NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Operasi Jas Pinjaman

Luna masih menatap layar ponsel pintarnya dengan dahi yang berkerut sangat dalam di sudut perpustakaan kampus.

Gadis berprestasi itu membaca ulang pesan undangan pesta ulang tahun dari Dika untuk yang ketiga kalinya.

{Lomba makan kerupuk jengkol di hotel bintang lima, pria ini pasti sudah benar-benar kehilangan sisa kewarasannya setelah kalah telak bertanding basket tadi siang.}

Ia mendengus pelan, merasa sangat heran bagaimana seorang pria yang selalu membanggakan kekayaannya bisa mengetik kalimat luar biasa konyol seperti itu.

Undangan absurd tersebut pada awalnya hanya ingin ia abaikan begitu saja tanpa balasan apa pun.

Namun, sebuah ide jahil yang sangat jarang muncul tiba-tiba melintas cepat di dalam kepala gadis anggun tersebut.

Luna merasa sangat penasaran dengan reaksi Dika jika ia benar-benar datang ke pesta itu dengan membawa seorang pasangan tak terduga.

Kehadiran Reno sebagai pendampingnya pasti akan memberikan pukulan mental yang jauh lebih menyakitkan bagi sang pemilih acara.

Jari-jarinya yang lentik segera bergerak lincah di atas papan tik virtual, mencari nama kontak Reno di dalam daftar obrolan teratasnya.

"Reno, kamu ada acara kosong tidak untuk akhir pekan ini?"

Luna mengetikkan pesan pembuka itu dengan senyum tipis yang penuh dengan rencana terselubung.

"Aku butuh pasangan untuk menghadiri sebuah pesta ulang tahun formal di hotel malam minggu nanti."

Pesan lanjutan itu langsung dikirimkan tanpa keraguan sedikit pun, memastikan umpannya terlempar sempurna.

||||

Pada sore harinya, Reno sedang duduk bersila di atas kasur tipis kamar kosnya sambil memijat bahu kirinya yang masih terasa nyeri.

Layar ponsel pintarnya yang tergeletak di atas bantal tiba-tiba menyala terang, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari gadis pujaannya.

Reno buru-buru menyambar perangkat tersebut, jantungnya langsung berdegup kencang saat membaca deretan kalimat ajakan dari Luna.

Pemuda kurus itu melompat kegirangan hingga kepalanya hampir membentur langit-langit kamar yang cukup rendah.

{Ini adalah kesempatan emasku untuk menunjukkan pesona ketampananku yang selama ini tertutup rapat oleh kemeja kotak-kotak pudar.}

"Tentu saja aku kosong, aku akan menjemputmu tepat waktu dengan pakaian paling rapi yang aku miliki."

Reno membalas pesan tersebut dengan tangan gemetar, sama sekali tidak peduli pesta milik siapa yang akan mereka datangi nanti.

Balasan dari Luna masuk hanya dalam hitungan detik, membawa sebuah persyaratan tambahan yang seketika meruntuhkan kebahagiaan Reno.

Reno menelan ludah kasarnya, matanya melirik nanar ke arah lemari plastik bututnya yang hanya berisi tumpukan kaus oblong dan celana pudar.

{Jangankan membeli setelan jas mewah, uang di dompetku saja hanya cukup untuk membeli makan malam dengan menu mi instan sampai akhir bulan ini.}

Ponsel hitam misterius X-Phreak 9000 di samping bantalnya mendadak bergetar keras, memproyeksikan deretan teks biru yang selalu hadir di saat-saat kritis.

"Berhenti mengejekku dan berikan aku solusi instan untuk mendapatkan setelan jas mahal tanpa harus membobol mesin anjungan tunai mandiri malam ini juga!"

Reno membalas ejekan digital itu dengan suara tertahan, menolak menyerah pada keterbatasan ekonomi demi kencan impiannya bersama Luna.

Mata Reno langsung berbinar penuh harapan membaca tawaran solusi peretasan tingkat tinggi yang sangat menggiurkan tersebut.

"Itu adalah ide kejahatan paling brilian yang pernah kau tawarkan, kita akan segera berburu jas mewah di pusat perbelanjaan besok pagi."

||||

Keesokan harinya, Reno sudah berdiri tegak di depan sebuah butik pakaian pria kelas atas yang terletak di pusat perbelanjaan terbesar kota.

Ia melangkah masuk dengan dada dibusungkan, mencoba menutupi rasa kurang percaya dirinya karena hanya mengenakan kaus oblong dan celana jins kusam.

Seorang pramuniaga wanita berseragam rapi menatapnya dengan tatapan meremehkan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Reno sengaja mengabaikan pandangan menghakimi tersebut, langkah kakinya langsung menuju ke arah maneken yang memamerkan sebuah setelan jas hitam elegan.

"Saya ambil setelan jas yang ini, tolong segera siapkan nota pembayarannya sekarang juga."

Pramuniaga itu mengernyitkan dahi, namun ia tetap berjalan menuju meja kasir untuk memproses pesanan pelanggannya yang terlihat sangat tidak meyakinkan itu.

"Total harganya lima belas juta rupiah, apakah Anda ingin membayar menggunakan kartu kredit utama atau melalui layanan transfer bank?"

Reno menahan napas mendengar nominal angka yang sangat fantastis itu, rasanya seolah jantungnya baru saja berhenti berdetak selama satu detik penuh.

"Saya akan menggunakan metode transfer bank langsung ke rekening bisnis milik butik ini."

Ia mengeluarkan ponsel hitam misteriusnya dari dalam saku, menyembunyikan layar canggihnya dengan cermat di balik telapak tangan.

"Siri-usly, pastikan notifikasi palsu ini terlihat sangat nyata di komputer kasir itu, atau aku akan berakhir mencuci piring di tempat ini seumur hidup."

Reno mengarahkan lensa kamera ponselnya secara diam-diam ke arah layar monitor kasir, mengunci titik target peretasan dalam hitungan milidetik.

Sebuah bunyi notifikasi berdenting sangat nyaring dari arah mesin kasir, disusul oleh senyum lebar yang mendadak muncul di wajah sang pramuniaga.

Teks hijau palsu itu terpampang nyata di layar sistem toko, menipu logika pembukuan digital mereka tanpa memicu alarm keamanan apa pun.

Pramuniaga itu segera melipat setelan jas mewah tersebut dengan sangat hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam sebuah tas belanja berlapis emas eksklusif.

"Terima kasih atas kunjungan Anda yang luar biasa, Tuan Reno, selamat menikmati pesta formal Anda pada akhir pekan ini."

Reno melangkah keluar dari butik dengan senyum penuh kemenangan, menenteng tas belanja itu seolah ia adalah seorang pewaris perusahaan multinasional yang sedang bersantai.

{Siapa sangka menjadi seorang peretas digital bisa membuatku merasakan gaya hidup kaum elit tanpa perlu bekerja keras memeras keringat di usia muda.}

||||

Malam akhir pekan akhirnya tiba, membawa nuansa megah di pelataran lobi hotel bintang lima yang dipenuhi oleh deretan mobil sport mewah dari para tamu undangan.

Reno melangkah keluar dari taksi daring pesanannya, mengenakan setelan jas hitam elegan hasil retasan yang sangat pas melekat di postur tubuh kurusnya.

Rambutnya disisir sangat rapi menggunakan pomade pinjaman dari Radit, memberikan kesan maskulin misterius yang selama ini tidak pernah ia miliki.

Beberapa tamu undangan yang sedang berdiri di sekitar lobi bahkan sempat menoleh untuk mengagumi penampilannya yang terlihat sangat berkelas malam ini.

Luna sudah menunggu dengan tenang di depan pintu masuk aula utama, menyita perhatian setiap mata yang melintas di sekitarnya.

Gadis berprestasi itu mengenakan sebuah gaun malam berwarna merah marun yang memperlihatkan lekuk tubuh anggunnya dengan sangat sempurna.

Luna membelalakkan kedua matanya melihat kedatangan Reno, seolah tidak percaya bahwa pria menawan di hadapannya ini adalah mahasiswa cupu yang sama.

"Kamu terlihat luar biasa tampan malam ini, Reno, setelan jas ini benar-benar mengubah seluruh auramu menjadi sangat berbeda."

Reno tersenyum puas mendengar pujian langsung dari bibir gadis pujaannya, merasa seluruh risiko peretasan finansial tingkat tingginya terbayar lunas seketika.

"Hanya pakaian sederhana untuk mencoba mengimbangi kecantikanmu yang mutlak tidak tertandingi oleh siapa pun malam ini, Luna."

Ia menyodorkan lengan kanannya ke depan dengan gaya pangeran, menawarkan sebuah pegangan yang langsung disambut hangat oleh jemari lentik Luna.

Mereka berdua berjalan berdampingan memasuki aula pesta yang dihiasi oleh dekorasi mewah dan lampu kristal gantung berukuran raksasa.

Dika yang sedang berdiri arogan di tengah ruangan langsung mematung kaku, gelas minuman di tangannya nyaris terjatuh melihat kedatangan musuh bebuyutannya.

Reno mengangkat dagunya tinggi-tinggi, siap menikmati malam kencan impiannya dan menghancurkan sisa-sisa harga diri Dika di kandangnya sendiri.

Namun, ponsel hitam di dalam saku jas mahalnya tiba-tiba bergetar dengan ritme peringatan darurat tingkat tinggi yang sangat menyengat paha.

Reno menarik perangkat tersebut secara perlahan agar tidak melepaskan gandengan tangan Luna, mengintip layar gelapnya dari balik sudut jas secara sembunyi-sembunyi.

Teks peringatan berwarna merah menyala bergulir cepat tanpa ampun, menyajikan sebuah kenyataan pahit yang langsung membekukan seluruh aliran darahnya.

Reno menelan ludah kasarnya dengan susah payah, langkah kakinya mendadak terasa luar biasa berat di atas karpet merah yang terbentang di tengah aula.

//hargai dan dukung author dengan cara like, gajih disini sangat kecil, minimal author semangat update karena ada like dan komen dari pembaca. Terimakasih//

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!