NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Keringat Tuan Muda

Tiga hari berlalu sejak armada pelopor Divisi Matahari Darah dipukul mundur dan kapalnya disita. Bagi Sekte Angin Merah, tiga hari ini adalah masa transisi dari sebuah sekte pedang pinggiran menjadi benteng militer paling bersenjata di seluruh Benua Utara.

Kehidupan sehari-hari di sekte berubah drastis. Jika sebelumnya para murid Pelataran Dalam mengeluh tentang kurangnya jatah batu roh bulanan, kini mereka mengeluh karena tangan mereka kram menghitung ribuan keping batu roh tingkat tinggi.

Di Alun-Alun Puncak Pedang, sebuah tradisi baru sekte baru saja lahir: Perebutan Ranking Perampok.

Mo Tian, bertindak atas nama Zeng Niu, mendirikan sebuah papan pengumuman raksasa. Peringkat murid tidak lagi ditentukan murni dari adu pedang, melainkan dari seberapa efisien mereka menyortir, memperbaiki, dan mengintegrasikan senjata-senjata dari Benua Tengah ke dalam formasi sekte. Mereka yang berada di posisi sepuluh besar diberikan akses ke Ruang Gravitasi Waktu sebuah artefak ruang yang baru saja ditemukan di salah satu kapal musuh.

"Wang Chen, kau membuang waktu tiga detik hanya untuk melepas zirah jenderal itu! Di medan perang sungguhan, musuhmu sudah meledakkan dirinya!" omel Mo Tian, mengawasi latihan simulasi pembongkaran artefak.

Di dunia kultivasi, kekuatan adalah segalanya, namun sumber daya adalah bahan bakarnya. Sekte Angin Merah sedang mencerna nutrisi dari Istana Pusat dengan kecepatan rakus.

Sementara para murid sibuk dengan latihan dan sumber daya, pemandangan yang jauh lebih kontras terjadi di area formasi urat nadi bumi di belakang gunung.

TANG! TANG! TANG!

Suara palu godam menghantam logam astral bergema tanpa henti.

Gongsun Yun, Tuan Muda dari Klan Gongsun yang sebelumnya tampil anggun dengan jubah sutra dan kipas giok, kini telanjang dada. Wajah tampannya cemong oleh debu arang dan oli formasi. Tangan yang biasanya memegang kuas rune kini melepuh karena memegang palu pahat.

Di sebelahnya, Tetua Li dan Tetua Zhao dua pelindung tingkat Soul Transformation Awal yang biasanya dihormati seperti dewa di klan mereka terengah-engah memikul sebuah meriam seberat puluhan ribu kati.

"Luruskan jalur Qi-nya, Tuan Muda Gongsun! Jika kau salah menggambar satu rune saja di laras meriam itu, aku akan mencabut kuku jarimu satu per satu," ancam Zeng Niu santai, duduk di atas sebuah batu besar sambil mengunyah buah persik spiritual.

"A-Aku sudah meluruskannya, Paman Muda Niu!" jawab Gongsun Yun dengan suara gemetar dan hampir menangis. Harga dirinya sebagai jenius nomor satu telah hancur lebur menjadi debu. Setiap kali ia mencoba memprotes, tekanan fisik asura dari Zeng Niu akan membuatnya batuk darah.

Kenyataan memukul Gongsun Yun dengan sangat keras. Di hadapan kekuatan kuat dan kekejaman seorang algojo, status keluarga bangsawan atau bakat formasi tingkat tinggi tidak lebih dari sekadar kualifikasi untuk menjadi pekerja yang lebih berguna.

Zeng Niu melompat turun dari batu. Ia memeriksa sambungan terakhir dari lima puluh laras meriam yang kini menancap kokoh mengelilingi puncak gunung, terhubung langsung ke urat nadi bumi dan ditenagai oleh Air Mata di pusatnya.

"Formasi Ilusi Delapan Trigram yang kau banggakan itu hanyalah cangkang kura-kura," ucap Zeng Niu, menepuk pipi Gongsun Yun yang kotor dengan tangannya. "Yang kita buat ini adalah Formasi Asura. Saat meriam ini ditembakkan serentak, ia tidak mengeluarkan api, melainkan menembakkan gravitasi dan racun karma kematian. Bahkan ahli Nirvana pun harus berpikir dua kali sebelum menabraknya."

Kedua tetua Klan Gongsun menelan ludah ngeri melihat desain formasi yang mereka bangun sendiri di bawah paksaan pemuda ini. Menggabungkan kapal Benua Tengah dengan monster karma dari Lautan Bintang... Zeng Niu benar-benar seorang arsitek kematian.

"Bagus. Lanjutkan pekerjaan kalian menyegel celah udara. Aku punya urusan di dalam kapal bendera," perintah Zeng Niu, meninggalkan trio bangsawan yang kelelahan itu.

Zeng Niu melesat ke udara dan mendarat di atas geladak kapal bendera milik mendiang Jenderal Xue Yang.

Kapal ini jauh lebih besar dan mewah dari empat puluh sembilan kapal lainnya. Setelah memastikan murid-muridnya telah membersihkan geladak luar, Zeng Niu masuk ke dalam Ruang Kapten yang terletak di anjungan utama.

Ruangan itu luas, berlantaikan marmer merah dan dihiasi oleh ornamen naga emas. Namun, Niat Ketiadaan Zeng Niu langsung merasakan sebuah anomali spasial di balik lukisan Kaisar Langit yang terpampang di dinding.

Zeng Niu menyeringai. "Menyembunyikan ruang saku di balik lukisan? Trik kuno."

Ia mengayunkan telapak tangannya, melepaskan gelombang Qi yang merobek lukisan dan formasi ilusi di baliknya. Sebuah lemari besi yang terbuat dari Baja Darah Bintang muncul. Di bagian tengahnya, terdapat lubang kunci berbentuk pusaran yang memancarkan aura Ascendant. Kunci Darah.

"Hanya bisa dibuka oleh darah keturunan atau Qi dari Jenderal Xue Yang," gumam Zeng Niu. "Sayang sekali Xue Yang sudah menjadi es milik Ying'er."

Namun, di hadapan Niat Jurang Ketiadaan, kunci fisik adalah lelucon.

Zeng Niu memfokuskan Domain Asura-nya ke ujung jarinya, mengubah jarinya menjadi lubang hitam kecil, lalu menusukkannya tepat ke lubang kunci tersebut.

KRAAAK! SSSSHHH!

Logam tingkat surga itu meleleh dimakan oleh kehampaan. Pintu lemari besi itu bergeser terbuka, melepaskan kabut energi spiritual yang begitu murni hingga membuat tingkat kultivasi Zeng Niu beriak pelan.

Di dalam lemari besi itu, tidak ada tumpukan batu roh atau senjata. Hanya ada sebuah kotak kayu gaharu yang tampak biasa saja.

Zeng Niu membuka kotak itu dengan hati-hati.

Di dalamnya, mengambang sebuah biji seukuran buah kenari. Biji itu transparan, dan di dalamnya, tampak replika miniatur dari sebuah galaksi yang terus berputar! Aroma penciptaan menguar darinya.

Lautan Kesadaran Zeng Niu mendidih. Lei Ling, sang roh pedang yang biasanya berisik, kini terdiam kaget sebelum akhirnya menjerit histeris.

"Niu! Demi Surga! I-Itu adalah Benih Dunia!" seru Lei Ling. "Ini adalah Harta Karun Tingkat Primal! Benda ini biasanya hanya dimiliki oleh ahli ranah Kaisar Bumi untuk membangun dimensi saku mereka sendiri! Xue Yang pasti sedang mengantarkan ini untuk Pangeran Di Tian agar pangeran itu bisa membentuk dunianya saat mencapai Ascendant Sejati!"

Zeng Niu menahan napasnya. Mata asuranya menyala dengan ketamakan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Di ranah Soul Transformation, kultivator membentuk alam semesta ilusi di Dantian mereka. Bagi Zeng Niu, itu adalah Lautan Ketiadaan. Namun, untuk mencapai ranah Ascendant dan seterusnya, ilusi itu harus diubah menjadi realitas. Benih Dunia adalah jalan pintas paling menentang surga untuk mengubah Dantian menjadi alam semesta yang nyata!

"Jika aku menanam ini di dalam Lautan Ketiadaanku... Dantianku tidak hanya akan menyimpan Qi, tapi akan melahirkan hukum alamnya sendiri," bisik Zeng Niu, tangannya sedikit gemetar saat mengangkat biji galaksi tersebut.

Tanpa ragu, ia langsung duduk bersila di tengah Ruang Kapten. Ia menelan Benih Dunia itu bulat-bulat!

BOOOOOOOOOOOOOOM!

Begitu biji itu menyentuh Dantiannya, ledakan penciptaan terjadi di dalam tubuhnya! Tiga jiwanya Dewa, Iblis, dan Manusia yang bersemayam di dalam Dantian meraung serentak, menyambut fondasi alam semesta baru tersebut.

Zeng Niu menutup matanya, memasuki meditasi terdalamnya. Ia tidak akan langsung menerobos ke Ascendant energinya terlalu banyak untuk diserap dalam semalam namun Benih Dunia ini akan meleburkan parit pemisah antara dirinya dan langit. Mulai hari ini, fondasinya benar-benar telah berada di jalur yang sama dengan para penguasa dimensi.

Tujuh Hari Kemudian.

Pembangunan formasi di Sekte Angin Merah telah selesai sempurna. Tuan Muda Gongsun Yun dan dua tetuanya dibiarkan pingsan kelelahan di pinggir tebing, tubuh mereka kurus kering akibat diperas tenaganya oleh kelompok Angin Merah.

Sekte yang dulunya dikelilingi kabut merah tipis, kini tertutup oleh kubah bintang yang memancarkan kilatan hitam mematikan. Lima puluh meriam raksasa tersembunyi di balik tebing.

Di balkon paviliun, Ketua Sekte Jiu Feixue dan Leluhur Jiu Zui berdiri bersebelahan, menatap langit utara.

Udara mendadak berhenti mengalir. Suara kicau burung spiritual lenyap. Suhu turun bukan karena es, melainkan karena tekanan pembunuhan yang begitu pekat hingga membentuk awan hitam yang menutupi matahari sepenuhnya.

Dari balik awan hitam itu, tidak muncul kapal-kapal kayu.

Melainkan sebuah Kota Melayang yang terbuat dari perak dan tulang dewa-iblis kuno!

Kota melayang itu luasnya mencapai ratusan mil, menutupi seluruh cakrawala. Di atas tembok kota tersebut, jutaan prajurit berzirah emas berdiri rapat. Ribuan naga bersisik baja terbang mengelilinginya, meraung merobek gendang telinga siapa pun yang mendengarnya.

Dan di puncak menara tertinggi kota melayang itu, duduk seorang pria paruh baya mengenakan jubah kekaisaran berwarna emas gelap. Di tangannya, ia memegang sebuah bola dunia ilusi yang merepresentasikan Benua Utara.

Jiu Zui menenggak sisa araknya, wajahnya yang keriput kini menegang luar biasa. Ia meremukkan kendi araknya menjadi debu.

"Itu adalah Kota Penghakiman Surga," ucap Jiu Zui dengan suara serak, Niat Kaisar Raja-nya perlahan bangkit. "Dan pria di atas menara itu... adalah Raja Perang Di Cang, adik kandung dari Kaisar Langit. Kultivasinya... berada di puncak ranah Kaisar Bumi."

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!