NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Langkah kaki Alya terasa begitu ringan saat menyusuri koridor menuju kelasnya kembali. Lorong sekolah yang biasanya terasa dingin dan penuh tekanan, kini seolah berubah menjadi tempat yang bersahabat. Di samping kanan dan kirinya, Adel dan Jesica masih saja senyam-senyum, sesekali menyenggol bahunya untuk menggoda kejadian canggung di kelas IPS 1 tadi. Namun, fokus Alya saat ini bukan lagi pada godaan teman-teman Devan, melainkan pada dompet kain kecil yang digenggamnya erat-erat.

Begitu sampai di bangkunya, Alya langsung duduk dan mengeluarkan seluruh uang yang berhasil ia kumpulkan sejak pagi ini. Lembaran uang puluhan ribu dari teman-teman sekelasnya, ditambah uang pas dari Devan, kini menumpuk rapi di atas meja. Adel dan Jesica dengan sigap ikut membantu menghitung, menyusun lembaran-lembaran uang itu berdasarkan nominalnya agar lebih mudah dihitung.

"Empat puluh... enam puluh... seratus... dua ratus..." suara Adel berbisik menghitung dengan teliti.

Ketika hitungan terakhir selesai, Jesica langsung menepuk tangannya pelan dengan mata berbinar. "Al! Pas banget! Bahkan ada sisa sedikit buat modal lo belanja bahan lagi nanti sore!"

Mendengar hal itu, Alya menghembuskan napas panjang yang sudah ia tahan sejak awal minggu ini. Dadanya mendadak terasa begitu lapang, seolah ada beban berukuran raksasa yang baru saja diangkat dari pundaknya. Rasa syukur yang teramat dalam membuncah di dalam hatinya. Akhirnya, air mata kecemasan yang sempat menetes di sudut matanya malam tadi kini berganti dengan senyuman kelegaan yang paling tulus. Perjuangannya memeras keringat di dapur tua bersama ibunya sama sekali tidak sia-sia. Ia berhasil membuktikan bahwa harga diri dan kegigihan mampu membukakan jalan di tengah impitan ekonomi.

"Ya udah, tunggu apa lagi? Yuk, langsung kita samperin Bu Ani sekarang sebelum bel masuk bunyi!" ajak Adel antusias.

Ketiga sahabat itu pun bergegas menuju ruang guru sejarah. Sesampainya di depan meja Bu Ani, Alya dengan sopan menyapa guru paruh baya tersebut dan menyerahkan amplop berisi uang pembayaran *study tour* miliknya.

Bu Ani menatap amplop itu, lalu beralih menatap Alya dengan senyuman hangat penuh apresiasi. Beliau tahu betul bagaimana Alya sempat ragu beberapa hari lalu. "Alhamdulillah, Alya. Nama kamu sudah Ibu centang lunas ya. Ibu bangga sama kamu, kamu anak yang bertanggung jawab."

"Terima kasih banyak, Bu," jawab Alya dengan membungkuk hormat.

Saat keluar dari ruang guru, Adel dan Jesica langsung memeluk Alya dengan erat di koridor. "Gue bangga banget sama lo, Al! Kegigihan lo bener-bener luar biasa. Lo gak perlu ngemis bantuan dari orang lain, lo bisa buktiin lewat jalur mandiri!" ucap Jesica dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena turut bahagia melihat keberhasilan sahabatnya.

Sementara itu, di pojok belakang kelas 11 IPS 1, suasana justru berbanding terbalik. Kehebohan besar tengah terjadi di meja Devan. Begitu Alya dan kedua sahabatnya menghilang di balik pintu kelas, Bima, Raka, dan Reno langsung bergerak gesit seperti serigala kelaparan, menyerbu dua kotak mika besar yang tergeletak di atas meja Devan.

"Wah, wangi pandan sama cokelatnya bener-bener mengundang iman dan takwa nih! Sini, gua mau cobain kue lumpurnya duluan!" seru Bima dengan tangan yang sudah menggantung di atas tutup mika.

*Plak!*

Sebuah tepukan keras mendarat di punggung tangan Bima. Devan dengan cepat menarik dua kotak mika besar itu ke dalam dekapan dadanya, menjauhkannya dari jangkauan jemari jahil teman-temannya. Ia menatap ketiga sahabatnya dengan pandangan posesif yang dibuat-buat, namun terselip nada serius.

"Eits, gak bisa! Enak aja lo pada main serobot," cetus Devan dengan senyum jahil yang langka menghiasi wajah tampannya. "Ini kue dibikin pakai peluh dan usaha keras. Jadi, aturan pertamanya: harus gua duluan yang mencicipi kue ini. Kalian ngantre di belakang."

Ketawa geng Devan langsung pecah seketika melihat tingkah bos mereka. Murid-murid IPS 1 yang berada di sekitar mereka pun ikut terkekeh melihat seorang Devan Narendra yang biasanya acuh tak acuh terhadap makanan apa pun, kini mendadak protektif hanya karena beberapa potong kue pasar.

"Gila, Bos kita bener-bener udah kena pelet Dapur Saras!" goda Raka sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa. "Awas posesifnya kelewatan, Dev! Itu kue jangan dipeluk terus, ntar penyok!"

Devan tidak memedulikan ejekan mereka. Dengan perlahan, ia membuka tutup mika Bolu Gulung Cokelat buatan Alya. Aroma pekat cokelat premium dan keharuman mentega langsung menguar, membuat Bima dan Reno refleks menelan ludah. Devan mengambil satu potong bolu gulung yang bertekstur padat namun tampak sangat empuk itu, lalu menggigitnya perlahan.

Seketika, kunyahan Devan terhenti. Matanya agak membelalak terkejut. Lidahnya memanjakan perpaduan rasa manis cokelat yang pas dengan kelembutan selai stroberi yang lumer di bagian tengah. Tekstur bolunya begitu lembut, sama sekali tidak seret di tenggorokan.

"Gimana, Dev? Enak gak? Muka lo kok kayak habis dapet pencerahan gitu?" tanya Reno penasaran.

Devan menelan kuenya perlahan, lalu menatap potongan bolu di tangannya dengan gelengan kepala takjub. "Gila... kue mal yang biasa dibeli nyokap gua aja kalah jauh ini mah. Rasanya beneran premium, gak bohong."

Mendengar testimoni langsung dari sang bos, Bima dan Raka sudah tidak bisa menahan diri lagi. Air liur mereka rasanya sudah mau menetes melihat tampilan kue lumpur kentang yang berkilau di kotak sebelah. "Aduh, Dev! Buruan bagi! Gua udah ngiler tingkat provinsi nih dari tadi liatin kismis di atas kue lumpurnya!" ratap Bima dramatis.

Devan tertawa pelan melihat wajah melas teman-temannya. Merasa tugasnya sebagai pencicip pertama sudah selesai, ia akhirnya menggeser kedua kotak mika itu ke tengah meja. "Ya udah, ambil satu-satu. Jangan rebutan kayak orang gak makan setahun."

"Siap, Bos!" seru ketiganya kompak.

Bima dengan cepat meraih satu Kue Lumpur Kentang, sementara Raka mengambil Bolu Gulung Cokelat. Begitu suapan pertama masuk ke mulut mereka, hening sejenak melanda sebelum akhirnya berubah menjadi riuh pujian.

"Wah, asli! Ini kue lumpurnya lembut banget kayak kapas! Meleleh di mulut, cuy!" seru Reno heboh.

Melihat momen langka ini, Bima mendadak mendapatkan ide cemerlang. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel berspesifikasi canggih miliknya, lalu mengaktifkan kamera video. "Eh, bentar, bentar! Jangan dihabisin dulu! Ini harus kita dokumentasikan sebagai bentuk dukungan penuh dari anak-anak IPS buat kemajuan Dapur Saras!"

Bima langsung mengarahkan kamera ke wajah Raka yang sedang mengunyah bolu dengan lahap. "Oke, *guys*! Hari ini geng anak anak IPS mau me-review jujur kue paling hits buatan anak IPA 1, Alya Saraswati! Coba Ka, kasih penilaian lo!"

Raka langsung mengacungkan jempolnya ke depan kamera dengan mulut yang masih agak penuh. "Mantap abis! Ini bolu gulung cokelat terbaik yang pernah gua makan seumur hidup gua! Pokoknya anak-anak IPS wajib borong!"

Bima kemudian mengalihkan kameranya ke arah Devan yang sedang duduk bersandar santai sambil menikmati potongan kue lumpurnya dengan senyum tipis. "Nah, kalau menurut Bos kita gimana nih?"

Devan hanya melirik kamera dengan tatapan tenang namun mematikan, lalu mengacungkan satu jempolnya singkat. "Enak. Wajib beli kalau gak mau menyesal."

Tanpa membuang waktu, Bima langsung mengedit video review heboh tersebut dengan latar musik yang sedang tren, lalu membagikannya ke cerita media sosial pribadinya, lengkap dengan menandai akun Instagram "Dapur Saras" milik Alya dan juga menandai akun Devan. Aksi yang dilakukan Bima dan geng anak IPS ini persis seperti yang dilakukan oleh Adel dan Jesica di kelas IPA tadi pagi.

Dalam sekejap, jaringan pertemanan mereka yang luas di media sosial langsung bereaksi, membuat notifikasi di ponsel Alya yang baru saja selesai membayar uang *study tour* kembali bergetar tanpa henti karena gelombang perhatian baru dari anak-anak lintas jurusan yang penasaran dengan rasa kue fenomenal tersebut.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!