NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Berani Melawan Komandan

Pukul enam pagi, nama Kak Anin masih tersimpan di ponsel Bima.

Namun pemilik ponsel itu sudah tertidur telentang di ranjang tingkat bawah asrama satpam.

Asrama tersebut sebenarnya bekas garasi belakang gedung. Enam ranjang besi dijejalkan di antara lemari plastik, gantungan seragam, dan kipas angin yang berbunyi seperti mesin perahu. Sepatu dinas berderet di bawah ranjang. Bau minyak rambut, kopi saset, dan kaus kaki lembap bercampur menjadi satu.

Bima baru memejamkan mata setelah menyerahkan shift kepada petugas pagi. Sebelum tidur, ia sempat menunjuk Doni dengan wajah serius.

"Jangan ceritakan kejadian semalam ke siapa pun."

Doni yang sedang melepas sepatu mengangguk. "Tenang, Bang. Mulutku terkunci."

"Termasuk soal dua orang itu."

"Siap."

"Termasuk Kak Anin."

Senyum Doni langsung melebar. "Nah, kalau yang itu..."

Bima melempar bantal ke wajahnya.

"Tidur."

Empat jam kemudian, Bima terbangun karena suara Doni berbisik kepada dua satpam lain.

"Serius, dua orang sekaligus. Bang Bima cuma begini, begini, terus..."

Bantal yang sama menghantam kepala Doni untuk kedua kalinya.

"Katanya mulutmu terkunci."

Doni menyingkirkan bantal. "Aku cuma cerita bagian yang nggak rahasia."

"Semuanya rahasia."

Dua satpam lain menahan tawa. Salah satunya, pria kurus berusia hampir empat puluh yang dipanggil Bang Kliwon, mengangkat kedua tangan.

"Kami nggak dengar apa-apa, Bim."

Bima duduk dan mengusap wajah. "Bagus. Pertahankan kemampuan itu."

Ia mandi dengan air yang hanya menetes kecil, lalu membeli kopi dan nasi bungkus dari warung depan gang. Menjelang pukul tiga sore, ponselnya bergetar.

Nama Kak Anin muncul di layar.

"Halo, Kak."

"Baru bangun?" Suara Anindya terdengar lebih segar daripada dini hari tadi, meski masih ada lelah di baliknya.

"Sudah dari tadi. Lagi sibuk menghitung masa depan."

"Ketemu hasilnya?"

"Kalau makan siang saja masih nasi bungkus, masa depan kelihatannya suram."

Anindya tertawa kecil. "Kalau begitu malam ini aku traktir. Jam tujuh, ya? Anggap saja ucapan terima kasih yang layak."

Bima melihat papan jadwal di dinding asrama.

Namanya tertulis pada shift malam.

"Jam tujuh bisa," jawabnya.

"Yakin nggak jaga?"

"Bisa diatur."

Setelah telepon ditutup, Bima mengenakan seragam dan berjalan ke kantor satpam dekat pos utama. Ia berniat meminta pertukaran shift. Doni bersedia menggantikannya; tinggal tanda tangan koordinator.

Di dalam kantor, Jarot duduk dengan kaki terangkat di atas meja. Usianya baru sekitar dua puluh dua, tetapi ia memelihara kumis tipis dan kebiasaan mengerutkan dahi agar terlihat lebih tua. Dua satpam berdiri di dekat lemari arsip sambil mendengarkan ceramahnya tentang disiplin.

Bima mengetuk kusen pintu.

"Bang Jarot."

Jarot menoleh lambat. "Siapa, ya?"

Dua satpam itu saling pandang.

"Bima. Shift malam."

"Oh." Jarot mengusap dagu, pura-pura baru ingat. "Satpam baru yang sok jago itu?"

Bima mengabaikan nada suaranya. "Doni bersedia tukar shift malam ini. Saya perlu izin."

"Nggak bisa."

"Jadwal tetap terisi. Doni sudah setuju."

"Aku bilang nggak bisa." Jarot menurunkan kaki dari meja. "Di sini aku komandannya. Bukan kamu."

Bang Kliwon yang baru masuk membawa buku laporan berhenti di dekat pintu. Ia memberi isyarat kecil agar Bima tidak memperpanjang urusan.

Bima tetap tenang. "Saya minta izin sesuai prosedur. Kalau ada alasan operasional, jelaskan."

Wajah Jarot mengeras. Ia tidak terbiasa diminta memberi alasan kepada bawahan.

"Alasannya karena aku nggak suka lihat mukamu. Cukup?"

"Bukan alasan operasional."

Salah satu satpam menunduk untuk menyembunyikan senyum. Jarot melihatnya. Rasa malu langsung berubah menjadi marah.

Ia berdiri dan mendekat sampai dada mereka hampir bersentuhan.

"Dengar, orang kampung. Seragam dan tempat tidurmu itu ada karena aku masih membiarkanmu kerja. Kalau aku mau, malam ini juga kamu bisa tidur di jalan."

"Ancaman selesai? Saya masih menunggu jawaban soal pertukaran shift."

PLAK!

Telapak Jarot menghantam pipi Bima.

Kantor mendadak sunyi.

Kepala Bima hanya bergeser sedikit. Ia menyentuh pipinya, lalu memandang Jarot.

"Itu jawabanmu?"

Jarot mendengus. "Kalau belum paham, panggil ibumu biar aku ajari sekalian..."

Tangan Bima bergerak.

Pukulannya hanya satu.

Tidak lebar, tidak memakai ancang-ancang. Buku jarinya berhenti tepat di sisi mulut Jarot.

Tubuh koordinator satpam itu berputar dan menabrak meja. Sebutir gigi jatuh di atas buku jadwal bersama dua tetes darah.

Jarot memegang mulutnya. Matanya membesar, lebih karena malu daripada sakit.

"Kau pukul aku?" suaranya terdengar pelo. "Kau berani pukul komandanmu?"

"Kamu yang mulai."

Bang Kliwon buru-buru berdiri di antara mereka. "Sudah! Jarot, kamu juga salah. Bima, keluar dulu. Biar dingin."

Bima berbalik menuju pintu.

Jarot melihat punggungnya dan kehilangan akal. Ia melompat, mengayunkan kaki ke titik paling vital tubuh seorang pria.

Bang Kliwon sempat berteriak.

Bima berputar lebih cepat.

Tendangan Jarot hanya mengenai udara. Tangan Bima menutup lehernya, lalu mengangkat tubuh itu sampai kedua ujung sepatu terlepas dari lantai.

Jarot mencakar pergelangan Bima. Wajahnya berubah merah, kemudian pucat.

"Dengar baik-baik," kata Bima pelan. "Kamu boleh benci aku. Boleh tahan izin. Boleh sembunyi di balik jabatan kecilmu."

Jarinya mengencang sedikit.

"Tapi jangan pernah bawa ibuku ke mulutmu lagi."

Ia melepaskan tangan.

Jarot jatuh terduduk, batuk-batuk sambil memegangi leher. Tak satu pun satpam berani menertawakan. Tatapan mereka kepada Bima telah berubah, setengah kagum dan setengah waspada.

Bima merapikan kerah seragamnya.

"Jadi, pertukaran shift saya disetujui atau tidak?"

Bang Kliwon menutup wajah. Doni, yang mengintip dari luar, hampir tertawa keras.

Jarot tak mampu menjawab.

Bima menganggap diam sebagai persetujuan dan berjalan keluar.

Bang Kliwon menyusul sampai lorong. "Bim, hati-hati. Jarot itu bukan cuma banyak mulut. Dia kenal beberapa preman dan paling nggak tahan dipermalukan."

"Saya juga paling nggak tahan telat makan."

"Aku serius."

Bima menepuk bahunya. "Saya juga. Jam tujuh ada janji."

Doni mengejar mereka sambil membawa buku pergantian shift.

"Bang, tanda tanganku sudah ada. Malam ini aku yang jaga. Tapi kalau Bang Jarot bilang tukarnya nggak sah, bagaimana?"

Bima mengambil pena, menulis jam penyerahan tugas, lalu memotret halaman itu dengan ponselnya.

"Sekarang ada catatannya. Simpan foto yang sama. Kalau ada yang menghapus atau mengubah jadwal, kita punya bukti."

Doni mengangguk, kali ini tanpa bercanda.

"Dan satu lagi," lanjut Bima. "Kejadian di kantor ini jangan kamu bumbui. Ceritakan persis kalau ada yang bertanya."

"Siap, Bang. Yang mulai menampar Bang Jarot, yang menendang dari belakang juga Bang Jarot."

"Bagus. Ternyata kamu bisa mengingat fakta."

Saat langkah Bima menghilang, Jarot perlahan bangkit dari lantai. Darah masih menempel di bibirnya. Ia menatap gigi yang tergeletak di atas buku jadwal, lalu mengepalkannya dalam telapak tangan.

Melawan Bima secara langsung adalah kebodohan.

Namun Jarot tidak harus melawannya secara langsung.

Dengan mata merah, ia meraih ponsel dan mulai menyusun cara agar satpam baru itu kehilangan pekerjaan, nama baik, dan kebebasannya sekaligus.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!