Delima Anastasia : Hidup dengan sederhana, dipertemukan dengan CEO di temat ia bekerja. Semenjak bertemu dengan CEO itu, ia sudah mempunyai perasaan kepada bos muda di kantornya, dengan hobinya menulis maka ia salurkan menjadi sebuah cerita didalam novelnya.
Sampai suatu hari ia merasa bahwa CEOnya itu mengawasinya dari jauh dan mulai bersikap tidak wajar, membuat Delima merasa selalu di awasi.
"Aku tidak tau takdir membawaku kemana, yang jelas jangan buat aku menderita Tuhan."
Derel Sean Miller :
"Setelah kau jadikan aku fantasimu membuat sebuah cerita, apakah aku akan membiarkanmu pergi dengan mudahnya?"
Tidak akan Delima, kau akan tetap di sini, di tempat yang seharusnya yaitu di sisi ku, kau adalah milikku dan siapapun tak akan ku biarkan milikku di ganggu ataupun disentuh orang.
Kau akan menjadi milikku, karna dari awal kau memanglah tercipta untukku. Apapun caranya itu pasti akan aku buktikan tidak akan lama lagi Del.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KarismaAd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10
Ditempat lain, Delima asik dengan tumpukan berkas yang ia kerjakan dengan sangat serius.
"Doorrr...." Delima terlonjak kaget dengan menyebut istigfar serta mengusab dadanya. Dengan menormalkan detak jantungnya yang seperti lari maraton.
Sipelaku gak usah di ragukan lagi, siapa lagi kalau bukan Dea. Bukannya malah minta ma'af, eh malah ketawa dengan tampang menyebalkan, seperti mintak di tabok.
"Haha.. Haha..." Dea diam seketika, langsung mengubah tampang tak bersalahnya kepada Delima.
Dengan geram, Delima menekankan setiap kata yang keluar dari mulutmya.
Kali ini ia tidak mau bercanda, "Dea.. Gue sudah peringatkan sama lo, kalau gue lagi kerja gak usah diganggu, tepatnya di kejutin kanyak gini, paham!" Delima sedikit menaikkan nada bicaranya ke Dea, Karna kali ini, ia memang sudah keterlaluan.
Dea seketika terkejut, atas apa yang di katakan oleh sahabatnya. Jika Delima sudah meninggikan nada bicaranya, itu pertanda ia memang serius.
Dea tersadar dari keterkejutannya, langsung saja ia merubah mimik wajahnya, menjadi menyesal dan murung.
"Ya elah serius banget mbaknya, ma'af deh gue ganggu lo Kerja kali ini." Dengan tampang memelas Dea meminta ma'af sama Delima.
"Dea.. Bukan kali ini aja, bahkan udah berapa kali lo kagetin gue. Gue gak masalah lo kayak gitu ke gue, tapi lo harus lihat dong situasi dan kondisinya." Delima menarik nafas panjangnya, dan langsung di hempaskan dengan gusar.
"Del, ma'afin gue yaa.." Dengan tampang memelasnya, Dea berucap dan sambil menunduk.
"Gue janji gak akan ulagin lagi deh, suer." Sambil mengangkat tangannya ke atas, menegakkan kepalanya yang dari tadi menunduk dan mengacungkan dua jarinya, membentuk huruf v, tanda mintaan ma'af.
"Humm... Maksud lo manggil gue dan sapai-sampai lo ngerjain gue apa?" Pertanyaan yang di ajukan oleh Delima kepada Dea. Karna ia tidak mau memperpanjang drama, yang mungkin akan terjadi nantinya.
"Gue sebenarnya mau ngajakin lo ke mall. Lo tau sendirikan kalau baju batik gue dah pada sempit, alias gak muat lagi di badan gue, jadi.."
Sebelum Dea menyelesaikan ucapannya, langsung di potong oleh Delima.
"Lo mau ngajakin gue, ke mall." Delima berucap, sambil menghadap ke Dea.
"Ya ampun, teman gue yang cantik ini memang pinter ya," menjeda ucapanya sebentar, dan melanjutkan ucapannya kembali. "Mmm... Lo maukan, temenin gue ke mall, gue janji gak bakalan lama-lama di sana nanti." Dengan mengedip-gedipkan matanya ke Delima dan tak lupa senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
"Humm.. yang pergi cuma kita berdua?"
"Kayaknya iya deh, mereka gak bisa ikut, karna ada urusan yang gak bisa mereka tinggalin. So kita berdua aja yang perginya." Dea berucap agak sedih, karna ia ingin berkumpul bareng-bareng sama bestienya, ia masih sangat merindukan sahabatnya itu. Mau dikata apa lagi mereka semua pada sibuk dan sangat sulit untuk ketemu, karna aktifitas yang sangat padat.
"Humm..." Hanya itu yang keluar dari mulutnya Delima. Karna ia pun mengerti, kesibukan yang bestinya lakukan.
"Idih.. Cuma itu doang, gak ada kata yang lain gituh." Dengan tampang cengong, Dea berucap.
"Gak." Cuma itu yang Delima ucapkan, karna ia tidak mau berkata panjang, pasti itu akan berujung. Dea akan memulai aksinya, yaitu mengganggunya bekerja.
"Baiklah, gue temenin lo, tapi inget janji lo, kalau lo gak akan lama di sana."
"Ok, Adel ku sayang. Nanti pas pulang dari kantor, kita langsung ke mall ya. Dadah Adel, kerja yang rajin dan semangat kerjanya ya" Dea pun memberikan semangat bertubi-tubi.
Delima hanya geleng-geleng kepala, dengan tingkan temannya yang sangatlah ajaib.
Sampailah mereka di mall, tempat yang ingin mereka tuju. Delima merasa lelah, bangai mana tidak, temannya yang satu ini, dari tadi hanya keliling-keliling yang gak jelas.
Padahal ia katanya mau beli baju batik, eh ternyata, malah nyangkut di tokoh sepatu. Maklumlah kalau wanita belanja. Maunya beli ini, eh yang dapat duluan bukan barang yang ia cari. Katanyasih sambil menyelam minum air. Pengenya beli baju, malah dapat sendal pula, apalagi kalau sudah discon.
Bahkan harganya pun dapat menguras dompet, kalau kanyak gini sih, mending beli di pasar. Udah harganya miring, dan bisa beli barang yang lain lagi dengan sisanya dan bisa juga untuk ditabung.
Dan syukurlah Dea menemukan tujuan awalnya. Kalau tidak, sudah langsung pingsan nih Delima, karna mondar mandir mencari tokoh yang gak jelas keberadaanya.
"Dea kita makan dulu yuk, lapar nih. Dari tadi lo gajak gue putar-putar gak jelas, udah capek nih gue, sampe menguras otak dan tenaga." Dengan muka lesunya Delima berucap.
"Yaudah, kalau gitu. Kebetulan gue juga lapar, dan karna lo udah temenin gue belanja, hari ini gue traktir lo makan." Dea pun menyambung kembali ucaannya, dengan raut wajah yang memelas.
"Tapi Del, kita cari makanan yang irit di kantong gue ya, lo taukan pendapatan kita sebulan itu berapa."
"Gue juga ngerti kali, gak mungkinlah gue minta yang mahal sama lo."
"Yaudah kita kesana yuk, kanyaknya disana agak sepi." Dea berkata sambil menari tangan Delima ke restoran yang ia tuju.
Setelah mereka memesan makanan dan minuman. Mereka sekarang lagi menyantap makanan yang sudah di hidangkan, di meja mereka.
Karna terlalu fokusnya mereka makan, sampai-sampai tak menghiraukan lingkungan sekitar.
"Sayang yang ini aja ya." Ucap si pria memelas
"Gak, mau sayang. Kamu tau kan, kalau aku gak suka itu." Ucap si wanita, agak kesal.
"Kamu tau kan kalau aku lagi diet. Susah tau untuk mulai dari awal lagi." Dengan suara merajuknya.
"Humm.. Yaudah kamu pilih sendirinya," Pria itu, berucap dengan senyum yang sedikit, yang terkesan tulus.
Delima merasa tidak asing dengan suara orang itu. Secara refleks mengangkat kepalanya, yang tadinya menunduk karna makan. Sekarang sudah berdiri tegak, matanya tertuju ke arah suara seorang pria yang ia kenal.
"Deg.. " Ia terdiam tanpa kata, seolah tubuh dan otaknya kaku serta mati rasa. Sulit untuk di gerakkan.
"Di.. Dia..Kenapa sakit sekali Tuhan, perasaan apa ini, sangat sulit untuk ku buang." Suara hati Delima, yang sangat rumit.
Dengan sekuat tenanga, Delima menormalkan, raut wajahnya menjadi seperti semula, seolah tak terpengaruh dengan pasangan yang bermesraan yang ada di depannya.
Setelah merasa jantung, hati dan pikirannya sudah terkendali. Delima langsung saja menghabiskan makanan yang tinggal sedikit tadi.
"Huff, akhirnya." Dengan menghela nafas frustasinya.
"Lo gak apa-apakan Del?" Tanya Dea, dengan tampang bingungnya.
"Eh, Gue gak apa-apa kok," Delima menjawab dan melanjutkan ucapannya lagi.
"Dea gue ke toilet bentarya." Delima langsung berdiri dan menuju toilet.
Entah apa tujuanya ke toilet, tapi yang jelas sekarang ia harus menenangkan hati dan menjernihkan fikirannya. Supanya tidak ketahuan sama dia.
Sekarang Delima sedang melihat pantulannya di kaca, seketika kakinya menjadi lemas dan mati rasa sampai tak bertenaga. Tubuhnya seketika, kehilangan keseimbangan
Untung ia cepat memegang pinggiran wastafel. Kalau tidak, dipastikan ia akan merosot ke lantai, karena tak bisa menahan tubuhnya.
"Delima, satuhal yang harus lo ingat, dia gak mungkin menjadi milik lo, ok. Sekarang lo harus lupain perasaan lo sama dia, ingat Adel, lo sama dia jauh berbeda dan lagian dia udah punya pendamping hidupnya. Lo harus move on, Adel." Delima sedang menenangkan dirinya, dari kerisauan yang membelenggunya.
Apakah, Delima bisa melupakan rasa sepihaknya kepada Derel?
Apa yang akan Derel lakukan, jika tahu, penulis yang ia cari adalah Delima?
------------------------------------------------------------------------
Terus ikutin ceritanya ya kakak. Authur mengucapkan terima kasih untuk semuanya, karna telah baca cerita, yang seperti remahan rengginang..
Salam,peluk dan cium sayang dari jauh, untuk kakak semua 🤗😘💞