"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
Di dalam ruang kerja mewah yang remang-remang, udara terasa begitu beku hingga napas pun seolah ikut membeku. Joni berdiri dengan posisi tegap, namun kedua lututnya bergetar hebat di balik celana kain mahalnya. Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur mulus dari pelipisnya.
"Maafkan saya, Sir! Gadis itu menghilang ditelan bumi!" cicit Joni dengan suara sekecil tikus kejepit. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap langsung mata bosnya.
Leonard terdiam. Pria bertubuh tegap dengan garis wajah bak pahatan dewa Yunani itu duduk di kursi kebesarannya tanpa ekspresi.
Tidak ada teriakan. Tidak ada barang mahal yang melayang. Hanya keheningan yang justru berkali-kali lipat lebih mengerikan daripada amukan badai.
Joni menelan ludahnya dengan sangat susah payah. "Tamatlah riwayatku. Aku pasti akan dijadikan makanan buaya peliharaan tuan Leonard di halaman belakang hari ini," batin Joni histeris.
"Ditelan bumi, katamu?" Suara Leonard akhirnya memecah keheningan. Nadanya sangat rendah dan dingin, nyaris seperti bisikan mematikan yang merambat di lantai marmer.
"Benar, Sir. Kami sudah melacak rekaman cctv di sekitar hotel, mengobrak abrik kosan gadis itu, bahkan memantau mutasi rekeningnya. Tapi jejaknya terputus begitu saja setelah dia keluar dari area radius hotel. Gadis itu seolah tidak pernah ada," jelas Joni terbata-bata.
Leonard memutar pena emas di sela-sela jarinya. Matanya menatap tajam ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap kota. Mafia dingin itu seolah sedang memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.
Bagaimana mungkin seorang gadis ceroboh yang bahkan tidak menyadari penyamarannya semalam bisa lolos dari sistem pelacakan elit miliknya?
"Gadis itu adalah penawar hidupku, satu-satunya wanita di dunia ini yang sentuhannya tidak membuat kulitku terbakar atau napas ku sesak. Dan sekarang aku kehilangannya?" batin Leonard tajam.
Leonard mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Dengar, Jojo, kerahkan semua orang kita. Lipat gandakan bayarannya. Meski dia bersembunyi di ujung dunia sekalipun, aku akan menyeretnya kembali ke ranjangku. Paham?!"
"Paham, Sir! Tapi maaf, nama saya Joni, Sir. Bukan Jojo," ralat Joni dengan suara super pelan, memelas mempertahankan harga diri nama pemberian ibunya.
"Aku tidak peduli siapa namamu!" gertak Leonard, membuat Joni refleks melompat kecil dan kembali bersikap hormat.
Tepat pada saat itu, dering telepon khusus memecah ketegangan. Mata Leonard sedikit melebar saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Leonard memberi isyarat tangan agar Joni diam, lalu menerima panggilan itu. "Halo, Pa."
"Leon, sampai kapan kamu mau mengabaikan kakek dan nenekmu? Mereka merindukan cucu kesayangannya," ucap sang papa dari seberang sana.
Leonard memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut.
"Pa, aku sedang sangat sibuk. Ada hal yang jauh lebih penting yang sedang aku cari."
"Lebih penting dari keluargamu sendiri? Kamu harus segera terbang ke Indonesia, Leo," potong Diego tegas.
"Indonesia?!" dahi Leonard berkerut tajam. "Untuk apa? Aku tidak bisa meninggalkan markas dan pekerjaanku di sini, Pa."
"Kakekmu sedang sakit. Dia terus mencari mu. Karena sampai sekarang, hanya kamu yang masih melajang! Papa juga mau kamu mengelola perusahaan dan perkebunan teh keluarga kita di desa sana. Kakekmu sudah terlalu tua untuk mengurus semuanya sendiri."
Leonard mendengus keras. "Kirim orang lain saja, Pa. Aku bisa membayar manajer perkebunan terbaik di dunia untuk mereka."
"Ini bukan soal manajer, Leon! Ini perintah! Kakekmu hanya mau dirawat olehmu!" bentak Diego tak mau dibantah.
Leonard terdiam. Betapapun kejam dan berdarah dinginnya ia di dunia bawah, Leonard adalah pria yang sangat menyayangi keluarganya, terutama kakek dan neneknya yang banyak merawatnya semasa kecil.
Sebuah helaan napas kasar akhirnya keluar dari bibir Leonard.
"Baik. Aku akan ke sana besok."
"Bagus. Papa sudah menyiapkan semuanya."
Panggilan ditutup sepihak.
Leonard meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja, menatap tajam asistennya yang masih mematung seperti pajangan dinding.
"Joni!"
"Ya, Sir!"
"Siapkan jet pribadi. Kita berangkat ke Indonesia besok pagi. Dan pindahkan seluruh fokus pencarian ke area Asia. Karena kemana pun gadis itu lari, aku pasti akan mendapatkannya lagi," titahnya dingin.
*
*
Sepanjang perjalanan pulang dari klinik Bidan Ningrum, suara tangisan Elena sukses mengalahkan paduan suara jangkrik desa. Jalanan tanah berbatu yang gelap gulita sama sekali tak menyurutkan dramanya malam ini.
Bella berjalan di depan sambil menyorotkan senter ponsel, wajahnya ditekuk hingga menyerupai kertas kusut. Kepalanya rasanya mau pecah.
Bagaimana tidak stres? Sahabatnya baru saja divonis hamil anak kakek-kakek!
"Nanti kalau anakku lahir, wajahnya langsung keriput bagaimana? Terus kalau dia lahir langsung minta tongkat dan gigi palsu, aku harus cari dimana?!" ratap Elena sambil menyeka ingusnya dengan ujung lengan.
Bella menghentikan langkahnya dan membalikkan badan dengan napas memburu.
"Ya Tuhan, Elena! Kamu bisa diam tidak, sih?! Otakku sudah mau meledak memikirkan benih super si kakek itu!" sungut Bella frustrasi.
Dalam hati, Bella sungguh menyesal setengah mati. "Sialan! Tahu begitu, tidak akan kubiarkan Elena masuk ke kamar hotel itu. Siapa sangka kakek-kakek yang kelihatannya tinggal menunggu ajal, ternyata punya tenaga kuda dan sper-ma sekuat baja?!"
"Tapi aku stres, Bel! Perutku mual." Elena berjongkok di pinggir jalan, kembali menangis meraung-raung. "Aduh, anak kakek ini lapar lagi. Bella, aku mau wagyu dan salmon sashimi sekarang! Cepat carikan!"
Rahang Bella nyaris lepas mendengarnya.
"Bisa gila aku lama-lama! Jam dua pagi di pelosok desa begini kamu minta wagyu?! Adanya juga sate usus di pos ronda!"
"Tidak mau! Aku maunya daging mahal! Ini pasti gen kakek sultan yang minta hiks..."
Bella memijat pelipisnya keras-keras. Habis sudah kesabarannya malam ini. Ia berkacak pinggang menatap sahabatnya yang masih merengek.
"Dengar ya, Elena Anastasia!" Sekarang kamu cuma punya dua pilihan. Pertama, kamu lahirkan benih si kakek itu dan kita besarkan sama-sama di desa ini. Atau kamu gugurkan saja sekalian biar hidup kita tenang!"
Mata Elena mendadak membulat sempurna. Ia langsung berdiri dan menyilangkan tangan di depan perutnya yang masih rata dengan sangat protektif.
"Sembarangan! Enak saja digugurkan! Itu dosa besar, Bella! Aku tidak mau masuk neraka cuma gara-gara mau hapus jejak si kakek! Anak ini tidak salah!" pekik Elena panik, air matanya seketika mengering.
Mendengar jawaban itu, Bella langsung menarik lengan Elena dengan gemas untuk kembali berjalan menuju rumah.
Sesampainya di dapur sederhana mereka, Bella menyodorkan sepiring tempe mendoan sisa tadi sore dengan wajah garang.
"Bagus kalau kamu masih tahu dosa! Sekarang jangan banyak bicara lagi! Anggap saja mendoan dingin ini croissant dari Paris dan kecapnya itu caviar! Habiskan!" bentak Bella tajam, menunjuk piring tersebut dengan raut tak terbantahkan.
Elena mengerucutkan bibirnya pasrah. Sambil menahan isakan sesenggukan, tangan mungilnya akhirnya mengambil tempe mendoan itu dan mengunyahnya dengan dramatis di tengah malam buta.
tetang bagaimana jadinya ada anak kecil yng mirip
Elena pasti panik melihat Naomi , berasa jadi wanita simpanan
🤣🤣
Leon siap siap jadi asisten opa dan oma mu🤣
meskipun namanya Leon tetap saja akan kupanggil singa yang alergi sentuhan🤣
hahaha Joni sampai menangis itu lho Leon 😂
habislah Leon setelah ini di tangan opa Xander 🤣
berani banget menghamili gadis sampai ada nya seorang anak yang menyebalkan