NovelToon NovelToon
Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Status: tamat
Genre:Evolusi dan Mutasi / Reinkarnasi / Action / Zombie / Hari Kiamat / Antagonis / Tamat
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: mamang to get her....

"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."

Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.

Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 Neraka Di Koridor SMA Fujimi

Genangan darah tebal dan aroma amis memuakkan menyambut Thomas begitu melangkahkan kaki melewati pintu kaca utama gedung SMA Fujimi. Suasana di dalam sungguh seperti neraka di bumi. Lantai marmer putih yang dulunya bersih berkilau kini licin tertutup genangan darah segar, ceceran organ dalam, dan beberapa buku pelajaran yang terinjak-injak. Suara jeritan histeris, histeria ketakutan, serta deburan pintu yang dihantam bertubi-tubi bergema riuh menembus lorong-lorong bangunan.

GGRRRRR...!

Tiga zombie berseragam sekolah yang tadinya membelakangi pintu langsung menoleh begitu mendengar derak langkah kaki Thomas. Dengan rahang meneteskan darah dan mata putih keruh tanpa kehidupan, ketiganya menerjang maju secara bersamaan. Koridor yang sempit membuat pergerakan mereka tumpang tindih.

Thomas tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Matanya melirik cepat mengamati pola gerak monster-monster itu.

"Sangat tidak teratur, bergantung penuh pada dorongan dorongan lapar," batin Thomas menganalisis.

Ia mengambil posisi kuda-kuda kokoh. Begitu zombie pertama—seorang siswa pria dengan leher robek setengah—menjangkau jarak tebas, Thomas mengayunkan machete baja perisainya melintang horizontal dari kiri ke kanan dengan daya tekan maksimal.

CRAAAK!

Bilah baja tebal bercat hitam itu memotong rahang bawah hingga menembus leher sang zombie. Kepala monster itu terlempar menabrak dinding, memercikkan darah hitam yang pekat.

Tanpa membiarkan momentumnya berhenti, Thomas memanfaatkan putaran tubuhnya untuk menarik kembali parang, lalu menancapkannya tepat di tengah-tengah dahi zombie kedua yang mencoba merangkul pinggangnya.

THUK!

Tengkorak zombie itu retak hebat. Thomas menendang dada mayat hidup itu dengan sepatu bot militernya agar bilah parang yang tertancap bisa terlepas dengan cepat.

Zombie ketiga—seorang siswi yang tangannya sudah patah terkulai—berusaha menggigit kakinya dari bawah. Thomas melangkah satu tindak ke samping, mengangkat kaki kanannya, lalu menghantamkan tumit sepatu botnya ke atas kepala zombie tersebut dengan kekuatan penuh.

CRUNCH!

Kepala zombie itu hancur berantakan seperti semangka matang yang dijatuhkan dari lantai tiga. Otak dan cairan busuk menyembur membasahi lantai marmer.

Thomas berdiri tegak, menyapu pandangannya ke sepanjang koridor utama. Di ujung lorong, puluhan siswa dan siswi berlarian tanpa arah. Beberapa di antara mereka sengaja mendorong teman di sampingnya hingga terjatuh agar dijadikan umpan bagi kerumunan zombie yang mengejar dari belakang.

"Manusia..." gumam Thomas dengan senyum sinis yang sangat tipis di balik masker taktisnya. "Ketika ilusi peradaban runtuh, binatang di dalam diri kalian langsung keluar tanpa tersisa."

Di dunia lama, anak-anak muda ini mungkin sibuk memikirkan penampilan, kepopuleran di sekolah, siapa yang paling tampan, atau siapa gadis paling cantik di kelas. Namun saat ini, di tengah koridor berdarah ini, kecantikan seorang siswi idola tidak ada harganya sama sekali. Gadis-gadis cantik yang biasanya dipuja-puja kini menangis tersedu-sedu di sudut lantai, merangkak memohon pertolongan kepada siapa saja, hanya untuk diabaikan atau disepak oleh siswa lain yang berusaha menyelamatkan nyawanya sendiri.

Kedudukan, kepopuleran, kekayaan orang tua—semuanya menguap menjadi sampah yang tak berguna dalam hitungan menit. Hanya ada satu hukum yang berlaku sekarang: yang kuat dan berdarah dingin yang bertahan hidup.

Thomas melangkah maju menelusuri koridor, melangkahi mayat-mayat yang berserakan. Setiap ada zombie yang mendekat atau mencoba menghalangi jalannya, parang bajanya berayun dengan presisi mematikan. Satu tebasan, satu nyawa tewas. Efisiensi pergerakan Thomas sungguh luar biasa; tidak ada tenaga yang dibuang sia-sia, tidak ada emosi yang mencemari keputusannya.

Tiba-tiba, suara benturan keras dari arah tangga tengah menarik perhatiannya.

CLANG! CLANG! BANG!

Suara tebasan tombak kayu, tembakan paku pneumatik, serta dentuman tongkat kendo bergema nyaring bercampur dengan teriakan instruksi seorang pria.

Thomas memperlambat langkahnya, merapatkan tubuh ke dinding koridor seraya mengintip ke arah tangga utama. Di sana, sekelompok siswa sedang bertarung sengit menahan gempuran belasan zombie yang mengepung mereka dari dua arah.

Thomas mengenali wajah-wajah itu seketika.

Seorang pemuda berambut acak-acakan memegang tombak buatannya dari tongkat pel dan pisau komando—Takashi Komuro. Di sampingnya berdiri seorang gadis cantik berambut cokelat dengan kuncir dua yang memegang tombak sungguhan dengan sisa-sisa keberanian—Rei Miyamoto.

Tidak jauh dari mereka, seorang siswi senior berambut ungu panjang mengayunkan bokken (pedang kayu) dengan teknik keahlian pedang yang luar biasa mematikan—Saeko Busujima. Lalu ada pemuda bertubuh gempal yang dengan mahir menembakkan paku-paku tajam menggunakan pistol paku modifikasi—Kohta Hirano, serta siswi kacamata berambut merah muda yang bertindak memberi perintah—Saya Takagi.

"Ah, para 'pemeran utama'..." bisik Thomas dingin dari balik kegelapan lorong.

Mereka bertarung dengan kepanikan yang terkoordinasi, didorong oleh tekad keagungan moral dan rasa saling melindungi yang naif. Thomas menatap mereka bukan dengan rasa kagum, melainkan dengan pandangan seorang pemburu yang sedang menilai mangsanya.

Kelompok itu berhasil bertahan untuk sementara, namun jumlah zombie yang datang dari arah lantai atas terus bertambah. Jalur menuju pintu keluar parkiran bus terancam tertutup sepenuhnya.

Thomas memegang erat gagang machete-nya yang licin oleh darah. Ia memutuskan untuk bergerak maju. Bukan untuk menjadi bagian dari kelompok mereka, melainkan untuk menggunakan keberadaan mereka sebagai instrumen pelancar rencananya menuju bus sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!