Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Ayo, Pa. Nanti kita terlambat."
Baru dua langkah berjalan, suara Pak Wira menghentikan langkahnya.
"Berhenti." Ammar memejamkan matanya sesaat. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan ayahnya. "Aisyah masih berdiri di situ."
Suasana mendadak menjadi sunyi. Ammar perlahan membalikkan badan sementara tatapannya jatuh kepada Aisyah yang sejak tadi hanya berdiri sambil menundukkan kepala.
"Papa tidak meminta kamu melakukan hal yang sulit, Ammar." Suara Pak Wira terdengar tegas.
"Papa cuma minta kamu untuk pamit kepada istri istrimu, apa itu sulit untukmu? Kau barusaja selesai berpamitan kepada Salsa, lalu kenapa kau tidak melakukannya kepada Aisyah? Dia adalah istrimu." Ammar terdiam.
"Kecup keningnya sebagai bentuk penghormatan."
Tidak ada jawaban, Ammar justru berkata datar.
"Pa... kita sudah terlambat."
Pak Wira menggeleng.
"Kita tidak akan berangkat sebelum kamu berpamitan kepada Aisyah."
Kalimat itu membuat suasana semakin menegang dan tanpa sadar membuat Ammar menoleh ke arah Salsa. Tatapan mereka bertemu. Melihat hal itu, Pak Wira langsung bersuara.
"Salsa."
Salsa sedikit terkejut.
"Iya, Pa?"
"Kamu keberatan kalau suamimu memperlakukan Aisyah sebagaimana mestinya seorang istri?"
Pertanyaan itu membuat Salsa membeku. Ia sadar seluruh mata kini tertuju kepadanya. Kalau ia menjawab "iya", semua orang akan menganggap dirinya egois. Kalau ia menjawab "tidak", justru ia sendiri yang harus menahan sakit. Beberapa detik berlalu, Salsa akhirnya memaksakan diri untuk tersenyum kecil.
"Tidak, Pa."
Pak Wira mengangguk.
"Kalau begitu tidak ada alasan lagi untuk kamu menolak permintaan papa, Ammar. Cepat kecup kening Aisyah seperti yang kau lakukan barusan kepada Salsa." Tatapannya kembali kepada Ammar. "Dan ya, jangan lihat Salsa. Tapi lihat istrimu, Aisyah. Aisyah juga berhak mendapatkan penghormatan yang sama sebagai istrimu."
Ammar mengembuskan napas panjang sementara rahangnya mengeras. Sekali lagi, Ayahnya memaksanya melakukan sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan. Perlahan ia melangkah mendekati Aisyah sementara Aisyah justru terlihat semakin gugup.
"Ma... Mas..." Aisyah mundur setengah langkah. "Kalau memang Mas tidak berkenan, tidak apa-apa."
Belum sempat Aisyah menyelesaikan kalimatnya, Ammar sudah menghentikan ucapannya. Dengan gerakan kaku, ia menundukkan sedikit wajahnya lalu kecupan singkat mendarat di kening Aisyah dengan begitu cepat, dingin dan hampir tidak menyisakan kehangatan sedikit pun. Namun tetap saja, itu adalah kecupan pertama yang diberikan Ammar sebagai seorang suami setelah kecupan yang ia lakukan setelah ijab qobul pernikahannya.
Aisyah mematung. Matanya membulat. Ia sama sekali tidak menyangka hal itu benar-benar terjadi. Perlahan jemarinya saling menggenggam untuk meredam rasa gugup yang memenuhi dadanya. Sementara beberapa langkah dari sana, Salsa tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya begitu erat. Kuku-kukunya sampai menekan telapak tangan sendiri. Dadanya kembali terasa sesak. Ia terus mengingatkan dirinya kalau Aisyah bukan perebut. Aisyah melakukan ini karena permintaannya, Aisyah tidak bersalah.
Namun sekeras apa pun ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, tetap saja ada sesuatu yang terasa menyakitkan saat melihat laki-laki yang sangat dicintainya baru saja mencium kening perempuan lain. Dan perempuan itu adalah adik kandungnya sendiri.
Setelah kecupan itu terjadi, Ammar sama sekali tidak berani menatap Salsa karena rasa bersalah langsung memenuhi dadanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya menarik napas panjang, membuka pintu mobil dengan cepat, lalu masuk ke dalam.
Brak.
Suara pintu mobil yang tertutup terdengar cukup keras dan membuat Pak Wira menggeleng pelan melihat sikap putranya. Ia kemudian ikut masuk ke kursi penumpang depan. Angin pagi berembus pelan melewati halaman depan kediaman Adhitama. Mobil hitam yang membawa Pak Wira dan Ammar perlahan melaju keluar melewati gerbang utama dan membuat suara mesin mobil itu semakin lama semakin menghilang dan hanya menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.
Aisyah masih berdiri di tempatnya. Tanpa sadar, jemarinya terangkat perlahan menyentuh keningnya sendiri. Di sanalah, beberapa detik yang lalu Ammar mencium keningnya. Bukan karena keinginan laki-laki itu, bukan pula karena rasa sayang, melainkan karena paksaan. Aisyah mengembuskan Napasnya perlahan. Entah kenapa, justru kenyataan itulah yang membuat dadanya semakin sesak. Ia sama sekali tidak menginginkan kecupan itu. Kalau saja tadi Pak Wira tidak memaksa, Ammar pasti tidak akan pernah melakukannya.
Di sisi lain, Salsa masih berdiri mematung. Tatapannya masih mengarah ke gerbang yang baru saja dilalui mobil Ammar. Namun bayangan yang terus memenuhi kepalanya bukanlah mobil itu, Melainkan kecupan singkat yang baru saja terjadi di depan matanya. Walaupun hanya sesaat, walaupun suaminya melakukannya dengan wajah dingin kepada Aisyah, tetap saja, Ammar telah mencium perempuan lain dan perempuan itu adalah adik kandungnya sendiri.
Bu Ratih yang melihat kedua menantunya masih berdiri di halaman akhirnya tersenyum tipis.
"Sudah, kalian juga masuk. Anginnya mulai panas."
"Iya, Ma."
Bu Ratih berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Salsa dan Aisyah yang masih berdiri di teras depan rumah. Suasana mendadak sunyi, tidak ada satu pun yang berbicara. Aisyah beberapa kali melirik kakaknya. Ia bisa melihat jelas mata Salsa masih memerah, Wajahnya yang pucat dan bibirnya terus bergetar pelan. Perasaan bersalah kembali memenuhi dada Aisyah.
Padahal, ia sama sekali tidak menginginkan semua itu terjadi. Dengan langkah perlahan, Aisyah mendekati Salsa.
"Kak Salsa."
Salsa yang berniat masuk kedalam rumah mendadak menghentikan langkahnya, Perlahan ia menoleh ke arah Aisyah.
"Iya?"
Aisyah menundukkan kepala lebih dalam.
"Kak, tolong maafin Aisyah." Ia menggigit bibirnya pelan dan membuat Salsa mengernyit. Aisyah melanjutkan perkataannya dengan suaranya yang semakin lirih. "Aisyah juga nggak mau tadi dicium sama mas Ammar." Air matanya mulai menggenang. "Tadi Aisyah juga sudah bilang ke Mas Ammar kalau nggak apa-apa kalau Mas Ammar nggak mau mencium kening Aisyah. Aisyah benar-benar nggak pernah minta semua itu terjadi. Tolong jangan marah sama Mas Ammar."
Kalimat itu justru membuat sesuatu di dalam dada Salsa pecah. Rasa sakit, cemburu dan takut kehilangan Ammar, semuanya bercampur menjadi satu. Ia tersenyum tipis, namun senyum itu sama sekali tidak sampai ke matanya.
"Oh ya?" Suara Salsa terdengar datar. "Lalu, sekarang kamu mau bilang kalau semua ini salah Mas Ammar?"
Aisyah buru-buru menggeleng.
"Bukan begitu maksud Aisyah."
"Tapi kenyataannya kamu tetap dicium, kan?" Aisyah membeku sementara Salsa tertawa pelan. Tawa yang terdengar hambar. "Jujur saja." Tatapannya mulai berubah. "Kamu pasti senang kan."
Aisyah langsung mengangkat kepalanya.
"Kak..."
"Kamu pasti senang." Suara Salsa mulai bergetar. "Suamiku mencium keningmu. Apa lagi tadi dilakukan di depanku."
Kalimat itu seperti tamparan bagi Aisyah.
"Kak, Aisyah nggak...."
"Kamu bisa saja menolak." Potong Salsa dengan cepat. "Kamu bisa bilang ke Papa kalau kamu nggak mau. Kamu bisa saja menghentikannya, tapi kamu memilih diam dan akhirnya membiarkan Mas Ammar tetap mencium kamu."
Air mata mulai memenuhi mata Aisyah.
"Kak..."
"Apa karena sekarang kamu sudah jadi istrinya, jadi kamu mulai menikmati semuanya?"
parah ini mah kata aku