lucu," pujinya. "Tapi, kenapa saya tidak bisa mencintainya?"

Keenan mengamati wajah Naya dengan sangat teliti, seakan-akan dia menyimpan di memori otaknya setiap sudut wajah Naya.

"Saya akan mewujudkan impian kamu, sebelum kita bercerai."

*****

"Naya?" bisik Keenan dengan lembut ditelinga Naya.

Dirinya sudah memutuskan untuk menjadi suami yang baik untuk Naya selama 3 bulan.

Keenan tersenyum saat melihat Naya semakin merapatkan matanya.

"Naya, bangun yuk, kita solat tahajud," Keenan kembali membangunkan Naya.

Naya membuka matanya secara berlahan-lahan saat mendengar suara Keenan lebih jelas.

"Naya?" panggil Keenan lagi.

Naya langsung membuka matanya, pandangan yang pertama kali dia lihat adalah Keenan yang tersenyum kearahnya.

"M–mas Keenan." Naya langsung bangun dari tidurnya. "Kenapa mas Keenan ada di kamar Naya?"

"Wudu, kita akan solat tahajud." Keenan mengacak-acak rambut Naya."

"S–solat bareng?"

"Iya."

"B–berdua?"

"Iya."

"Serius?"

"Cepat, saya tunggu." Keenan merentangkan sajadah untuknya dan Naya.

Keenan menengok kearah Naya yang masi terduduk diatas tempat tidur. "Kamu gak mau solat?"

"Mau!" tegas Naya. "Tungguin."

"Hmm."

Naya langsung berlari kearah kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah sampai dikamar mandi, matanya melotot saat melihat dirinya tidak memakai jilbab.

"astaghfirullah hal'adzim." Naya langsung menyentuh kepalanya tanpa hijab.

Naya menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin mas Keenan lia—" perkataan terpotong saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, Keenan menyentuh kepalanya.

"Naya?"

Naya langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Keenan memanggil namanya.

"I–iya mas!"

"Cepetan."

"Iya." Naya langsung mencuci mukanya dan menyikat giginya sebelum berwudhu.

"Bodoh amatlah, mas Keenan kan Suami Naya, jadi gak dosa," ucapnya sebelum keluar dari kamar mandi.

"Ini." Keenan langsung menyodorkan mukenah kearah Naya saat sudah sampai di samping Keenan.

"Makasih, mas." Dengan tersenyum, Naya menerima mukena yang disodorkan kepadanya.

"Kamu tau kan, niat solat tahajud?" tanya Keenan dengan iseng.

"Taulah, mas Keenan." Naya tertawa kecil. "Masa anak santri gak tau?"

Keenan mengangguk-angguk kepalanya.

Merekapun melaksanakan sholat tahajud bersama dimana Keenan sebagai imamnya.

Setelah beberapa saat kemudian, Keenan mengakhiri sholatnya dengan salam, berzikir dan berdoa diikuti oleh Naya yang ada di belakangnya.

Keenan tersenyum saat menengok kearah Naya yang sedang menatapnya.

"Salim?" Keenan mengulurkan tangannya ke hadapan Naya

Naya nampak kaku menyambut tangan Keenan. Ini kali pertamanya Naya merasakan bahagia selama menjadi istri Keenan. Naya merasakan sebuah kupu-kupu berterbangan didalam perutnya.

Tiba-tiba Keenan mendaratkan ciumannya kearah kening Naya. Naya hanya bisa mematung saat bedah kenyal itu menyentuh keningnya.

"M–mas Keena—"

"mau ngaji bareng?" tanya Keenan. "Sambil nunggu waktu subuh."

Dengan malu-malu, Naya menganggukkan kepalanya. "Mau."

"Ambil Al-Qur'an nya." ucap Keenan

Naya menatap kearah Keenan. "Tapi, Naya belum lancar baca ngaji nya, mas."

Keenan lagi-lagi tersenyum. "Tidak masalah, nanti aku ajarin."

Dengan semangat, Naya mengambil Al-Qur'an yang terletak diatas nakas.

Merekapun mengisi waktunya dengan mengaji sebelum masuk waktu subuh.

Keenan mendengarkan bacaan Al-Qur'an Naya, jika ada yang kurang tepat, maka dia membenarkan.

"Kamu harus lebih banyak belajar lagi, masih banyak huruf-huruf yang harus kamu perbaiki cara penyebutannya," tutur Keenan saat Naya menyelesaikana bacaannya.

"In syaa Allah, mas Keenan." Naya tersenyum. "Mas Keenan solat di mesjid atau di rumah?"

"Di rumah aja," jawab Keenan.

Naya menganggukkan kepalanya.

Tak berselang lama, suara azan pun berkumandang dengan merdu.

Naya menatap Keenan dengan serius. Laki-laki selalu tampan dimatanya. Cintanya lebih besar daripada rasa sakit yang dia dapatkan.

Bibirnya tersenyum saat mengingat paginya diawali dengan kebaikan.

Saat ini dirinya ingin egois, tapi dia sadar diri, kalo Keenan tidak mencintainya.

****

"Selamat pagi?" sapa keenan saat melihat istrinya sedang membuat sarapan. Ini adalah kali pertamanya dia melihat Naya secara langsung memasak di dapur.

Naya menengok kearah Keenan yang sudah berdiri disampingnya dengan pakaian santai. "Pagi juga, Mas Keenan."

"Lagi buat apa?" tanya Keenan.

"Nasi goreng. Mas Keenan suka kan nasi goreng ?" tanya Naya dengan cemas. Jangan sampai mas keenan tidak menyukai nasi goreng.

"Alhamdulillah, suka." Keenan tersenyum.

"Alhamdulillah, Mas keenan duduk aja di kursi, nanti Naya sajikan dulu."

"Oke." Keenan menuruti perkataan Naya yang memintanya untuk duduk di kursi.

Setelah beberapa menit, Naya meletakkan piring yang berisi nasi goreng kearah Keenan. "Semoga mas Keenan suka."

"Kelihatannya sangat enak," ujar Keenan. "Bismillah."

Keenan langsung menengok kearah Naya saat satu suapan pertama masuk kedalam mulutnya yang sedang duduk didepannya dengan tatapan was-was.

"Bagaimana mas?" tanya Naya.

"Hmmm, Alhamdulillah enak." Keenan tersenyum sebelum melanjutkan sarapannya.

"Alhamdulillah," Naya menghela nafas dengan lega.

****

Keenan mengetuk pinta kamar Naya yang sudah tertutup rapat.

Tok

Tok

Tok

"Naya?"

"Iya, Mas." Naya membuka pintu kamarnya saat mendengar ketukan dari luar dan disusul suara Keenan yang menyebut namanya.

Krek ....

Keenan tersenyum saat melihat Naya membuka pintu tanpa memakai hijabnya.

Naya sudah memutuskan kalo dia tidak akan memakai jilbab dihadapan Keenan. Makanya dia tidak memakai Jilbabnya saat didalam rumah.

"Ini untukmu, Aku pikir, kamu akan membutuhkan." Keenan menyodorkan sebuah kresek hitam kepada Naya.

Naya menerimanya dengan bibir tersenyum. "Ini apa mas?"

"Buku." ucap Naya saat sudah melihat isi kresek hitam tersebut.

Keenan menganggukkan kepalanya. "Tadik, aku ke toko buku, tidak sengaja liat itu dan kepikiran kamu, jadi aku beli. Siapa tau kamu suka."

"Terimakasih, Mas Keenan." Tanpa sadar Naya memeluk Keenan dan ini kali pertamanya dia memeluk suaminya.

Keenan yang mendapat serangan tiba-tiba hanya bisa mematung.

"I–iya, sama-sama," ucapnya kaku.

"Heh." Naya langsung melepaskan pelukannya saat menyadari posisinya. "Maaf mas Keenan, Naya gak sengaja."

"Gak masalah." Keenan menyentuh belaka lehernya. "Kalo gitu, saya keatas dulu. Kamu jangan begadang."

"Ya, Mas. Good night."

"Too."

Naya menutup pintu kamarnya dengan hati berbunga-bunga. Ini adalah hadiah pertamanya dari keenan, barang pertama yang Keenan berikan untuknya.

Naya mendekap erat kedalam dadanya kresek hitam tersebut dengan bahagia. Siapa yang tidak bahagia, jika seseorang yang kita cintai memberikan sebuah hadiah. Hadiah yang pertama.

Naya duduk di kursi tempatnya sering mengerjakan sesuatu, entah itu menulis atau membaca.

"Menjadi wanita Sholehah." Mata Naya berkaca-kaca saat membaca buku yang keenan belikan untuknya.

"Mas Keenan udah tidur belum iy?" tanyanya.

Dia ingin mengucapkan terimakasih pada suaminya itu, karena sudah memberinya buku.

"Samperin ajalah." Naya keluar dari kamarnya untuk menemui Keenan.

Dengan ragu-ragu Naya ingin mengetuk pintu kamar Keenan saat sudah sampai.

"Ketuk, tidak, ketuk, tidak, ketuk, tida—" perkataan terpotong saat mendengar suara seseorang dari ruangan sebelah kamar Keenan.

"Itukan suaranya mas Keenan." Naya berjalan kearah pintu kamar tersebut dengan hati-hati.

"Mas Keenan lagi ngomong sama siapa?"

Naya mengintip lewat pintu yang terbuka sedikit. Dia dapat melihat punggung Keenan yang membelakangi pintu.

Naya ingin masuk, tapi niatnya terhenti saat mendengar perkataan Keenan.

"Kamu yang sabar, ini cuman 3 bulan kok, aku janji, setelah tiga bulan aku akan menceraikan dia."

Senyuman yang sedari tadi menghiasi bibirnya seketika hilang saat mendengar perkataan Keenan.

"Mas Keenan," ucapnya lirih sebelum meninggalkan tempat itu.

1
bunda syifa
cobaan kiyai Ibrahim ada d anak nya, seorang kiyai punya dua putra gc ada yg bener
Muawanah
lanjut kak.....
Muawanah
ko sering ngulang y....???
Muawanah
🤣🤣🤣🤣Kenan dah bucin akut😁😁😁😁🤭
Muawanah
hedeeeh....cinta membuat orang bisa berbuat apapun....😁😁😁🤭
Muawanah
nyesek banget....
Muawanah
dah aku ksh vote nieh kak 😊
Muawanah
asli bcnya mewek kak....
masih bnyk teka teki ...🤔🤔🤔🤔
Muawanah
wuih nyesek g tuh Naya....😔
Muawanah
aku mampir nieh kak 😊
Abdul Razak Al Maliki
seru lanjut thor
Abdul Razak Al Maliki
loh kenapa? jangan2 sudah nikah Arkan ea
Noni hartati
nah itu baik boleh. tp kitanya jg harus melihat siapa yg boleh kita baiki
Noni hartati
Astagfirullah kena syndrom "kamu nenye"
Endang 💖
tambah lagi thor
ridwan jujun
udah up tuh ka
Endang 💖
kok blm up lg thor nungguin ne kelanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!