Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Belum sempat Killian membalas, sebuah bantal sofa melayang tepat ke wajahnya.
Buk!
"Aduh!" Killian spontan menepis bantal itu. "Estelle!"
"Aku sudah muak mendengar omonganmu!" hardik Estelle sambil berdiri. Wajahnya memerah karena kesal. "Kamu ini gila, ya?"
Estelle kembali mengambil bantal lain, lalu memukulkannya ke lengan dan badan kakak kembarnya, bertubi-tubi dengan penuh emosi.
"Perut Vivi sudah sebesar ini! Masa kamu menyuruh dia menggugurkan kandungannya? Masih punya hati, tidak, sih?"
Killian buru-buru mundur sambil mengangkat kedua tangannya. "Hei! Hei! Berhenti dulu!"
Namun, Estelle masih mengejarnya. Mereka kejar-kejaran seperti anak kecil, eh lebih tepatnya selalu melakukan itu sejak dari kecil.
"Kamu keterlaluan!" teriak Estelle.
"Aku cuma mengatakan kemungkinan yang akan terjadi!" balas Killian sambil menghindari pukulan adiknya. "Apa salahnya?"
Estelle mendelik. "Masih tanya apa salahnya? Itu bayi sudah hidup di dalam kandungan Vivi! Dia bukan benda yang bisa dibuang begitu saja!"
Killian akhirnya berdiri di balik sofa agar Estelle tidak bisa memukulnya lagi. Ia mengembuskan napas pelan sebelum berkata dengan suara yang lebih tenang.
"Justru karena itu." Tatapan Killian beralih kepada Vivienne. "Kalau bayi itu lahir, apa kamu yakin Dominic dan wanita itu akan tinggal diam?"
Ruangan kembali hening.
Killian melanjutkan dengan nada serius. "Bagaimana kalau setelah bayi itu lahir, nanti mereka datang dan merebut bayi itu darimu?"
Ucapan itu membuat tubuh Vivienne menegang. Tangannya yang mengusap perut perlahan berhenti. Wajahnya benar-benar kehilangan warna. Ia belum pernah memikirkan kemungkinan itu.
Bagaimana jika suatu hari ada orang yang datang. Lalu, mengatakan bahwa bayi yang selama ini dipanggilnya anak, harus diambil darinya?
Membayangkannya saja sudah membuat napas Vivienne terasa sesak. Refleks, kedua tangannya langsung memeluk perutnya lebih erat. Seolah-olah ia sedang melindungi bayi itu dari seseorang yang ingin merebutnya.
"Tidak." Suara Vivienne terdengar lirih. "Tidak akan kubiarkan siapa pun mengambil anakku."
Air mata Vivienne kembali menetes. "Dia tumbuh dan berkembang di dalam rahimku dan darahku. Aku yang merasakan mual setiap pagi. Aku yang selalu memeriksanya ke dokter kandungan tiap bulan untuk memastikan perkembangan baik." Suaranya semakin bergetar.
Vivienne menundukkan kepala. "Bagaimana mungkin aku bisa menganggap dia bukan anakku?"
Mendengar kalimat itu, Estelle perlahan menghentikan amarahnya. Ia duduk kembali di samping Vivienne. Dengan lembut, ia merangkul bahu sahabatnya.
"Vivi, maaf. Aku tidak bisa membayangkan seberat apa semua ini buatmu." Estelle ikut menangis.
Vivienne menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah. Ia menangis sesenggukan di bahu Estelle.
Sementara itu, Killian hanya berdiri beberapa langkah dari mereka. Sorot matanya tidak lagi setajam tadi. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.
Estelle mengusap punggung Vivienne dengan lembut. Setelah tangis sahabatnya sedikit mereda, ia menatapnya dengan bibir yang masih bergetar.
"Vivi." Suara Estelle terdengar sangat pelan. Dia menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Apa kamu benar-benar berpikiran seperti Killian?"
Tangis Vivienne mereda. Namun, bukan berarti rasa sakit di dalam dadanya ikut menghilang.
Justru setelah air matanya berhenti mengalir, hatinya terasa semakin sesak. Kepalanya dipenuhi begitu banyak pertanyaan yang saling bertabrakan.
Vivienne mengusap pelan perutnya. Sentuhan itu seolah memberinya sedikit kekuatan untuk tetap berdiri menghadapi kenyataan yang baru saja mengguncang hidupnya.
Vivienne menarik napas panjang sebelum melanjutkan. Ia memejamkan mata sejenak.
"Aku ingin tahu semuanya." Vivienne mengangkat wajahnya menatap Killian. "Aku tidak mau mengambil keputusan hanya karena emosi."
"Aku harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kalau semua ini memang benar, aku akan meminta Dominic mempertanggungjawabkan semuanya." Rahang Vivienne mengeras.
Ruangan mendadak sunyi. Estelle memandang sahabatnya dengan rasa iba. Ia tahu, perempuan yang duduk di hadapannya sedang berusaha berdiri di atas puing-puing kepercayaan yang baru saja runtuh.
Estelle meraih tangan Vivienne lalu menggenggamnya erat.
Tatapannya penuh keyakinan.
"Kamu tidak sendirian. Aku akan membantumu. Apa pun yang harus kita lakukan untuk mencari kebenaran, kita lakukan bersama."
Vivienne menoleh. "Estelle ...."
Sahabatnya tersenyum tipis. "Dulu, waktu kita masih sekolah, kamu selalu membelaku setiap kali ada yang menggangguku. Giliran sekarang, biar aku yang berdiri di sampingmu."
Kalimat sederhana itu membuat mata Vivienne kembali berkaca-kaca. Ia membalas genggaman tangan Estelle.
"Terima kasih."
Estelle menggeleng pelan. "Tidak perlu. Kamu sudah seperti saudara bagiku."
Tatapan Estelle berubah tajam dan mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau Dominic benar-benar mengkhianatimu aku tidak akan tinggal diam."
Bukan karena ingin melampiaskan kemarahan. Melainkan karena ia tidak rela melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu.
Di sudut ruangan, Killian yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka akhirnya berdiri. Tanpa banyak bicara, ia berjalan menuju meja kerja. Ia membuka sebuah laci, lalu mengambil sebuah tablet berwarna hitam. Perangkat itu diletakkannya perlahan di atas meja di depan Vivienne.
"Apa ini?" tanya Vivienne.
"Selama beberapa hari terakhir, aku mencoba mencari tahu hubungan Dominic dan Giselle." Nada bicara Killian tetap datar.
"Tidak semuanya bisa menjawab pertanyaanmu. Tapi mungkin ini bisa membantumu melihat gambaran yang lebih besar."
Vivienne menatap tablet itu beberapa detik. Jemarinya terasa dingin ketika meraihnya. Ia menelan ludah sebelum menekan tombol daya.
Layar perlahan menyala. Di sana tersimpan sejumlah artikel, foto, dan catatan yang telah dikumpulkan Killian dari berbagai sumber terbuka.
Vivienne mulai membacanya satu per satu. Semakin lama wajahnya semakin pucat. Matanya bergerak cepat dari satu halaman ke halaman berikutnya. Napasnya berubah tidak beraturan.
"Ini, tidak mungkin ...." Suaranya nyaris tidak terdengar.
Estelle yang berdiri di sampingnya ikut melihat isi layar. Beberapa detik kemudian, ia ikut membelalakkan mata.
"Sepuluh tahun?" gumamnya pelan.
Vivienne membaca kembali bagian itu dengan tangan gemetar. Menurut informasi yang berhasil dikumpulkan Killian, Dominic dan Giselle telah menjalin hubungan sejak masa kuliah. Hubungan itu berlangsung jauh sebelum Dominic mengenal Vivienne.
Vivienne menatap layar tanpa berkedip. Pikirannya langsung melayang ke masa lalu. Saat pertama kali bertemu Dominic.
Saat pria itu menolong dirinya dari sekelompok preman, walau berakhir dengan selamat, tetapi Dominic mengalami luka yang cukup parah akibat beberapa sayatan dan tusukan dari senjata para preman.
Setelah itu hubungan Vivienne dan Dominic menjadi dekat. Terlebih lagi pria itu tipe orang yang penuh perhatian dan kasih sayang.
Itulah kenapa Vivienne sangat percaya bahwa semua perhatian Dominic itu lahir dari cinta. Kini, kenangan-kenangan indah itu terasa seperti kebohongan yang dibungkus begitu rapi.
"Jadi, selama ini aku hanya hidup di dalam kebohongan?" Ia memejamkan mata.
Tak ada seorang pun yang menjawab. Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Hanya terdengar suara isak pelan yang berusaha ditahan Vivienne.
Perlahan, Vivienne mengangkat kepalanya. Air mata masih membasahi pipinya. Namun, sorot matanya kini tidak lagi hanya dipenuhi kesedihan.
Ada tekad yang mulai tumbuh. Vivienne mengepalkan tangannya erat.
"Aku akan mencari tahu alasan kenapa Dominic sengaja melakukan hal yang menghancurkan hidupku." Vivienne mengepalkan tangannya erat. "Aku akan memastikan dia menerima akibat dari semua perbuatannya."
Estelle mengangguk mantap. "Aku bersamamu."
Killian menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Akhirnya. Itu Vivienne Laurent yang kukenal. Bukan perempuan yang hanya menangis. Melainkan perempuan yang akan bangkit untuk menghadapi kebenaran."
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡