NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Sisa malam setelah pengakuan terlaknat itu terasa berjalan begitu lambat. Di dalam kamar utama yang luas dan berlantai marmer dingin ini, atmosfer terasa begitu pekat, seolah oksigen di sekitar kami telah habis tersedot oleh keegoisan pria yang masih berlutut di hadapanku. Mas Hanif menatapku dengan binar lega yang begitu kentara di kedua matanya. Dia benar-benar percaya bahwa senyuman tenang dan kalimat izinku di babak sebelumnya adalah wujud dari kepasrahan seorang istri yang terikat oleh rasa cinta.

​Dia tidak pernah tahu, bahwa di detik dia melontarkan nama wanita lain dan membawa-bawa nama ibunya untuk membenarkan pengkhianatan ini, statusnya di dalam hatiku sudah berubah total. Dia bukan lagi suamiku. Dia bukan lagi pria yang kuhormati. Dia hanyalah seorang pengkhianat, orang asing yang kebetulan masih berbagi atap denganku, dan target utama dari skenario kehancuran yang mulai kususun di dalam kepala.

​Mas Hanif mencoba bangkit, mengikis jarak di antara kami. Tangannya yang besar bergerak maju, hendak merengkuh bahuku ke dalam pelukannya. Mungkin dia pikir, pelukan hangat akan menyempurnakan rasa terima kasihnya atas keikhlasan palsu yang baru saja kutunjukkan.

​Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh permukaan blazer champagne yang masih melekat di tubuhku, aku bergerak mundur dengan gerakan yang sangat halus. Aku bangkit dari sofa, berbalik memunggunginya dengan alasan merapikan kembali beberapa helai jilbab sutra yang tersampir di dekat meja rias. Gerakanku begitu natural, seolah aku hanya sedang bersiap untuk beristirahat, bukan sedang menghindari sentuhannya yang kini terasa seperti racun bagi kulitku.

​"Mas, bersihkan dirimu dulu. Kamu kelihatan sangat kotor dan kuyu setelah seharian di pabrik," ucapku datar, nadanya tetap lembut tanpa ada riak kemarahan sedikit pun. Kata kotor yang kuucapkan memiliki makna ganda yang hanya kupahami sendiri di dalam hati. Dia kotor, bukan hanya karena debu pabrik tekstilnya, tetapi karena jiwanya yang telah tercemar oleh niat mendua.

​Mas Hanif sempat tertegun di tempatnya berdiri. Tangannya menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya dia menurunkannya kembali sambil tersenyum canggung. "Ah, iya, kamu benar, Num. Mas memang butuh mandi air hangat untuk menyegarkan badan. Rasanya semua beban di pundak Mas langsung hilang setelah bicara jujur denganku."

​Dia melangkah menuju kamar mandi dengan siulan kecil yang terdengar sangat menjengkelkan di telingaku. Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara gemercik air pancuran mulai terdengar, senyuman formal yang sejak tadi kupasang di wajahku seketika luntur tanpa sisa.

​Aku menatap pintu kaca yang buram itu dengan pandangan yang sedingin es. Dadaku bergemuruh hebat, menahan rasa mual yang mendadak naik ke kerongkongan. Rasa sakit itu ada, tentu saja. Sepuluh tahun membangun rumah tangga, mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan menyokong bisnis suaminya hingga pabrik tekstilnya bisa sebesar sekarang, ternyata hanya dibalas dengan alasan klasik tentang wanita salihah yang siap berjuang dari bawah.

​Aku berjalan menuju lemari pakaian besar di sudut kamar. Alih-alih mengambil pakaian tidur sutra yang biasa kukenakan saat tidur bersama Mas Hanif, aku justru meraih sebuah bantal cadangan dan selimut tebal dari dalam laci atas. Malam ini, aku menolak untuk berbaring di atas ranjang yang sama dengannya. Menatap wajahnya saat tertidur atau mencium aroma tubuhnya hanya akan membuatku merasa jijik pada diriku sendiri.

​Saat pintu kamar mandi kembali terbuka, Mas Hanif keluar hanya dengan mengenakan celana panjang hitam dan kaos putih polos. Rambutnya yang basah tampak berantakan, dan wajahnya terlihat jauh lebih segar. Dia berjalan menuju ranjang berukuran king size kami, bersiap untuk merebahkan diri. Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika melihatku sudah berdiri di dekat pintu kamar sambil memeluk bantal dan selimut.

​Mas Hanif mengernyitkan dahi jalannya, tatapan matanya langsung berubah penuh tanya dan kebingungan. "Num? Kamu mau ke mana membawa bantal dan selimut?"

​Aku membalikkan badan, menatapnya dengan raut wajah yang sengaja kubuat seolah sedang kelelahan namun tetap tenang. "Aku mau tidur di kamar anak-anak, Mas. Malam ini aku mau menemani Kayla dan Kenzie tidur di kamar mereka."

​Mendengar jawabanku, air muka Mas Hanif langsung berubah tegang. Dia melangkah cepat mendekatiku, jarak di antara kami kini hanya tersisa dua langkah. Ada kepanikan kecil yang tersirat dari caranya memandangku.

​"Tidur di kamar anak-anak?" tanyanya, suaranya naik satu oktav. "Tapi kenapa mendadak sekali, Num? Ranjang kita luas dan kita selalu tidur bersama di sini. Kenapa malam ini kamu harus pindah ke kamar sebelah?"

​Mas Hanif terdiam sejenak, matanya menyipit, mencoba membaca ekspresi di balik wajahku yang sedatar papan tulis. Genggaman tangannya pada kaus putihnya mengerat. "Num... jujur sama Mas. Apakah kamu sebenarnya marah? Apakah kamu terpaksa memberikan izin tadi dan sekarang kamu menghukum Mas dengan menolak tidur bersama?"

​Pertanyaan itu terdengar begitu egois di telingaku. Dia ingin poligami, dia ingin membagi hatinya, dia ingin membuatku menanggung rasa malu di hadapan keluarga besar dan kolega bisnis, tapi dia masih memiliki ekspektasi bahwa aku harus tetap melayaninya di atas ranjang seolah tidak terjadi apa-apa. Betapa serakahnya pria yang berdiri di hadapanku ini.

​Di dalam benakku, jeritan amarahku berteriak lantang." Ya! Aku membencimu! Aku jijik melihat wajahmu! Kamu adalah pengkhianat yang telah menghancurkan sepuluh tahun kesetiaanku!."

​Namun, lidahku bergerak dengan kendali logika yang luar biasa dingin. Aku tidak boleh merusak rencana besarku hanya karena ledakan emosi sesaat. Jika aku mengaku marah sekarang, Mas Hanif akan menjadi waspada. Dia mungkin akan menunda pernikahannya, atau yang lebih buruk, dia akan mulai menyembunyikan aset-aset finansialnya sebelum aku sempat menyentuhnya lewat jalur hukum. Aku membutuhkan dia tetap dalam kondisi lengah, merasa di atas angin, dan percaya bahwa istrinya ini adalah wanita penurut yang bodoh.

​Aku membiarkan sebuah helaan napas lelah lolos dari bibirku, sengaja menunjukkan gestur seorang ibu yang sedang didera rasa bersalah pada anak-anaknya.

​"Marah untuk apa, Mas?" tanyanya lembut, nadanya sangat meyakinkan hingga mampu menepis kecurigaan apa pun. "Aku tidak marah sama sekali. Bukankah tadi aku sudah bilang kalau aku mengizinkanmu? Jika aku marah, aku tidak mungkin memberikan restu secepat itu."

​"Lalu kenapa harus tidur di kamar anak-anak?" kejar Mas Hanif, matanya masih menelisik, mencari celah kebohongan.

​Aku tersenyum tipis, menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah penuh dengan kedewasaan. "Mas, akhir-akhir ini kesibukanku di kantor sedang luar biasa padat. Peluncuran koleksi baru Gilded Grace membuatku harus pulang malam hampir setiap hari dalam dua minggu terakhir. Waktuku untuk berinteraksi dan menemani Kayla serta Kenzie jadi sangat berkurang. Tadi saat aku pulang, Kayla merajuk dan mengeluh karena aku jarang ada di rumah."

​Aku menjeda kalimatku, membiarkan alasanku meresap ke dalam pikirannya. "Anak-anak kita sudah berumur sembilan tahun, Mas. Mereka sudah mulai bisa merasa kesepian dan mengerti arti kehadiran orang tuanya. Aku hanya merasa bersalah sebagai seorang ibu. Karena besok adalah hari libur, aku ingin menghabiskan waktu malam ini dengan memeluk mereka, mendengarkan cerita mereka sebelum tidur. Hanya itu. Tidak ada hubungannya dengan pembicaraan kita tadi."

​Mas Hanif menatapku lama, menimbang-nimbang setiap kata yang keluar dari mulutku. Keahlianku dalam bernegosiasi dengan klien-klien kakap di dunia bisnis membuatku mampu memalsukan ketulusan dengan sangat sempurna. Perlahan, ketegangan di pundak Mas Hanif tampak mengendur. Dia mengembuskan napas lega yang panjang, percaya sepenuhnya pada kebohongan yang kusajikan di atas nampan emas.

​"Oh... jadi karena anak-anak," ucap Mas Hanif, suaranya kembali melembut. Dia mengusap tengkuknya dengan ekspresi bersalah yang kini ditujukan untuk anak-anak kami. "Maaf ya, Num. Mas pikir kamu mendadak berubah pikiran karena masalah Sarah tadi. Mas sempat takut kalau kamu mendadak membenci Mas dan menarik restu itu."

​Aku tidak membencimu, Mas. Kebencian adalah emosi yang terlalu berharga untuk diberikan pada orang asing sepertimu, bisikku dalam hati, sedingin es.

​"Mas mengerti," lanjut Mas Hanif sambil mengangguk-angguk. "Kamu memang ibu yang hebat, Num. Selalu mementingkan anak-anak. Ya sudah, kalau begitu malam ini kamu temani mereka saja. Besok pagi kita sarapan bersama, ya?"

​"Iya, Mas. Tidurlah yang nyenyak. Kamu butuh istirahat untuk mempersiapkan hari-hari besarmu ke depan," balasku, memberikan umpan manis yang terselubung sindiran. Hari besar yang kumaksud bukan hanya hari pernikahannya dengan madu barunya, melainkan hari-hari di mana dia harus menyaksikan dunianya runtuh berkeping-keping.

​Aku berbalik, membuka pintu kamar utama, dan melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang lagi. Begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat di belakang punggungku, aku bersandar pada permukaannya yang keras. Kakiku mendadak terasa lemas, dan bantal serta selimut yang kupeluk rasanya menjadi satu-satunya penopang agar tubuhku tidak luruh ke atas lantai lorong yang sunyi.

​Aku memejamkan mata erat-erat. Di bawah kegelapan koridor rumah mewah ini, setitik air mata yang sejak tadi kutahan dengan sekuat tenaga akhirnya jatuh, membasahi pipiku. Itu bukan air mata kesedihan karena kehilangan cinta seorang Hanif. Itu adalah air mata pelepasanmsebuah tanda bahwa mulai malam ini, Hanum yang mencintai Hanif telah mati. Mulai malam ini, pria di dalam kamar itu tidak lebih dari sekadar orang asing, seonggok daging yang memegang status suamiku di atas selembar kertas sanksi sosial, yang sebentar lagi akan kehilangan hak atas seluruh kemewahan hidup yang pernah kubagikan bersamanya.

​Aku menghapus air mata itu dengan kasar menggunakan punggung tangan. Mengambil napas dalam-dalam untuk menstabilkan emosiku, aku kembali menegakkan pundak. Langkah kakiku kembali konstan saat berjalan menuju ujung lorong, tempat di mana kamar sepasang anak kembarku berada.

​Aku membuka pintu kamar anak-anak dengan sangat perlahan, tidak ingin menimbulkan suara yang bisa mengusik tidur nyenyak mereka. Kamar itu luas, didominasi warna pastel yang menenangkan dengan dua ranjang single yang diletakkan bersebelahan. Di bawah temaramnya lampu tidur berbentuk bintang, aku bisa melihat siluet dua tubuh kecil yang bergelung di balik selimut tebal masing-masing.

​Melihat wajah polos Kayla dan Kenzie yang tertidur dengan tenang, mendengarkan deru napas mereka yang teratur, perlahan-lahan membuat rasa sesak di dadaku sedikit menguap. Mereka adalah duniaku yang sesungguhnya. Mereka adalah alasan mengapa aku harus tetap berdiri tegak, mengapa aku tidak boleh hancur, dan mengapa aku harus memenangkan perang gono-gini ini dengan kemenangan mutlak tanpa cela sedikit pun.

​Aku menaruh bantal dan selimutku di sofa kecil dekat jendela, lalu melangkah mendekati ranjang Kayla. Aku menyusup ke balik selimutnya yang hangat dengan sangat hati-hati. Begitu tubuhku berbaring di sampingnya, Kayla yang tampaknya merasakan kehadiranku bergerak setengah sadar. Mata bulatnya terbuka sedikit, menatapku dengan pandangan mengantuk yang sangat menggemaskan.

​"Bunda...?" bisiknya dengan suara serak khas anak kecil yang baru terbangun.

​"Iya, sayang. Ini Bunda. Tidurlah lagi," bisikku lembut sambil mengusap pipinya yang halus.

​Kayla tersenyum tipis, lalu menggeser tubuhnya mendekat, menyurukkan kepalanya ke dalam dadaku, mencari kehangatan yang biasa dia dapatkan.

Lengan kecilnya melingkar di perutku, memelukku dengan erat seolah takut aku akan pergi lagi ke kantor. Di ranjang sebelah, Kenzie juga bergerak sedikit, mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah kami, seolah ikut menjaga ibunya di dalam mimpi.

​Aku merengkuh tubuh kecil Kayla, mencium puncak kepalanya yang beraroma sampo bayi yang wangi. Di dalam keheningan malam, sambil mendekap darah dagingku sendiri, pikiranku kembali bekerja dengan kecepatan penuh seperti mesin komputasi yang dingin.

​Mas Hanif berpikir dia bisa memiliki segalanya, Seorang istri pertama yang kaya, mandiri dan penurut, Seorang ibu yang bangga atas baktinya yang salah jalan, serta seorang istri muda yang polos dan siap menemaninya dari bawah. Dia lupa, bahwa pabrik tekstil yang dibanggakannya itu adalah sebuah bangunan kosong tanpa jiwa jika perusahaanku memutuskan untuk menghentikan seluruh pasokan pesanan massal. Dia lupa, bahwa merek Amara Modest adalah pemegang kuasa atas 70% perputaran uang di rekening perusahaannya.

"​Kamu bilang wanita itu siap berjuang dari bawah bersamamu, Mas?." tanyaku dalam hati, menatap langit-langit kamar anak-anak yang dihiasi stiker bintang yang menyala dalam gelap. Maka aku, Hanum, dengan segala kerendahan hati dan keanggunan yang kumiliki, akan memastikan bahwa kalian berdua benar-benar mendapatkan apa yang kalian inginkan. Kalian akan memulai semuanya dari bawah. Benar-benar dari bawah, di mana tidak ada lagi rumah mewah ini, tidak ada lagi mobil sport di garasi, dan tidak ada lagi sisa kekayaan yang kalian nikmati dari keringatku.

​Sebelum fajar menyingsing esok hari, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menghubungi pengacara keluarga kepercayaanku, Pak Baskara. Perjanjian pasca-nikah (postnuptial agreement) harus segera disusun tanpa ada celah hukum sedikit pun. Aku akan memastikan Mas Hanif menandatanganinya sebelum dia melangsungkan pernikahan keduanya. Pria itu harus menandatangani surat pemisahan aset gono-gini atas dasar rasa bersalahnya malam ini, atas dasar keyakinannya bahwa aku adalah istri yang terlalu baik dan bodoh untuk menyimpan dendam.

​Aku mengeratkan pelukanku pada Kayla, membiarkan kehangatan tubuh anakku menjadi bahan bakar bagi api dendam yang menyala dingin di dalam dadaku. Malam ini, jarak di antara aku dan Mas Hanif telah resmi tercipta. Sebuah jarak tak terlihat yang akan semakin melebar setiap harinya, hingga akhirnya tiba saatnya bagiku untuk menjatuhkan vonis skakmat yang akan meruntuhkan seluruh dunia khayalannya di depan pengadilan gono-gini nanti. Tidurlah yang nyenyak malam ini, orang asing di kamar sebelah, karena masa depan yang menantimu tidak akan pernah sedamai malam ini lagi.

1
sunaryati jarum
Semoga prosesnya cepat sesuai harapan
Noey Aprilia
Reader aja ikutn jngkel tau ga....
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
Arin
Salah lawan nih......Hanif dimiskinkan semiskin miskinnya😁😁😁
Muft Smoker
gengsiny jgn byk2 kak tian ,, nnti org gx kebagian ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski kaku Dan dingiin ,, tp tian sosok laki2 yg tanggung jawab ,,
Noey Aprilia
Iye...iye....
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
Ma Em
Ternyata Hanif dan Bu Rahma itu sebenarnya dulunya orang miskin namun setelah menikah lagi Bu Rahma diangkat derajat dan jadi orang kaya dan terhormat dan kelakuannya jadi sombong dan sekarang Hanif dan Bu Rahma kembali ke awal lagi , semoga Hanum berjodoh dgn Tian karena Tian sdh menyayangi anak2 Hanum .
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Noey Aprilia
Mau heran,tp gtulh knytaannya....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
sat set 😍😍
Noor hidayati
anak anak hanum itu umur 9th apa 5th,kok tingkahnya kayak masih balita,kalau 9th kan berarti sudah kelas 3 SD
Noor hidayati
kembar telat itu apa ya,apa sama dengan kembar tidak identik
Himna Mohamad
good kkk
Muft Smoker
udh kak ,, hanum ma tian aj ,, meski kaku , dingiin , bak kulkas 100 pintu ,, tp Dari sikap ny dy begitu menghargai hanum , menyayangi si kembar ,, udh pas tuh jd bpa Dan suami idaman 👍👍👍😁😁😁😁
Muft Smoker
waah ad apa niih ,, tian klo suka jgn lama2 di pendam ,, takut keburu jdii Batu ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
susi ana
apakah nantinya Tian akan bersama Hanum?
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
blcak areng: makasih kakak🙏🙏
total 1 replies
Noey Aprilia
Mngknkh sbnrnya tian udh ska hanum dr dlu,cma dia mngalah dmi yg onoh???
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....
Noey Aprilia: Gabut.....🤣🤣🤣
total 2 replies
cinta semu 2
Hanif u sengaja gali lubang buat kematian u sendiri🤭
cinta semu 2
hanum kecerdasan u mampu membuat Hanif gila...🤣🤣🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!