Saat membuka mata aku mendapati bahwa semuanya berbeda.
Mulai dari penampilan hingga tempatku sekarang ini, tentu saja aku senang karena bisa hidup kembali setelah mengalami kecelakaan yang membuatku meninggal dalam keadaan tragis.
Padahal masih banyak yang lain, tapi kenapa harus di tubuh ini? Seorang putri Marquess bernama Cassiopeia Maximpratix Charcraes, antagonis terjahat dari awal sampai akhir.
Demi menghindari akhir yang tragis sebagai antagonis aku memilih untuk hidup dengan caraku sendiri. Termasuk untuk menjadi seorang kesatria, meski tak mudah karena banyak halangan dan rintangan tapi itu tak akan membuat tekadku hancur.
Namun, sekuat apapun aku berusaha tapi kenapa terus saja tertarik masuk ke dalam alur. Lalu, apa-apaan dia? Kenapa orang ini selalu mengikutiku? Apa karena aku mengetahui identitas aslinya ataukah hal lain?
Akankah aku bisa bertahan hidup di dalam dunia ini? Ikuti ceritanya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quensly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Ketahuan
"Ava, disini!" teriakku sembari melambaikan kedua tangan ke udara setinggi mungkin berharap terlihat oleh Ava yang sedang celingak-celinguk.
Usahaku tak sia-sia, ia berhasil menangkap sosokku dan segera beralih menuju ku.
"Nona dari mana saja?" tanyanya begitu sampai.
Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal, mencoba memutar otak mencari alasan. "Ada sedikit masalah tadi, tapi sekarang sudah tak apa." ujarku, bohong.
Dahinya mengerut tak senang. "Tapi kenapa Nona tidak bilang pada saya dulu? Apakah Nona tahu? Lutut saya sampai pegal mencari Nona yang tak kunjung ditemukan," protesnya.
"Hahaha, aku tak sempat tadi."
Tak ingin masalah semakin membesar aku segera mendorong Ava. "Sudahlah, ayo kita pulang! Tak baik juga kelamaan disini,"
Tentu saja awalnya ia menolak tapi tak butuh waktu lama untuknya setuju.
Kami pun pergi ke kereta kuda yang entah datang dari mana dan melanjutkan perjalanan kembali ke mansion.
Sepanjang perjalanan ada saja pertanyaan yang diajukan olehnya, tapi berkat kekayaan keluarga Marquess aku bisa membungkam mulut wanita itu agar berhenti bertanya.
Nyawa lebih penting daripada uang.
Lagipula sepertinya bujukan ku lumayan berhasil, buktinya saat aku berbalik saja pakaianku dikeringkan oleh laki-laki itu menggunakan sihir.
Asalkan rahasia dia tak aku beberkan saja.
Aku bisa hidup sedikit lebih lama.
•••
Pemandangan terlihat jauh lebih indah dilihat dari atas sini, orang-orang berlalu lalang sibuk untuk mempersiapkan penyambutan kepulangan sang tuan yang sudah dinanti-nanti.
Tentu saja berbeda denganku, meskipun aku adalah putrinya sekarang ini tapi rasanya tak ada yang spesial sedikitpun.
Hanya menghitung hari untukku bertemunya, tokoh figuran penting yang paling berpengaruh bagi perubahan Cassiopeia dalam cerita.
Aku menopang dagu di pembatas balkon.
Suasana tenang dan damai, akan tetapi seperti biasa. Pasti ada saja gangguan.
"Nona, anda bisa terjatuh!" kata seseorang dengan nada tinggi yang berhasil membuatku tersentak.
Suara dari seorang pria tua yang sudah familiar di telinga, siapa lagi jika bukan si Bapak Butler itu.
"Mumpung dia ada disini, sekalian saja ya aku memintanya. Meskipun tak akan menyenangkan dan malah membosankan, tapi aku harus tetap melakukannya."
"Itu tadi sangat berbahaya Nona, jika Nona sampai kenapa-napa bagaimana?"
"Cukup!"
Bapak Butler itu terdiam.
Aku merasa bersalah membentak orang tua ini, "ma, maaf aku tak sengaja." ujarku gelagapan.
Ia menatapku intens, entah apa yang dipikirkan pria tua ini.
"Nona berubah,"
2 buah kata itu berhasil membuatku diam membisu, keringat dingin berhamburan di sekujur tubuh, rasanya sekarang aku seperti seorang penjahat yang tertangkap basah karena kejahatannya.
Sekuat tenaga aku mencoba untuk tetap tenang, detak jantung memompa dengan cepat ke seluruh tubuh.
Aku bahkan tak berani untuk mendongak dan menatapnya.
"Nona berubah.... "
Lagi? Kata itu kembali terulang.
".... Semenjak kejadian itu,"
"Sebenarnya apa yang ingin dikatakan Bapak Butler ini?"
"Apakah hilang ingatan bisa membuat seseorang berubah drastis?" gumam Bapak Butler itu.
Aku tersadar akan sebuah fakta, kekhawatiran yang tak berarti itu semua sia-sia.
"Semua orang bisa berubah," Aku beranikan untuk mengangkat kepala dan menatap orang tua ini.
Wajahnya tampak bingung sekaligus kaget.
Aku tersenyum dan melanjutkan ucapan.
"Termasuk kau, orang lain, dan juga aku. Siapapun bisa berubah....
.....Seperti yang kau tahu Ciko," Aku kembali berbalik menghadap luar balkon. Dimana hiruk-pikuk sedang berlangsung di sana.
Ia terdiam sesaat, memikirkan jawaban pertanyaanku.
"Nona hilang ingatan," tebaknya.
"Ya," Berbalik lalu kembali melanjutkan ucapan, "semenjak kejadian hari itu aku tersadar akan sebuah fakta."
Ia kembali mengernyit tak mengerti apa yang aku bicarakan.
Dalam ingan Cassiopeia tak ada wajah bingung kepala pelayan ini, yang ada hanya wajah profesional yang selalu ditunjukkan dalam segala situasi.
"Tak ada yang mencintai diriku di dunia ini selain diriku sendiri," kataku menampilkan senyuman masam.
Setelah mengatakan hal itu aku pergi meninggalkan tempat ini dan juga Bapak Butler yang mati kutu.
Tap.... tap.... tap....
Aku berbalik ketika sampai di tengah daun pintu.
"Tolong siapkan guru-guru untukku,"
Tak ada lagi sepatah kata apapun yang keluar.
Hanya langkah kaki lah yang mengisi keheningan.
•••
Brak...
Aku menutup pintu dan bersandar pada daun pintu besar yang sudah tertutup rapat.
"Gila, hampir saja aku ketahuan."
Aku menyugar rambut ke belakang.
Membayangkan apa yang terjadi jika saja Ciko Aidon mengetahui yang sebenarnya.
Tak bisa dibiarkan, aku tak ingin berakhir di tiang gantungan atau di tempat pemancungan.
Mulai sekarang aku harus benar-benar beradaptasi.
Hidup di dunia ini mengerikan, berbeda jauh dengan apa yang terjadi pada cerita-cerita novel isekai lainnya.
[ Tidak bermaksud menyinggung pihak manapun ]
Nyawaku bisa terancam jika tidak segera bergerak.
Kedua kalinya hari ini nyawaku di ujung tanduk.
"Apakah tadi sudah berhasil?"
"Harusnya ia, tapi bagaimana jika tidak?"
"Jika Ciko Aidon saja sudah seperti itu, bagaimana dengan yang lain?"
"Jangan-jangan tanpa sepengetahuan ku sudah banyak orang yang tahu, bagaimana ini?"
Ketakutan mulai melanda menyusup ke dalam jiwa.
Lagi dan lagi, aku harus merasakan kemalangan ini.
Kehidupan seperti di neraka yang membuatku sulit untuk bernapas, jika seperti ini kenapa aku tak mati saja?
Mungkin lebih baik jika pada saat itu jiwaku tak merasuki tubuh Cassiopeia.
Aku mengunci pintu kamar dan segera berlari menuju kasur.
"Tidak! Mau bagaimanapun jadinya aku tak peduli. Jika aku ingin selamat hanya ada satu cara, yaitu menjauh dari takdir mengerikan. Sudah tak bisa ditunda lagi,"
Pikiranku mulai melayang pergi berkelana, begitu pula dengan kesadaran yang semakin menipis.
Karena tubuh Cassiopeia lemah jadi meskipun hanya berjalan sebentar saja aku sudah kelelahan.
Mulai besok aku harus memulainya, sebelum semuanya terlambat.
•••
Cuit... cuit.... cuit....
Krik... Krik... Krik....
Kicauan burung beserta suara jangkrik menjadi alunan tersendiri di telinga.
"Pagi yang sempurna untuk memulai latihan setelah sekian lama," kataku.
Di sinilah aku sekarang berada, tempat sepi yang tidak terjamah.
Semalam aku sempat tak bisa tidur, aku pun memutuskan untuk berkeliling diam-diam mencoba agar membuat lelah dan bisa kembali tidur di atas kasur empuk nan lembut.
Tapi, siapa sangka. Aku malah menemukan sebuah jackpot, sebuah tempat yang cukup jauh dari mansion dan juga tersembunyi.
Sangat sesuai untukku menjalankan rencana kemarin.
"Ugh... " Susah payah aku menarik pedang besi ini. Namun tak ada hasil sedikitpun, bahkan pedangnya nampak tak bergerak meskipun sudah melakukan segala cara untuk mengambilnya dari dalam gerobak.
Sebenarnya ini adalah gerobak yang aku pinjam dari kandang kuda, lalu pedang beserta peralatan lainnya susah payah diambil dari pasukan kesatria.
slam dri My ice girl sranghae..
sudah q favorit ya