NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Sarjana Pengangguran

"Maaf, Saudara Rian. Untuk posisi ini, kami membutuhkan kandidat dengan pengalaman minimal dua tahun."

Kalimat itu terdengar sopan.

Terlalu sopan sampai rasanya seperti pintu lift yang menutup tepat di depan wajah.

Rian Prasetyo duduk di kursi plastik ruang wawancara, punggung kemejanya basah oleh keringat. Di luar kaca gedung, matahari Jakarta memantul di badan mobil-mobil yang merayap pelan. Di dalam ruangan ber-AC, dua orang pewawancara menatapnya dengan senyum tipis yang sudah ia hafal.

Senyum untuk orang yang akan ditolak.

"Saya mengerti, Pak," kata Rian, masih berusaha terdengar tenang. "Terima kasih atas waktunya."

Pria berkemeja biru di depannya mengangguk. "CV Anda cukup baik. Hanya saja, perusahaan kami sedang mencari orang yang bisa langsung bekerja tanpa banyak pelatihan."

Langsung bekerja.

Tanpa pelatihan.

Rian hampir tertawa.

Kalau semua perusahaan mencari orang berpengalaman, lalu sarjana baru seperti dia harus mendapatkan pengalaman dari mana? Dari mimpi? Dari video motivasi? Dari komentar orang tua tetangga yang bilang, "Yang penting rajin, nanti rezeki datang sendiri"?

Tapi ia tidak mengatakan semua itu.

Ia hanya berdiri, membungkuk sedikit, lalu keluar dari ruangan dengan map CV yang ujungnya sudah melengkung.

Di depan lift, ia membuka ponsel.

Satu pesan baru masuk.

Subjek: Hasil Interview.

Isinya pendek.

Terima kasih atas ketertarikan Anda. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, kami memutuskan untuk melanjutkan proses dengan kandidat lain.

Rian menatap layar itu beberapa detik.

Lalu ia membuka catatan kecil di ponselnya.

Interview ke-53: gagal.

Angka itu seperti batu kecil yang dilempar ke kepalanya. Tidak besar, tapi kalau dilempar lima puluh tiga kali, tetap saja sakit.

Pintu lift terbuka. Beberapa karyawan masuk sambil tertawa kecil membicarakan makan siang. Rian ikut masuk, berdiri di pojok, memeluk map CV di dada seperti memeluk satu-satunya bukti bahwa ia pernah punya harapan.

Di lantai dasar, satpam gedung menatapnya sebentar.

"Sudah selesai, Mas?"

"Sudah, Pak."

"Semoga diterima."

Rian tersenyum tipis. "Amin."

Jawaban itu keluar otomatis. Mulutnya masih bisa sopan, meski hatinya sudah duduk bersila di pinggir jalan sambil mengibarkan bendera putih.

Begitu keluar dari gedung, udara panas menampar wajahnya. Klakson motor, suara penjual minuman, dan deru bus kota bercampur jadi satu. Jakarta tetap bergerak, tidak peduli ada satu sarjana pengangguran yang baru saja ditolak untuk kali ke-53.

Rian berjalan tanpa tujuan.

Saldo di rekeningnya tinggal 152 ribu Rupiah.

Kos belum dibayar.

Pulsa hampir habis.

Sepatu hitam yang ia pakai untuk wawancara sudah mulai mengelupas di bagian depan.

Ibunya tadi pagi masih mengirim pesan: Kalau belum dapat kerja, jangan lupa makan. Bapak bilang kamu jangan terlalu memaksa diri.

Jangan memaksa diri?

Rian menelan ludah.

Kalau ia tidak memaksa diri, siapa yang akan membayar hidupnya?

Ia berhenti di depan warung kecil, membeli es teh manis paling murah. Ibu penjual warung menyodorkan plastik minuman dengan senyum lelah.

"Kelihatan capek, Mas. Habis kerja?"

Rian menerima minuman itu.

"Habis cari kerja, Bu."

"Oh." Senyum ibu itu melunak. "Semoga cepat dapat, ya. Anak saya juga baru lulus. Susah sekarang."

Rian mengangguk.

Susah sekarang.

Dua kata itu lebih jujur daripada semua brosur kampus yang dulu menjanjikan masa depan cerah.

Ia berjalan lagi sambil menggigit sedotan. Teh manis itu terlalu encer, tapi setidaknya dingin. Untuk beberapa detik, kepalanya tidak terasa seperti mesin yang dipaksa menyala tanpa bensin.

Lalu dunia di depannya tiba-tiba membeku.

Bukan benar-benar membeku.

Orang-orang masih berjalan. Motor masih melintas. Matahari masih panas.

Tapi di depan mata Rian, sebuah panel biru setengah transparan muncul begitu saja.

Panel itu mengambang kira-kira setengah meter dari wajahnya, bersih, terang, dan mustahil.

[Sistem Rugi berhasil diaktifkan.]

[Host terikat: Rian Prasetyo.]

Rian berhenti mendadak.

Seorang pengendara motor hampir menyenggol bahunya.

"Woi, jalan yang bener!"

Rian tidak menjawab. Matanya menempel pada panel biru itu.

Tulisan baru muncul.

[Dana Sistem: Rp 50.000.000.000]

Lima puluh miliar Rupiah.

Rian membaca angka itu sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Otaknya tidak langsung menerima.

Lima puluh miliar bukan angka yang biasa muncul dalam hidupnya. Angka terbesar yang pernah ia lihat secara langsung adalah tagihan semester, dan itu saja sudah membuat lututnya lemas. Lima puluh miliar terasa seperti jumlah yang dipakai konglomerat untuk membeli gedung, bukan untuk muncul di depan mata sarjana pengangguran dengan saldo 152 ribu.

"Gue... halusinasi?"

Ia mengangkat tangan, mencoba menyentuh panel itu.

Jarinya menembus cahaya biru seperti menembus kabut dingin.

[Panduan dasar:]

[1. Dana Sistem hanya dapat digunakan untuk investasi bisnis legal.]

[2. Dana Sistem tidak dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi host.]

[3. Pada akhir Siklus, kerugian bisnis yang sah akan dikonversi menjadi Dana Pribadi host dengan nilai setara.]

[4. Jika bisnis menghasilkan keuntungan, Dana Pribadi host tidak bertambah dari keuntungan tersebut.]

[5. Siklus Pertama: 90 hari.]

Rian berdiri kaku di pinggir trotoar.

Ia membaca aturan itu pelan-pelan.

Lalu membaca lagi.

Kerugian bisnis dikonversi menjadi Dana Pribadi.

Kalau rugi, ia dapat uang pribadi.

Kalau untung, ia tidak dapat apa-apa.

Rian menutup mata.

Mungkin ini akibat kurang makan.

Mungkin gula dari es teh murahan tadi tidak cocok dengan otaknya.

Mungkin setelah ditolak 53 kali, harga diri manusia memang bisa memunculkan layar biru.

Ia membuka mata.

Panel itu masih ada.

"Kalau ini bener..." bisiknya, "berarti gue harus bisnis, terus bikin bisnis itu rugi?"

[Pemahaman host: benar.]

Rian mundur satu langkah.

"Bisa jawab juga?"

Tidak ada respons.

Panel itu hanya berkilau tenang, seperti mesin ATM dari masa depan yang tidak peduli perasaan manusia.

Rian menarik napas, lalu mencoba berpikir seperti orang waras. Kalau ada uang 50 miliar, tes pertama paling sederhana adalah mengambilnya.

"Transfer satu juta ke rekening pribadi gue."

[Ditolak.]

[Dana Sistem tidak dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi host.]

"Seratus ribu?"

[Ditolak.]

"Buat beli makan? Gue lapar."

[Ditolak.]

Rian menggertakkan gigi.

"Kejam juga lu."

Panel biru tidak tersinggung.

Rian mencoba lagi. "Kalau buat sewa tempat usaha?"

[Diizinkan, selama transaksi bisnis legal dan wajar.]

"Beli barang dagangan?"

[Diizinkan.]

"Gaji karyawan?"

[Diizinkan, selama sesuai evaluasi nilai kerja.]

"Kalau bisnisnya rugi?"

[Kerugian sah akan dikonversi menjadi Dana Pribadi pada akhir Siklus.]

Jantung Rian mulai berdetak lebih cepat.

Ini bukan uang gratis.

Ini lebih aneh dari uang gratis.

Ia tidak boleh menikmatinya langsung. Ia harus memutarnya dalam bisnis, membuat bisnis itu rugi secara legal, lalu kerugian itu menjadi uang pribadinya.

Dengan kata lain, untuk pertama kalinya dalam hidup, kegagalan bisa dibayar tunai.

Rian tiba-tiba ingin tertawa.

Selama empat tahun kuliah, ia diajari cara membuat proposal bisnis, cara menghitung laba, cara mencari pasar, cara meningkatkan efisiensi.

Sekarang ada sistem misterius yang datang dan berkata: silakan rugi, nanti kamu dibayar.

Kalau dosennya tahu, mungkin seluruh fakultas ekonomi bisa masuk angin berjamaah.

Tapi setelah tawa pertama hampir keluar, ketakutan ikut naik.

Bagaimana kalau ini jebakan?

Bagaimana kalau ia melanggar hukum?

Bagaimana kalau uang itu bukan uang sungguhan?

Seolah membaca pikirannya, panel biru memunculkan baris baru.

[Semua transaksi Dana Sistem akan melalui jalur legal. Host dilarang melakukan tindakan melanggar hukum, manipulasi fiktif, transaksi palsu, atau pemborosan pribadi berkedok bisnis.]

Rian mengangguk pelan.

Jadi tidak bisa pura-pura beli perusahaan milik teman sendiri, lalu uangnya dibagi dua.

Tidak bisa sengaja membakar toko.

Tidak bisa membeli mobil mewah atas nama bisnis lalu dipakai pribadi.

Harus bisnis sungguhan.

Harus rugi sungguhan.

Rian menatap jalan raya yang padat. Untuk pertama kalinya sejak pagi, dunia tidak terlihat seperti tembok buntu. Masih berantakan, masih panas, masih penuh suara klakson, tapi ada celah kecil di depannya.

Celah itu berbentuk angka 50 miliar.

"Bisnis apa yang paling gampang rugi?" gumamnya.

Restoran?

Terlalu ribet.

Startup?

Ia tidak punya tim.

Toko online?

Bisa saja, tapi perlu strategi digital.

Rian memijat kening. Ia bahkan gagal mendapat pekerjaan admin. Bagaimana caranya ia menjalankan bisnis besar?

Lalu matanya menangkap sesuatu di seberang jalan.

Sebuah ruko tua di deretan bangunan yang catnya mulai pudar.

Di atasnya tergantung papan nama supermarket kecil. Huruf-hurufnya sudah kusam, salah satu sudut papan miring seperti hampir jatuh. Di pintu kaca tertempel kertas putih besar dengan tulisan spidol merah:

DIJUAL CEPAT.

CUCI GUDANG.

SEMUA HARUS HABIS.

Rian menyeberang setelah lampu merah menyala. Dari dekat, tempat itu terlihat lebih parah.

Debu menempel di kaca.

Rak-rak di dalam hampir kosong.

Beberapa kardus bekas ditumpuk sembarangan di dekat kasir.

Kulkas minuman di pojok mati, pintunya sedikit terbuka, menyisakan bau plastik lama dan udara lembap.

Lantai keramiknya kusam. Sarang laba-laba menggantung di sudut plafon. Pintu rolling door setengah turun, seperti toko itu sendiri sudah malas hidup.

Sempurna.

Terlalu sempurna.

Rian berdiri di depan kaca, menatap bayangannya sendiri yang tercampur dengan rak kosong di dalam toko.

Sejam lalu, ia adalah sarjana pengangguran yang ditolak perusahaan karena tidak punya pengalaman.

Sekarang, ia sedang menilai bangkai supermarket sebagai calon mesin pencetak kerugian.

Hidup memang aneh.

Kadang bukan pintu rezeki yang terbuka.

Kadang yang terbuka adalah pintu toko bangkrut.

Panel biru muncul lagi, kali ini lebih kecil.

[Peluang investasi bisnis terdeteksi.]

[Jenis aset: ritel kebutuhan harian.]

[Status lokasi: operasional menurun, aset berisiko tinggi.]

Rian membaca frasa aset berisiko tinggi.

Matanya langsung menyala.

Berisiko tinggi.

Artinya gampang rugi.

Ia hampir ingin memeluk papan "DIJUAL CEPAT" itu.

"Oke," bisiknya. "Kalau tujuan gue rugi, tempat kayak gini justru harta karun."

Orang normal mungkin melihat toko ini sebagai kuburan modal.

Rian melihatnya sebagai jalan pulang dari kemiskinan.

Selama bisnis ini rugi, pada akhir tiga bulan ia bisa mendapat uang pribadi. Ia tidak perlu menjadi jenius bisnis. Ia justru perlu menjadi pebisnis paling gagal di Kota Tanjung Emas.

Dan untuk gagal, toko ini sudah memberinya start yang luar biasa.

Rian mengeluarkan ponsel, memotret nomor kontak yang tertempel di kaca. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi bukan lagi karena putus asa. Kali ini karena sesuatu yang lebih berbahaya.

Harapan.

Ia menatap angka di panel biru.

50 miliar Rupiah.

Uang sebesar itu tidak bisa ia makan, tidak bisa ia pakai membayar kos, tidak bisa ia kirim ke orang tua.

Belum.

Tapi kalau ia berhasil membuat bisnis ini berdarah-darah selama tiga bulan, hidupnya bisa berubah.

Rian menarik napas panjang.

"Baiklah," katanya pelan, seolah sedang membuat perjanjian dengan dirinya sendiri. "Kalau dunia kerja nggak mau nerima gue, gue bikin bisnis sendiri. Bisnis yang tugasnya cuma satu."

Ia menatap toko bangkrut itu.

"Rugi."

Di depan Rian, panel biru itu berkedip pelan, seperti sedang tersenyum dingin: "Siklus Pertama: 89 hari 23 jam tersisa."

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!