NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Memburu Bayangan di Balik Kabut

​Hutan Kabut Hitam seolah menahan napasnya. Angin berhenti berhembus, dan udara tiba-tiba terasa sangat kental oleh niat membunuh yang sedingin es.

​Wusss!

​Pembunuh bercadar itu lenyap, menyatu dengan kabut beracun yang melayang di atas permukaan tanah. Sebagai kultivator Puncak Alam Pengumpul Qi Tingkat Sembilan, penguasaannya terhadap energi alam sangat halus. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada gesekan pakaian. Ia bergerak layaknya hantu di siang bolong.

​Mata Awan menyipit, mencoba menembus tabir kabut. Kiri? Kanan? Atau dari atas?

​Tiba-tiba, rasa dingin yang menggigit muncul dari arah titik buta di belakang punggungnya. Sepasang belati bengkok berwarna hijau pekat menebas silang, menargetkan urat nadi di leher Awan.

​Awan tidak punya waktu untuk berbalik. Ia segera membiarkan titik berat tubuhnya jatuh ke tanah, mengaktifkan Langkah Besi Jatuh. Tubuhnya merosot ke bawah setengah meter dalam seperseribu detik, membiarkan kedua belati mematikan itu mendesis kosong tepat di atas kepalanya, memotong beberapa helai rambutnya.

​Sambil merendah, Awan memutar pinggulnya dan mengayunkan Kayu Besi Hitam secara horizontal ke arah belakang untuk menyapu kaki si pembunuh.

​Swush!

​Namun, pedang kayunya hanya menghantam kabut. Pembunuh itu sangat ringan. Begitu serangannya meleset, ia menggunakan ujung sepatunya untuk menendang pedang kayu Awan yang sedang berayun, meminjam momentum tersebut untuk melompat mundur sejauh belasan meter dan kembali menghilang ke dalam kabut.

​"Refleks yang bagus. Kau merendahkan tubuhmu lebih cepat daripada gravitasi itu sendiri," suara si pembunuh menggema dari segala arah, dipantulkan oleh pepohonan. "Tapi seranganmu terlalu lambat dan berat. Di arena, musuh-musuh bodohmu itu mencoba menahan seranganmu secara frontal. Aku... tidak akan pernah membiarkan kayu rongsokanmu itu menyentuh pakaianku."

​Awan berdiri tegak perlahan, menyilangkan pedang kayunya di depan dada. Pembunuh ini benar. Kekuatan fisik Awan sangat mematikan, tetapi itu tidak berguna jika pukulannya tidak mengenai sasaran.

​Srat!

​Sebuah luka sayatan tipis tiba-tiba muncul di pipi Awan. Darah segar menetes. Ia bahkan tidak melihat dari mana serangan itu berasal. Belati pembunuh itu telah dilumuri Qi elemen angin, menciptakan bilah udara transparan yang bisa menyerang dari jarak jauh di balik perlindungan kabut.

​"Kau tidak bisa melihatku, Fana. Di hutan ini, aku adalah dewa kematianmu!"

​Serangan demi serangan mulai berjatuhan dari segala arah. Luka-luka sayatan bermunculan di lengan, bahu, dan punggung Awan. Beruntung, kulit dan ototnya telah dipadatkan oleh Pil Pemecah Batas. Jika ia masih memiliki tubuhnya yang lama, bilah udara itu sudah memotong tulangnya. Sekarang, serangan itu hanya mampu mengiris permukaan kulitnya.

​Racun berwarna hijau dari bilah udara itu mencoba meresap ke dalam aliran darah Awan, namun metabolisme tubuhnya yang mengerikan bereaksi seketika. Panas tubuhnya melonjak, membakar racun itu hingga menguap melalui keringat sebelum sempat merusak organnya.

​Meski begitu, Awan tahu ia tidak bisa menjadi samsak hidup selamanya. Ia akan kehabisan darah.

​Awan memejamkan matanya.

​"Menutup mata lagi? Trik murahan yang kau pakai saat melawan Tuan Muda Wu tidak akan mempan padaku! Aku tidak memusatkan Qi-ku di satu titik!" ejek si pembunuh dari dalam kabut.

​Awan mengabaikan ejekan itu. Ia menancapkan ujung pedang Kayu Besi Hitamnya ke tanah berlumut, lalu melepaskan genggamannya. Ia berdiri di sana, dengan kedua tangan tergantung rileks di sisi tubuhnya, membiarkan dirinya sepenuhnya terbuka.

​Si pembunuh menyeringai di balik cadarnya. Dia menyerah.

​Melihat peluang emas, pembunuh itu memadatkan seluruh Qi-nya ke kedua belatinya. Ia tidak menggunakan serangan jarak jauh lagi, ia ingin memastikan kepala Awan terpisah dari tubuhnya.

​"Seni Langkah Bayangan Kematian!"

​Tubuh pembunuh itu melesat seperti kilatan petir hitam, membelah kabut tanpa suara, langsung menuju ke depan Awan. Belati beracun itu terangkat, siap menebas leher mangsanya.

​Tiga meter.

Dua meter.

Satu meter.

​Tepat saat belati itu berjarak satu jengkal dari leher Awan, pemuda fana itu membuka matanya. Tatapannya tidak lagi datar, melainkan memancarkan kebuasan absolut dari seorang predator puncak.

​Awan sama sekali tidak berniat menghindar.

​Tangan kanannya bergerak dengan kecepatan luar biasa, bukan untuk mengambil pedang, melainkan langsung menerjang ke arah depan, menyambut belati si pembunuh!

​CRAT!

​Belati beracun itu menembus telapak tangan kanan Awan hingga tembus ke punggung tangannya. Darah hitam menyembur keluar. Pembunuh itu terbelalak kaget. Manusia fana ini dengan sengaja mengumpankan tangannya sendiri untuk ditembus!

​"Kena kau," bisik Awan dingin.

​Sebelum pembunuh itu sempat menarik belatinya, tangan kiri Awan bergerak. Dengan memanfaatkan Langkah Besi Jatuh untuk mengunci posisi kakinya agar tidak terdorong mundur, tangan kiri Awan meluncur masuk ke bawah pertahanan si pembunuh dan mencengkeram kerah bajunya dengan kekuatan tang besi.

​"Lepaskan!" si pembunuh panik, mencoba mengalirkan Qi untuk meledakkan Awan dari jarak dekat.

​Tapi Awan lebih cepat. Ia tidak menggunakan pedangnya. Jarak ini adalah jarak pertarungan fisik murni, jarak di mana seorang pandai besi memukul pelat besi pijar di atas landasan landas.

​Awan menarik kerah pembunuh itu ke arahnya, dan di saat yang sama, ia mengangkat lutut kanannya dengan ledakan tenaga otot yang menghancurkan hukum fisika.

​DUAAGH!

​Lutut keras Awan menghantam tepat di ulu hati si pembunuh.

​Suara retakan tulang rusuk yang hancur serentak bergema di hutan yang sunyi. Mulut pembunuh itu terbuka lebar, matanya nyaris melompat keluar dari rongganya. Qi pelindung di tubuhnya hancur seketika layaknya cangkang telur yang dihantam palu godam.

​Awan belum selesai. Masih dengan belati yang menancap di telapak tangan kanannya, ia memutar tubuhnya, menggunakan tangan kirinya yang mencengkeram kerah si pembunuh untuk membanting tubuh pria itu ke tanah.

​BOOOM!

​Punggung pembunuh itu menghantam tanah dengan sangat keras hingga menciptakan kawah kecil dan menerbangkan daun-daun kering di sekitarnya.

​Pria bercadar itu memuntahkan darah hitam bercampur serpihan organ dalamnya. Tubuhnya kejang-kejang sesaat, lalu terdiam selamanya. Puncak Alam Pengumpul Qi Tingkat Sembilan, mati hanya dengan satu hantaman lutut dan satu bantingan.

​Awan melepaskan cengkeramannya dan mundur selangkah, napasnya sedikit terengah.

​Ia menatap telapak tangannya yang tertusuk belati. Sambil menggigit bibir, ia mencabut belati itu dengan sekali sentakan kasar. Darah mengalir deras, namun ia segera menekan luka itu dan mengencangkan otot-otot di sekitarnya. Berkat kepadatan tubuh barunya, pendarahan itu berhenti dalam hitungan menit, dan racunnya langsung dinetralisir oleh panas tubuhnya.

​"Seni Langkah Besi Jatuh tidak hanya untuk melesat," gumam Awan, menganalisis pertarungannya sendiri. "Bisa juga digunakan untuk 'menjangkar' tubuh ke tanah, memusatkan seluruh daya tolak untuk serangan jarak sangat dekat tanpa kehilangan keseimbangan."

​Awan menatap mayat pembunuh di depannya. Klan Wu tidak main-main. Mengirim kultivator tingkat sembilan berarti mereka benar-benar menginginkan nyawanya. Di dunia kultivasi, jika kau tidak memotong rumput hingga ke akarnya, rumput itu akan tumbuh kembali menjadi hutan beracun.

​Ia membungkuk dan memeriksa mayat tersebut. Membiarkan barang berharga membusuk di hutan adalah dosa besar bagi Awan yang sedang kekurangan uang.

​Dari pinggang si pembunuh, Awan melepaskan sebuah kantong kecil berbahan kain sutra perak—Kantong Penyimpanan Terkompresi. Ia membukanya, dan matanya berbinar.

​Di dalam kantong itu terdapat lima ratus keping Batu Roh tingkat menengah (hadiah dari Klan Wu untuk membunuhnya), beberapa botol Pil Penyembuh tingkat tinggi, sebuah peta Reruntuhan Lembah Angin, dan sebuah gulungan teknik berjudul Seni Penyamaran Bayangan.

​"Lima ratus Batu Roh tingkat menengah," Awan tersenyum tipis. Satu Batu Roh menengah setara dengan seratus Batu Roh tingkat rendah. Ini adalah kekayaan yang luar biasa besar untuk ukuran Murid Luar biasa. "Terima kasih, Tuan Muda Wu. Kau sangat dermawan."

​Awan segera memotong paha dan dada Beruang Zirah Baja, membungkus daging ratusan kilogram itu, lalu mengikatnya di punggungnya bersama pedang Kayu Besi Hitam. Dengan barang jarahan dan makanan melimpah, ia segera meninggalkan Hutan Kabut Hitam sebelum bau darah menarik siluman buas tingkat tinggi lainnya.

​Sekte Daun Angin bukanlah tempat kultivasi suci seperti yang diyakini orang awam. Ini adalah kandang serigala. Dan dengan sisa waktu dua minggu sebelum Ujian Reruntuhan Lembah Angin, Awan bertekad menggunakan semua uang ini untuk menyiksa tubuhnya ke tingkat yang lebih mengerikan, hingga tak ada satu pun pedang di Sekte Luar yang mampu menggores kulitnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!