NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 — ORANG YANG MASIH BERADA DI ISTANA

Malam di Paviliun Barat terasa begitu panjang dan dingin. Suara embak angin yang berhembus menembus celah-celah kosen jendela batu berderit pelan, seirama dengan detak jantung Alena yang tak kunjung teratur.

Di atas tempat tidur, Elian sudah terlelap dalam tidurnya yang nyenyak. Selimut tebal membungkus tubuh mungilnya, dan pendar redup dari lampu minyak di sudut kamar membiaskan bayangan lembut pada wajah polos anak itu.

Namun, Alena tidak bisa memejamkan mata sedikit pun.

Ia duduk bersandar pada sandaran kursi kayu di sudut ruangan, memeluk kedua lututnya sendiri. Pikirannya terus berputar liar, menyusuri kembali setiap kata, setiap tatapan, dan setiap desisan napas parau dari Duke Rowan sebelum pria tua itu menghilang kembali ke balik pintu rahasia Menara Selatan.

“Orang yang melakukan itu... masih berada di istana.”

Kalimat itu terngiang berulang kali di benak Alena bagai gema belati yang beradu dengan batu.

Ketika Alena bertanya siapa sosok tersebut, Rowan menolak menyebutkan nama. Pria tua itu hanya menggelengkan kepala lemah seraya berbisik bahwa kebenaran di Istana Valerian harus digali seperti mengurai benang kusut yang beracun—satu helaian salah ditarik, maka seluruh rahasia akan meledak dan membunuh semua orang di sekitarnya.

Siapa? batin Alena menjerit dalam keheningan kamar yang menyiksa.

Siapa orang berkuasa tujuh tahun lalu yang begitu licik mencegat surat jujurnya kepada Adrian? Siapa orang yang memerintahkan Rowan untuk mengancamnya dengan tuduhan pengkhianatan dan hukuman mati? Dan yang paling mengerikan... siapa orang yang mengirimkan surat teror misterius berbunyi “Aku tahu apa yang terjadi tujuh tahun lalu” ke piring peraknya dua hari lalu?

Alena memejamkan matanya rapat-rapat, meremas kain gaun hijaunya.

Kini, setiap sosok yang ia temui di istana mendadak berubah menjadi monster dengan topeng keramahan.

Apakah itu Ratu Eleanor? Wanita yang membawanya kembali ke istana dengan dalih perlindungan, namun secara sepihak memaksanya menjadi selir?

Apakah itu Raja Cedric? Penguasa kaku yang tak pernah ragu menyingkirkan siapa pun yang mengancam kehormatan takhta?

Atau justru Lord Vincent? Anggota dewan culas yang secara terbuka memojokkannya di hadapan para bangsawan saat jamuan kerajaan?

Atau mungkin seseorang yang jauh lebih dekat... seseorang yang selama ini pura-pura menjadi sekutu di balik bayangan?

Rasa curiga yang pekat merayap di dalam dadanya bagai racun yang perlahan membakar akal sehatnya. Istana Valerian bukan lagi sekadar tempat yang menyimpan kenangan cintanya yang hancur bersama Adrian; tempat ini adalah arena eksekusi tak kasat mata tempat ia dan Elian berdiri sebagai sasaran utama.

Sementara itu, di Kediaman Putra Mahkota, suasana tak kalah mencekam.

Pangeran Adrian berdiri di dekat meja kerjanya yang tertimbun laporan strategi militer. Di hadapannya, Gareth berdiri tegak, mendengarkan laporan terbaru mengenai pergerakan para pelayan dan pengawal di sekitar Paviliun Barat.

"Ada yang tidak beres dengan Alena, Yang Mulia," ulas Gareth dengan suara rendah. "Dua prajurit pengintai kita yang berjaga di koridor luar melaporkan bahwa Lady Alena tampak sangat cemas sejak kemarin petang. Dia secara berkala memeriksa kunci pintu rahasia di ruang duduknya dan menolak keluar kamar bahkan untuk sekadar berjalan-jalan di taman."

Adrian menyipitkan matanya. Tangan tegapnya menggenggam erat gagang pedang di pinggangnya.

"Apakah ada orang asing yang mencoba mendekati kamarnya?" tanya Adrian, suaranya dipenuhi ketegangan yang berbahaya.

"Tidak ada, Pangeran. Jaringan pengawal kita mengawasi setiap sudut lorong utama. Tidak ada pelayan keluarga Ardent atau utusan dewan yang melintas," jawab Gareth. "Namun... ketakutan di wajah Lady Alena tidak tampak seperti ketakutan pada kita atau pada rumor istana."

Adrian menunduk sedikit, tatapan mata abu-abu pekatnya menajam.

Pria itu mengingat kembali ekspresi Alena saat mereka bertengkar di kamar malam sebelumnya. Saat ia menanyakan alasan kepergiannya tujuh tahun lalu, Alena tidak menatapnya dengan kebencian seorang wanita yang melupakan cinta. Wanita itu menatapnya dengan ketakutan murni—sebuah ketakutan luar biasa dari seseorang yang merasa sedang diawasi oleh bahaya yang teramat dekat.

Alena sedang menyembunyikan sesuatu, batin Adrian dengan kepastian mutlak.

Bukan sekadar kebenaran bahwa Elian adalah anak mereka. Alena sedang menyembunyikan sebuah rahasia yang jauh lebih besar, sebuah ancaman nyata yang membuatnya memilih untuk terus berbohong dan menanggung kebencian daripada mengungkapkan kebenaran.

Adrian melangkah mendekati jendela batu yang menghadap ke arah Paviliun Barat. Cahaya bulan purnama memantulkan pendar perak pada rahang tegasnya yang mengeras.

"Dia tidak hanya melarikan diri dari hukum kerajaan tujuh tahun lalu, Gareth," bisik Adrian, suaranya bergema dengan dingin dan ikrar yang tak tergoyahkan. "Dia melarikan diri dari seseorang. Dan orang itu... masih ada di dalam dinding istana ini."

"Apakah Anda ingin saya memeriksa kembali daftar pejabat yang memegang akses kunci rahasia Menara Selatan, Pangeran?" tanya Gareth.

"Periksa semuanya," tegas Adrian. "Setiap menteri, setiap pengawal senior, dan setiap pelayan yang berada di istana ini tujuh tahun lalu. Cari tahu siapa yang berkomunikasi dengan Alena sebelum dia pergi."

Adrian mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas pembatas batu jendela. Kebenaran darah Elian telah berada di tangannya, namun ia tahu, sebelum ia bisa mengklaim anak itu dan membawa Alena kembali ke sisiku secara resmi, ia harus membongkar bayangan yang telah meracuni hidup mereka selama tujuh tahun ini.

Di bawah naungan langit malam Aveloria yang dingin, dua pertempuran tersembunyi bergolak di dalam Istana Valerian: Alena yang tenggelam dalam paranoia mencari musuh di dalam selimut, dan Adrian yang bersiap melancarkan perang terbuka untuk menghancurkan siapa pun yang berani mengancam keluarga kecilnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!