NovelToon NovelToon
Love, Kisah Manis Anya

Love, Kisah Manis Anya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melarikan Diri dari Bayang-bayang

Memasuki masa liburan semester pendek, koridor kampus mewah di Surabaya Timur itu perlahan mulai sepi. Mahasiswa dari luar kota berbondong-bondong merapikan barang bawaan mereka untuk pulang ke kampung halaman. Namun, bagi Anya, liburan bukanlah waktu untuk bersantai atau merindukan kehangatan sebuah rumah yang telah membuangnya. Liburan adalah waktu terbaik untuk berlari sejauh mungkin dari radar seorang Edgard Baskoro.

Pagi itu, udara Surabaya masih diselimuti kabut tipis saat Anya memasukkan beberapa lembar pakaian, tablet grafis, dan kamera digitalnya ke dalam tas ransel kulit hitam miliknya. Berkat rekomendasi dari Pak Hermawan, Anya berhasil memenangkan kontrak pengerjaan ilustrasi ekologi untuk sebuah pelestarian alam dan resor eksklusif di kawasan pegunungan Batu, Malang. Kontrak ini mengharuskannya menetap di sana selama dua minggu untuk melakukan studi visual langsung di lapangan.

"Kamu beneran tidak mau aku temani, Nya?" Ririn berdiri di ambang pintu apartemen studio Anya sambil membawa sekotak martabak manis untuk bekal sahabatnya di perjalanan.

Anya tersenyum tipis, mengancingkan ritsleting ranselnya dengan gerakan yang mantap. "Tidak usah, Rin. Ini cuma proyek ilustrasi flora dan fauna biasa. Lagipula, kamu kan sudah berjanji pada ibumu untuk pulang ke Kediri minggu ini."

Ririn menghela napas panjang, menatap Anya dengan pandangan cemas. "Aku tahu kamu mengambil proyek luar kota ini bukan cuma karena uang, Anya. Kamu sedang mencoba menghindar dari Pak Edgard, kan?"

Gerakan tangan Anya terhenti sejenak di atas tali ranselnya. Kata Edgard selalu berhasil memicu getaran tidak nyaman di ulu dadanya, terutama setelah insiden pembuangan buket bunga lili di studio minggu lalu.

"Aku tidak menghindar, Rin," jawab Anya dengan nada suara yang teramat tenang dan profesional, mengencangkan kembali perisai di hatinya. "Aku hanya pergi ke tempat di mana fokus kerjaku tidak diganggu oleh drama korporat yang tidak penting. Anggap saja ini menyegarkan pikiran."

Tiga jam perjalanan menggunakan kereta api lokal dan angkutan gunung membawa Anya tiba di kawasan peristirahatan dataran tinggi Batu. Udara pegunungan yang dingin, bersih, dan menusuk kulit menyambutnya begitu dia melangkah turun di pelataran resor eksklusif The Greenery. Tempat ini dikelilingi oleh hutan pinus yang lebat dan hamparan perkebunan apel yang hijau royan—sebuah kontras yang menenangkan dari terik dan bisingnya kota Surabaya.

Anya langsung menuju pondok kayu kecil yang disediakan oleh pihak manajemen resor untuk tempat tinggalnya selama dua minggu ke depan. Dia mengenakan sweter rajut longgar berwarna putih gading yang pas badan, dipadukan dengan celana jins hitam tipis yang mempertegas siluet kakinya yang jenjang dengan tinggi 165 cm dan berat 55 kg. Rambut panjang lurusnya yang hitam cerah dibiarkan tergerai menembus embusan angin gunung yang dingin.

"Nona Anya Kirana? Selamat datang," seorang pria paruh baya mengenakan seragam safari hijau menyapanya dengan ramah saat dia berjalan menuju area konservasi anggrek hutan sore itu. "Saya kepala pemandu di sini. Hari ini Anda bisa mulai mengambil beberapa sampel foto awal untuk referensi sketsa."

"Terima kasih, Pak. Saya akan mulai dari area pembibitan di sebelah barat," jawab Anya sopan, langsung menyiapkan kamera dslr dari dalam tasnya.

Sepanjang sore, Anya menenggelamkan seluruh fokusnya ke dalam bidikan lensa kamera. Dia memotret detail urat daun anggrek langka, tetesan embun yang menggantung di pucuk pinus, hingga gradasi warna langit senja yang perlahan berubah menjadi keunguan di balik puncak gunung. Untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir, dadanya merasa lapang. Di tempat yang sepi dan terpencil ini, dia percaya Edgard tidak akan pernah bisa menjangkaunya lagi dengan kekuasaan bisnisnya.

Namun, kedamaian yang Anya bangun dengan susah payah itu runtuh tak bersisa keesokan paginya.

Saat Anya sedang duduk di kafetaria terbuka resor yang menghadap langsung ke arah lembah berkabut, menikmati secangkir teh melati hangat, sebuah deru mesin mobil mewah memecah keheningan pelataran parkir utama. Sebuah mobil jip hitam gahar bermerek Eropa perlahan berhenti di depan lobi.

Pintu kemudi terbuka, menampilkan sosok pria tegap yang melangkah keluar dengan karisma yang sanggup membekukan waktu di sekitarnya. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam kasual di atas kaus abu-abu yang menonjolkan bentuk tubuh atletisnya. Struktur wajahnya yang tampan dengan garis rahang tegas khas keturunan oriental-modern mirip Daniel Henney tampak begitu berwibawa di bawah bias sinar matahari pegunungan yang tipis. Lengan kirinya tidak lagi dibalut perban tebal, menyisakan bekas luka goresan merah samar yang mulai mengering di dekat sikutnya.

Edgard Baskoro.

Jantung Anya berdegup kencang karena rasa terkejut bercampur amarah yang seketika meluap ke ubun-ubunnya. Dia meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan yang cukup keras di atas meja kayu. Bagaimana bisa dia ada di sini? Bagaimana bisa pria ini melacak keberadaanku sampai ke pelosok gunung seperti ini? batin Anya menjerit frustrasi.

Edgard menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas valet, lalu pandangan mata elangnya yang tajam langsung berputar menyapu area kafetaria, sebelum akhirnya berhenti dan mengunci sasarannya tepat pada sosok Anya. Tatapan Edgard memancarkan kehangatan dan ketetapan hati yang tidak tergoyahkan—sebuah tatapan dari seorang pria dewasa yang menolak untuk menyerah pada jarak.

Edgard melangkah mendekati meja Anya dengan langkah kaki yang teratur. "Selamat pagi, Anya. Udara di sini sangat dingin, ya?" ucapnya dengan suara baritonnya yang berat, terdengar begitu lembut seolah-olah pertemuan ini adalah hal yang paling wajar di dunia.

Anya bangkit berdiri dari kursinya, menyandang tas ransel kulit hitamnya di pundak dengan gerakan yang teramat anggun namun sarat akan penolakan yang dingin. Dia menatap Edgard dengan sepasang mata indahnya yang sedingin es gunung di sekitar mereka.

"Bagaimana Anda bisa tahu saya ada di sini, Pak Edgard?" tanya Anya dengan nada suara yang teramat datar, tanpa ada riak kegugupan sedikit pun. "Apakah memata-matai jadwal kegiatan mahasiswa sekarang menjadi salah satu tugas utama dari seorang CEO Baskoro Group?"

Edgard menahan napasnya sejenak, merasakan sengatan rasa sakit hati atas tuduhan tajam wanita di hadapannya. Dia menggelengkan kepala perlahan, menunjukkan raut wajah yang tulus tanpa topeng keangkuhan bisnis.

"Saya tidak memata-matai kamu, Anya," bisik Edgard dengan suara yang serak. "Pihak Baskoro Logistic baru saja resmi menandatangani kontrak sebagai salah satu sponsor utama untuk program pelestarian alam dan ekspansi digital resor ini dua hari lalu. Sebagai investor baru, saya memiliki hak protokoler untuk meninjau lokasi lapangan. Dan saya memilih untuk datang hari ini... karena saya tahu kamu sedang berada di sini."

Anya tertawa kecil—sebuah tawa sinis yang memotong keheningan kafetaria seketika. "Sponsor? Investor? Anda benar-benar tidak pernah berubah, Edgard Baskoro. Anda selalu menggunakan uang dan kekuasaan Anda untuk membeli ruang gerak orang lain. Dulu Anda menggunakan bisnis untuk mengusir saya dari Jakarta, sekarang Anda membeli resor ini hanya untuk mengunci langkah saya agar tidak bisa menghindar?"

Anya melangkah maju satu langkah, menatap lurus ke dalam manik mata elang Edgard dengan perisai hati yang semakin mengeras. "Tindakan Anda ini bukan pembuktian cinta atau penyesalan, Pak Edgard. Ini adalah bentuk pemaksaan ego yang egois. Dan saya... saya muak melihatnya."

Anya berbalik dengan sentakan yang tegas, melangkah pergi meninggalkan Edgard sendirian di kafetaria terbuka tersebut. Langkah kakinya yang anggun menembus kabut gunung seolah menegaskan bahwa sejauh apa pun Edgard mengejarnya dengan kemewahan harta, dinding di antara mereka tidak akan pernah bisa runtuh hanya dengan selembar cek kontrak investasi. Edgard berdiri mematung menatap punggung Anya yang menjauh dengan rasa sunyi yang kembali membakar dadanya, menyadari bahwa di bawah dinginnya udara Batu, perjuangannya untuk mencairkan hati sang mantan pengagum rahasia baru saja memasuki babak yang jauh lebih menguras emosi.

1
Adinda
visualnya bule thor
Alia Chans
Jadi ingat lirik sebuah lagu nih thor🤭🤭
Irene: 😍🤭🤭 judulnya apa ya?
total 1 replies
Skyline Scribe
mampir kak
semangat nulisnya 💪
Irene: Terimakasih kak 😍
total 1 replies
Irene
😍😍😍
Irene
Semangat Anya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!