Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang Hanya Untuk di Rendahkan
Begitu masuk ke dalam rumah, Ainun langsung berjalan menuju ruang tamu.
Langkahnya melambat ketika tiba di depan sofa.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu menurunkan tubuhnya dengan hati-hati.
‘Sekarang aku nggak boleh sembarangan bergerak.’
Belum sempat ia mengistirahatkan tubuhnya lebih lama, suara langkah kaki terdengar dari arah dapur.
“Mbak Ainun?”
Ainun menoleh.
Bibi Ani berjalan menghampirinya sambil membawa lap tangan di bahu.
“Kok baru pulang, Mbak?” tanyanya dengan nada khawatir.
Ainun memaksakan senyum tipis.
“Iya, Bi.” Ia mengangguk pelan. “Seperti biasanya, tadi ada sedikit urusan.”
“Ya ampun, Mbak.” Bibi Ani menggeleng pelan. “Tadi pagi Pak Sagara sempat mencari Mbak Ainun.”
Kening Ainun langsung berkerut.
“Mas Sagara mencari ku?” tanyanya heran. “Untuk apa?”
Bibi Ani mengangkat bahu. “Bibi juga nggak tahu, Mbak.”
Ainun menundukkan kepala. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyum pahit.
“Pasti mau menyiksaku lagi,” gumamnya lirih.
Bibi Ani terdiam.
“Selain itu, apa lagi alasannya?” lanjut Ainun dengan suara pelan. “Hanya karena aku menggantikan posisi Mbak Liona untuk sementara, beliau selalu menganggap aku sumber semua masalah.”
Kelopak matanya mulai terasa panas.
“Padahal...” suaranya bergetar. “Aku juga nggak pernah menginginkan pernikahan ini.”
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Ainun segera mengusapnya dengan punggung tangan.
“Aku nggak salah. Kalau memang ada yang harus disalahkan... seharusnya bukan aku.”
Ruangan kembali hening.
Ainun memejamkan mata sesaat, lalu menarik napas dalam-dalam.
Perlahan, ia kembali membuka mata.
“Gak apa-apa,” bisiknya lebih kepada dirinya sendiri.
“Sebentar lagi aku dan Mas Sagara akan berpisah.”
Perlahan, telapak tangannya kembali menyentuh perutnya. Senyum kecil kali ini benar-benar muncul di wajahnya.
‘Setelah itu... aku akan hidup tenang bersama anakku.’
Harapan sederhana itu membuat matanya kembali menghangat. Lalu berdiri dari sofa.
“Bi,” panggilnya lembut.
“Iya, Mbak?”
“Aku mau ke kamar dulu.” Ainun merapikan tali tas di bahunya. “Nanti malam aku mau ke rumah Bapak dan Ibu. Jadi masaklah untuk Mas Sagara kalau beliau pulang.”
Bibi Ani mengangguk pelan.
“Kalau Pak Sagara pulang dan beliau mencari Mbak Ainun, gimana?”
Ainun terdiam sejenak.
“Kalau beliau bertanya...” ucapnya lirih, “bilang saja aku ada di kamar.”
Ia tersenyum hambar.
‘Toh beliau juga nggak akan peduli aku ada di mana.’
Tatapannya perlahan meredup.
‘Mau aku diculik... atau bahkan mati sekalipun... mungkin beliau juga nggak akan mencari ku.’
“Mbak...” Bibi Ani memanggil dengan wajah iba.
Namun, Ainun menggeleng pelan.
“Sudah ya, Bi,” sela Ainun sambil memaksakan senyum. “Aku nggak apa-apa.”
Tanpa memberi kesempatan Bibi Ani mengatakan apa pun lagi, Ainun berbalik.
Langkahnya perlahan menuju kamar yang terletak di dekat dapur.
Jemarinya menggenggam tali tas erat-erat.
‘Sekarang... yang harus kupikirkan bukan hanya diriku.’
‘Ada anakku yang harus ku lindungi.’
Sementara itu, di kantor Dirgantara Group.
Sagara duduk tenang di balik meja kerjanya.
Tatapannya tertuju pada layar laptop yang menampilkan rekaman langsung dari sebuah ruangan di rumahnya.
Di layar itu, Ainun baru saja masuk ke dalam kamar. Sorot mata Sagara tak lepas dari sosok wanita itu.
Namun saat wanita itu melepas pakaiannya...
Tok... tok...
“Pak, saya...”
Suara dari balik pintu membuat rahang Sagara mengeras.
‘Mengganggu saja.’
Tanpa membuang waktu, ia segera menutup layar laptopnya hingga monitor itu berubah gelap.
“Masuk.”
Seorang karyawan melangkah masuk sambil membawa map.
Sagara mengangkat pandangan.
“Hm, ada apa?”
“Pak, Perusahaan X ingin menambah pemesanan bahan baku. Mereka meminta lima ton.”
Sagara menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Iyakan saja.”
Karyawan itu tampak ragu.
“Anda yakin, Pak? Lima ton bukan jumlah yang sedikit. Kita harus mempertimbangkan stok....”
Sagara memotong ucapannya.
“Selama mereka berani membayar dengan harga yang saya tetapkan, untuk apa dipertimbangkan lagi?” Nada suaranya tetap datar.
“Keuntungan perusahaan tetap menjadi prioritas.”
Karyawan itu langsung mengangguk.
“Baik, Pak. Akan saya sampaikan kepada mereka.”
Belum sempat ia keluar, karyawan lain kembali membuka map yang dibawanya.
“Pak, mereka juga ingin memesan bahan kayu premium untuk pembuatan meja, kursi, dan berbagai karya seni. Mereka bilang siap membayar berapa pun.”
Sagara mengangkat dagunya sedikit.
“Atur saja.” Tatapannya tetap dingin. “Kalau mereka keberatan dengan harga yang kita berikan, batalkan kerja samanya.”
Ia berhenti sejenak.
“Lagi pula... tidak banyak perusahaan yang mampu menyediakan kayu berkualitas seperti Dirgantara Group.”
“Baik, Pak. Kami akan mengatur jadwal pertemuannya.”
Sagara mengangguk singkat. “Silakan lanjutkan pekerjaan kalian.”
“Baik, Pak. Saya permisi.”
Karyawan itu meninggalkan ruang kerja.
Pintu kembali tertutup.
Ruangan itu kembali sunyi. Sagara mengembuskan napas pelan. Jemarinya kembali menyentuh layar laptop yang tadi ditutup.
‘Sekarang tidak ada yang mengganggu.’
Namun, baru saja ia hendak membuka kembali layar laptopnya...
Tok... tok...
Ketukan lain kembali terdengar.
Sagara menepis udara.
‘Sial! Siapa lagi sih?’
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Liam melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak sedikit serius.
“Ada apa lagi?”
Liam berdiri tegak di depan meja.
“Pak,” ujarnya hati-hati, “tadi saya melihat Bu Ainun berada di taman saat saya sedang mengantar klien kita.”
Sagara mengangguk tipis. “Ya. Saya sudah tahu.”
Liam tampak ragu untuk melanjutkan. Namun, akhirnya ia tetap membuka suara.
“Tapi...”
Sagara mengangkat sebelah alisnya.
“Tapi apa?”
Liam menarik napas pelan. “Beliau sedang bersama seorang pria, Pak.”
Kalimat itu membuat tatapan Sagara perlahan berubah tajam.
“Seorang pria?” ulangnya pelan.
Jemarinya berhenti mengetuk meja. Sorot matanya mengunci wajah Liam tanpa berkedip.
“Siapa?” tanya Sagara dingin.
“Faizan, salah satu guru taman kanak-kanak, Pak. Dan setelah saya telusuri, beliau sudah menyukai Bu Ainun sejak pertama kali Bu Ainun bekerja di TK itu.”
Sagara diam, tatapannya tak lepas dari wajah Liam.
.
Senja perlahan tenggelam di balik cakrawala. Langit yang semula berwarna jingga berubah semakin gelap, berganti taburan cahaya lampu yang mulai menyala di sepanjang jalan.
Kesibukan kota perlahan mereda, digantikan suasana malam yang terasa lebih tenang.
Setelah berganti pakaian dan beristirahat sejenak di rumah, Ainun akhirnya memutuskan berangkat memenuhi pesan ibunya.
Meski langkahnya terasa berat, ia tetap pergi.
Beberapa puluh menit kemudian, ia tiba di depan rumah yang telah lama dikenalnya.
Ainun melangkah pelan menuju teras.
Malam itu, ia datang seorang diri tanpa Sagara di sisinya.
Langkahnya berhenti tepat di depan pintu. Ia mengangkat tangan, berniat mengetuk.
Namun, belum sempat buku-buku jarinya menyentuh daun pintu, pintu itu telah terbuka lebih dulu.
“Bu—"”
Ucapan Ainun terputus.
Tatapan ibunya sama sekali tidak tertuju kepadanya. Wanita itu justru sibuk melihat ke arah halaman, seolah mencari seseorang.
“Mana calon suami Mbakmu?” tanyanya tanpa basa-basi. “Kenapa kamu nggak datang sama dia?”
Ainun menarik napas pelan sebelum menjawab.
“Mas Sagara lagi sibuk, Bu. Beliau nggak sempat datang.”
Raut wajah ibunya langsung berubah masam.
“Ya dirayu, dong! Gimana sih kamu?”
Kening Ainun berkerut.
“Dirayu bagaimana, Bu?” tanyanya pelan.
Ibunya mendengus.
“Loh, kamu kan pintar merayu laki-laki. Suami Mbakmu saja bisa kamu nikahi.”
Kalimat itu menghantam dada Ainun begitu keras. Jemarinya perlahan mengepal di balik tas yang digenggamnya.
“Apa, Bu?“ Suaranya bergetar tipis. “Ibu lupa? Aku menikah dengan Mas Sagara karena Mbak Liona memilih mengejar kariernya sebagai model.”
“Jangan salahkan Mbakmu!” potong sang ibu dengan nada tinggi. “Hidup Mbakmu jelas. Masa depannya cerah. Kalau kariernya sukses, kami sebagai orang tua juga ikut bangga.”
Tatapan wanita itu kemudian turun menatap Ainun dari ujung kepala hingga kaki.
“Kalau kamu?” lanjutnya dingin. “Cuma guru taman kanak-kanak. Apa yang bisa dibanggakan?”
Napas Ainun tercekat.
Namun, ia memilih memejamkan mata sesaat, berusaha menelan semua rasa sakit yang kembali ditorehkan ibunya.
‘Jangan menangis...’
Perlahan ia membuka mata.
“Ainun nggak pernah ingin jadi seseorang yang harus dibanggakan secara berlebihan, Bu,” ucapnya lirih. “Ainun hanya ingin menjalani hidup dengan baik.”
Ibunya justru mengibaskan tangan.
“Kalau Sagara nggak datang, makan malam ini batal. Lebih baik kamu pulang saja.”
Ucapan itu membuat bibir Ainun bergetar.
Ia telah datang dengan tubuh yang masih lelah, bahkan sejak siang pikirannya terus dihantui kabar tentang kehamilannya.
Namun, yang diterimanya justru penolakan.
“Bu...” Suaranya melemah. “Ainun ke sini capek sekali.”
Matanya mulai memanas.
“Tolong... hargai Ainun sebagai anak Ibu dan Bapak.”
Keheningan menyelimuti teras selama beberapa detik.
Ibunya akhirnya mengembuskan napas kasar.
“Ya sudah. Buruan masuk.”
Sudut bibir Ainun terangkat membentuk senyum tipis yang terasa pahit.
“Terima kasih, Bu.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah melewati ibunya.
Begitu memasuki rumah, aroma masakan langsung menyambut penciumannya.
Namun, kehangatan yang seharusnya hadir dalam rumah itu tetap tidak mampu ia rasakan.
Ainun terus melangkah menuju ruang makan.
Sementara satu tangannya tanpa sadar menyentuh perut yang masih rata.
‘Tenang ya, Nak... Ibu akan kuat.’
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪