Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Itu adalah peringatan diam-diam dari seorang tokoh kuat agar orang-orang biasa mundur dari persaingan.
"VIP Nomor Lima menawar dua ratus juta! Apakah ada yang berani menawar lebih tinggi?" teriak juru lelang semangat.
"Dua ratus lima puluh juta," sahut sebuah suara yang sangat familiar dari Ruang VIP Nomor Tiga.
Chen Mo mengerutkan keningnya dari balik topeng saat mendengar suara tersebut.
"Suara itu... mirip sekali dengan Wakil Kepala Sekolah Liu dari Akademi Naga Bintang," gumam Chen Mo.
Sepertinya petinggi akademi itu juga sedang menyelinap ke pasar gelap untuk mencari sumber daya rahasia.
"Tiga ratus juta koin bintang!"
Suara serak dari VIP Nomor Lima kembali membalas, kali ini nadanya terdengar sedikit marah.
"Aku adalah Penatua Sekte Besi Berdarah. Aku harap teman di VIP Tiga mau memberikan sedikit muka padaku," ancam pria bersuara serak itu secara terbuka.
Ancaman itu membuat seluruh teater menjadi sunyi senyap, tidak ada yang berani menyinggung sekte kejam tersebut.
Wakil Kepala Sekolah Liu di VIP Tiga tampaknya juga ragu-ragu karena tidak ingin memicu perang antar faksi.
"Tiga ratus juta koin bintang dihitung satu kali!"
"Tiga ratus juta koin bintang dihitung dua kali!"
Wanita bergaun merah itu mengangkat palu lelangnya, bersiap untuk mengetukkannya ke meja.
Tepat pada detik terakhir itu, Chen Mo menekan tombol merah di depannya dan mencondongkan tubuhnya ke mikrofon.
"Empat ratus juta," ucap Chen Mo dengan nada datar dan sangat santai.
Gubrak!
Beberapa penonton di lantai bawah sampai terjatuh dari kursi mereka mendengar lonjakan harga yang gila itu.
Seseorang baru saja menaikkan harga seratus juta koin sekaligus tanpa berkedip sedikit pun.
Wanita juru lelang itu melebarkan matanya dengan gembira, tangannya gemetar memegang palu.
"V-VIP Nomor Satu menawar empat ratus juta koin bintang! Luar biasa!" teriak wanita itu.
Brak!
Suara meja yang dipukul dengan sangat keras terdengar dari Ruang VIP Nomor Lima.
"Siapa kau yang berani mencari mati menentang Sekte Besi Berdarah?!" teriak Penatua bersuara serak itu dengan murka.
"Apakah kau punya uang sebanyak itu, atau kau hanya badut yang menyusup ke ruang VIP?!"
Chen Mo sama sekali tidak terpancing emosinya oleh teriakan marah tersebut.
"Ini adalah tempat pelelangan, bukan pasar pinggir jalan untuk saling adu mulut," jawab Chen Mo dingin.
"Jika kau miskin dan tidak punya uang, diam saja dan tonton dari kursimu, Pak Tua."
Kata-kata santai yang sangat merendahkan itu bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api.
Semua orang di teater itu menahan napas mereka karena ketakutan yang luar biasa.
Seseorang baru saja memanggil Penatua Sekte Besi Berdarah dengan sebutan orang miskin.
"Bocah sombong! Aku akan menghancurkan tulangmu malam ini juga!"
Wuuuush!
Penatua di VIP Lima melepaskan aura Membunuh tingkat Rank A yang sangat pekat ke arah ruangan Chen Mo.
Kaca ruangan Chen Mo bergetar hebat menerima hantaman niat membunuh tersebut.
Wakil Kepala Sekolah Liu di VIP Tiga hanya diam menonton, berharap dua orang kuat itu saling membunuh.
Chen Mo mendengus bosan melihat trik murahan yang digunakan oleh tetua sekte itu.
"Kau pikir hanya kau yang bisa menekan orang dengan aura?" gumam Chen Mo pelan.
Chen Mo melepaskan skill Tekanan Penakluk Jiwa miliknya, mencampurnya dengan Niat Membunuh Darah Besi yang dia miliki.
Dua kekuatan mental itu melebur menjadi satu gelombang kejut transparan yang sangat mengerikan.
Booooom!
Tekanan tak kasat mata itu melesat keluar dari ruangan Chen Mo dan langsung menghantam Ruang VIP Nomor Lima.
Prang!
Kaca di ruangan VIP Lima langsung pecah berhamburan.
"Ughh! Arghhh!"
Terdengar suara jeritan tertahan dan suara kursi yang patah dari dalam ruangan tersebut.
Penatua bersuara serak itu terbatuk darah, tubuhnya dipaksa berlutut ke lantai oleh tekanan jiwa yang luar biasa berat.
Dia merasa seolah-olah baru saja ditatap oleh dewa kematian kuno yang bisa mencabut nyawanya kapan saja.
Seluruh teater kembali sunyi senyap, suasana menjadi jauh lebih mencekam dari sebelumnya.
Hanya dengan satu hembusan aura, tamu di VIP Nomor Satu telah membuat seorang penatua sekte kuat berlutut memuntahkan darah.
"Apakah ada yang masih ingin menambah harganya?" tanya Chen Mo melalui mikrofon dengan nada bosan.
Tidak ada satu pun suara yang berani menyahut, bahkan Wakil Kepala Sekolah Liu di VIP Tiga menahan napasnya rapat-rapat.
"Bagus. Kalau begitu cepat ketuk palumu itu," perintah Chen Mo pada wanita di atas panggung.
Wanita bergaun merah itu tersentak kaget dan buru-buru memukul meja dengan palu kayunya.
Tok! Tok! Tok!
"E-empat ratus juta koin bintang untuk VIP Nomor Satu! Barang ini resmi menjadi milik Anda, Tuan!" teriaknya dengan suara bergetar.
Chen Mo kembali bersandar ke sofa, mematikan mikrofon di depannya.
Tak lama kemudian, pintu ruangannya diketuk dengan sangat pelan dan hati-hati.
"Masuk," ucap Chen Mo singkat.
Penatua Wu masuk dengan wajah pucat dan keringat dingin yang membasahi kemejanya.
Dia membawa sebuah nampan berlapis kain sutra yang di atasnya terdapat botol giok berisi darah naga purba tersebut.
"S-Senior, ini adalah barang yang Anda menangkan. Balai lelang telah memotong saldo dari kartu Anda secara otomatis," lapor Penatua Wu sambil membungkuk.
Chen Mo mengambil botol giok itu dan langsung memasukkannya ke dalam Cincin Ruang tanpa repot-repot memeriksanya lagi.
"Pelayanan yang bagus," ucap Chen Mo santai lalu berdiri dari kursinya.
"Satu hal lagi, Senior," Penatua Wu ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Penatua dari Sekte Besi Berdarah tadi baru saja keluar lewat pintu belakang bersama anak buahnya."
"Saya rasa mereka akan menyergap Anda di jalan keluar menuju perbatasan kota, jadi mohon berhati-hatilah."
Mendengar peringatan itu, Chen Mo sama sekali tidak terlihat panik atau khawatir.
Sebaliknya, sudut bibirnya di balik topeng kembali melengkung ke atas membentuk senyuman tipis yang sangat berbahaya.
"Begitu ya? Sepertinya aku akan mendapat panen tambahan gratis malam ini," gumam Chen Mo.
Penatua Wu menelan ludah, dia tahu bahwa malam ini jalanan kota akan kembali bersimbah darah.
Namun darah yang tumpah pasti bukan milik pemuda misterius yang berdiri di hadapannya ini.
Chen Mo berjalan keluar dari ruangan VIP, bersiap menyambut sekawanan domba yang mengantarkan nyawa mereka sendiri ke mulut predator.