Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Paviliun Kehormatan dan Harga Sebuah Nyawa
Gedung Darah tidak dibangun di atas tanah, melainkan menggantung terbalik di langit-langit sebuah gua bawah tanah raksasa di pusat Kota Qilin Hitam. Struktur itu terbuat dari batu obsidian merah yang seolah meneteskan darah, diterangi oleh ribuan obor api hijau yang memancarkan hawa dingin menusuk tulang.
Nyonya Hua berjalan di depan dengan langkah yang kaku, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya api hijau. Ia tidak berani memainkan trik apa pun. Leher wanita itu masih membekas hitam akibat sentuhan qi Lin Tian, sebuah pengingat fisik bahwa nyawanya kini tidak lebih berharga dari seekor semut di tangan pemuda berjubah abu-abu ini.
"Di dalam sana, aturan lelang mutlak. Dilarang membunuh di dalam aula utama," bisik Nyonya Hua dengan suara bergetar saat mereka mendekati pintu gerbang perunggu yang dijaga oleh dua raksasa bertopeng iblis. "Jika Anda ingin membunuh Zhao Yan, Anda harus memancingnya keluar ke arena duel di ruang bawah tanah, atau... menghabisinya secara diam-diam di Paviliun Kehormatan."
Lin Tian tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu perunggu yang perlahan terbuka, membiarkan suara hiruk-pikuk dan bau amis darah mengalir keluar.
Aula utama Gedung Darah berbentuk seperti arena koloseum raksasa. Ratusan kultivator dengan aura gelap dan sesat duduk di bangku-bangku batu, menatap panggung di tengah dengan mata penuh keserakahan. Di atas panggung, seorang juru lelang bertubuh kurus dengan mata tertutup kain perban sedang memamerkan sebuah kandang besi berisi gadis muda yang merintih.
Lin Tian mengabaikan pemandangan menjijikkan itu. Indra spiritualnya menyapu seluruh aula, menembus dinding-dinding kayu dan formasi penyamaran, mencari aura yang telah ia hafal hingga ke dalam mimpi buruknya.
Di sana.
Di tingkat kedua, terdapat lima Paviliun Kehormatan yang dilindungi oleh formasi isolasi. Di paviliun paling ujung kanan, duduk seorang pria paruh baya dengan jubah hitam bermotif awan gelap. Wajahnya tajam, matanya kejam, dan aura Pondasi Awal Puncak menguar darinya tanpa sembunyi-sembunyi. Di sekelilingnya berdiri empat pengawal berjaga dengan pedang di punggung.
Zhao Yan. Eksekutor pembantaian Kota Qingshui. Pria yang memenggal kepala pelayan setia Mo Cang dan membiarkan anak buahnya membantai keluarga Lin.
Darah di dalam tubuh Lin Tian mendidih, merespons kehadiran musuh bebuyutannya. Lautan qi hitam keemasan di dantiannya berputar liar, namun dengan paksa ia menekannya, menyembunyikan niat membunuhnya di balik wajah yang sedingin es.
"Tuan Zhao berada di Paviliun Kehormatan nomor empat," lapor Nyonya Hua pelan. "Saya bisa membawa Anda masuk ke paviliun kosong di sebelahnya menggunakan wewenang saya sebagai pengurus Perkumpulan Dagang Gerhana."
Lin Tian mengangguk pelan. "Lakukan."
Mereka menaiki tangga spiral dan masuk ke Paviliun Kehormatan nomor lima, yang dipisahkan dari paviliun Zhao Yan hanya oleh sebuah dinding kayu tipis dan formasi kedap suara. Dari balik tirai sutra, Lin Tian bisa melihat jelas sosok Zhao Yan yang sedang minum anggur merah dengan santai.
Tiba-tiba, suara gong bergema keras dari panggung utama. Juru lelang menyingkirkan kandang besi dan mengangkat sebuah peti giok putih yang memancarkan hawa dingin yang luar biasa.
"Para tuan dan nyonya, tibalah kita pada barang utama malam ini," suara juru lelang terdengar melengking dan menggema ke seluruh gua. "Sumur Darah Yin!"
Peti giok itu dibuka. Di dalamnya terdapat sebuah wadah batu berbentuk miniatur sumur, berisi cairan merah pekat yang seolah hidup, berputar-putar dan memancarkan gelombang kesedihan serta dendam yang pekat.
Saat melihat cairan itu, pupil mata Lin Tian menyusut. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena resonansi darah. Cairan merah di dalam sumur miniatur itu bukan darah biasa. Itu adalah sari pati darah leluhur Keluarga Lin yang telah dimurnikan dan dikutuk! Darah dagingnya sendiri yang diperas untuk memberi makan formasi sesat Istana Langit Hitam.
"Sumur Darah Yin ini ditemukan di reruntuhan Kota Qingshui, mengandung esensi dari keturunan Penjaga Kunci kuno. Sangat berguna bagi para kultivator yang mempraktikkan teknik darah atau ingin menembus ranah Inti Emas dengan jalan pintas!" seru juru lelang. "Harga dasar, seratus ribu batu roh tingkat menengah. Setiap kenaikan minimal sepuluh ribu!"
Aula langsung gaduh. Banyak kultivator sesat yang meneteskan air liur, namun ketika mereka melihat ke arah Paviliun Kehormatan nomor empat, mereka langsung menelan ludah dan menahan diri.
Zhao Yan meletakkan cawan anggurnya, lalu berbicara dengan nada malas namun menggetarkan seluruh aula. "Dua ratus ribu."
Hening. Tidak ada satu pun orang yang berani menawar. Menawar barang yang diinginkan oleh Istana Langit Hitam sama saja dengan menulis surat wasiat sendiri.
Juru lelang tersenyum lebar. "Dua ratus ribu dari Tuan Zhao! Apakah ada yang—"
"Lima ratus ribu."
Suara datar dan dingin tiba-tiba memotong kata-kata juru lelang. Suara itu tidak berasal dari aula bawah, melainkan dari Paviliun Kehormatan nomor lima. Tirai sutra tersingkap, menampakkan sosok Lin Tian yang berdiri dengan tangan di belakang punggung.
Seluruh Gedung Darah terkesiap. Ratusan pasang mata menatap paviliun itu dengan tatapan tidak percaya, seolah sedang melihat orang gila yang baru saja menantang dewa kematian.
Di paviliun sebelah, Zhao Yan menyipitkan matanya. Ia menoleh menatap pemuda berjubah abu-abu yang tidak ia kenal. "Bocah ingusan, kau tidak tahu siapa yang sedang kau lawan? Istana Langit Hitam tidak suka berbagi mainan."
Zhao Yan mengangkat tangan, memberi isyarat pada pengawalnya. "Tiga ratus ribu. Dan potong lidah bocah itu untukku."
"Satu juta," balas Lin Tian tanpa ragu, suaranya kini diperkuat oleh qi hingga bergema seperti petir di dalam gua. "Dan aku tidak membayar dengan batu roh."
Zhao Yan tertawa meremehkan. "Lalu kau mau membayar dengan apa? Kepalamu?"
Lin Tian menatap lurus ke dalam mata Zhao Yan. Perlahan, ia memasukkan tangannya ke dalam saku jubahnya, lalu melemparkan sebuah benda menembus formasi pembatas di antara kedua paviliun. Benda itu jatuh berdenting tepat di depan meja Zhao Yan, menggulingkan cawan anggur sang eksekutor.
Itu adalah sebuah kepala yang sudah mengering. Kepala milik Jin Wuya, Tetua Agung Sekte Pedang Perak.
Wajah Zhao Yan yang arogan seketika membeku. Matanya membelalak ngeri, menatap kepala rekan konspiratornya yang seharusnya sedang menikmati kekuatan Inti Emas di puncak gunung.
"Aku membayar dengan nyawa anjing peliharaanmu, dan dengan ini," Lin Tian melanjutkan, mengeluarkan Token Besi Hitam dan melemparkannya ke lantai di depan Zhao Yan. "Utang darah di Kota Qingshui, Zhao Yan. Malam ini, aku datang untuk menagih kepalamu."
Pertemuan kembali antara pemburu dan mangsa telah usai. Malam ini, Gedung Darah akan membutuhkan nama baru, karena darah sang eksekutor akan segera membasahi lantai batu obsidiannya.