NovelToon NovelToon
The Extra Who Changed Fate

The Extra Who Changed Fate

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.

Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.

Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.

Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.

Namun kali ini, takdir berubah.

Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.

Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Berbeda dengan kelas 10-B yang memilih konsep tenang, kelas Kieran dan Elora — 10-A — memutuskan mengadakan pertunjukan drama musikal untuk festival tahun ini, sebuah proyek besar yang membutuhkan koordinasi jauh lebih rumit.

"Kieran, kamu jadi sutradaranya, kan?" tanya salah satu teman sekelas di tengah rapat persiapan.

"Sudah kubilang berkali-kali, aku bukan yang paling ahli soal drama," Kieran menjawab, meski akhirnya tetap mengangguk menerima tanggung jawab itu — sesuatu yang sudah biasa terjadi setiap kali ada kegiatan besar. Orang-orang selalu secara alami menyerahkan kepemimpinan padanya.

Elora, yang kebagian tugas menulis naskah bersama Emma, duduk di sudut ruangan sambil mencoret-coret ide dialog.

"Menurutmu ceritanya harus seperti apa?" tanya Emma, menyesap tehnya tenang.

"Sesuatu yang ringan tapi berkesan," jawab Elora, meski pikirannya sesekali melayang entah ke mana.

"Kamu kepikiran sesuatu?" Emma menatapnya lurus, seperti biasa langsung menangkap perubahan kecil di raut wajah sahabatnya.

"Nggak, kok," Elora buru-buru menjawab, meski pipinya sedikit merona.

Emma tidak mendesak lebih jauh, hanya tersenyum tipis sambil kembali menulis. Ia sudah cukup lama mengenal Elora untuk tahu kapan sahabatnya sedang menyembunyikan sesuatu — dan kali ini, ia punya dugaan kuat soal siapa yang mengisi pikiran itu.

Di sisi lain ruangan, Kieran memperhatikan dari kejauhan bagaimana Elora sesekali tersenyum sendiri di tengah diskusi naskah, ekspresi yang jarang ia lihat belakangan ini kecuali saat nama tertentu disebut.

Ia mengalihkan pandangan, mencoba fokus pada daftar pemeran yang harus segera ia tentukan. Namun rasa tidak nyaman yang samar itu kembali muncul, mengendap di dadanya seperti kerikil kecil yang terus mengganjal langkah.

"Kieran, kamu dengar aku, nggak?" Adrian menepuk bahunya, membuyarkan lamunan.

"Eh, apa?"

"Aku tanya, siapa yang mau kamu ajak jadi pemeran utama?"

Kieran menghela napas, mencoba mengembalikan fokusnya. "Belum tahu. Coba lihat daftar audisi dulu."

Ia menepis pikiran-pikiran yang mengganggu itu untuk sementara, meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya perasaan sesaat yang akan hilang dengan sendirinya. Namun jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang mulai tumbuh — pelan, namun pasti — dan ia belum siap mengakuinya.

Hari-hari menjelang Festival Starline berjalan semakin sibuk. Setiap sore, halaman sekolah dipenuhi kelompok-kelompok siswa yang berlatih untuk berbagai pertunjukan, sementara yang lain sibuk membangun dekorasi stan di lapangan utama.

Rean menghabiskan waktu sepulang sekolah di ruang klub sastra, menyortir buku-buku yang akan dipajang di stan kelasnya bersama beberapa anggota klub lain. Elora, yang seharusnya sibuk dengan latihan drama musikal kelasnya, selalu berhasil menyempatkan diri mampir.

"Kamu nggak seharusnya latihan drama sekarang?" tanya Rean ketika Elora muncul lagi sore itu, membawa dua gelas minuman dingin.

"Sudah selesai bagianku," jawab Elora santai, meski sebenarnya ia sengaja mempercepat latihannya hari itu. Ia menyerahkan salah satu gelas ke tangan Rean.

"Nih, buat kamu. Pasti haus dari tadi sortir buku."

"Terima kasih." Rean menerimanya dengan senyum tulus, langsung meminumnya tanpa curiga sedikit pun terhadap perhatian kecil itu.

Elora duduk di kursi seberang, memperhatikan cara Rean menyusun buku-buku dengan rapi dan teliti, sesekali membaca sinopsis di sampul belakang sebelum memutuskan apakah cocok dipajang atau tidak.

"Kamu benar-benar suka buku, ya," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

"Buku pernah jadi satu-satunya duniaku," jawab Rean, tanpa mengangkat kepala dari tumpukan buku di depannya. "Jadi rasanya seperti bertemu teman lama setiap kali menyentuhnya lagi."

Elora tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Semakin lama mengenal Rean, semakin ia menyadari bahwa di balik kepolosannya, ada kedalaman yang jarang ia temukan pada orang lain seusianya — cara pandang yang sederhana namun jujur, tanpa dibuat-buat.

"Rean," katanya pelan, mencoba peruntungan, "kalau festival nanti selesai, mau nggak jalan berdua? Cuma kita berdua aja."

Rean akhirnya mengangkat kepala, menatap Elora dengan mata berbinar penuh semangat. "Boleh banget! Aku belum pernah jalan-jalan santai kayak gitu. Mau ke mana?"

Elora sedikit terkejut dengan responsnya yang begitu cepat dan antusias, sampai lupa sejenak bahwa maksudnya sebenarnya jauh lebih personal dari sekadar "jalan-jalan santai" biasa.

"Terserah kamu aja," jawabnya, mencoba menyembunyikan senyum lebar yang mulai sulit ia tahan. "Yang penting kita berdua."

"Oke!" Rean mengangguk semangat, lalu kembali fokus menyortir buku-bukunya, benar-benar tidak menyadari bahwa ia baru saja menerima sesuatu yang jauh lebih berarti daripada sekadar rencana jalan-jalan biasa bagi orang di depannya.

Elora menghela napas pelan, antara gemas dan geli sendiri. Ia menopang dagu, memperhatikan Rean yang masih serius dengan tugasnya, dan membiarkan senyumnya mengembang tanpa perlu disembunyikan lagi — toh, orang yang seharusnya menyadarinya sama sekali tidak menaruh curiga.

Di luar jendela ruang klub, matahari sore perlahan tenggelam, menyisakan cahaya keemasan yang menyinari ruangan kecil itu — saksi diam dari perasaan yang perlahan tumbuh, sekecil apa pun langkahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!